23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Korupsi di Indonesia = Tradisi Buang Sampah?

Raudal Tanjung Banua by Raudal Tanjung Banua
February 2, 2018
in Opini

Ilustrasi: Dek Omo

SEBUAH analog yang saya anggap pas untuk menggambarkan budaya korupsi di Indonesia adalah tradisi buang sampah sembarangan. Meski lingkungan jadi kotor, menghilangkan rasa nyaman, merusak pandangan mata dan mengganggu kesehatan, tapi, adakah yang benar-benar peduli? Setiap saat sampah tercecer, setiap waktu sampah dihamburkan. Jadilah kita bertemu sampah di mana-mana: di jalanan, taman, pasar, tanah kosong sampai bantaran sungai. Tak peduli seberapa gencarnya himbauan untuk tidak buang sampah sembarangan, dengan plang besi bertulisan besar-besar: DILARANG BUANG SAMPAH! Toh, tak ada yang benar-benar peduli.

Yang memprihatinkan, para pembuang sampah tak bisa lagi diidentifikasi sebagai si A atau si B, tapi sudah mencakup semua orang. Orang dewasa, remaja maupun anak-anak, baik di lingkungan keluarga, sekolah, RT/RW atau kantor; dari orang miskin sampai orang kaya. Tingkat pendidikan, profesi maupun status sosial tak memberi jaminan cara hormat memperlakukan sampah. Tak heran, gampang ditemui sebuah mobil licin mengilap, ketika melaju atau berhenti di lampu merah tiba-tiba jendelanya terbuka, lalu,”sreek!”, sampah—apakah sekedar bungkus jajan, puntung rokok atau botol minuman—melayang dari sana. Pengemudi atau penumpangnya yang necis, gagah dan cantik, tanpa rasa bersalah kembali menutup kaca, menikmati kendaraannya yang adem-sejuk.

Membuang sampah bukan dosa, rupanya itulah psikologis masyarakat Indonesia secara umum. Dosa terlanjur identik dengan hal-hal besar yang dianggap langsung merugikan orang lain. Sementara buang sampah—meskipun jelas merugikan orang lain—tapi efeknya tak langsung terasakan. Tak heran, di kalangan agamawan pun, urusan buang sampah tak pernah dibicarakan. Khotbah di mimbar atau podium, jarang sekali menyeru supaya umat menjaga lingkungan dari ancaman sampah yang dibuang sembarangan. Itu dianggap tak penting, dibanding misalnya dengan cara halal memburu rezeki. Di kalangan orang tua, penekanan soal sampah kepada anak-anak juga jarang dilakukan, seolah itu pengalaman alamiah yang akan mereka dapatkan dengan sendirinya kelak. Padahal ternyata tidak.

DI sekolah dan kantor keadaannya toh setali tiga uang. Jika pun ada upaya menjaga lingkungan sekolah atau kantor dari serbuan sampah, hanya sebatas lingkungan kecil itu saja. Tak ada pemahaman sinergis bahwa tempat-tempat lain juga wajib dijaga kebersihannya. Rupanya pula, di kalangan masyarakat kita, keinginan untuk tampil bersih dan menikmati lingkungan yang nyaman, hanya berhenti pada diri sendiri atau lingkungan terdekatnya. Tak ada bentuk keterhubungan secara ekologis.

Seseorang ingin rumahnya bersih, maka sampah-sampah di rumahnya bisa ia buang ke selokan. Tak ada urusan, asal rumahnya nyaman. Ia ingin mobilnya bersih, maka ia buang saja sampahnya di jalan. Toh yang ia pikirkan mobilnya, bukan jalan. Padahal, setiap hari, dari rumahnya yang bersih sampai ke kantornya, ia meluncur di atas mobilnya melewati selokan mampet dan jalan yang sama tempat ia biasa buang sampah. Tapi tak ada rasa risih sedikit pun, karena pemahaman lingkungan sudah terkotak-kotak hanya sebatas ruang privat dan lingkungan luar. Lingkungan bukan lagi dipahami sebagai satu kesatuan yang saling mendukung. Inilah ironi manusia modern.

CELAKANYA, tak ada rintisan jalan keluar. Himbauan “Jangan buang sampah sembarangan” melingkar-lingkar hanya sebagai slogan menahun, tapi minim solusi. Jarang kita temukan tempat sampah memadai di tempat umum, jangankan yang memenuhi standar pemilahan sampah, tong sampah standar pun tak selalu ada. Di bantaran sungai memang diumumkan “Dilarang Buang Sampah”, tapi tetap saja masyarakat melempar bingkisan kreseknya.

