5 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Justru Karena Lembaga Intelek, Kampus Mesti Terlibat di Dunia Politik

Made Surya Hermawan by Made Surya Hermawan
February 2, 2018
in Opini

Foto: Mursal Buyung

BERANGGAPAN bahwa kampus adalah sebuah lembaga independen yang tidak boleh memihak kekuatan politik memang adalah sebuah kebenaran. Namun, bukan berarti tidak ambil bagian dalam proses politik adalah sebuah permakluman. Ambil bagian tidak harus berkampanye. Tidak pula harus berpartai politik.

Politik mestinya dapat dibedakan antara politik intelektual dan politik praktis. Politik intelektual versi saya adalah memposisikan diri sebagai seorang intelektual dalam dunia politik. Menalar dan mencerna politik, dalam batas tidak menjadi anggota partai politik. Lalu, politik praktis diartikan terjun langsung menjadi anggota dan mengikuti seluruh kegiatan partai politik.

Walaupun tidak ada sekat pasti di antara keduanya. Idealnya, pilihan yang tepat untuk sebuah kampus adalah melaksanakan politik intelektual, kendati tidak dapat dipungkiri ada oknum pejabat kampus yang berpolitik praktis. Dilema memang, karena itu mungkin sebuah keterpaksaan agar program dan pembangunan kampus berjalan mulus atau mungkin itu sudah dihalalkan. Namun saat ini, saya ingin bercerita tentang politik intelektual.

Masa di mana dunia perpolitikan telah didasarkan pada kepentingan golongan atau yang lebih parah pada kepentingan pribadi sedang dialami Indonesia saat ini. Trias Politica karya John Locke dan Montesquie hanya sekadar formalitas.

Nyatanya, Lembaga Negara yang seharusnya saling kontrol menjadi bermain mata untuk mendapatkan proyek. Satu sama lain sering menyalahkan, namun tidak jarang juga menjalin kerjasama untuk mengisi rekening. Di atas meja hukum dijunjung, di bawah meja hukum dipancung. Para pemegang otoritas kebijakan saat ini memerlukan kontrol rakyat semesta.

Dalam keadaan seperti ini, masih layakkah kampus hanya diam? Masih layakkah sebuah tempat yang dihuni oleh manusia berkemampuan intelektual di atas rata-rata hanya urun angan? Saat ini, sense of belonging kampus terhadap permasalahan bangsa sedang dipertanyakan.

Kampus selayaknya ambil bagian, kemudian turun tangan. Istilah kampus merupakan rumah orang cerdas adalah julukan masa lalu. Kini, kampus mestinya berubah menjadi habitat orang peduli, orang tidak buta, dan tidak tuli. Bukan batu, yang mati dan antipati.

Momen pemilukada adalah jalan politik intelektual yang dengan mudah dapat dilalui oleh sebuah kampus. Menantang para calon kepala daerah untuk berdialog dengan mahasiswa dan dosen. Menguji visi misi, menalar program, dan mengenal pribadi. Karena yang akan dipilih adalah seorang kepala daerah. Seseorang yang akan mengelola keuangan dan menjalankan roda pemerintahan. Ini tidak sesederhana memilih Koordinator Tingkat seperti pada masa kuliah.

Ini bukan politik praktis masuk kampus, ini politik intelektual untuk mengukur kapasitas dan kualitas para calon kepala daerah. Saya rasa, para calon kepala daerah wajib ditantang, program-programnya wajib diuji, dan janji-janjinya wajib dicatat. Kalau mereka merasa mampu, seharusnya mereka tidak segan untuk menerima tantangan itu. Bukan berkampanye di kampus, sama sekali bukan. Non-atribut parpol, tentu untuk tetap menjaga casing kampus sebagai sebuah lembaga independen.

Kemudian, ketika banyak orang yang masih akan beranggapan bahwa netralitas kampus dapat terganggu, hal itu adalah sebuah kewajaran. Namun sederhananya, ketidaknetralan akan seketika muncul hanya jika yang ditantang tidak keseluruhan pasangan calon. Dalam hal ini, kampus wajib menantang semua.

Selanjutnya, jika masih saja ada anggapan bahwa hanya dengan mengundang pasangan calon kepala daerah untuk berdialong, lalu netralitas kampus akan terganggu, maka jawabannya adalah lebih baik muncul anggapan kampus tidak netral, daripada yang terpilih adalah kepala daerah yang tidak bermoral.

Dialog itu akan merekam segala bentuk diskusi dan perdebatan para calon. Juga untuk mengantisipasi potensi kebohongan. Ingat, yang menyaksikan bukanlah orang biasa. Yang bukan hanya sekadar mendengar. Bukan juga masuk kuping kanan lalu mental melalui kuping kanan lagi. Proses tersebut akan disaksikan oleh para guru besar, lulusan S-3, S-2, S-1, hingga calon S-1. Yang tentunya secara keilmuan mereka ada di atas rata-rata.

Lalu, yang lebih penting setidaknya mereka akan lebih sulit untuk dibohongi. Tentu, jika niat awal para calon kepala daerah adalah datang untuk berbohong. Hal tersebut mungkin akan jauh lebih bermanfaat daripada sekadar memasang baliho (yang jujur saja terkesan kumuh), melaksanakan pengumpulan masa, memacetkan lalu-lintas, dan mengundang kebisingan. Yang notabene toh mayoritas masa yang datang adalah masa bayaran.

