12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Identitas, Madu Sekaligus Racun Bagi Kemanusiaan

Komang Armada by Komang Armada
February 2, 2018
in Opini

Foto: Ole

“Mama, please take this badge off of me, I can’t use it anymore.” (Knockin’ on Heaven’s Door – Bob Dylan)

JAUH sebelum seniman besar pengusung musik balada itu berbicara murung perihal atribut, identitas – atau apa pun namanya – hinduisme sudah membabarkannya terlebih dahulu melalui kitab Weda Smerti :  Itihasa. Epos Mahabharata, tepatnya. Dalam salah satu petilannya disampirkan sebuah kiasan bagus bagaimana identitas melambungkan, sejurus berikutnya, menjerumuskan penyandangnya tanpa ampun ke titik sebaliknya.

Arjuna dan Ekalaya Sebagai Alegori

Pada hari yang tidak ingin ia ingat, di tepi sebuah hutan, Arjuna mendapati anjing berburunya mati dengan cara yang ganjil. Lima anak panah menancap tepat di langit-langit mulutnya, “atraksi” yang hanya sanggup dilakukan oleh pemanah dengan kecakapan luar biasa. Anak panah yang tentu dilesakkan kelima-limanya sekaligus pada jeda amat singkat saat binatang malang itu menyalak membuka mulutnya.

Ekalaya muncul dari balik gerumbulan pohon, meminta maaf atas kelancangannya. Arjuna berdiri kikuk, dan jauh di dasar kesadarannya, ia merasa ciut, kerdil dan kalah.  Anak Pandu yang seumur-umur merasa tak menemukan tanding itu, yang jumawa oleh pelbagai atribut yang ia sandang : seorang panengah Pandawa, pemanah paling titis dari keluarga Bharata, pangeran paling berbakat dalam ilmu perang, murid kesayangan Rsi Durna pula ……

Nyatanya, sederet embel-embel cemerlang yang membuat jeri lawan itu mati hawa, tampak biasa, sangat biasa di depan Ekalaya. Pemanah dengan asal-usul yang tak cemerlang. Yang ditolak sebagai murid oleh Durna. Yang memutuskan belajar sendiri dengan memuja dan menyuntuki bertahun-tahun patung Durna sebagai guru imajiner. Kabar kemunculannya, tidak bisa tidak, mengagetkan seisi Hastina, tidak terkecuali Guru Durna.

Identitas, Sebuah Paradoks.

Betapa absurd identitas sebenarnya. Memuliakan sekali waktu, memasung penyandangnya ke dalam sekat sempit di lain waktu. Memasang jarak, mematikan kesediaannya berbagi ruang dengan yang beda.

Dalam skala besar bernama Indonesia, identitas itu bisa bernama etnis, agama, ras, golongan atau pilihan warna politik. Stratifikasi sosial pun begitu. Mendudukkan orang pada posisi tinggi-rendah, kadang berhadap-hadapan, kemudian membuat rumusan pongah atasnya. Kita mengenal terminologi ‘kelas menengah’, ‘kelas bawah’, ‘kota’, ‘udik’, ‘kaum terdidik’, ‘kaum tak terdidik’.

Dalam konteks Bali, embel-embel itu bisa bernama kawitan, trah, wangsa, ‘orang tempatan’, ‘kaum pendatang’ alias tamiu, dan seterusnya. Tiga yang pertama saya abaikan dalam tulisan ini. Sementara dua yang terakhir – orang tempatan (wed : bahasa bali) dan kaum pendatang – rasanya lebih seksi sebagai tema, setidaknya tahun-tahun belakangan ini.

Saya tidak sedang memparadekan sensitivitas orang Bali, tidak. Hanya suka tercenung, jengah oleh sindrom dualitas tidak berkesudahan ‘saya-Anda’, ‘kita-mereka’ yang saya jumpai. Beberapa kawan, sering dengan sinisme, berbicara seakan kata-katanya mewakili kedalaman sebuah mimpi buruk : “Tukang pecel lele, penggali sumur, pemasang instalasi kabel listrik bawah tanah, bahkan canang pun mulai dibuat dan dijual oleh orang Jawa.” Saya menangkap kegundahannya. Yang agak memakan energi, terutama untuk tujuan meredakan singsut hati kawan saya tadi, dibutuhkan kesabaran ekstra plus penjelasan yang terbilang rumit dan panjang.

Secara kultural, manusia Bali tergolong lentur mengadopsi nilai-nilai luar, mengendapkannya seakan entitas tadi bukan lagi entitas asing.  Untuk menyebut contoh : budaya memperingati hari ulang tahun atau merayakan Valentine’s Day tampak diterima baik-baik saja tanpa resistansi. Dari aspek kontestasi kapital apalagi, Bali tak ubahnya besi sembrani di mana janji-janji kesejahteraan, perputaran uang, gerak perekonomian dan kalkulasi industri berpusing saling menyangga.

