23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pilkada Buleleng: Drama Pendaftaran – PASS Kolosal, SURYA Misterius

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 2, 2018
in Opini

MARILAH kita tonton proses Pilkada sebagai sebuah seni pertunjukan drama. Kita mulai dari prosesi pendaftaran pasangan calon kepala daerah ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) 21-23 September 2016. Prosesi itu, sadar atau tidak, adalah sebuah seni pertunjukan drama dengan kisah yang sama namun dengan bentuk berbeda-beda, dan tentu saja endingnya pastilah berlainan.

Pemain utamanya adalah pasangan calon. Penontonnya: calon pemilih atau orang di luar daerah yang tak punya hak untuk memilih di daerah itu. TV dan media massa lainnya adalah panggung.

Prosesi pendaftaran pasangan calon Ahok-Jarot di Jakarta ditonton oleh orang-orang di Indonesia, padahal calon pemilihnya hanya warga DKI. Tentu saja, karena sesuai kata banyak pengamat, Pilkada DKI itu Pilkada rasa Pilpres.

Di Buleleng, prosesi pendaftaran pasangan calon juga diperhatikan banyak warga Pulau Dewata. Padahal calon pemilihnya hanya di Buleleng. Bukan karena Pilkada Buleleng beraroma Pilpres, namun karena pada Pilkada serentak tahun 2017 ini hanya Buleleng satu-satunya kabupaten di Bali yang menggelar Pilkada. Daripada nganggur, lebih baik nonton.

Media massa sebagai panggung juga tak banyak punya pilihan kisah politik untuk dipertontonkan ke publik.

Kata-kata yang Ditunggu-tunggu

Sebagai seni pertunjukan drama, pasangan calon tentu sangat sadar diri mereka sedang ditonton. Maka, mereka pun mencari sutradara andal, pemain pembantu yang mumpuni, dan figuran yang membantu suksesnya pertunjukan. Pilihan bentuk pertunjukan pun beda.

Ada yang memilih pertunjukan kolosal dengan banyak pemain. Ada yang memilih drama mini kata: pemainnya sedikit, dialognya tak banyak, namun menampilkan banyak simbol (baca: misteri) agar penonton bisa terkesan dan terus bertanya-tanya.

Yang ditunjukkan oleh pasangan Ahok-Jarot bersama Megawati dan tokoh-tokoh PDI Perjuangan di Jakarta adalah pertunjukan drama dengan mengandalkan kata-kata sebagai daya tarik. Terjadi banyak monolog dan dialog dengan diksi atau pilihan kata-kata yang dipersiapkan dengan matang oleh para pemainnya.

Pilihan menampilkan kata-kata (bukan pengerahan massa) saat mendaftar di KPU memang pilihan tepat. Banyak kisah yang harus didedahkan dengan kata-kata. Misalnya, yang paling ditunggu, kisah bagaimana tiba-tiba Megawati akhirnya memilih Ahok padahal sebelumnya Ahok terkesan dicueki.

Kata-kata Megawati ditunggu. Kata-kata Ahok tentu juga ditunggu. Kata-kata sejumlah tokoh PDI Perjuangan yang sebelumnya berseberangan dengan Ahok juga ditunggu.

Jika hanya kata-kata yang ditunggu penonton, kenapa harus mengerahkan massa? Di situlah Ahok dengan cerdik mengeluarkan himbauan agar para pendukungnya tak perlu beramai-ramai mengantarnya ke KPU. Kata-kata himbauan itu adalah kata-kata dari “naskah” drama yang sudah diperhitungkan.

PASS dengan Drama Kolosal

Di Buleleng, pasangan Putu Agus Suradnyana-Nyoman Sutjidra (PASS), memilih untuk mempertunjukkan drama kolosal. dengan jumlah pemain, baik aktor utama maupun pemain figuran, dengan jumlah melimpah. Bahkan, agar kesan kolosal lebih mantap, pertunjukan itu juga diisi permainan dari grup musik lokal yang terkenal.

Pasangan Suradnyana-Sutjidra bersama petinggi PDI Perjuangan Bali dan Buleleng dan massa pendukung berkumpul di Gedung Kesenian. Permainan musik digelar, massa bergembira. Setelah itu, massa berjalan kaki dengan diiringi gamelan balaganjur dari Gedung Kesenian ke KPU untuk mendaftar.

Selayaknya drama kolosal yang hanya mengandalkan jumlah pemain, pertunjukan tentu lebih banyak mengandalkan komposisi gerak ketimbang monolog dan dialog. Pemain yang melimpah itu diatur blokingnya agar jumlah yang mengesankan itu tampak menggetarkan hati penonton. Berita-berita di media massa pun tampaknya lebih banyak menggunakan lead tentang jumlah yang mengesankan. Ribuan massa, atau puluhan ribu massa…

Pilihan PASS untuk menghadirkan drama kolosal memang pilihan pas.  Tidak ada “kata-kata” yang ditunggu penonton. Proses penetapan pasangan incumbent itu sebagai calon kepala daerah untuk keduakalinya di Buleleng nyaris tak memiliki kisah rumit dan menarik. Semuanya berjalan mulus. Tak ada lagi kisah  yang perlu disampaikan lewat kata-kata.

