24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Keajaiban 17 Agustus dan Cinta yang Kian Redup Setelah Itu

Ida Ayu Putri Adityarini by Ida Ayu Putri Adityarini
February 2, 2018
in Opini

Foto: Mursal Buyung

TANGGAL tujuh belas Agustus adalah peringatan, perayaan, dan perenungan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Semua orang tahu itu. Pada tanggal 17 Agustus pada setiap tahunnya, sejak tahun 1945, rakyat Indonesia memperingati, merayakan, dan merenungi arti kemerdekaan.

Semua orang juga tahu itu. Tidak ada rakyat Indonesia yang tidak tahu atau lupa tanggal kemerdekaan Republik Indonesia. Tanggal ini begitu keramat. Istimewa. Bertuah. Bahkan, tidak sedikit calon orangtua yang mempercepat atau mengundur tanggal kelahiran anak mereka agar jatuh tepat di tanggal ini.

Semua perhatian, semua mata, semua semangat seolah-olah hanya tertuju pada tanggal 17 Agustus. Lalu, bagaimana nasib tanggal-tanggal sebelum dan sesudahnya?

Tanggal 17 Agustus. Upacara bendera dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia diadakan di mana-mana, mulai dari kalangan banjar, RT, RW, desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, sampai di Istana Negara. Tidak ketinggalan, sekolah-sekolah dengan guru-guru dan murid-muridnya, dari SD sampai perguruan tinggi juga melaksanakan upacara bendera.

Mereka tampil lebih rapi daripada biasanya. Lebih disiplin daripada biasanya. Dan mengikuti upacara bendera lebih tertib daripada biasanya. Pasukan pengibar bendera menjadi pusat perhatian. Ratusan siswa-siswi terpilih dari seluruh Indonesia bertugas mengibarkan bendera dari tingkat kecamatan sampai ke Istana Negara.

Tentu, siswa-siswi yang terpillih menjadi pasukan pengibar bendera di tingkat nasional menjadi yang paling berbangga hati. Menjadi salah satu anggota pasukan pengibar bendera di istana negara ketika tanggal 17 Agustus adalah suatu kebanggaan yang luar biasa. Kalau boleh diibaratkan, kebanggannya sama seperti kebanggaan para pejuang dulu dalam merebut kemerdekaan.

Mungkin, itulah salah satu penyebab Gloria sangat sedih dan kecewa ketika sempat dinyatakan gugur sebagai anggota pasukan pengibar bendera di Istana Negara tahun ini. Semua orang pasti sudah baca dan menonton beritanya. Kebanggaan ini, tidak hanya dirasakan oleh para pasukan pengibar bendera di manapun berada. Kebanggaan ini juga dirasakan oleh orang-orang yang mengikuti upacara bendera secara langsung.

Bahkan, kebanggaan ini juga dirasakan oleh orang-orang yang mengikuti upacara bendera lewat layar TV. Rasa bangga tiba-tiba saja muncul entah dari mana asalnya. Rasa nasionalisme jadi meningkat 200%. Jika misalnya tiba-tiba ada penjajah yang muncul pada tanggal 17 Agustus, bisa dipastikan penjajah itu tidak akan selamat.

Rasa haru juga tiba-tiba muncul ketika melihat ratusan bendera merah putih berjejer di sepanjang jalan. Apalagi, ketika para pasukan pengibar bendera di manapun berada mulai menaikkan bendera merah putih diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya. Duh! Itu bisa membuat badan merinding.

Tanggal 17 Agustus. Lomba-lomba khas 17-an bertebaran. Kalangan banjar, RT, RW, desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, sampai ibukota mengadakan lomba-lomba. Dari lomba yang paling mainstream sampai yang paling antimainstream dilaksanakan untuk merayakan tanggal 17 Agustus.

Dari lomba makan krupuk sampai lomba … (saya belum bisa menemukan jenis lomba 17-an yang antimainstream. Mungkin pembaca bisa membantu saya mengisi titik-titik tersebut di atas.hehe) dilaksanakan pada tanggal ini. Pesertanya adalah seluruh warga. Ibu-ibu rumah tangga, bapak-bapak, dan anak-anak yang sudah selesai mengikuti upacara bendera atau anak-anak yang bolos mengikuti upacara bendera karena bangun kesiangan, semuanya tumpah ruah di balai banjar atau lapangan kampung.

Mereka tertawa, bersuka cita, mengakrabkan diri dengam warga lainnya, dan menjalin persatuan. Ya. Persatuan. Percaya tidak percaya, mau tidak mau, tanggal 17 Agustus tidak hanya menjadi tanggal kemerdekaan Indonesia, tetapi juga menjadi tanggal pemersatu warga se-banjar atau sekampung.

