28 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lelaki yang Menagih Janji Kepada Langit

Fatah Anshori by Fatah Anshori
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: IB Pandit Parastu

Cerpen: Fatah Anshori

“Dalam tradisi Yahudi empat puluh hari sebelum, bayi lelaki dilahirkan. Dilangit ada suara yang meneriakkan siapa wanita yang kelak akan di kawininya. Aku tahu ini sudah lama, aku tidak sengaja mendapat sobekan kertas kuno yang terselip di buku karangan orang Michigan.”, Begitu terang Yanto Bujang dengan ketus saat aku dan teman-temanku mengejeknya, bahwa jodohnya telah meninggal di kandungan.

“Tapi dalam tradisi Jawa itu tidak ada, Yan. Sudah ku bilang jodohmu itu telah meninggal di kandungan.”, Teman-teman ku kembali tertawa, setelah salah seorang kembali mengejek Yanto Bujang, tukang semir sepatu yang setiap siang mampir di warung kopi samping sekolah kami. Siang itu Untuk kesekian kalinya Yanto menjadi bahan tertawaan kami, anak-anak SD yang nakalnya amit-amit.

Seperti biasanya usai mampir ngopi, Yanto Bujang kembali melanjutkan pekerjaannya. Keliling kampung untuk mencari orang yang butuh jasanya sebagai tukang semir sepatu. Dengan sepeda Jengki karatan itulah, ia setiap hari keliling kampung. Lelaki itu sudah terlalu tua untuk menjadi pengantin baru saat ini. Lihat saja rambutnya sudah banyak yang memutih, dan kerutan di wajahnya sudah mulai terlihat. Namun hingga kini ia tak kunjung punya istri. Itulah kenapa ia di panggil Yanto Bujang, sebenarnya namanya hanya Yanto. Tapi karena kami anak-anak yang amit-amit nakalnya dan serampangan maka kami sepakat menamainya dengan Yanto Bujang.

***

“Hei Yanto Bujang, apa sudah kau temukan jodohmu?”, Aku kembali tertawa setelah puas mengejek Yanto yang kudapati sedang menyemir sepatu di teras rumah warga. Tiba-tiba telingaku terasa sakit yang luar biasa, Ibuku menjewer telingaku dengan keras. Yanto melihat ke arahku dan tersenyum.

“Maaf Pak Yanto, anak ini memang kurang ajar.”, Sambil tersenyum ibuku menganggukkan kepala ke arah Yanto Bujang. Kemudian ia membalas serupa seperti yang dilakukan ibuku padanya, mungkin itu berarti, ah tak apa, wajar anak kecil.

“Ayo Din, jalan. Sebentar lagi sampai.”, Ibuku kembali mengajakku melanjutkan perjalanan ke sawah di selatan kampung. Disanalah kami, anak-anak desa menghabiskan hari minggu, yakni dengan membantu orang tua di sawah. Mencabuti rumput, menjaga padi dari burung-burung pipit yang suka merusak, atau jika ada galengan yang rusak terpaksa aku harus mencangkul untuk memperbaiki pembatas sawah itu, agar air tak pergi kemana-mana.

“Kita sudah sampai, Le!”, Ibuku meletakkan bakul di gubuk bambu yang dibuat bapak ku saat Allah belum memanggilnya. Kicau burung pipit sesekali terdengar di antara batang padi yang terhampar di sawah. Sepertinya mereka sudah memulai pertengkaran dengan kami. Burung-burung itu jika dipandang lekat-lekat memang manis. Namun jika kau adalah petani yang memiliki ladang padi berhektar-hektar, maka burung ini serupa mimpi buruk yang menghantuimu tiap malam.

Sorenya, setelah adzan ashar berkumandang kami beringsut pulang. Melewati sawah-sawah warga yang masih hijau. Kaki-kaki kami menapak jalan kecil yang terbujur di antara sawah-sawah. Kelepak burung seskali terdengar di atas sana. Angin sore itu berhembus lirih menyapu gerah yang menggeliat di tubuh kami.

