2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Identitas, Madu Sekaligus Racun Bagi Kemanusiaan

Komang Armada by Komang Armada
February 2, 2018
in Opini

Foto: Ole

“Mama, please take this badge off of me, I can’t use it anymore.” (Knockin’ on Heaven’s Door – Bob Dylan)

JAUH sebelum seniman besar pengusung musik balada itu berbicara murung perihal atribut, identitas – atau apa pun namanya – hinduisme sudah membabarkannya terlebih dahulu melalui kitab Weda Smerti :  Itihasa. Epos Mahabharata, tepatnya. Dalam salah satu petilannya disampirkan sebuah kiasan bagus bagaimana identitas melambungkan, sejurus berikutnya, menjerumuskan penyandangnya tanpa ampun ke titik sebaliknya.

Arjuna dan Ekalaya Sebagai Alegori

Pada hari yang tidak ingin ia ingat, di tepi sebuah hutan, Arjuna mendapati anjing berburunya mati dengan cara yang ganjil. Lima anak panah menancap tepat di langit-langit mulutnya, “atraksi” yang hanya sanggup dilakukan oleh pemanah dengan kecakapan luar biasa. Anak panah yang tentu dilesakkan kelima-limanya sekaligus pada jeda amat singkat saat binatang malang itu menyalak membuka mulutnya.

Ekalaya muncul dari balik gerumbulan pohon, meminta maaf atas kelancangannya. Arjuna berdiri kikuk, dan jauh di dasar kesadarannya, ia merasa ciut, kerdil dan kalah.  Anak Pandu yang seumur-umur merasa tak menemukan tanding itu, yang jumawa oleh pelbagai atribut yang ia sandang : seorang panengah Pandawa, pemanah paling titis dari keluarga Bharata, pangeran paling berbakat dalam ilmu perang, murid kesayangan Rsi Durna pula ……

Nyatanya, sederet embel-embel cemerlang yang membuat jeri lawan itu mati hawa, tampak biasa, sangat biasa di depan Ekalaya. Pemanah dengan asal-usul yang tak cemerlang. Yang ditolak sebagai murid oleh Durna. Yang memutuskan belajar sendiri dengan memuja dan menyuntuki bertahun-tahun patung Durna sebagai guru imajiner. Kabar kemunculannya, tidak bisa tidak, mengagetkan seisi Hastina, tidak terkecuali Guru Durna.

Identitas, Sebuah Paradoks.

Betapa absurd identitas sebenarnya. Memuliakan sekali waktu, memasung penyandangnya ke dalam sekat sempit di lain waktu. Memasang jarak, mematikan kesediaannya berbagi ruang dengan yang beda.

Dalam skala besar bernama Indonesia, identitas itu bisa bernama etnis, agama, ras, golongan atau pilihan warna politik. Stratifikasi sosial pun begitu. Mendudukkan orang pada posisi tinggi-rendah, kadang berhadap-hadapan, kemudian membuat rumusan pongah atasnya. Kita mengenal terminologi ‘kelas menengah’, ‘kelas bawah’, ‘kota’, ‘udik’, ‘kaum terdidik’, ‘kaum tak terdidik’.

Dalam konteks Bali, embel-embel itu bisa bernama kawitan, trah, wangsa, ‘orang tempatan’, ‘kaum pendatang’ alias tamiu, dan seterusnya. Tiga yang pertama saya abaikan dalam tulisan ini. Sementara dua yang terakhir – orang tempatan (wed : bahasa bali) dan kaum pendatang – rasanya lebih seksi sebagai tema, setidaknya tahun-tahun belakangan ini.

Saya tidak sedang memparadekan sensitivitas orang Bali, tidak. Hanya suka tercenung, jengah oleh sindrom dualitas tidak berkesudahan ‘saya-Anda’, ‘kita-mereka’ yang saya jumpai. Beberapa kawan, sering dengan sinisme, berbicara seakan kata-katanya mewakili kedalaman sebuah mimpi buruk : “Tukang pecel lele, penggali sumur, pemasang instalasi kabel listrik bawah tanah, bahkan canang pun mulai dibuat dan dijual oleh orang Jawa.” Saya menangkap kegundahannya. Yang agak memakan energi, terutama untuk tujuan meredakan singsut hati kawan saya tadi, dibutuhkan kesabaran ekstra plus penjelasan yang terbilang rumit dan panjang.

Secara kultural, manusia Bali tergolong lentur mengadopsi nilai-nilai luar, mengendapkannya seakan entitas tadi bukan lagi entitas asing.  Untuk menyebut contoh : budaya memperingati hari ulang tahun atau merayakan Valentine’s Day tampak diterima baik-baik saja tanpa resistansi. Dari aspek kontestasi kapital apalagi, Bali tak ubahnya besi sembrani di mana janji-janji kesejahteraan, perputaran uang, gerak perekonomian dan kalkulasi industri berpusing saling menyangga.