Paradigma baru ini, tentu hanya akan terwujud dengan terlebih dahulu membentuk pribadi mahasiswa yang peduli politik. Mahasiswa masa kini adalah mahasiswa yang peka dan peduli terhadap sekelilingnya. IPK summa cumlaude akan kalah dengan sebuah kontribusi nyata.

Saya ingat sebuah quote dari Anies Baswedan yang kira-kira bunyinya begini “IPK yang tinggi hanya akan mengantarkan anda kepada wawancara pekerjaan, namun kepemimpinan yang akan menuntun anda menuju masa depan”. Dalam hal ini, tidak ada yang tidak penting. Keduanya memiliki porsi yang sama untuk membangun manusia yang unggul dan mencapai masa depan yang gemilang. Sehingga, mahasiswa saat ini layaknya tidak hanya terpaku dengan nilai A dan IPK cumlaude.

Mahasiswa bukan siswa. Bukan yang hanya datang, duduk, lalu kemudian pulang setelah jam kuliah usai. Kepekaan dan kepedulian tentang keadaan daerah dan Negara harusnya dipupuk, disirami, hingga tumbuh subur. Mahasiswa adalah politisi intelektual. Bukan anak SD yang menggunakan jas almamater. Bukan yang hanya mampu manut, tanpa menalar lebih dulu. Bukan juga paduan suara SETUJU, seperti kata Iwan Fals. Seharusnya.

Saya mendefinikan dengan istilah saya sendiri bahwa politik adalah ilmu kehidupan. Setiap orang seharusnya melek politik. Buta yang paling mengerikan adalah buta politik. Bagaimana tidak, suka tidak suka segala aspek kehidupan saat ini adalah hasil kebijakan politik. Dari mulai harga beras, daging, hingga harga garam.

Dari mulai bangun tidur hingga tidur lagi. Di jalan ada traffic light, produk politik. Menyebrang jalan ada zabra cross, produk politik. Makan di sebuah rumah makan ternyata harga yang dibayar melebihi nominal yang ada di daftar menu, produk politik.

Untung saja oksigen sampai saat ini belum dipengaruhi secara jelas oleh kebijakan politik. Jika iya, mungkin saat itu manusia baru akan sadar bahwa sebenarnya banyak di antara mereka yang selama ini mencoba menutup mata dan telinga dari sebuah hal besar yang menjamin kelangsungan hidup mereka.

Saya adalah seorang lulusan kampus kependidikan. Saya sering mendengar anggapan yang kira-kira berbunyi “untuk apa mahasiswa calon guru belajar politik”. Saya sangat senang mendengar istilah ini. Tentu, keinginan untuk mendebatnya juga tidak kalah besar.

Dalam benak saya, sebuah profesi yang seharusnya paling paham politik adalah guru. Sehingga, mereka dapat menularkan cara berpolitik yang baik bagi siswa-siswanya. Memang tidak ada jaminan pasti, namun kemungkinan bahwa para koruptor saat ini adalah mereka yang tidak mendapatkan pendidikan politik yang cukup ketika mereka duduk di bangku sekolah.

Lalu, ketika ada pertanyaan bagaimana caranya agar mahasiswa peka terhadap politik? Mulailah dengan mengenal politik. Sangat tidak adil ketika kita langsung membencinya sebelum kita membuka diri dan hati untuk mengenalnya. Lanjutkan dengan membaca dan mendengar. Diikuti dengan membicarakan.

Ketika kegiatan itu sudah mulai dibiasakan, kepekaan akan muncul dengan sendirinya tanpa dipaksakan. Selanjutnya, salurkan kebiasaan itu sesuai dengan passion masing-masing. Tentunya dalam koridor aktivitas positif. Ini bukan menggurui, hanya berbagi.

Terakhir, politik pantas dan layak masuk kampus. Tidak peduli apapun jenis kampusnya dan di manapun letak kampusnya. Politik masuk kampus harus dipandang dengan dengan lebih luas sebagai sebuah cara untuk membentuk manusia yang peduli dengan bangsa dan negara, cara untuk menguji para calon kepala negara atau kepala daerah yang akan memimpin, dan cara untuk menabur bibit pemimpin Indonesia di masa depan.

“Politik Indonesia sakit bukan karena sedikitnya orang baik, namun karena banyak orang baik lainnya yang hanya mendiamkan. Kalau ingin Indonesia membaik, jangan biarkan orang baik berjuang sendirian di dunia politik” -kalimat ini terinspirasi oleh Anies Baswedan. (T)

Tags: kampusPendidikanPilkadaPolitik
Share236TweetSendShareSend
Previous Post

Tentang Drama Gong: Ingat, Gaya Buleleng dan Bali Selatan itu Beda

Next Post

Pilkada Buleleng – PASS Lengkapi Sukses PDIP di Bali atau Terjungkal?

Made Surya Hermawan

Made Surya Hermawan

Lahir di Denpasar, 7 Oktober 1993, tinggal di Kuta, Bali. Lulusan Jurusan Pendidikan Biologi Undiksha, Singaraja, 2015. Gemar mendengar cerita politik dan senang berorganisasi. Setleah menamatkan studi pascasarjana di Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Negeri Malang, ia mengabdikan ilmunya dengan jadi guru.

Related Posts

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails
Next Post

Pilkada Buleleng - PASS Lengkapi Sukses PDIP di Bali atau Terjungkal?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co