Saat aku memandangi wajah ibuku yang tengah berjalan dibelakangku. Pandangannya tertuju jauh ke seberang sawah. Aku lantas membalikkan badan lagi, sambil berjalan aku mencoba mencari apa yang sedang dilihat ibuku barusan. Aku memandang  lekat-lekat, di kejauhan seorang laki-laki tengah berdiri di tengah-tengah padang ilalang, menghadap ke barat sambil menengadahkan tangannya, serupa orang berdoa sehabis sholat. Lelaki tirus terlihat khusu’ seolah sedang melantunkan mantra-mantra penting kepada langit di sore itu.

“Apa ibu tahu siapa lelaki itu?”, Tanyaku pada ibu yang juga melihat Lelaki itu dibelakangku sambil berjalan.

“Sebentar lagi matahari surut, sebaiknya kau pandangi jalan didepanmu itu. Kita harus cepat, Le!”

Sore itu, aku merasa ada yang sedang disembunyikan ibu padaku.

***

Malam harinya usai sholat maghrib, kulihat dari serambi masjid Yanto Bujang mengayuh sepedanya melintasi jalan setapak di depan masjid. Sepedanya meluncur pelan dari selatan ke utara bagai perahu yang terbawa aliran sungai. Suara rodanya berderit terdengar serupa tikus yang tercekik lehernya. Dibawah cahaya malam yang remang-remang kuperhatikan mukanya layu, kuyu, dekil, dan seakan muka itu menanggung beban yang beratnya tak tertanggungkan lagi. Kuperhatikan lelaki bujang itu hingga tubuhnya hilang di belokan jalan.

“Hei, bocah jangan bengong saja. Nanti kau bisa kesambet!”, Tiba-tiba gamparan keras telapak mendarat dipunggungku. Aku terkejut, tubuhku terlonjak seketika itu. “Apa yang kau perhatikan, Din?”, Rudi masih tertawa melihat ekspresi tubuhku yang terkejut barusan.

“Ah tidak, bukan apa-apa, Rud.”

“Sudahlah aku tahu apa yang kau lihat barusan.”, Rudi menyeringai kearahku. “Apa kau sudah mendengar desas-desus warga tentang lelaki bujang penyemir sepatu itu?”

“Apa Rud?”, Aku mendekatkan badan pada Rudi. Hanya sekali saja pantatku yang menempel di lantai masjid kugeser ke kanan aku sudah nerada tepat di samping Rudi.

“Baik dengarkan, aku tak akan mengulang. Saat matahari hampir lengser di langit sebelah barat. Yanto Bujang akan segera menuju ke hamparan padang ilalang yang berada di selatan kampung. Disana ia menengadah ke langit, dan berbicara kepada langit. Orang-orang menganggap Yanto sudah tidak waras karena menyembah langit. Ayahku bilang, aku harus hati-hati dengan Yanto, dia itu sesat.”

“Udin, Rudi giliran kalian mengaji!”, Aku tersentak, Pak Ustadz memanggil. Sudah tiba giliran kami maju ke depan dan mengaji.

Serambi masjid ramai. Tiap kali usai magrib anak-anak berkumpul disini dan mengeja Al-Quran di bawah bimbingan Pak Ustadz. Lelaki yang baru tiga bulan menetap didesaku ini membawa perubahan banyak bagi desa. Kini warga desa semakin banyak yang pergi ke masjid untuk sholat berjamaah, paling tidak barisan dalam sholat kini menjadi tiga hingga empat shaf. Sebelumnya paling banyak hanya dua shaf itupun hanya sholat magrib. Diluar sholat itu, jumlah jamaah paling hanya enam tujuh orang. Selanjutnya adalah kami, semenjak ada Pak Ustadz kami mendapat jadwal mengaji usai sholat magrib, biasanya usai magrib kami lantas meninggalkan masjid dan bermain di sepanjang jalan desa. Dan anak-anak perempuan sekarang kebanyakan suka memakai kerudung jika keluar rumah.

Juga perubahan yang terjadi pada Yanto, semenjak kedatang Ustadz, Yanto semakin jarang ke masjid, bahkan satu bulan terakhir Ia sekalipun tak pernah menginjakkan kaki ke masjid ditambah ada isu bahwa ia sekarang menjadi sesat, karena telah menyembah langit setiap sore di selatan desa.

Usai sholat Isya kami pulang menuju rumah masing-masing. Malam itu aku pulang dengan tanda tanya besar yang meggantung dikepalaku. Apa yang membuat Yanto semakin aneh? Apa ada hubungannya dengan Pak Ustadz?

