2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pilkada Buleleng: Drama Pendaftaran – PASS Kolosal, SURYA Misterius

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 2, 2018
in Opini

MARILAH kita tonton proses Pilkada sebagai sebuah seni pertunjukan drama. Kita mulai dari prosesi pendaftaran pasangan calon kepala daerah ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) 21-23 September 2016. Prosesi itu, sadar atau tidak, adalah sebuah seni pertunjukan drama dengan kisah yang sama namun dengan bentuk berbeda-beda, dan tentu saja endingnya pastilah berlainan.

Pemain utamanya adalah pasangan calon. Penontonnya: calon pemilih atau orang di luar daerah yang tak punya hak untuk memilih di daerah itu. TV dan media massa lainnya adalah panggung.

Prosesi pendaftaran pasangan calon Ahok-Jarot di Jakarta ditonton oleh orang-orang di Indonesia, padahal calon pemilihnya hanya warga DKI. Tentu saja, karena sesuai kata banyak pengamat, Pilkada DKI itu Pilkada rasa Pilpres.

Di Buleleng, prosesi pendaftaran pasangan calon juga diperhatikan banyak warga Pulau Dewata. Padahal calon pemilihnya hanya di Buleleng. Bukan karena Pilkada Buleleng beraroma Pilpres, namun karena pada Pilkada serentak tahun 2017 ini hanya Buleleng satu-satunya kabupaten di Bali yang menggelar Pilkada. Daripada nganggur, lebih baik nonton.

Media massa sebagai panggung juga tak banyak punya pilihan kisah politik untuk dipertontonkan ke publik.

Kata-kata yang Ditunggu-tunggu

Sebagai seni pertunjukan drama, pasangan calon tentu sangat sadar diri mereka sedang ditonton. Maka, mereka pun mencari sutradara andal, pemain pembantu yang mumpuni, dan figuran yang membantu suksesnya pertunjukan. Pilihan bentuk pertunjukan pun beda.

Ada yang memilih pertunjukan kolosal dengan banyak pemain. Ada yang memilih drama mini kata: pemainnya sedikit, dialognya tak banyak, namun menampilkan banyak simbol (baca: misteri) agar penonton bisa terkesan dan terus bertanya-tanya.

Yang ditunjukkan oleh pasangan Ahok-Jarot bersama Megawati dan tokoh-tokoh PDI Perjuangan di Jakarta adalah pertunjukan drama dengan mengandalkan kata-kata sebagai daya tarik. Terjadi banyak monolog dan dialog dengan diksi atau pilihan kata-kata yang dipersiapkan dengan matang oleh para pemainnya.

Pilihan menampilkan kata-kata (bukan pengerahan massa) saat mendaftar di KPU memang pilihan tepat. Banyak kisah yang harus didedahkan dengan kata-kata. Misalnya, yang paling ditunggu, kisah bagaimana tiba-tiba Megawati akhirnya memilih Ahok padahal sebelumnya Ahok terkesan dicueki.

Kata-kata Megawati ditunggu. Kata-kata Ahok tentu juga ditunggu. Kata-kata sejumlah tokoh PDI Perjuangan yang sebelumnya berseberangan dengan Ahok juga ditunggu.

Jika hanya kata-kata yang ditunggu penonton, kenapa harus mengerahkan massa? Di situlah Ahok dengan cerdik mengeluarkan himbauan agar para pendukungnya tak perlu beramai-ramai mengantarnya ke KPU. Kata-kata himbauan itu adalah kata-kata dari “naskah” drama yang sudah diperhitungkan.

PASS dengan Drama Kolosal

Di Buleleng, pasangan Putu Agus Suradnyana-Nyoman Sutjidra (PASS), memilih untuk mempertunjukkan drama kolosal. dengan jumlah pemain, baik aktor utama maupun pemain figuran, dengan jumlah melimpah. Bahkan, agar kesan kolosal lebih mantap, pertunjukan itu juga diisi permainan dari grup musik lokal yang terkenal.

Pasangan Suradnyana-Sutjidra bersama petinggi PDI Perjuangan Bali dan Buleleng dan massa pendukung berkumpul di Gedung Kesenian. Permainan musik digelar, massa bergembira. Setelah itu, massa berjalan kaki dengan diiringi gamelan balaganjur dari Gedung Kesenian ke KPU untuk mendaftar.

Selayaknya drama kolosal yang hanya mengandalkan jumlah pemain, pertunjukan tentu lebih banyak mengandalkan komposisi gerak ketimbang monolog dan dialog. Pemain yang melimpah itu diatur blokingnya agar jumlah yang mengesankan itu tampak menggetarkan hati penonton. Berita-berita di media massa pun tampaknya lebih banyak menggunakan lead tentang jumlah yang mengesankan. Ribuan massa, atau puluhan ribu massa…

Pilihan PASS untuk menghadirkan drama kolosal memang pilihan pas.  Tidak ada “kata-kata” yang ditunggu penonton. Proses penetapan pasangan incumbent itu sebagai calon kepala daerah untuk keduakalinya di Buleleng nyaris tak memiliki kisah rumit dan menarik. Semuanya berjalan mulus. Tak ada lagi kisah  yang perlu disampaikan lewat kata-kata.