Gara-gara tanggal 17 Agustus, semua warga keluar rumah, bertegur sapa, berinteraksi secara lebih intim. Hal yang semakin jarang bisa dilakukan oleh orang-orang saat ini. Dibalik pro kontra-nya, lomba-lomba itu adalah cara yang paling sederhana yang bisa dilakukan oleh masyarakat luas untuk merayakan tanggal 17 Agustus sekaligus melunasi rindu pada rasa kebersamaan dan persatuan yang sangat sulit didapat.

Tanggal 17 Agustus. Semua media, dari media cetak, media elektronik, sampai media sosial dipenuhi renungan 17 Agustus. Radio-radio memutarkan lagu-lagu kebangsaan dari pagi sampai malam hari. Radio milik pemerintah memutarkan lagu-lagu kebangsaan lebih sering dari biasanya.

Radio-radio milik swasta yang biasanya memutar lagu-lagu pop atau dangdut juga ikut memutar lagu-lagu kebangsaan. Tv-tv serentak menyiarkan upacara bendera secara langsung dari istana negara. Selain itu, FTV-FTV yang lebih banyak tidak masuk akalnya mendadak lenyap dari permukaan TV dan digantikan oleh pemutaran kembali film-film Indonesia bernuansa kepahlawanan dan perjuangan. Ini tentu menjadi surga dunia bagi para pecinta film Indonesia berkualitas.

Banyak pula acara TV yang mengulas berbagai hal yang berkaitan dengan tanggal 17 Agustus. Jasa-jasa para pahlawan diingat kembali, pembacaan naskah proklamasi ditayangkan kembali, sejarah bangsa dikritisi, nama-nama presiden Indonesia dari yang pertama sampai yang sekarang juga tidak luput dari ulasan televisi.

Tidak ketinggalan juga euforia tanggal 17 Agustus terjadi di media sosial. Para pengguna media sosial berlomba-lomba meng-update status tentang tanggal 17 Agustus di akun medsos mereka dari facebook, instagram, twitter, BBM, line, path, snapchat, dll.

Para medsos mania ini berlomba-lomba mengucapkan selamat untuk Indonesia, tidak peduli penggunaan bahasa mereka benar atau salah. Foto-foto kegiatan 17-an memenuhi beranda tiap-tiap media sosial. Jumlah orang yang mengatakan bangga terhadap Indonesia, di media sosial, naik drastis pada tanggal 17 Agustus.

Meme-meme tentang hakikat kemerdekaan bertebaran di media sosial. Para medsos mania begitu tanggap dengan meme-meme itu. “Comment-like-share” memenuhi meme-meme itu. Ada yang mengatakan bahwa sebenarnya Indonesia belum merdeka. Ada yang mengatakan bahwa Indonesia sudah merdeka. Ada yang mengajak untuk selalu cinta Indonesia.

Yang setuju dan rajin mengetik, memilih berkomentar. Yang setuju, tetapi malas mengetik, memilih memencet tanda “bagikan”. Yang biasa-biasa saja, memilih memencet tanda “suka”.

Dua tiga hari, seminggu dua minggu, sebulan dua bulan, tanggal-tanggal selanjutnya, semangat peringatan, perayaan, dan perenungan tanggal 17 Agustus mulai meredup. Kebanggaan pada Indonesia kembali memudar. Peserta upacara kembali tidak bersemangat dan tidak tertib mengikuti upacara bendera setiap hari Senin.

Para warga banjar, desa, RT, RW kembali sibuk dan jarang bertegur sapa. Kebersamaan dan persatuan kembali meredup. Radio-radio kembali memutarkan lagu-lagu pop dan dangdut. FTV-FTV yang lebih banyak tidak masuk akalnya kembali muncul ke permukaan TV. Neraka dunia bagi para penggemar film-film Indonesia berkualitas terbuka kembali.

Acara ulasan tentang jasa-jasa pahlawan dan sejarah Indonesia kembali digantikan dengan ulasan kehidupan pribadi selebritis yang bahkan ditayangkan tiga kali sehari seperti minum obat. Media sosial kembali dipenuhi curhatan, jual-beli barang dan jasa, serta foto-foto selfie beragam gaya dan beragam edit-an. Meme-meme kembali pada guyonan seperti biasanya. “Comment-like-share” bernada hate speech, rasisme, dan bullying kembali membuat sesak media sosial.

Kebanggaan dan rasa cinta pada Indonesia seolah-olah di-ninabobo-kan kembali. Kebanggaan dan rasa cinta pada Indonesia itu tidur kembali dalam waktu yang lama. Satu tahun!