***

Beberapa hari yang lalu, Suhana resmi dijodohkan dengan Pak Ustadz. Keduanya dipertemukan dalam acara lamaran, yang dibuat oleh keluarga Suhana. Dalam acara itu keluarga Pak Ustadz tidak bisa datang lantaran jauh di luar pulau. Acara itu hanya dihadiri orang-orang penting desa, semisal: Pak Lurah, Modin, Ketua RT, dan kawan-kawannya itu.

Semua orang menyetujui rencana pernikahan itu. Kata orang-orang keduanya adalah pasangan yang cocok. Pak Ustadz dengan tampang rupawan kearab-araban. Sementara Suhana perempuan desa yang kecantikannya selalu jadi pembicaraan pria-pria bujang di warung kopi. Sangat beruntung pria yang dapat menikah dengannya, begitulah kata pria-pria bujang itu. Meski masih seumuran anak SD paling tidak aku sudah tahu mana itu perempuan cantik dan tidak. Dan Suhana sudah pasti perempuan cantik, lantaran sering diperbincangkan namanya oleh para lelaki.

Namun perlu kukatakan pada kalian, ketika acara lamaran itu berlangsung. Saat aku sedang memakan Nagasari mataku mendapati wajah Suhana tak serupa orang bahagia, malahan sebaiknya. Rona wajahnya serupa orang yang baru saja mendengar kabar kematian. Sepertinya Suhana tak suka dengan rencana kedua orang tuanya.

“Nduk sudah waktunya kau menikah, ingat usiamu sudah dua puluh lima tahun.”, Kata ibu Suhana saat acara lamaran tengah berlangsung. Namun Suhana hanya diam ketika itu. Tanggal pernikahan sudah ditetapkan dengan perhitungan jawa. Kemudian orang-orang pada mengangguk setuju.

Saat itu kulihat seluruh warga desa yang tak diundang berdiri mengerumuni rumah Suhana. Kami saling berdesakan melihat kedalam rumah. Beberapa ada yang mengintip lewat jendela, salah satunya adalah Rudi. Namun pada acara itu tak kudapati Yanto Bujang disitu. Padahal biasanya ia selalu hadir dalam acara seperi ini.

***

Dua minggu kemudian, desaku ramai. Alunan lagu dangdut menggema di sepanjang pagi. Membuat telingaku sakit seperti di tarik-tarik. Sekarang adalah hari H berlangsungnya acara pernikahan Pak Ustadz dan Suhana. Orang-orang desa, tua muda, besar kecil, laki-laki perempuan. Semuanya berkerumun mengitari terop dimana akan dilangsungkannya akad pernikahan.

Di hari Minggu pagi inilah, acara itu akan dilangsungkan. Rudi, pagi-pagi sekali datang kerumah untuk mengajakku melihat acara resepsi pernikahan ini. Memang seperti inilah kebiasaan orang-orang didesaku. Mereka gemar sekali menghadiri keramaian, salah satunya acara resepsi pernikahan. Paling tidak nantinya kita bisa makan enak jika menghadiri acara besar semacam ini.

Aku dan Rudi sekarang duduk di sebuah kursi yang menghadap kearah dua mempelai sedang duduk. Disebuah panggung semacam podium kecil tak terlalu tinggi, disitulah nantinya akad pernikahan akan dilangsungkan. Pak Ustadz dan Suhana sekarang tengah duduk bersanding sambil mengenakan pakain adat Jawa,  kali ini blangkon tersemat di kepala guru ngaji kami. Sementara Suhana pantas sekali mengenakan kebaya berwarna putih, amat serasi dengan warna kulitnya yang juga cerah. Pemandangan di podium itu dipercantik dengan hiasan semacam taman bunga-bunga yang ditanam didalam pot. Dijejer melingkari podium. Sesekali mereka berdiri dan menyalami warga yang sedang mengucapkan selamat untuk keduanya. Namun entah mengapa aku melihat seakan ada keganjilan disitu. Seperti saat acara lamaran tempo hari.

“Din, apa kau melihatnya?”, Kata Rudi disampingku.

“Melihat apa Rud?”

“Jangan bodoh kau!”

“Aku tak mengerti apa yang kau maksud!”