Karena persoalannya, pengelolaan sampah dari pemerintah dan masyarakat pun minim. TPA terbatas, petugas kebersihan kurang diapresiasi, teknologi pengelolaan sampah tidak tepat guna (bahkan dianggap tak sepenting membeli ratusan pesawat atau promo Mobil Esemka). Tak heran kota-kota kita keteteran dalam sampah dan limbah. Bandung dan Jakarta yang penuh sampah, hanya contoh, kota-kota lain tak kalah parah menanggung bom waktu gunungan sampah. Toh Penghargaan Adipura terus ada, mudah-mudahan memang milik kota yang berhak, sebab dalam sejarahnya tempo doeloe, Adipura kerap jadi piala pura-pura: pura-pura bersih, pura-pura manusiawi….

SEMENTARA itu, di sisi lain, sosok yang terlibat korupsi dari hari ke hari kian beragam, dari berbagai kalangan dan latar belakang. Melihat hal ini, saya kok beranggapan korupsi juga sudah menjadi budaya “tanpa dosa” sebagaimana tradisi buang sampah. Di kalangan masyarakat kita, baik tradisional maupun modern, upaya menyelipkan komisi atau sekedar tip bagi partner kerja biasa dilakukan. Dalam masyarakat Jawa, sebagaimana disitir budayawan Ahmad Tohari, ada “hak palunggu”, yakni hak kekuasaan untuk mendapat jatah atau upeti dari rakyat yang dipimpinnya. Hak tersebut diperoleh tanpa rasa bersalah karena memang dianggap hak yang sah. Di dalam tatanan masyarakat lainnya, disadari atau tidak, mungkin juga ada nilai semacam itu.

Dalam kehidupan masyarakat modern, hak-hak salah kaprah itu lebih menggila lagi. Sebuah perusahaan yang ikut tender, lazim memberi “fee” sekian persen untuk pemberi tender. Tim sukses kepala daerah dianggap wajar mendapat proyek ketika sosok yang didukungnya menang pilkada. Supaya anggaran belanja daerah diketok-palu oleh pimpinan dewan, eksekutif merasa wajib memberi amplop kepada legislatif. Di dalam birokrasi, anggaran kegiatan biasa dipotong sekian persen (di luar pajak) untuk jatah kepala dinas atau pihak terkait. Dan alangkah banyak contoh sejenis yang tak mungkin diabsensi satu-persatu. Yang mengerikan, semua berlangsung wajar, selayaknya prosedur legal.

SUKAR menyimpulkan apa yang sesungguhnya terjadi. Tinimbang mengulang pernyataan bahwa ini zaman edan alias kala yuga, saya lebih tertarik mengingat instalasi seni karya Afrizal Malna yang berkolaborasi dengan Beeri Berhard dan Joseph Praba di Solo (1995) berjudul Hormat dan Sampah. Judul yang paradoks, memang, sebagaimana instalasi itu sendiri bercerita tentang kehormatan yang rapuh di tengah sampah kemunafikan.

Lihatlah, mengapa publik, termasuk jurnalis, misalnya, masih menyebut “anggota dewan yang terhormat” padahal kebanyakan dari mereka terang-terangan menyakiti hati rakyat? Atas nama studi banding, mereka hamburkan uang negara yang nyatanya tak lebih untuk piknik. Hasrat hidup mewah kian menjadi di tengah rakyat yang melarat. Anggaran bocor di mana-mana. Kini akan mereka dirikan Perpustakaan Terbesar di Asia Tenggara di kompleks Senayan. Apa iya mereka suka membaca? Perpustakaan yang selama ini ada, kabarnya tak pernah mereka masuki. Toh semua mereka anggap biasa, ringan seolah buang sampah sehari-hari, di mana masyarakat juga tampak tak mau peduli. Sebagian lagi diam tak berdaya.

Di tengah situasi inilah, Hormat dan Sampah masih relevan. Suatu situasi di mana kehormatan seseorang mendadak bisa menjadi sampah, ketika ia patuh pada naluri uang dan kuasa; tapi sampah juga bisa mengangkat martabat seseorang ketika ia bisa mengelola sampah-sampah itu sehingga lingkungan dan dirinya jadi sehat lahir-batin. Maka kelola sampahmu karena itu menyangkut kehormatanmu! (T)

Tags: KorupsiSampah
Share68TweetSendShareSend
Previous Post

Untuk Mahasiswa Akhir – Inilah Tips Super Bikin Skripsi jadi Lancar

Next Post

“Saya Tak Bisa Seperti Tohari,” kata Seno Gumira Ajidarma

Raudal Tanjung Banua

Raudal Tanjung Banua

Lahir di Sumatera Barat, pernah merantau ke Bali dan kini tinggal di Yogyakarta. Menulis cerpen dan puisi sembari mengelola Komunitas Rumah Lebah, Penerbit Akar Indonesia, dan Jurnal Cerpen Indonesia.

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post

“Saya Tak Bisa Seperti Tohari,” kata Seno Gumira Ajidarma

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co