12 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lelaki yang Menagih Janji Kepada Langit

Fatah Anshori by Fatah Anshori
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: IB Pandit Parastu

Cerpen: Fatah Anshori

“Dalam tradisi Yahudi empat puluh hari sebelum, bayi lelaki dilahirkan. Dilangit ada suara yang meneriakkan siapa wanita yang kelak akan di kawininya. Aku tahu ini sudah lama, aku tidak sengaja mendapat sobekan kertas kuno yang terselip di buku karangan orang Michigan.”, Begitu terang Yanto Bujang dengan ketus saat aku dan teman-temanku mengejeknya, bahwa jodohnya telah meninggal di kandungan.

“Tapi dalam tradisi Jawa itu tidak ada, Yan. Sudah ku bilang jodohmu itu telah meninggal di kandungan.”, Teman-teman ku kembali tertawa, setelah salah seorang kembali mengejek Yanto Bujang, tukang semir sepatu yang setiap siang mampir di warung kopi samping sekolah kami. Siang itu Untuk kesekian kalinya Yanto menjadi bahan tertawaan kami, anak-anak SD yang nakalnya amit-amit.

Seperti biasanya usai mampir ngopi, Yanto Bujang kembali melanjutkan pekerjaannya. Keliling kampung untuk mencari orang yang butuh jasanya sebagai tukang semir sepatu. Dengan sepeda Jengki karatan itulah, ia setiap hari keliling kampung. Lelaki itu sudah terlalu tua untuk menjadi pengantin baru saat ini. Lihat saja rambutnya sudah banyak yang memutih, dan kerutan di wajahnya sudah mulai terlihat. Namun hingga kini ia tak kunjung punya istri. Itulah kenapa ia di panggil Yanto Bujang, sebenarnya namanya hanya Yanto. Tapi karena kami anak-anak yang amit-amit nakalnya dan serampangan maka kami sepakat menamainya dengan Yanto Bujang.

***

“Hei Yanto Bujang, apa sudah kau temukan jodohmu?”, Aku kembali tertawa setelah puas mengejek Yanto yang kudapati sedang menyemir sepatu di teras rumah warga. Tiba-tiba telingaku terasa sakit yang luar biasa, Ibuku menjewer telingaku dengan keras. Yanto melihat ke arahku dan tersenyum.

“Maaf Pak Yanto, anak ini memang kurang ajar.”, Sambil tersenyum ibuku menganggukkan kepala ke arah Yanto Bujang. Kemudian ia membalas serupa seperti yang dilakukan ibuku padanya, mungkin itu berarti, ah tak apa, wajar anak kecil.

“Ayo Din, jalan. Sebentar lagi sampai.”, Ibuku kembali mengajakku melanjutkan perjalanan ke sawah di selatan kampung. Disanalah kami, anak-anak desa menghabiskan hari minggu, yakni dengan membantu orang tua di sawah. Mencabuti rumput, menjaga padi dari burung-burung pipit yang suka merusak, atau jika ada galengan yang rusak terpaksa aku harus mencangkul untuk memperbaiki pembatas sawah itu, agar air tak pergi kemana-mana.

“Kita sudah sampai, Le!”, Ibuku meletakkan bakul di gubuk bambu yang dibuat bapak ku saat Allah belum memanggilnya. Kicau burung pipit sesekali terdengar di antara batang padi yang terhampar di sawah. Sepertinya mereka sudah memulai pertengkaran dengan kami. Burung-burung itu jika dipandang lekat-lekat memang manis. Namun jika kau adalah petani yang memiliki ladang padi berhektar-hektar, maka burung ini serupa mimpi buruk yang menghantuimu tiap malam.

Sorenya, setelah adzan ashar berkumandang kami beringsut pulang. Melewati sawah-sawah warga yang masih hijau. Kaki-kaki kami menapak jalan kecil yang terbujur di antara sawah-sawah. Kelepak burung seskali terdengar di atas sana. Angin sore itu berhembus lirih menyapu gerah yang menggeliat di tubuh kami.

Saat aku memandangi wajah ibuku yang tengah berjalan dibelakangku. Pandangannya tertuju jauh ke seberang sawah. Aku lantas membalikkan badan lagi, sambil berjalan aku mencoba mencari apa yang sedang dilihat ibuku barusan. Aku memandang  lekat-lekat, di kejauhan seorang laki-laki tengah berdiri di tengah-tengah padang ilalang, menghadap ke barat sambil menengadahkan tangannya, serupa orang berdoa sehabis sholat. Lelaki tirus terlihat khusu’ seolah sedang melantunkan mantra-mantra penting kepada langit di sore itu.

