14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Justru Karena Lembaga Intelek, Kampus Mesti Terlibat di Dunia Politik

Made Surya Hermawan by Made Surya Hermawan
February 2, 2018
in Opini

Foto: Mursal Buyung

BERANGGAPAN bahwa kampus adalah sebuah lembaga independen yang tidak boleh memihak kekuatan politik memang adalah sebuah kebenaran. Namun, bukan berarti tidak ambil bagian dalam proses politik adalah sebuah permakluman. Ambil bagian tidak harus berkampanye. Tidak pula harus berpartai politik.

Politik mestinya dapat dibedakan antara politik intelektual dan politik praktis. Politik intelektual versi saya adalah memposisikan diri sebagai seorang intelektual dalam dunia politik. Menalar dan mencerna politik, dalam batas tidak menjadi anggota partai politik. Lalu, politik praktis diartikan terjun langsung menjadi anggota dan mengikuti seluruh kegiatan partai politik.

Walaupun tidak ada sekat pasti di antara keduanya. Idealnya, pilihan yang tepat untuk sebuah kampus adalah melaksanakan politik intelektual, kendati tidak dapat dipungkiri ada oknum pejabat kampus yang berpolitik praktis. Dilema memang, karena itu mungkin sebuah keterpaksaan agar program dan pembangunan kampus berjalan mulus atau mungkin itu sudah dihalalkan. Namun saat ini, saya ingin bercerita tentang politik intelektual.

Masa di mana dunia perpolitikan telah didasarkan pada kepentingan golongan atau yang lebih parah pada kepentingan pribadi sedang dialami Indonesia saat ini. Trias Politica karya John Locke dan Montesquie hanya sekadar formalitas.

Nyatanya, Lembaga Negara yang seharusnya saling kontrol menjadi bermain mata untuk mendapatkan proyek. Satu sama lain sering menyalahkan, namun tidak jarang juga menjalin kerjasama untuk mengisi rekening. Di atas meja hukum dijunjung, di bawah meja hukum dipancung. Para pemegang otoritas kebijakan saat ini memerlukan kontrol rakyat semesta.

Dalam keadaan seperti ini, masih layakkah kampus hanya diam? Masih layakkah sebuah tempat yang dihuni oleh manusia berkemampuan intelektual di atas rata-rata hanya urun angan? Saat ini, sense of belonging kampus terhadap permasalahan bangsa sedang dipertanyakan.

Kampus selayaknya ambil bagian, kemudian turun tangan. Istilah kampus merupakan rumah orang cerdas adalah julukan masa lalu. Kini, kampus mestinya berubah menjadi habitat orang peduli, orang tidak buta, dan tidak tuli. Bukan batu, yang mati dan antipati.

Momen pemilukada adalah jalan politik intelektual yang dengan mudah dapat dilalui oleh sebuah kampus. Menantang para calon kepala daerah untuk berdialog dengan mahasiswa dan dosen. Menguji visi misi, menalar program, dan mengenal pribadi. Karena yang akan dipilih adalah seorang kepala daerah. Seseorang yang akan mengelola keuangan dan menjalankan roda pemerintahan. Ini tidak sesederhana memilih Koordinator Tingkat seperti pada masa kuliah.

Ini bukan politik praktis masuk kampus, ini politik intelektual untuk mengukur kapasitas dan kualitas para calon kepala daerah. Saya rasa, para calon kepala daerah wajib ditantang, program-programnya wajib diuji, dan janji-janjinya wajib dicatat. Kalau mereka merasa mampu, seharusnya mereka tidak segan untuk menerima tantangan itu. Bukan berkampanye di kampus, sama sekali bukan. Non-atribut parpol, tentu untuk tetap menjaga casing kampus sebagai sebuah lembaga independen.

Kemudian, ketika banyak orang yang masih akan beranggapan bahwa netralitas kampus dapat terganggu, hal itu adalah sebuah kewajaran. Namun sederhananya, ketidaknetralan akan seketika muncul hanya jika yang ditantang tidak keseluruhan pasangan calon. Dalam hal ini, kampus wajib menantang semua.

Selanjutnya, jika masih saja ada anggapan bahwa hanya dengan mengundang pasangan calon kepala daerah untuk berdialong, lalu netralitas kampus akan terganggu, maka jawabannya adalah lebih baik muncul anggapan kampus tidak netral, daripada yang terpilih adalah kepala daerah yang tidak bermoral.

Dialog itu akan merekam segala bentuk diskusi dan perdebatan para calon. Juga untuk mengantisipasi potensi kebohongan. Ingat, yang menyaksikan bukanlah orang biasa. Yang bukan hanya sekadar mendengar. Bukan juga masuk kuping kanan lalu mental melalui kuping kanan lagi. Proses tersebut akan disaksikan oleh para guru besar, lulusan S-3, S-2, S-1, hingga calon S-1. Yang tentunya secara keilmuan mereka ada di atas rata-rata.

Lalu, yang lebih penting setidaknya mereka akan lebih sulit untuk dibohongi. Tentu, jika niat awal para calon kepala daerah adalah datang untuk berbohong. Hal tersebut mungkin akan jauh lebih bermanfaat daripada sekadar memasang baliho (yang jujur saja terkesan kumuh), melaksanakan pengumpulan masa, memacetkan lalu-lintas, dan mengundang kebisingan. Yang notabene toh mayoritas masa yang datang adalah masa bayaran.