Jika kemudian kata-kata harus disampaikan saat prosesi pendaftaran PASS itu, misalnya dalam bentuk sambutan, kata-kata yang keluar akan jatuh sebagai kata-kata normatif, dan terkesan pengulangan dari kata-kata yang pernah diucapkan sebelumnya. Penonton tak perlu kata-kata, karena tak ada pertanyaan lagi untuk dijawab dengan kata-kata. Maka “jawaban” yang disampaikan adalah pertunjukan jumlah dukungan yang tetap besar.

Wartawan pun, sebagai pihak yang akan mementaskan kembali drama itu di panggung mereka, seakan tak punya pertanyaan untuk memancing kata-kata jawaban. Berbeda dengan drama pencalonan Ahok, di mana wartawan membutuhkan banyak kata-kata sebagai jawaban dari drama politik penuh liku dan jebakan itu.

Kalau pun ada pertanyaan untuk PASS, paling pertanyaan masih berputar soal sikap partai terhadap Dewa Sukrawan (kader PDI Perjuangan yang mencalonkan diri lewat jalur perseorangan). Jika pertanyaan itu dijawab panjang-lebar apalagi dengan penuh semangat, tentu panggung itu akan berubah menjadi panggung Dewa Sukrawan.

SURYA Memainkan Misteri

Meski sebelumnya beredar berita bahwa pasangan Dewa Sukrawan-Dharma Wijaya (SURYA) akan diantar oleh ribuan massa saat mendaftar ke KPU Buleleng, namun kenyataannya pada 23 September 2016 ini SURYA diantar sedikit orang.

Di sini, pertunjukan yang dimainkan paket SURYA adalah pertunjukan drama mini kata dengan mengandalkan simbol-simbol. Yang “dijual” dalam pertunjukan itu adalah sejumlah misteri yang terus menjadi pertanyaan penonton. Misteri itu bahkan tetap menjadi misteri kembali karena dijawab dengan mini kata dan simbol-simbol.

Misteri itu misalnya benarkah Koalisi Bali Mandara (KBM) yang dimotori Partai Golkar dan Demokrat mendukung paket SURYA? Mampukah SURYA memenuhi kekurangan KTP dukungan agar bisa memenuhi syarat untuk lolos sebagai calon perseorangan, yakni mencapai paling tidak 43.000 KTP?

Misteri yang cukup bisa “dijual” bahkan jauh-jauh hari sebelum pendaftaran adalah keberadaannya sebagai kader PDI Perjuangan? Bagaimana sikap pengurus partai besar itu, bagaimana pula sikap teman-temannya sesama kader PDI Perjuangan di Buleleng? Belum lagi pertanyaan tentang bagaimana sikapnya jika dipecat dari PDI Perjuangan.

Jawaban-jawaban dari misteri itu cukup membuat drama yang dimainkan SURYA menjadi menarik pada saat mendaftar ke KPU. Paket itu tak perlu mengerahkan massa, karena tak akan mempengaruhi perhatian penonton, karena toh yang menjadi perhatian adalah pertanyaan-pertanyaan yang selama ini menjadi misteri.

Untuk menjawab misteri itu, SURYA cukup hanya memasukkan simbol-simbol dalam pertunjukannya. Jika banyak orang sangsi terhadap dukungan KBM, pada saat pendaftaran di KPU penonton paket SURYA memperlihatkan seorang atau sejumlah tokoh Partai Demokrat dan Partai Golkar.

Jika banyak orang bertanya soal kemampuannya memenuhi syarat dukungan KTP, dia cukup tersenyum dan memasang wajah santai dengan ekspresi tidak cemas sama sekali. Cukup menjawab dengan mini kata, misalnya “tunggu saja nanti,” atau “itu rahasia”.

Kalau boleh menduga, paket SURYA mungkin memang sengaja menciptakan banyak misteri dan rahasia agar kisahnya tak mudah diputarbalikkan oleh lawan.

Soal jumlah dukungan KTP misalnya, bisa saja SURYA sengaja menyetor KTP dengan jumlah pas-pasan pada tahap awal, sampai akhirnya KPU meminta tambahan lagi karena ada yang gagal verifikasi. Tujuannya, tentu membuat penonton terus bertahan mengikuti dramanya sampai akhir. (T)

Tags: AhokbulelengDKI JakartaPartai PolitikPolitik
Share137TweetSendShareSend
Previous Post

Siapkan Diri Ikut “Rawayan Award” – Lomba Naskah Teater DKJ 2017

Next Post

Melukis Hingga Akhir Hayat – Obituari Tedja Suminar di Bentara Budaya

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post

Melukis Hingga Akhir Hayat - Obituari Tedja Suminar di Bentara Budaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co