22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Erotis atau Tidak, Penari Joged Tetap Diperciki Tirta Suci

I Made Argawa by I Made Argawa
February 2, 2018
in Opini

Foto: Edo

“Itulah pekerjaan, saya profesional, keluarga tahu saya bekerja sebagai penari joged, tidak jual diri,”

KERUMUNAN tampak dari kejauhan. Iringan suara gamelan rindik berpadu dengan teriakan penabuhnya terdengar naik-turun. Tandanya pentas joged sudah dimulai. Tontonan joged selalu menarik perhatian. Tidak hanya mengundang remaja dan orang dewasa, joged pun menjadi tontonan anak-anak hingga ibu rumah tangga.

Gerak tari yang dimulai dengan pelan dan lirikan mata (nyeledet) jadi pembuka manis atraksi seni tari yang ditunjukkan perempuan cantik itu. Tapi kemudian saya yang menjadi salah satu penonton tersadar bahwa joged saat ini tidak hanya menyuguhkan tarian serta gamelan estetis, tapi ada goyangan yang seketika menarik pandangan kaum adam. Iya, joged belakangan seakan tidak terlepas dari goyangan erotis. Goyangan pantat ke depan ke belakangan yang biasa disebut ngangkuk. Setidaknya begitulah gambaran kesenian joged yang saya lihat ketika menontonnya di dekat rumah belum lama ini.

Saya sempat mengobrol dengan seorang penari joged asal Gianyar yang ketika itu baru saja selesai pentas di sekitar wilayah Sempidi, Badung. Saya bertanya apakah dia pernah menari joged secara erotis dengan goyangan yang tidak hanya ke kanan dan ke kiri, tapi ke depan dan belakang hingga juga “memutar” pantat. Penari cantik itu mengatakan pernah bahkan sering. “Tergantung pesanan, jika diminta erotis saya bisa, jika diminta menari biasa dengan goyang seadanya tidak masalah,” katanya.

Penari dengan tato minimalis berbentuk mawar di bagian paha kanannya dan ketika menari joged akan tampak dengan jelas, menerangkan jika untuk goyangan erotis bayaran yang diterimanya juga akan berbeda.  Sekali pentas dengan goyangan biasa, kala itu dia menyebut menerima bayaran sekitar Rp 150 ribu. Jika goyangan erotis dia bisa mendapatkan bayaran hingga Rp 350 ribu. “Pesanan lebih banyak yang isi goyangan erotis.” paparnya yang saat itu juga akan pentas di wilayah Penebel, Tabanan.

Ia mengatakan, pernah mengalami permasalahan terkait dengan goyangan erotisnya, ketika akan menyelesaikan kuliahnya di sebuah universitas swasta di Denpasar. Saat itu ada seseorang yang mengunggah aksinya menari di youtube. Tarian yang diunggah itu saat dirinya pentas dan melakukan goyangan erotis. “Pihak kampus tahu dan sempat menahan ijazah saya, tapi untungnya kemudian diberikan. Makanya sekarang jika pentas dan diminta goyang erotis saya minta ke penyelenggara agar tidak ada yang merekam,” jelasnya.

Ia terus terang mengaku risih menari dengan goyangan erotis. Tapi, dia beralasan itulah pekerjaan dan dijalaninya dengan profesional. Lagipula dengan itu dia bisa mendapatkan penghasilan lebih walau dengan resiko pergi-pulang malam seorang diri. “Itulah pekerjaan, saya profesional, keluarga tahu saya bekerja sebagai penari joged, tidak jual diri,” jelasnya.

Hal berbeda saya temukan ketika membaca sebuah artikel koran lokal di Bali beberapa waktu lalu yang memberitakan pementasan joged di arena Pesta Kesenian Bali (PKB) 2016. Sebuah sekaa joged asal Buleleng menyatakan berkomitmen untuk menampilkan tarian yang sesuai dengan pakem dan tidak berisi gerakan erotis dalam arena PKB. Dan hampir semua tari joged di PKB memang sopan, tak ada yang erotis. Mungkin karena mereka juga pentas di ruang yang “sopan”.

