13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Keajaiban 17 Agustus dan Cinta yang Kian Redup Setelah Itu

Ida Ayu Putri Adityarini by Ida Ayu Putri Adityarini
February 2, 2018
in Opini

Foto: Mursal Buyung

TANGGAL tujuh belas Agustus adalah peringatan, perayaan, dan perenungan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Semua orang tahu itu. Pada tanggal 17 Agustus pada setiap tahunnya, sejak tahun 1945, rakyat Indonesia memperingati, merayakan, dan merenungi arti kemerdekaan.

Semua orang juga tahu itu. Tidak ada rakyat Indonesia yang tidak tahu atau lupa tanggal kemerdekaan Republik Indonesia. Tanggal ini begitu keramat. Istimewa. Bertuah. Bahkan, tidak sedikit calon orangtua yang mempercepat atau mengundur tanggal kelahiran anak mereka agar jatuh tepat di tanggal ini.

Semua perhatian, semua mata, semua semangat seolah-olah hanya tertuju pada tanggal 17 Agustus. Lalu, bagaimana nasib tanggal-tanggal sebelum dan sesudahnya?

Tanggal 17 Agustus. Upacara bendera dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia diadakan di mana-mana, mulai dari kalangan banjar, RT, RW, desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, sampai di Istana Negara. Tidak ketinggalan, sekolah-sekolah dengan guru-guru dan murid-muridnya, dari SD sampai perguruan tinggi juga melaksanakan upacara bendera.

Mereka tampil lebih rapi daripada biasanya. Lebih disiplin daripada biasanya. Dan mengikuti upacara bendera lebih tertib daripada biasanya. Pasukan pengibar bendera menjadi pusat perhatian. Ratusan siswa-siswi terpilih dari seluruh Indonesia bertugas mengibarkan bendera dari tingkat kecamatan sampai ke Istana Negara.

Tentu, siswa-siswi yang terpillih menjadi pasukan pengibar bendera di tingkat nasional menjadi yang paling berbangga hati. Menjadi salah satu anggota pasukan pengibar bendera di istana negara ketika tanggal 17 Agustus adalah suatu kebanggaan yang luar biasa. Kalau boleh diibaratkan, kebanggannya sama seperti kebanggaan para pejuang dulu dalam merebut kemerdekaan.

Mungkin, itulah salah satu penyebab Gloria sangat sedih dan kecewa ketika sempat dinyatakan gugur sebagai anggota pasukan pengibar bendera di Istana Negara tahun ini. Semua orang pasti sudah baca dan menonton beritanya. Kebanggaan ini, tidak hanya dirasakan oleh para pasukan pengibar bendera di manapun berada. Kebanggaan ini juga dirasakan oleh orang-orang yang mengikuti upacara bendera secara langsung.

Bahkan, kebanggaan ini juga dirasakan oleh orang-orang yang mengikuti upacara bendera lewat layar TV. Rasa bangga tiba-tiba saja muncul entah dari mana asalnya. Rasa nasionalisme jadi meningkat 200%. Jika misalnya tiba-tiba ada penjajah yang muncul pada tanggal 17 Agustus, bisa dipastikan penjajah itu tidak akan selamat.

Rasa haru juga tiba-tiba muncul ketika melihat ratusan bendera merah putih berjejer di sepanjang jalan. Apalagi, ketika para pasukan pengibar bendera di manapun berada mulai menaikkan bendera merah putih diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya. Duh! Itu bisa membuat badan merinding.

Tanggal 17 Agustus. Lomba-lomba khas 17-an bertebaran. Kalangan banjar, RT, RW, desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, sampai ibukota mengadakan lomba-lomba. Dari lomba yang paling mainstream sampai yang paling antimainstream dilaksanakan untuk merayakan tanggal 17 Agustus.

Dari lomba makan krupuk sampai lomba … (saya belum bisa menemukan jenis lomba 17-an yang antimainstream. Mungkin pembaca bisa membantu saya mengisi titik-titik tersebut di atas.hehe) dilaksanakan pada tanggal ini. Pesertanya adalah seluruh warga. Ibu-ibu rumah tangga, bapak-bapak, dan anak-anak yang sudah selesai mengikuti upacara bendera atau anak-anak yang bolos mengikuti upacara bendera karena bangun kesiangan, semuanya tumpah ruah di balai banjar atau lapangan kampung.

