2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Identitas, Madu Sekaligus Racun Bagi Kemanusiaan

Komang Armada by Komang Armada
February 2, 2018
in Opini

Foto: Ole

“Mama, please take this badge off of me, I can’t use it anymore.” (Knockin’ on Heaven’s Door – Bob Dylan)

JAUH sebelum seniman besar pengusung musik balada itu berbicara murung perihal atribut, identitas – atau apa pun namanya – hinduisme sudah membabarkannya terlebih dahulu melalui kitab Weda Smerti :  Itihasa. Epos Mahabharata, tepatnya. Dalam salah satu petilannya disampirkan sebuah kiasan bagus bagaimana identitas melambungkan, sejurus berikutnya, menjerumuskan penyandangnya tanpa ampun ke titik sebaliknya.

Arjuna dan Ekalaya Sebagai Alegori

Pada hari yang tidak ingin ia ingat, di tepi sebuah hutan, Arjuna mendapati anjing berburunya mati dengan cara yang ganjil. Lima anak panah menancap tepat di langit-langit mulutnya, “atraksi” yang hanya sanggup dilakukan oleh pemanah dengan kecakapan luar biasa. Anak panah yang tentu dilesakkan kelima-limanya sekaligus pada jeda amat singkat saat binatang malang itu menyalak membuka mulutnya.

Ekalaya muncul dari balik gerumbulan pohon, meminta maaf atas kelancangannya. Arjuna berdiri kikuk, dan jauh di dasar kesadarannya, ia merasa ciut, kerdil dan kalah.  Anak Pandu yang seumur-umur merasa tak menemukan tanding itu, yang jumawa oleh pelbagai atribut yang ia sandang : seorang panengah Pandawa, pemanah paling titis dari keluarga Bharata, pangeran paling berbakat dalam ilmu perang, murid kesayangan Rsi Durna pula ……

Nyatanya, sederet embel-embel cemerlang yang membuat jeri lawan itu mati hawa, tampak biasa, sangat biasa di depan Ekalaya. Pemanah dengan asal-usul yang tak cemerlang. Yang ditolak sebagai murid oleh Durna. Yang memutuskan belajar sendiri dengan memuja dan menyuntuki bertahun-tahun patung Durna sebagai guru imajiner. Kabar kemunculannya, tidak bisa tidak, mengagetkan seisi Hastina, tidak terkecuali Guru Durna.

Identitas, Sebuah Paradoks.

Betapa absurd identitas sebenarnya. Memuliakan sekali waktu, memasung penyandangnya ke dalam sekat sempit di lain waktu. Memasang jarak, mematikan kesediaannya berbagi ruang dengan yang beda.

Dalam skala besar bernama Indonesia, identitas itu bisa bernama etnis, agama, ras, golongan atau pilihan warna politik. Stratifikasi sosial pun begitu. Mendudukkan orang pada posisi tinggi-rendah, kadang berhadap-hadapan, kemudian membuat rumusan pongah atasnya. Kita mengenal terminologi ‘kelas menengah’, ‘kelas bawah’, ‘kota’, ‘udik’, ‘kaum terdidik’, ‘kaum tak terdidik’.

Dalam konteks Bali, embel-embel itu bisa bernama kawitan, trah, wangsa, ‘orang tempatan’, ‘kaum pendatang’ alias tamiu, dan seterusnya. Tiga yang pertama saya abaikan dalam tulisan ini. Sementara dua yang terakhir – orang tempatan (wed : bahasa bali) dan kaum pendatang – rasanya lebih seksi sebagai tema, setidaknya tahun-tahun belakangan ini.

Saya tidak sedang memparadekan sensitivitas orang Bali, tidak. Hanya suka tercenung, jengah oleh sindrom dualitas tidak berkesudahan ‘saya-Anda’, ‘kita-mereka’ yang saya jumpai. Beberapa kawan, sering dengan sinisme, berbicara seakan kata-katanya mewakili kedalaman sebuah mimpi buruk : “Tukang pecel lele, penggali sumur, pemasang instalasi kabel listrik bawah tanah, bahkan canang pun mulai dibuat dan dijual oleh orang Jawa.” Saya menangkap kegundahannya. Yang agak memakan energi, terutama untuk tujuan meredakan singsut hati kawan saya tadi, dibutuhkan kesabaran ekstra plus penjelasan yang terbilang rumit dan panjang.

