2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Keajaiban 17 Agustus dan Cinta yang Kian Redup Setelah Itu

Ida Ayu Putri Adityarini by Ida Ayu Putri Adityarini
February 2, 2018
in Opini

Foto: Mursal Buyung

TANGGAL tujuh belas Agustus adalah peringatan, perayaan, dan perenungan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Semua orang tahu itu. Pada tanggal 17 Agustus pada setiap tahunnya, sejak tahun 1945, rakyat Indonesia memperingati, merayakan, dan merenungi arti kemerdekaan.

Semua orang juga tahu itu. Tidak ada rakyat Indonesia yang tidak tahu atau lupa tanggal kemerdekaan Republik Indonesia. Tanggal ini begitu keramat. Istimewa. Bertuah. Bahkan, tidak sedikit calon orangtua yang mempercepat atau mengundur tanggal kelahiran anak mereka agar jatuh tepat di tanggal ini.

Semua perhatian, semua mata, semua semangat seolah-olah hanya tertuju pada tanggal 17 Agustus. Lalu, bagaimana nasib tanggal-tanggal sebelum dan sesudahnya?

Tanggal 17 Agustus. Upacara bendera dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia diadakan di mana-mana, mulai dari kalangan banjar, RT, RW, desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, sampai di Istana Negara. Tidak ketinggalan, sekolah-sekolah dengan guru-guru dan murid-muridnya, dari SD sampai perguruan tinggi juga melaksanakan upacara bendera.

Mereka tampil lebih rapi daripada biasanya. Lebih disiplin daripada biasanya. Dan mengikuti upacara bendera lebih tertib daripada biasanya. Pasukan pengibar bendera menjadi pusat perhatian. Ratusan siswa-siswi terpilih dari seluruh Indonesia bertugas mengibarkan bendera dari tingkat kecamatan sampai ke Istana Negara.

Tentu, siswa-siswi yang terpillih menjadi pasukan pengibar bendera di tingkat nasional menjadi yang paling berbangga hati. Menjadi salah satu anggota pasukan pengibar bendera di istana negara ketika tanggal 17 Agustus adalah suatu kebanggaan yang luar biasa. Kalau boleh diibaratkan, kebanggannya sama seperti kebanggaan para pejuang dulu dalam merebut kemerdekaan.

Mungkin, itulah salah satu penyebab Gloria sangat sedih dan kecewa ketika sempat dinyatakan gugur sebagai anggota pasukan pengibar bendera di Istana Negara tahun ini. Semua orang pasti sudah baca dan menonton beritanya. Kebanggaan ini, tidak hanya dirasakan oleh para pasukan pengibar bendera di manapun berada. Kebanggaan ini juga dirasakan oleh orang-orang yang mengikuti upacara bendera secara langsung.

Bahkan, kebanggaan ini juga dirasakan oleh orang-orang yang mengikuti upacara bendera lewat layar TV. Rasa bangga tiba-tiba saja muncul entah dari mana asalnya. Rasa nasionalisme jadi meningkat 200%. Jika misalnya tiba-tiba ada penjajah yang muncul pada tanggal 17 Agustus, bisa dipastikan penjajah itu tidak akan selamat.

Rasa haru juga tiba-tiba muncul ketika melihat ratusan bendera merah putih berjejer di sepanjang jalan. Apalagi, ketika para pasukan pengibar bendera di manapun berada mulai menaikkan bendera merah putih diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya. Duh! Itu bisa membuat badan merinding.

Tanggal 17 Agustus. Lomba-lomba khas 17-an bertebaran. Kalangan banjar, RT, RW, desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, sampai ibukota mengadakan lomba-lomba. Dari lomba yang paling mainstream sampai yang paling antimainstream dilaksanakan untuk merayakan tanggal 17 Agustus.

Dari lomba makan krupuk sampai lomba … (saya belum bisa menemukan jenis lomba 17-an yang antimainstream. Mungkin pembaca bisa membantu saya mengisi titik-titik tersebut di atas.hehe) dilaksanakan pada tanggal ini. Pesertanya adalah seluruh warga. Ibu-ibu rumah tangga, bapak-bapak, dan anak-anak yang sudah selesai mengikuti upacara bendera atau anak-anak yang bolos mengikuti upacara bendera karena bangun kesiangan, semuanya tumpah ruah di balai banjar atau lapangan kampung.

Mereka tertawa, bersuka cita, mengakrabkan diri dengam warga lainnya, dan menjalin persatuan. Ya. Persatuan. Percaya tidak percaya, mau tidak mau, tanggal 17 Agustus tidak hanya menjadi tanggal kemerdekaan Indonesia, tetapi juga menjadi tanggal pemersatu warga se-banjar atau sekampung.

Gara-gara tanggal 17 Agustus, semua warga keluar rumah, bertegur sapa, berinteraksi secara lebih intim. Hal yang semakin jarang bisa dilakukan oleh orang-orang saat ini. Dibalik pro kontra-nya, lomba-lomba itu adalah cara yang paling sederhana yang bisa dilakukan oleh masyarakat luas untuk merayakan tanggal 17 Agustus sekaligus melunasi rindu pada rasa kebersamaan dan persatuan yang sangat sulit didapat.

Tanggal 17 Agustus. Semua media, dari media cetak, media elektronik, sampai media sosial dipenuhi renungan 17 Agustus. Radio-radio memutarkan lagu-lagu kebangsaan dari pagi sampai malam hari. Radio milik pemerintah memutarkan lagu-lagu kebangsaan lebih sering dari biasanya.