Mereka tertawa, bersuka cita, mengakrabkan diri dengam warga lainnya, dan menjalin persatuan. Ya. Persatuan. Percaya tidak percaya, mau tidak mau, tanggal 17 Agustus tidak hanya menjadi tanggal kemerdekaan Indonesia, tetapi juga menjadi tanggal pemersatu warga se-banjar atau sekampung.

Gara-gara tanggal 17 Agustus, semua warga keluar rumah, bertegur sapa, berinteraksi secara lebih intim. Hal yang semakin jarang bisa dilakukan oleh orang-orang saat ini. Dibalik pro kontra-nya, lomba-lomba itu adalah cara yang paling sederhana yang bisa dilakukan oleh masyarakat luas untuk merayakan tanggal 17 Agustus sekaligus melunasi rindu pada rasa kebersamaan dan persatuan yang sangat sulit didapat.

Tanggal 17 Agustus. Semua media, dari media cetak, media elektronik, sampai media sosial dipenuhi renungan 17 Agustus. Radio-radio memutarkan lagu-lagu kebangsaan dari pagi sampai malam hari. Radio milik pemerintah memutarkan lagu-lagu kebangsaan lebih sering dari biasanya.

Radio-radio milik swasta yang biasanya memutar lagu-lagu pop atau dangdut juga ikut memutar lagu-lagu kebangsaan. Tv-tv serentak menyiarkan upacara bendera secara langsung dari istana negara. Selain itu, FTV-FTV yang lebih banyak tidak masuk akalnya mendadak lenyap dari permukaan TV dan digantikan oleh pemutaran kembali film-film Indonesia bernuansa kepahlawanan dan perjuangan. Ini tentu menjadi surga dunia bagi para pecinta film Indonesia berkualitas.

Banyak pula acara TV yang mengulas berbagai hal yang berkaitan dengan tanggal 17 Agustus. Jasa-jasa para pahlawan diingat kembali, pembacaan naskah proklamasi ditayangkan kembali, sejarah bangsa dikritisi, nama-nama presiden Indonesia dari yang pertama sampai yang sekarang juga tidak luput dari ulasan televisi.

Tidak ketinggalan juga euforia tanggal 17 Agustus terjadi di media sosial. Para pengguna media sosial berlomba-lomba meng-update status tentang tanggal 17 Agustus di akun medsos mereka dari facebook, instagram, twitter, BBM, line, path, snapchat, dll.

Para medsos mania ini berlomba-lomba mengucapkan selamat untuk Indonesia, tidak peduli penggunaan bahasa mereka benar atau salah. Foto-foto kegiatan 17-an memenuhi beranda tiap-tiap media sosial. Jumlah orang yang mengatakan bangga terhadap Indonesia, di media sosial, naik drastis pada tanggal 17 Agustus.

Meme-meme tentang hakikat kemerdekaan bertebaran di media sosial. Para medsos mania begitu tanggap dengan meme-meme itu. “Comment-like-share” memenuhi meme-meme itu. Ada yang mengatakan bahwa sebenarnya Indonesia belum merdeka. Ada yang mengatakan bahwa Indonesia sudah merdeka. Ada yang mengajak untuk selalu cinta Indonesia.

Yang setuju dan rajin mengetik, memilih berkomentar. Yang setuju, tetapi malas mengetik, memilih memencet tanda “bagikan”. Yang biasa-biasa saja, memilih memencet tanda “suka”.

Dua tiga hari, seminggu dua minggu, sebulan dua bulan, tanggal-tanggal selanjutnya, semangat peringatan, perayaan, dan perenungan tanggal 17 Agustus mulai meredup. Kebanggaan pada Indonesia kembali memudar. Peserta upacara kembali tidak bersemangat dan tidak tertib mengikuti upacara bendera setiap hari Senin.

Para warga banjar, desa, RT, RW kembali sibuk dan jarang bertegur sapa. Kebersamaan dan persatuan kembali meredup. Radio-radio kembali memutarkan lagu-lagu pop dan dangdut. FTV-FTV yang lebih banyak tidak masuk akalnya kembali muncul ke permukaan TV. Neraka dunia bagi para penggemar film-film Indonesia berkualitas terbuka kembali.