Begitulah ajaibnya tanggal 17 Agustus. Ia bisa menimbulkan rasa bangga, haru, dan cinta Indonesia secara mendadak dan massive. Ia bisa membuat upacara bendera lebih tertib. Ia bisa membuat warga banjar, desa, RT, RW melunasi rindu pada kebersamaan dan persatuan. Ia bisa membuat radio memutar lagu-lagu kebangsaan lebih sering daripada biasanya. Ia bisa membuat FTV-FTV digantikan oleh film-film Indonesia berkualitas. Ia bisa membuat medsos mania meredam hate speech, rasisme, dan bullying mereka.

Namun, apa daya tanggal 17 Agustus juga adalah tanggal biasa seperti tanggal-tanggal lain dalam kalender. Kekuatannya hanya satu hari saja. Hanya 24 jam dalam satu tahun. Ketika ia sudah lewat dan digantikan tanggal-tanggal berikutnya, keajaiban dan tuahnya juga ikut menghilang.

Pada akhirnya, hanya ada dua pilihan yang bisa dilakukan agar esensi peringatan, perayaan, dan perenungan hari kemerdekaan Indonesia tidak hanya hidup satu hari saja. Pertama, senantiasa menjaga bara bangga dan api cinta pada Indonesia tetap menyala atau kedua, mengubah semua penanggalan di kalender menjadi tanggal 17 Agustus. (T)

Gianyar, beberapa hari setelah tanggal 17 Agustus 2016

Tags: cintaIndonesiakemerdekaan
Share17TweetSendShareSend
Previous Post

Orang Bali Senang Berputar-putar

Next Post

Ospek Bisa Tiru Indomaret: “Selamat Datang di Kampus, Selamat Bergembira…”

Ida Ayu Putri Adityarini

Ida Ayu Putri Adityarini

Pernah kuliah di Singaraja. Kini terus menulis puisi dan cerpen sembari bekerja di Balai Bahasa Provinsi Bali

Related Posts

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

Read moreDetails

Tanah Dijual, Adat Ditinggal —Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MASYARAKAT Bali sejatinya tidak kekurangan aturan untuk menjaga tanahnya yang kerap diuji , justru adalah keteguhan untuk mempertahankannya. Di tengah...

Read moreDetails

BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

by I Gede Joni Suhartawan
April 13, 2026
0
BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

BEGINILAH sebuah paradoks yang dilakoni Bali ketika berada di jagat politik anggaran Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta: Bali adalah si...

Read moreDetails

BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

by I Gede Joni Suhartawan
April 12, 2026
0
BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

BELAKANGAN ini, wajah politik di Bali tampak tidak sedang baik-baik saja. Jika kita jeli membaca arah angin dari Jakarta, ada...

Read moreDetails

Singkong dan Dosa Orde Baru

by Jaswanto
April 9, 2026
0
Singkong dan Dosa Orde Baru

RASANYA gurih, meski hanya dibubuhi garam. Teksturnya lembut sekaligus sedikit lengket di lidah. Tampilannya sederhana saja, mencerminkan masyarakat yang mengolah...

Read moreDetails

Rekonstruksi Status Tanah ‘Ex Eigendom Verponding’: Antara Legalitas Formal dan Penguasaan Fisik dalam Perspektif Keadilan Agraria

by I Made Pria Dharsana
April 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH bekas hak barat berupa eigendom verponding menyisakan persoalan hukum yang tidak pernah sepenuhnya selesai sejak berlakunya Undang-Undang Pokok Agraria....

Read moreDetails

Notaris di Ujung Integritas: Ketika Etika Gagal Menyelamatkan Moral

by I Made Pria Dharsana
April 5, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Kepercayaan publik terhadap notaris tidak runtuh dalam satu peristiwa besar, ia retak perlahan, dari satu kompromi kecil ke kompromi berikutnya....

Read moreDetails

Cybernotary, UUJN, dan UU ITE 2025:  Payung Hukum Ada, Notaris Masih di Persimpangan Digital

by I Made Pria Dharsana
April 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TRANSFORMASI digital telah mengguncang hampir seluruh praktik hukum di Indonesia, termasuk jabatan notaris. Konsep cybernotary kini bukan sekadar wacana akademik,...

Read moreDetails

Bunga, Denda, dan Moralitas Kreditur: Ketika Kontrak Menjadi Alat Tekanan

by I Made Pria Dharsana
March 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Ada satu pertanyaan yang jarang disentuh secara jujur dalam praktik perbankan: apakah kreditur selalu berada dalam posisi beritikad baik, bahkan...

Read moreDetails

Bali: Destinasi Wisata Dunia atau Simpul Energi Nasional? —Sebuah Persimpangan Peradaban

by I Made Pria Dharsana
March 25, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PULAU Bali hari ini tidak sekadar berdiri sebagai ruang geografis, tetapi sebagai simbol. Ia adalah representasi wajah Indonesia di mata...

Read moreDetails
Next Post

Ospek Bisa Tiru Indomaret: “Selamat Datang di Kampus, Selamat Bergembira…”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co