Radio-radio milik swasta yang biasanya memutar lagu-lagu pop atau dangdut juga ikut memutar lagu-lagu kebangsaan. Tv-tv serentak menyiarkan upacara bendera secara langsung dari istana negara. Selain itu, FTV-FTV yang lebih banyak tidak masuk akalnya mendadak lenyap dari permukaan TV dan digantikan oleh pemutaran kembali film-film Indonesia bernuansa kepahlawanan dan perjuangan. Ini tentu menjadi surga dunia bagi para pecinta film Indonesia berkualitas.

Banyak pula acara TV yang mengulas berbagai hal yang berkaitan dengan tanggal 17 Agustus. Jasa-jasa para pahlawan diingat kembali, pembacaan naskah proklamasi ditayangkan kembali, sejarah bangsa dikritisi, nama-nama presiden Indonesia dari yang pertama sampai yang sekarang juga tidak luput dari ulasan televisi.

Tidak ketinggalan juga euforia tanggal 17 Agustus terjadi di media sosial. Para pengguna media sosial berlomba-lomba meng-update status tentang tanggal 17 Agustus di akun medsos mereka dari facebook, instagram, twitter, BBM, line, path, snapchat, dll.

Para medsos mania ini berlomba-lomba mengucapkan selamat untuk Indonesia, tidak peduli penggunaan bahasa mereka benar atau salah. Foto-foto kegiatan 17-an memenuhi beranda tiap-tiap media sosial. Jumlah orang yang mengatakan bangga terhadap Indonesia, di media sosial, naik drastis pada tanggal 17 Agustus.

Meme-meme tentang hakikat kemerdekaan bertebaran di media sosial. Para medsos mania begitu tanggap dengan meme-meme itu. “Comment-like-share” memenuhi meme-meme itu. Ada yang mengatakan bahwa sebenarnya Indonesia belum merdeka. Ada yang mengatakan bahwa Indonesia sudah merdeka. Ada yang mengajak untuk selalu cinta Indonesia.

Yang setuju dan rajin mengetik, memilih berkomentar. Yang setuju, tetapi malas mengetik, memilih memencet tanda “bagikan”. Yang biasa-biasa saja, memilih memencet tanda “suka”.

Dua tiga hari, seminggu dua minggu, sebulan dua bulan, tanggal-tanggal selanjutnya, semangat peringatan, perayaan, dan perenungan tanggal 17 Agustus mulai meredup. Kebanggaan pada Indonesia kembali memudar. Peserta upacara kembali tidak bersemangat dan tidak tertib mengikuti upacara bendera setiap hari Senin.

Para warga banjar, desa, RT, RW kembali sibuk dan jarang bertegur sapa. Kebersamaan dan persatuan kembali meredup. Radio-radio kembali memutarkan lagu-lagu pop dan dangdut. FTV-FTV yang lebih banyak tidak masuk akalnya kembali muncul ke permukaan TV. Neraka dunia bagi para penggemar film-film Indonesia berkualitas terbuka kembali.

Acara ulasan tentang jasa-jasa pahlawan dan sejarah Indonesia kembali digantikan dengan ulasan kehidupan pribadi selebritis yang bahkan ditayangkan tiga kali sehari seperti minum obat. Media sosial kembali dipenuhi curhatan, jual-beli barang dan jasa, serta foto-foto selfie beragam gaya dan beragam edit-an. Meme-meme kembali pada guyonan seperti biasanya. “Comment-like-share” bernada hate speech, rasisme, dan bullying kembali membuat sesak media sosial.

Kebanggaan dan rasa cinta pada Indonesia seolah-olah di-ninabobo-kan kembali. Kebanggaan dan rasa cinta pada Indonesia itu tidur kembali dalam waktu yang lama. Satu tahun!

Begitulah ajaibnya tanggal 17 Agustus. Ia bisa menimbulkan rasa bangga, haru, dan cinta Indonesia secara mendadak dan massive. Ia bisa membuat upacara bendera lebih tertib. Ia bisa membuat warga banjar, desa, RT, RW melunasi rindu pada kebersamaan dan persatuan. Ia bisa membuat radio memutar lagu-lagu kebangsaan lebih sering daripada biasanya. Ia bisa membuat FTV-FTV digantikan oleh film-film Indonesia berkualitas. Ia bisa membuat medsos mania meredam hate speech, rasisme, dan bullying mereka.

Namun, apa daya tanggal 17 Agustus juga adalah tanggal biasa seperti tanggal-tanggal lain dalam kalender. Kekuatannya hanya satu hari saja. Hanya 24 jam dalam satu tahun. Ketika ia sudah lewat dan digantikan tanggal-tanggal berikutnya, keajaiban dan tuahnya juga ikut menghilang.

Pada akhirnya, hanya ada dua pilihan yang bisa dilakukan agar esensi peringatan, perayaan, dan perenungan hari kemerdekaan Indonesia tidak hanya hidup satu hari saja. Pertama, senantiasa menjaga bara bangga dan api cinta pada Indonesia tetap menyala atau kedua, mengubah semua penanggalan di kalender menjadi tanggal 17 Agustus. (T)

Gianyar, beberapa hari setelah tanggal 17 Agustus 2016

Tags: cintaIndonesiakemerdekaan
Share17TweetSendShareSend
Previous Post

Orang Bali Senang Berputar-putar

Next Post

Ospek Bisa Tiru Indomaret: “Selamat Datang di Kampus, Selamat Bergembira…”

Ida Ayu Putri Adityarini

Ida Ayu Putri Adityarini

Pernah kuliah di Singaraja. Kini terus menulis puisi dan cerpen sembari bekerja di Balai Bahasa Provinsi Bali

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post

Ospek Bisa Tiru Indomaret: “Selamat Datang di Kampus, Selamat Bergembira…”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co