Jika kemudian kata-kata harus disampaikan saat prosesi pendaftaran PASS itu, misalnya dalam bentuk sambutan, kata-kata yang keluar akan jatuh sebagai kata-kata normatif, dan terkesan pengulangan dari kata-kata yang pernah diucapkan sebelumnya. Penonton tak perlu kata-kata, karena tak ada pertanyaan lagi untuk dijawab dengan kata-kata. Maka “jawaban” yang disampaikan adalah pertunjukan jumlah dukungan yang tetap besar.

Wartawan pun, sebagai pihak yang akan mementaskan kembali drama itu di panggung mereka, seakan tak punya pertanyaan untuk memancing kata-kata jawaban. Berbeda dengan drama pencalonan Ahok, di mana wartawan membutuhkan banyak kata-kata sebagai jawaban dari drama politik penuh liku dan jebakan itu.

Kalau pun ada pertanyaan untuk PASS, paling pertanyaan masih berputar soal sikap partai terhadap Dewa Sukrawan (kader PDI Perjuangan yang mencalonkan diri lewat jalur perseorangan). Jika pertanyaan itu dijawab panjang-lebar apalagi dengan penuh semangat, tentu panggung itu akan berubah menjadi panggung Dewa Sukrawan.

SURYA Memainkan Misteri

Meski sebelumnya beredar berita bahwa pasangan Dewa Sukrawan-Dharma Wijaya (SURYA) akan diantar oleh ribuan massa saat mendaftar ke KPU Buleleng, namun kenyataannya pada 23 September 2016 ini SURYA diantar sedikit orang.

Di sini, pertunjukan yang dimainkan paket SURYA adalah pertunjukan drama mini kata dengan mengandalkan simbol-simbol. Yang “dijual” dalam pertunjukan itu adalah sejumlah misteri yang terus menjadi pertanyaan penonton. Misteri itu bahkan tetap menjadi misteri kembali karena dijawab dengan mini kata dan simbol-simbol.

Misteri itu misalnya benarkah Koalisi Bali Mandara (KBM) yang dimotori Partai Golkar dan Demokrat mendukung paket SURYA? Mampukah SURYA memenuhi kekurangan KTP dukungan agar bisa memenuhi syarat untuk lolos sebagai calon perseorangan, yakni mencapai paling tidak 43.000 KTP?

Misteri yang cukup bisa “dijual” bahkan jauh-jauh hari sebelum pendaftaran adalah keberadaannya sebagai kader PDI Perjuangan? Bagaimana sikap pengurus partai besar itu, bagaimana pula sikap teman-temannya sesama kader PDI Perjuangan di Buleleng? Belum lagi pertanyaan tentang bagaimana sikapnya jika dipecat dari PDI Perjuangan.

Jawaban-jawaban dari misteri itu cukup membuat drama yang dimainkan SURYA menjadi menarik pada saat mendaftar ke KPU. Paket itu tak perlu mengerahkan massa, karena tak akan mempengaruhi perhatian penonton, karena toh yang menjadi perhatian adalah pertanyaan-pertanyaan yang selama ini menjadi misteri.

Untuk menjawab misteri itu, SURYA cukup hanya memasukkan simbol-simbol dalam pertunjukannya. Jika banyak orang sangsi terhadap dukungan KBM, pada saat pendaftaran di KPU penonton paket SURYA memperlihatkan seorang atau sejumlah tokoh Partai Demokrat dan Partai Golkar.

Jika banyak orang bertanya soal kemampuannya memenuhi syarat dukungan KTP, dia cukup tersenyum dan memasang wajah santai dengan ekspresi tidak cemas sama sekali. Cukup menjawab dengan mini kata, misalnya “tunggu saja nanti,” atau “itu rahasia”.

Kalau boleh menduga, paket SURYA mungkin memang sengaja menciptakan banyak misteri dan rahasia agar kisahnya tak mudah diputarbalikkan oleh lawan.

Soal jumlah dukungan KTP misalnya, bisa saja SURYA sengaja menyetor KTP dengan jumlah pas-pasan pada tahap awal, sampai akhirnya KPU meminta tambahan lagi karena ada yang gagal verifikasi. Tujuannya, tentu membuat penonton terus bertahan mengikuti dramanya sampai akhir. (T)

Tags: AhokbulelengDKI JakartaPartai PolitikPolitik
Share137TweetSendShareSend
Previous Post

Siapkan Diri Ikut “Rawayan Award” – Lomba Naskah Teater DKJ 2017

Next Post

Melukis Hingga Akhir Hayat – Obituari Tedja Suminar di Bentara Budaya

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post

Melukis Hingga Akhir Hayat - Obituari Tedja Suminar di Bentara Budaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co