Secara kultural, manusia Bali tergolong lentur mengadopsi nilai-nilai luar, mengendapkannya seakan entitas tadi bukan lagi entitas asing.  Untuk menyebut contoh : budaya memperingati hari ulang tahun atau merayakan Valentine’s Day tampak diterima baik-baik saja tanpa resistansi. Dari aspek kontestasi kapital apalagi, Bali tak ubahnya besi sembrani di mana janji-janji kesejahteraan, perputaran uang, gerak perekonomian dan kalkulasi industri berpusing saling menyangga.

Apa yang salah? “Mereka yang selalu menyalahkan lantai tidak akan pernah bisa menari”, saya ingat bunyi sebuah amsal Melayu. Sembari mensyukuri Bali sebagai magnet yang dikaruniai daya pikat, andai boleh berurun saran, manusia Bali baiknya menyiapkan kebesaran hati, kecakapan menghitung resiko sebagai ‘tambang galian’ ke mana orang berduyun-duyun menguji keberuntungannya.

Sektarianisme Menemukan Gelanggang

Di beberapa media on-line, para pemandu sorak menebar istilah nyame dauh pangkung atau Kurawa, stigma yang mengacu kepada orang-orang non Hindu-Bali yang bertempat tinggal ataupun bekerja di Bali. Saya pikir, istilah-istilah tadi adalah imaji negatif semata yang datang dari bilik bawah sadar, ekspresi rasa inferior akut sekelompok kaum yang tidak kunjung merasa menjadi tuan di tanah sendiri.

Frasa nyame dauh pangkung, apalagi selain identifikasi geografis tanpa peta yang berangkat dari akumulasi kecemasan dan fobia. Pertanyaannya, ada apa dengan kesadaran ruang berbangsa kita andai setiap identitas dimaknai sesempit anak uli kangin, anak uli delod, dan seterusnya. Bagaimana dengan para transmigran asal Bali yang tersebar di banyak belahan Indonesia lain? Bayangkan frase dengan sinisme yang sama disematkan kepada saudara-saudara kita oleh warga Buton, Palopo atau Lampung.

Istilah Kurawa pun segendang sepenarian. Perumpamaan berkonteks genealogi yang semena-mena dijumput dari khasanah dunia wayang yang diniatkan, lagi-lagi sebagai panggung pertunjukkan  subyektivitas ‘aku-kamu’, ‘kita-mereka’ dengan bangunan dinding kokoh di tengah-tengahnya. Kekuatan otoritatif mana yang berhak mengkualifikasikan yang lain sebagai Kurawa? Lantas dengan menyebut pihak lain Kurawa, apakah serta merta mengesahkan penyebutnya memperoleh previlese sebagai Pandawa ?

Manusia tumbuh dari kompleksitas anasir tanpa batas. Mustahil, misalnya, menguliti seseorang, memindai sel organ-organ tubuhnya di bawah teropong mikroskop, membuka kubah tengkoraknya untuk kemudian menyimpulkan isi relung pikirannya.

Identitas lebih kepada perkara aproksimasi. Kira-kira. Tak pernah tunggal. Cap yang belum tentu permanen. Jauh dari eksak. Untuk pertanyaan-pertanyaan ‘Dari mana asalmu?’, ‘Apa agamamu?’, ‘ Bagaimana latar belakang sosialmu?’, atau rumusan-rumusan yang identified object begitu, saya percaya, tidak pernah ada jawaban definitif atasnya.

Menu Bernama Indonesia

Saya tutup tulisan ini dengan sebuah analogi sederhana: sebuah menu pepes ikan barakuda. Seekor ikan barakuda, cincangan daun kemangi, rimpang rempah-rempahan penyedap, pembungkus dari daun pisang dan terakhir, biting bambu sebagai pengait. Tidak penting menduga-duga si ikan barakuda dari laut mana, tidak penting si daun kemangi dari halaman rumah mana, rempah-rempahan dicerabut dari tanah mana, daun pisang dari empang sebelah mana, bambu dari hutan mana. Garam laut tidak harus mendaku diri lebih utama dari asam gunung, bukan? Mari berendah hati, bersepakat melebur diri bersama menjadi sebuah menu rancak “Pepes Ikan Barakuda” bernama Indonesia.

Selamat Ulang Tahun, Indonesia.

Tags: Indonesiakemanusiaantoleransi
Share47TweetSendShareSend
Previous Post

KKN, Ajang Promosi Sekaligus Pembuktian Kaum Jomblo

Next Post

Benarkah Perempuan Mungil “Tak Laku Jual”? – Tentang Aku dan Tubuh

Komang Armada

Komang Armada

Petani, penikmat kopi dan penyuka sepak bola indah. Bisa dihubungi melalui nyomanarmada@yahoo.com

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post

Benarkah Perempuan Mungil “Tak Laku Jual”? – Tentang Aku dan Tubuh

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co