Acara ulasan tentang jasa-jasa pahlawan dan sejarah Indonesia kembali digantikan dengan ulasan kehidupan pribadi selebritis yang bahkan ditayangkan tiga kali sehari seperti minum obat. Media sosial kembali dipenuhi curhatan, jual-beli barang dan jasa, serta foto-foto selfie beragam gaya dan beragam edit-an. Meme-meme kembali pada guyonan seperti biasanya. “Comment-like-share” bernada hate speech, rasisme, dan bullying kembali membuat sesak media sosial.

Kebanggaan dan rasa cinta pada Indonesia seolah-olah di-ninabobo-kan kembali. Kebanggaan dan rasa cinta pada Indonesia itu tidur kembali dalam waktu yang lama. Satu tahun!

Begitulah ajaibnya tanggal 17 Agustus. Ia bisa menimbulkan rasa bangga, haru, dan cinta Indonesia secara mendadak dan massive. Ia bisa membuat upacara bendera lebih tertib. Ia bisa membuat warga banjar, desa, RT, RW melunasi rindu pada kebersamaan dan persatuan. Ia bisa membuat radio memutar lagu-lagu kebangsaan lebih sering daripada biasanya. Ia bisa membuat FTV-FTV digantikan oleh film-film Indonesia berkualitas. Ia bisa membuat medsos mania meredam hate speech, rasisme, dan bullying mereka.

Namun, apa daya tanggal 17 Agustus juga adalah tanggal biasa seperti tanggal-tanggal lain dalam kalender. Kekuatannya hanya satu hari saja. Hanya 24 jam dalam satu tahun. Ketika ia sudah lewat dan digantikan tanggal-tanggal berikutnya, keajaiban dan tuahnya juga ikut menghilang.

Pada akhirnya, hanya ada dua pilihan yang bisa dilakukan agar esensi peringatan, perayaan, dan perenungan hari kemerdekaan Indonesia tidak hanya hidup satu hari saja. Pertama, senantiasa menjaga bara bangga dan api cinta pada Indonesia tetap menyala atau kedua, mengubah semua penanggalan di kalender menjadi tanggal 17 Agustus. (T)

Gianyar, beberapa hari setelah tanggal 17 Agustus 2016

Tags: cintaIndonesiakemerdekaan
Share17TweetSendShareSend
Previous Post

Orang Bali Senang Berputar-putar

Next Post

Ospek Bisa Tiru Indomaret: “Selamat Datang di Kampus, Selamat Bergembira…”

Ida Ayu Putri Adityarini

Ida Ayu Putri Adityarini

Pernah kuliah di Singaraja. Kini terus menulis puisi dan cerpen sembari bekerja di Balai Bahasa Provinsi Bali

Related Posts

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

Read moreDetails

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

Read moreDetails

Sertifikat Ganda dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Terjawab  —Dokumen Negara Bisa Dipalsukan, Menutup Celah Mafia Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini...

Read moreDetails

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

by I Made Pria Dharsana
June 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era  reformasi bukan pada keamanan akan tetapi...

Read moreDetails

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

Read moreDetails

Rekonstruksi Hak Waris dalam Perkawinan Beda Agama: Perspektif Hukum Keluarga dan Agraria

by I Made Pria Dharsana
May 27, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

HUKUM seringkali berbicara dalam bahasa kepastian, tetapi realitas sosial tidak selalu berjalan dalam garis yang sama. Perkawinan beda agama menjadi...

Read moreDetails

Koperasi Merah Putih: Mengulang Jejak KUD, Menabrak BUMDes, atau Membangun Jalan Baru?

by I Made Pria Dharsana
May 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Di tengah semangat membangun kemandirian ekonomi nasional, gagasan Koperasi Merah Putih kembali diangkat sebagai simbol kebangkitan ekonomi rakyat. Ia bukan...

Read moreDetails

Cinta, Hibah, dan Tanah:  Antara Ketulusan dan Batas yang Tak Bisa Ditembus

by I Made Pria Dharsana
May 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

CINTA kerap mendorong seseorang untuk memberi tanpa syarat.  Dalam relasi suami-istri, pemberian itu bahkan sering dimaknai sebagai bentuk ketulusan paling tinggi—termasuk...

Read moreDetails
Next Post

Ospek Bisa Tiru Indomaret: “Selamat Datang di Kampus, Selamat Bergembira…”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co