Apa yang salah? “Mereka yang selalu menyalahkan lantai tidak akan pernah bisa menari”, saya ingat bunyi sebuah amsal Melayu. Sembari mensyukuri Bali sebagai magnet yang dikaruniai daya pikat, andai boleh berurun saran, manusia Bali baiknya menyiapkan kebesaran hati, kecakapan menghitung resiko sebagai ‘tambang galian’ ke mana orang berduyun-duyun menguji keberuntungannya.

Sektarianisme Menemukan Gelanggang

Di beberapa media on-line, para pemandu sorak menebar istilah nyame dauh pangkung atau Kurawa, stigma yang mengacu kepada orang-orang non Hindu-Bali yang bertempat tinggal ataupun bekerja di Bali. Saya pikir, istilah-istilah tadi adalah imaji negatif semata yang datang dari bilik bawah sadar, ekspresi rasa inferior akut sekelompok kaum yang tidak kunjung merasa menjadi tuan di tanah sendiri.

Frasa nyame dauh pangkung, apalagi selain identifikasi geografis tanpa peta yang berangkat dari akumulasi kecemasan dan fobia. Pertanyaannya, ada apa dengan kesadaran ruang berbangsa kita andai setiap identitas dimaknai sesempit anak uli kangin, anak uli delod, dan seterusnya. Bagaimana dengan para transmigran asal Bali yang tersebar di banyak belahan Indonesia lain? Bayangkan frase dengan sinisme yang sama disematkan kepada saudara-saudara kita oleh warga Buton, Palopo atau Lampung.

Istilah Kurawa pun segendang sepenarian. Perumpamaan berkonteks genealogi yang semena-mena dijumput dari khasanah dunia wayang yang diniatkan, lagi-lagi sebagai panggung pertunjukkan  subyektivitas ‘aku-kamu’, ‘kita-mereka’ dengan bangunan dinding kokoh di tengah-tengahnya. Kekuatan otoritatif mana yang berhak mengkualifikasikan yang lain sebagai Kurawa? Lantas dengan menyebut pihak lain Kurawa, apakah serta merta mengesahkan penyebutnya memperoleh previlese sebagai Pandawa ?

Manusia tumbuh dari kompleksitas anasir tanpa batas. Mustahil, misalnya, menguliti seseorang, memindai sel organ-organ tubuhnya di bawah teropong mikroskop, membuka kubah tengkoraknya untuk kemudian menyimpulkan isi relung pikirannya.

Identitas lebih kepada perkara aproksimasi. Kira-kira. Tak pernah tunggal. Cap yang belum tentu permanen. Jauh dari eksak. Untuk pertanyaan-pertanyaan ‘Dari mana asalmu?’, ‘Apa agamamu?’, ‘ Bagaimana latar belakang sosialmu?’, atau rumusan-rumusan yang identified object begitu, saya percaya, tidak pernah ada jawaban definitif atasnya.

Menu Bernama Indonesia

Saya tutup tulisan ini dengan sebuah analogi sederhana: sebuah menu pepes ikan barakuda. Seekor ikan barakuda, cincangan daun kemangi, rimpang rempah-rempahan penyedap, pembungkus dari daun pisang dan terakhir, biting bambu sebagai pengait. Tidak penting menduga-duga si ikan barakuda dari laut mana, tidak penting si daun kemangi dari halaman rumah mana, rempah-rempahan dicerabut dari tanah mana, daun pisang dari empang sebelah mana, bambu dari hutan mana. Garam laut tidak harus mendaku diri lebih utama dari asam gunung, bukan? Mari berendah hati, bersepakat melebur diri bersama menjadi sebuah menu rancak “Pepes Ikan Barakuda” bernama Indonesia.

Selamat Ulang Tahun, Indonesia.

Tags: Indonesiakemanusiaantoleransi
Share47TweetSendShareSend
Previous Post

KKN, Ajang Promosi Sekaligus Pembuktian Kaum Jomblo

Next Post

Benarkah Perempuan Mungil “Tak Laku Jual”? – Tentang Aku dan Tubuh

Komang Armada

Komang Armada

Petani, penikmat kopi dan penyuka sepak bola indah. Bisa dihubungi melalui nyomanarmada@yahoo.com

Related Posts

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

Read moreDetails

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

Read moreDetails

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

Read moreDetails

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

Read moreDetails

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

Read moreDetails

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

Read moreDetails

Sertifikat Ganda dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Terjawab  —Dokumen Negara Bisa Dipalsukan, Menutup Celah Mafia Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini...

Read moreDetails

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

by I Made Pria Dharsana
June 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era  reformasi bukan pada keamanan akan tetapi...

Read moreDetails
Next Post

Benarkah Perempuan Mungil “Tak Laku Jual”? – Tentang Aku dan Tubuh

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co