“Bodoh kau, jelas-jelas tercium aroma keterpaksaan di acara pernikahan ini. Lihat wajah Suhana, Din. Ia seolah sedang menanggung beban yang amat berat. Sekalipun tak kutemui senyum tersemat di bibirnya sejak tadi.”

Ternyata Rudi juga melihatnya. Kemudian baru kusadari semua orang yang duduk dikursi yang berada disekitar kami juga membicarakan perihal ini. Sesekali kudengar orang berbisik, membicarakan keganjilan ini. Diantara desas-desus orang, kulihat Pak Ustadz amat sangat bahagia dengan pernikahan yang akan halal dalam hitungan menit.

Namun tiba-tiba terdengar suara ricuh diantara orang-orang yang berkerumun mengitari terop. Beberapa orang berdiri sambil berjinjit memandang kearah kerumunan. Apa yang sebenarnya sedang terjadi. Kedua pengantin terlihat gelisah. Tiba-tiba dari kerumunan itu seorang lelaki tirus yang tidak asing lagi di mata kami keluar dan merangsek ke acara resepsi. Penampilannya sungguh tak enak dipandang. Barangkali ia baru bangun tidur, dan belum mandi, bahkan sekedar cuci muka, ia tak sempat. Bajunya kusut, celana jinsnya kumal.

Seleruh pasang mata tertuju ke arah Yanto Bujang yang sedang merangsek masuk mendekati podium. Dimana akan dilangsungkannya akad pernikahan.

“Suhana, Aku tahu kau tidak suka dengan pernikahan ini.”

Suhana hanya diam tertunduk.

“Jika seperti ini kau hanya membohongi dirimu sendiri, agar orang-orang disekitarmu senang. Sementara kau tidak. Apa itu yang disebut baik?”

Orang-orang tersentak, mata Bapak Suhana melotot seakan ingin menampar mulut Yanto Bujang. Dan Suhana hanya diam menekurkan wajahnya.

“Asal kau tahu Suhana, langit selalu membisikkan namamu setiap kali aku bertanya padanya. dan kau adalah perempuan yang dijanjikan langit kepadaku. Jadi ayo ikut denganku Suhana, kita akan bahagia bersama-sama.”

Amarah orang-orang semakin memuncak. Beberapa orang disekitarku terlihat geram. Sesekali terdengar makian keluar dari mulut mereka. Tak beberapa kemudian dua petugas keamanan yang berbadan tinggi besar masuk sambil membawa pentungan ditangannya. Yanto tidak menyadari. Dia masih melanjutkan omongan. Dengan sigap dua orang tadi meringkus Yanto, serupa orang hendak membuang anak kucing. Yanto diseret-seret. Dia meronta, namun itu percuma saja. Orang-orang tak ada yang nembelanya. Malahan terlihat gembira. Syukurlah pengganggu itu sudah disingkirkan, mungkin seperti itulah kalimat yang tersemat di kepala orang-orang ini.

Diluar terdengar teriakan-teriakan sarkastik. Kerumunan terjadi beberapa saat di sana. Dari tempatku duduk sesekali terdengar jeritan kesakitan. Aku tahu itu suara Yanto yang sedang dihakimi warga. Sementara di podium, upacara pernikahan baru saja usai dilangsungkan. Orang-orang berhamburan menyalami pengantin, begitu juga denganku. Namun yang masih membuatku penasaran adalah ucapan Yanto baruasan. Apa mungkin langit bisa berbicara pada Yanto?

***

Beberapa bulan usai pernikahan Suhana, langit selalu menangis pada sore hari. Yanto Bujang juga tak pernah terlihat lagi menyemir sepatu warga. Rumahnya yang berada di dibawah pepohonan bambu juga terlihat tak berpenghuni, terasnya penuh dengan ayam yang berterbangan kesana kemari. Tahi-tahi ayam pun berhamburan disekita teras. Jika kau melintasi jalan didepan rumah itu. Dengan segera kau akan memegangi hidung. lantaran aroma yang sama sekali tidak enak.

Menurut kabar yang sering melintas, di Padang ilalang selatan kampung tercium aroma busuk serupa bangkai. Namun tiap kali orang mendekati dan mencari asal muasal bau itu. Mereka tidak menemukan apa-apa. Dan konon ketika langit menurunkan hujan pada sore hari. Akan nampak dari kejauhan Lelaki yang menengadah ke langit.