Paradigma baru ini, tentu hanya akan terwujud dengan terlebih dahulu membentuk pribadi mahasiswa yang peduli politik. Mahasiswa masa kini adalah mahasiswa yang peka dan peduli terhadap sekelilingnya. IPK summa cumlaude akan kalah dengan sebuah kontribusi nyata.

Saya ingat sebuah quote dari Anies Baswedan yang kira-kira bunyinya begini “IPK yang tinggi hanya akan mengantarkan anda kepada wawancara pekerjaan, namun kepemimpinan yang akan menuntun anda menuju masa depan”. Dalam hal ini, tidak ada yang tidak penting. Keduanya memiliki porsi yang sama untuk membangun manusia yang unggul dan mencapai masa depan yang gemilang. Sehingga, mahasiswa saat ini layaknya tidak hanya terpaku dengan nilai A dan IPK cumlaude.

Mahasiswa bukan siswa. Bukan yang hanya datang, duduk, lalu kemudian pulang setelah jam kuliah usai. Kepekaan dan kepedulian tentang keadaan daerah dan Negara harusnya dipupuk, disirami, hingga tumbuh subur. Mahasiswa adalah politisi intelektual. Bukan anak SD yang menggunakan jas almamater. Bukan yang hanya mampu manut, tanpa menalar lebih dulu. Bukan juga paduan suara SETUJU, seperti kata Iwan Fals. Seharusnya.

Saya mendefinikan dengan istilah saya sendiri bahwa politik adalah ilmu kehidupan. Setiap orang seharusnya melek politik. Buta yang paling mengerikan adalah buta politik. Bagaimana tidak, suka tidak suka segala aspek kehidupan saat ini adalah hasil kebijakan politik. Dari mulai harga beras, daging, hingga harga garam.

Dari mulai bangun tidur hingga tidur lagi. Di jalan ada traffic light, produk politik. Menyebrang jalan ada zabra cross, produk politik. Makan di sebuah rumah makan ternyata harga yang dibayar melebihi nominal yang ada di daftar menu, produk politik.

Untung saja oksigen sampai saat ini belum dipengaruhi secara jelas oleh kebijakan politik. Jika iya, mungkin saat itu manusia baru akan sadar bahwa sebenarnya banyak di antara mereka yang selama ini mencoba menutup mata dan telinga dari sebuah hal besar yang menjamin kelangsungan hidup mereka.

Saya adalah seorang lulusan kampus kependidikan. Saya sering mendengar anggapan yang kira-kira berbunyi “untuk apa mahasiswa calon guru belajar politik”. Saya sangat senang mendengar istilah ini. Tentu, keinginan untuk mendebatnya juga tidak kalah besar.

Dalam benak saya, sebuah profesi yang seharusnya paling paham politik adalah guru. Sehingga, mereka dapat menularkan cara berpolitik yang baik bagi siswa-siswanya. Memang tidak ada jaminan pasti, namun kemungkinan bahwa para koruptor saat ini adalah mereka yang tidak mendapatkan pendidikan politik yang cukup ketika mereka duduk di bangku sekolah.

Lalu, ketika ada pertanyaan bagaimana caranya agar mahasiswa peka terhadap politik? Mulailah dengan mengenal politik. Sangat tidak adil ketika kita langsung membencinya sebelum kita membuka diri dan hati untuk mengenalnya. Lanjutkan dengan membaca dan mendengar. Diikuti dengan membicarakan.

Ketika kegiatan itu sudah mulai dibiasakan, kepekaan akan muncul dengan sendirinya tanpa dipaksakan. Selanjutnya, salurkan kebiasaan itu sesuai dengan passion masing-masing. Tentunya dalam koridor aktivitas positif. Ini bukan menggurui, hanya berbagi.

Terakhir, politik pantas dan layak masuk kampus. Tidak peduli apapun jenis kampusnya dan di manapun letak kampusnya. Politik masuk kampus harus dipandang dengan dengan lebih luas sebagai sebuah cara untuk membentuk manusia yang peduli dengan bangsa dan negara, cara untuk menguji para calon kepala negara atau kepala daerah yang akan memimpin, dan cara untuk menabur bibit pemimpin Indonesia di masa depan.

“Politik Indonesia sakit bukan karena sedikitnya orang baik, namun karena banyak orang baik lainnya yang hanya mendiamkan. Kalau ingin Indonesia membaik, jangan biarkan orang baik berjuang sendirian di dunia politik” -kalimat ini terinspirasi oleh Anies Baswedan. (T)

Tags: kampusPendidikanPilkadaPolitik
Share236TweetSendShareSend
Previous Post

Tentang Drama Gong: Ingat, Gaya Buleleng dan Bali Selatan itu Beda

Next Post

Pilkada Buleleng – PASS Lengkapi Sukses PDIP di Bali atau Terjungkal?

Made Surya Hermawan

Made Surya Hermawan

Lahir di Denpasar, 7 Oktober 1993, tinggal di Kuta, Bali. Lulusan Jurusan Pendidikan Biologi Undiksha, Singaraja, 2015. Gemar mendengar cerita politik dan senang berorganisasi. Setleah menamatkan studi pascasarjana di Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Negeri Malang, ia mengabdikan ilmunya dengan jadi guru.

Related Posts

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
0
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

Read moreDetails

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
0
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

Read moreDetails

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails
Next Post

Pilkada Buleleng - PASS Lengkapi Sukses PDIP di Bali atau Terjungkal?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co