2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Erotis atau Tidak, Penari Joged Tetap Diperciki Tirta Suci

I Made Argawa by I Made Argawa
February 2, 2018
in Opini

Foto: Edo

“Itulah pekerjaan, saya profesional, keluarga tahu saya bekerja sebagai penari joged, tidak jual diri,”

KERUMUNAN tampak dari kejauhan. Iringan suara gamelan rindik berpadu dengan teriakan penabuhnya terdengar naik-turun. Tandanya pentas joged sudah dimulai. Tontonan joged selalu menarik perhatian. Tidak hanya mengundang remaja dan orang dewasa, joged pun menjadi tontonan anak-anak hingga ibu rumah tangga.

Gerak tari yang dimulai dengan pelan dan lirikan mata (nyeledet) jadi pembuka manis atraksi seni tari yang ditunjukkan perempuan cantik itu. Tapi kemudian saya yang menjadi salah satu penonton tersadar bahwa joged saat ini tidak hanya menyuguhkan tarian serta gamelan estetis, tapi ada goyangan yang seketika menarik pandangan kaum adam. Iya, joged belakangan seakan tidak terlepas dari goyangan erotis. Goyangan pantat ke depan ke belakangan yang biasa disebut ngangkuk. Setidaknya begitulah gambaran kesenian joged yang saya lihat ketika menontonnya di dekat rumah belum lama ini.

Saya sempat mengobrol dengan seorang penari joged asal Gianyar yang ketika itu baru saja selesai pentas di sekitar wilayah Sempidi, Badung. Saya bertanya apakah dia pernah menari joged secara erotis dengan goyangan yang tidak hanya ke kanan dan ke kiri, tapi ke depan dan belakang hingga juga “memutar” pantat. Penari cantik itu mengatakan pernah bahkan sering. “Tergantung pesanan, jika diminta erotis saya bisa, jika diminta menari biasa dengan goyang seadanya tidak masalah,” katanya.

Penari dengan tato minimalis berbentuk mawar di bagian paha kanannya dan ketika menari joged akan tampak dengan jelas, menerangkan jika untuk goyangan erotis bayaran yang diterimanya juga akan berbeda.  Sekali pentas dengan goyangan biasa, kala itu dia menyebut menerima bayaran sekitar Rp 150 ribu. Jika goyangan erotis dia bisa mendapatkan bayaran hingga Rp 350 ribu. “Pesanan lebih banyak yang isi goyangan erotis.” paparnya yang saat itu juga akan pentas di wilayah Penebel, Tabanan.

Ia mengatakan, pernah mengalami permasalahan terkait dengan goyangan erotisnya, ketika akan menyelesaikan kuliahnya di sebuah universitas swasta di Denpasar. Saat itu ada seseorang yang mengunggah aksinya menari di youtube. Tarian yang diunggah itu saat dirinya pentas dan melakukan goyangan erotis. “Pihak kampus tahu dan sempat menahan ijazah saya, tapi untungnya kemudian diberikan. Makanya sekarang jika pentas dan diminta goyang erotis saya minta ke penyelenggara agar tidak ada yang merekam,” jelasnya.

Ia terus terang mengaku risih menari dengan goyangan erotis. Tapi, dia beralasan itulah pekerjaan dan dijalaninya dengan profesional. Lagipula dengan itu dia bisa mendapatkan penghasilan lebih walau dengan resiko pergi-pulang malam seorang diri. “Itulah pekerjaan, saya profesional, keluarga tahu saya bekerja sebagai penari joged, tidak jual diri,” jelasnya.

Hal berbeda saya temukan ketika membaca sebuah artikel koran lokal di Bali beberapa waktu lalu yang memberitakan pementasan joged di arena Pesta Kesenian Bali (PKB) 2016. Sebuah sekaa joged asal Buleleng menyatakan berkomitmen untuk menampilkan tarian yang sesuai dengan pakem dan tidak berisi gerakan erotis dalam arena PKB. Dan hampir semua tari joged di PKB memang sopan, tak ada yang erotis. Mungkin karena mereka juga pentas di ruang yang “sopan”.