Apa yang salah? “Mereka yang selalu menyalahkan lantai tidak akan pernah bisa menari”, saya ingat bunyi sebuah amsal Melayu. Sembari mensyukuri Bali sebagai magnet yang dikaruniai daya pikat, andai boleh berurun saran, manusia Bali baiknya menyiapkan kebesaran hati, kecakapan menghitung resiko sebagai ‘tambang galian’ ke mana orang berduyun-duyun menguji keberuntungannya.

Sektarianisme Menemukan Gelanggang

Di beberapa media on-line, para pemandu sorak menebar istilah nyame dauh pangkung atau Kurawa, stigma yang mengacu kepada orang-orang non Hindu-Bali yang bertempat tinggal ataupun bekerja di Bali. Saya pikir, istilah-istilah tadi adalah imaji negatif semata yang datang dari bilik bawah sadar, ekspresi rasa inferior akut sekelompok kaum yang tidak kunjung merasa menjadi tuan di tanah sendiri.

Frasa nyame dauh pangkung, apalagi selain identifikasi geografis tanpa peta yang berangkat dari akumulasi kecemasan dan fobia. Pertanyaannya, ada apa dengan kesadaran ruang berbangsa kita andai setiap identitas dimaknai sesempit anak uli kangin, anak uli delod, dan seterusnya. Bagaimana dengan para transmigran asal Bali yang tersebar di banyak belahan Indonesia lain? Bayangkan frase dengan sinisme yang sama disematkan kepada saudara-saudara kita oleh warga Buton, Palopo atau Lampung.

Istilah Kurawa pun segendang sepenarian. Perumpamaan berkonteks genealogi yang semena-mena dijumput dari khasanah dunia wayang yang diniatkan, lagi-lagi sebagai panggung pertunjukkan  subyektivitas ‘aku-kamu’, ‘kita-mereka’ dengan bangunan dinding kokoh di tengah-tengahnya. Kekuatan otoritatif mana yang berhak mengkualifikasikan yang lain sebagai Kurawa? Lantas dengan menyebut pihak lain Kurawa, apakah serta merta mengesahkan penyebutnya memperoleh previlese sebagai Pandawa ?

Manusia tumbuh dari kompleksitas anasir tanpa batas. Mustahil, misalnya, menguliti seseorang, memindai sel organ-organ tubuhnya di bawah teropong mikroskop, membuka kubah tengkoraknya untuk kemudian menyimpulkan isi relung pikirannya.

Identitas lebih kepada perkara aproksimasi. Kira-kira. Tak pernah tunggal. Cap yang belum tentu permanen. Jauh dari eksak. Untuk pertanyaan-pertanyaan ‘Dari mana asalmu?’, ‘Apa agamamu?’, ‘ Bagaimana latar belakang sosialmu?’, atau rumusan-rumusan yang identified object begitu, saya percaya, tidak pernah ada jawaban definitif atasnya.

Menu Bernama Indonesia

Saya tutup tulisan ini dengan sebuah analogi sederhana: sebuah menu pepes ikan barakuda. Seekor ikan barakuda, cincangan daun kemangi, rimpang rempah-rempahan penyedap, pembungkus dari daun pisang dan terakhir, biting bambu sebagai pengait. Tidak penting menduga-duga si ikan barakuda dari laut mana, tidak penting si daun kemangi dari halaman rumah mana, rempah-rempahan dicerabut dari tanah mana, daun pisang dari empang sebelah mana, bambu dari hutan mana. Garam laut tidak harus mendaku diri lebih utama dari asam gunung, bukan? Mari berendah hati, bersepakat melebur diri bersama menjadi sebuah menu rancak “Pepes Ikan Barakuda” bernama Indonesia.

Selamat Ulang Tahun, Indonesia.

Tags: Indonesiakemanusiaantoleransi
Share47TweetSendShareSend
Previous Post

KKN, Ajang Promosi Sekaligus Pembuktian Kaum Jomblo

Next Post

Benarkah Perempuan Mungil “Tak Laku Jual”? – Tentang Aku dan Tubuh

Komang Armada

Komang Armada

Petani, penikmat kopi dan penyuka sepak bola indah. Bisa dihubungi melalui nyomanarmada@yahoo.com

Related Posts

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
0
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

Read moreDetails

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
0
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

Read moreDetails

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails
Next Post

Benarkah Perempuan Mungil “Tak Laku Jual”? – Tentang Aku dan Tubuh

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co