Yang menarik adalah, terlepas goyang erotis atau goyang estetis atau goyang sopan, penari joged dan mahkota penari joged setahu saya selalu disakralkan. Seperti yang terlihat ketika saya menonton di sekitar rumah, setelah menari dengan goyangan erotis si penari tetap mendapatkan percikan tirta suci dari seorang pemangku. Penari itu tetaplah disucikan. Begitupun dengan mahkota (gelungan) joged, usai digunakan menari, oleh penari yang goyang erotis atau tidak, mahkota itu tetap ditempatkan di tempat khusus lengkap dengan banten.

Tentu saja, tirta dan banten bukan sebagai bentuk dari “restu” kepada penari untuk tetap bergoyang erotis, melainkan lebih sebagai doa untuk keselamatan dan kelancaran pentas, sekaligus juga sebagai bentuk harapan agar penari dan sekaa joged itu tetap memiliki taksu dan tetap disukai dan diupah oleh masyarakat.

Komoditi dan Budaya Patriarki

Bagaimana jadinya jika seorang penari joged diperankan oleh seorang laki-laki dan membawakan goyangan erotis, apakah para wanita akan kegirangan berebut untuk ngibing seperti gelaran joged di sekitar rumah saya? Secara langsung joged yang dipentaskan di luar agenda seni resmi pemerintah menurut saya memang menjadikan sosok wanita sebagai pengundang penonton, atau seperti komoditi yang berfungsi menarik pembeli, tentunya dianggap wajib berisi goyangan erotis.

Tarian joged sepertinya menjadi penanda sebuah budaya patriarki di Bali. Masyarakat Bali memang dikenal menganut sistem budaya patriarki. Dalam sistem kehidupan sosial, pria di Bali lebih diperhitungkan dari pada perempuan. Sosok pria dalam keluarga sangat mendominasi, dalam rapat banjar diutamakan pria, pemangku pura diutamakan pria (meskipun ada pura yang upacara ritualnya dipimpin perempuan, tapi lebih banyak pemangku pria) dan pemimpin sosial kemasyarakat di Bali diutamakan pria, mulai tingkat banjar, desa pakraman hingga pimpinan sosial keumatan adalah pria.

Perempuan dikanalkan dalam kegiatan domestik seperti rumah tangga atau kegiatan PKK. Mungkin dari sana munculnya ide tarian joged yang hingga kini “mengeksploitasi” sosok perempuan seutuhnya, mulai dari goyangan erotis, celamitan para pengibing dengan menyentuh area sensitif joged hingga bayaran yang lebih tinggi bagi penampil goyangan erotis.

Tapi yang cukup mengkhawatirkan adalah bagaimana paparan dari penampilan erotis joged di luar agenda seni pemerintah, bagaimana terhadap anak-anak yang menyaksikan tontotan erotis sejak dini, tentunya ini tidak ada sensor seperti kita melihat tayangan buram pada bagian belahan dada di televisi saat ini. Seolah-olah lembaga masyarakat dan keumatan di Bali tumpul ketika dihadapkan dengan goyangan erotis joged. Semoga kelak joged bisa diposisikan sebagai tradisi yang memberikan nilai positif bagi masyarakat atau jika dia sebagai sebuah komoditi, ada batasan umur dalam menikmatinya seperti rokok serta minuman beralkohol. (T)

Tags: erotisjoged bumbungSeni
Share10TweetSendShareSend
Previous Post

Yuk, Jangan Buat Anak Menjadi Pintar

Next Post

Dalam Perapian Descartes – Aku Berpikir, Maka Aku Ada

I Made Argawa

I Made Argawa

Selalu berusaha santai di tengah dunia yang makin cepat

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post

Dalam Perapian Descartes - Aku Berpikir, Maka Aku Ada

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co