Yang menarik adalah, terlepas goyang erotis atau goyang estetis atau goyang sopan, penari joged dan mahkota penari joged setahu saya selalu disakralkan. Seperti yang terlihat ketika saya menonton di sekitar rumah, setelah menari dengan goyangan erotis si penari tetap mendapatkan percikan tirta suci dari seorang pemangku. Penari itu tetaplah disucikan. Begitupun dengan mahkota (gelungan) joged, usai digunakan menari, oleh penari yang goyang erotis atau tidak, mahkota itu tetap ditempatkan di tempat khusus lengkap dengan banten.

Tentu saja, tirta dan banten bukan sebagai bentuk dari “restu” kepada penari untuk tetap bergoyang erotis, melainkan lebih sebagai doa untuk keselamatan dan kelancaran pentas, sekaligus juga sebagai bentuk harapan agar penari dan sekaa joged itu tetap memiliki taksu dan tetap disukai dan diupah oleh masyarakat.

Komoditi dan Budaya Patriarki

Bagaimana jadinya jika seorang penari joged diperankan oleh seorang laki-laki dan membawakan goyangan erotis, apakah para wanita akan kegirangan berebut untuk ngibing seperti gelaran joged di sekitar rumah saya? Secara langsung joged yang dipentaskan di luar agenda seni resmi pemerintah menurut saya memang menjadikan sosok wanita sebagai pengundang penonton, atau seperti komoditi yang berfungsi menarik pembeli, tentunya dianggap wajib berisi goyangan erotis.

Tarian joged sepertinya menjadi penanda sebuah budaya patriarki di Bali. Masyarakat Bali memang dikenal menganut sistem budaya patriarki. Dalam sistem kehidupan sosial, pria di Bali lebih diperhitungkan dari pada perempuan. Sosok pria dalam keluarga sangat mendominasi, dalam rapat banjar diutamakan pria, pemangku pura diutamakan pria (meskipun ada pura yang upacara ritualnya dipimpin perempuan, tapi lebih banyak pemangku pria) dan pemimpin sosial kemasyarakat di Bali diutamakan pria, mulai tingkat banjar, desa pakraman hingga pimpinan sosial keumatan adalah pria.

Perempuan dikanalkan dalam kegiatan domestik seperti rumah tangga atau kegiatan PKK. Mungkin dari sana munculnya ide tarian joged yang hingga kini “mengeksploitasi” sosok perempuan seutuhnya, mulai dari goyangan erotis, celamitan para pengibing dengan menyentuh area sensitif joged hingga bayaran yang lebih tinggi bagi penampil goyangan erotis.

Tapi yang cukup mengkhawatirkan adalah bagaimana paparan dari penampilan erotis joged di luar agenda seni pemerintah, bagaimana terhadap anak-anak yang menyaksikan tontotan erotis sejak dini, tentunya ini tidak ada sensor seperti kita melihat tayangan buram pada bagian belahan dada di televisi saat ini. Seolah-olah lembaga masyarakat dan keumatan di Bali tumpul ketika dihadapkan dengan goyangan erotis joged. Semoga kelak joged bisa diposisikan sebagai tradisi yang memberikan nilai positif bagi masyarakat atau jika dia sebagai sebuah komoditi, ada batasan umur dalam menikmatinya seperti rokok serta minuman beralkohol. (T)

Tags: erotisjoged bumbungSeni
Share10TweetSendShareSend
Previous Post

Yuk, Jangan Buat Anak Menjadi Pintar

Next Post

Dalam Perapian Descartes – Aku Berpikir, Maka Aku Ada

I Made Argawa

I Made Argawa

Selalu berusaha santai di tengah dunia yang makin cepat

Related Posts

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

Read moreDetails

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

Read moreDetails

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

Read moreDetails

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

Read moreDetails

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

Read moreDetails

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

Read moreDetails

Sertifikat Ganda dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Terjawab  —Dokumen Negara Bisa Dipalsukan, Menutup Celah Mafia Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini...

Read moreDetails

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

by I Made Pria Dharsana
June 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era  reformasi bukan pada keamanan akan tetapi...

Read moreDetails
Next Post

Dalam Perapian Descartes - Aku Berpikir, Maka Aku Ada

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co