“Itu adalah Lelaki yang menagih janji kepada langit.”, Kata seorang warga yang kutemui di pematang jalan menuju masjid. (T)

Tags: Cerpen
Share85TweetSendShareSend
Previous Post

Wayan Jengki Sunarta# Teluk Benoa, Malam Mabuk di Ubud

Next Post

Selamat Galungan, Selamat “Maceki”, Semoga Menang!

Fatah Anshori

Fatah Anshori

Lahir di Lamongan, bukunya yang telah terbit Ilalang di Kemarau Panjang (2015), Hujan yang Hendak Menyalakan Api (2018), Melalui Mimpi, Ia Mencari Cinta yang Niscaya (Frase Pinggir, 2021). Cerpen dan puisinya telah dimuat beberapa media online, juga Majalah Suluk (DK Jatim), Terpilih sebagai Penulis Cerpen Unggulan Litera.co (2018). Bergiat di Guneman Sastra dan Songgolangit Creative Space.

Related Posts

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails
Next Post

Selamat Galungan, Selamat “Maceki”, Semoga Menang!

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 
Tualang

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Rekonstruksi Hak Waris dalam Perkawinan Beda Agama: Perspektif Hukum Keluarga dan Agraria

HUKUM seringkali berbicara dalam bahasa kepastian, tetapi realitas sosial tidak selalu berjalan dalam garis yang sama. Perkawinan beda agama menjadi...

by I Made Pria Dharsana
May 27, 2026
Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng
Khas

Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

DESA Pedawa di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, terkenal dengan gula Pedawa. Gula ini sejatinya adalah gula merah atau gula...

by I Wayan Artika
May 27, 2026
Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja
Khas

Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

BAGI sebagian siswa SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja, hari itu menjadi pengalaman pertama mengenal Canva. Ada yang masih bingung...

by Dede Putra Wiguna
May 27, 2026
Orang Bali Tetaplah Orang Bali
Esai

Orang Bali Tetaplah Orang Bali

WARUNG kopi itu berdiri di pinggir jalan kawasan Dalung, Kuta Utara. Siang mulai beranjak perlahan. Lalu lintas tak pernah benar-benar...

by Angga Wijaya
May 26, 2026
Adiluhung: Makna Luhur yang Kian Kabur
Bahasa

Adiluhung: Makna Luhur yang Kian Kabur

DI warung kopi, seminar budaya, sampai brosur perumahan mewah, istilah adiluhung makin sering berseliweran. Istilah ini mirip stempel sakti. Apa...

by I Made Sudiana
May 26, 2026
Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

AULA SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pagi itu tidak seperti biasanya. Tidak ada suasana tegang ujian, tidak pula wajah-wajah...

by Dede Putra Wiguna
May 26, 2026
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Pertumbuhan Ekonomi Saja Tidak Cukup  

DI sebuah obrolan sore yang dipenuhi asap kopi, suara kendaraan berlalu-lalang, dan pemberitaan tumbuhnya perekonomian kuartal I 2026 (5,61 persen),...

by Faris Widiyatmoko
May 26, 2026
Buzzer Rakyat
Esai

Buzzer Rakyat

DALAM diskusi dengan beberapa teman di grup WA, saya tidak menolak diposisikan sebagai ‘buzzer’. Tapi, dengan catatan (cetak tebal, miring,...

by Hartanto
May 25, 2026
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah
Tualang

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

by Chusmeru
May 25, 2026
Bumi Bajra : Ruang Tumbuh yang Menubuh
Panggung

Bumi Bajra : Ruang Tumbuh yang Menubuh

DI sudut gang yang dari luar tampak tak sepenuhnya meyakinkan, tampak sebuah ruang yang terasa begitu hangat karena dipeluk tertawaan...

by Made Chandra
May 25, 2026
Janger Pegok, Janger Tua di Bali: Dokumentasi Video Ditemukan di Jerman, Kini Dipentaskan di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Janger Pegok, Janger Tua di Bali: Dokumentasi Video Ditemukan di Jerman, Kini Dipentaskan di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA suasana hening dari masyarakat dan para undangan, tabuh mulai dimainkan. Muda-mudi yang didominasi para remaja itu menari lepas tanpa...

by Nyoman Budarsana
May 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co