“Apa ibu tahu siapa lelaki itu?”, Tanyaku pada ibu yang juga melihat Lelaki itu dibelakangku sambil berjalan.

“Sebentar lagi matahari surut, sebaiknya kau pandangi jalan didepanmu itu. Kita harus cepat, Le!”

Sore itu, aku merasa ada yang sedang disembunyikan ibu padaku.

***

Malam harinya usai sholat maghrib, kulihat dari serambi masjid Yanto Bujang mengayuh sepedanya melintasi jalan setapak di depan masjid. Sepedanya meluncur pelan dari selatan ke utara bagai perahu yang terbawa aliran sungai. Suara rodanya berderit terdengar serupa tikus yang tercekik lehernya. Dibawah cahaya malam yang remang-remang kuperhatikan mukanya layu, kuyu, dekil, dan seakan muka itu menanggung beban yang beratnya tak tertanggungkan lagi. Kuperhatikan lelaki bujang itu hingga tubuhnya hilang di belokan jalan.

“Hei, bocah jangan bengong saja. Nanti kau bisa kesambet!”, Tiba-tiba gamparan keras telapak mendarat dipunggungku. Aku terkejut, tubuhku terlonjak seketika itu. “Apa yang kau perhatikan, Din?”, Rudi masih tertawa melihat ekspresi tubuhku yang terkejut barusan.

“Ah tidak, bukan apa-apa, Rud.”

“Sudahlah aku tahu apa yang kau lihat barusan.”, Rudi menyeringai kearahku. “Apa kau sudah mendengar desas-desus warga tentang lelaki bujang penyemir sepatu itu?”

“Apa Rud?”, Aku mendekatkan badan pada Rudi. Hanya sekali saja pantatku yang menempel di lantai masjid kugeser ke kanan aku sudah nerada tepat di samping Rudi.

“Baik dengarkan, aku tak akan mengulang. Saat matahari hampir lengser di langit sebelah barat. Yanto Bujang akan segera menuju ke hamparan padang ilalang yang berada di selatan kampung. Disana ia menengadah ke langit, dan berbicara kepada langit. Orang-orang menganggap Yanto sudah tidak waras karena menyembah langit. Ayahku bilang, aku harus hati-hati dengan Yanto, dia itu sesat.”

“Udin, Rudi giliran kalian mengaji!”, Aku tersentak, Pak Ustadz memanggil. Sudah tiba giliran kami maju ke depan dan mengaji.

Serambi masjid ramai. Tiap kali usai magrib anak-anak berkumpul disini dan mengeja Al-Quran di bawah bimbingan Pak Ustadz. Lelaki yang baru tiga bulan menetap didesaku ini membawa perubahan banyak bagi desa. Kini warga desa semakin banyak yang pergi ke masjid untuk sholat berjamaah, paling tidak barisan dalam sholat kini menjadi tiga hingga empat shaf. Sebelumnya paling banyak hanya dua shaf itupun hanya sholat magrib. Diluar sholat itu, jumlah jamaah paling hanya enam tujuh orang. Selanjutnya adalah kami, semenjak ada Pak Ustadz kami mendapat jadwal mengaji usai sholat magrib, biasanya usai magrib kami lantas meninggalkan masjid dan bermain di sepanjang jalan desa. Dan anak-anak perempuan sekarang kebanyakan suka memakai kerudung jika keluar rumah.

Juga perubahan yang terjadi pada Yanto, semenjak kedatang Ustadz, Yanto semakin jarang ke masjid, bahkan satu bulan terakhir Ia sekalipun tak pernah menginjakkan kaki ke masjid ditambah ada isu bahwa ia sekarang menjadi sesat, karena telah menyembah langit setiap sore di selatan desa.

Usai sholat Isya kami pulang menuju rumah masing-masing. Malam itu aku pulang dengan tanda tanya besar yang meggantung dikepalaku. Apa yang membuat Yanto semakin aneh? Apa ada hubungannya dengan Pak Ustadz?

***

Beberapa hari yang lalu, Suhana resmi dijodohkan dengan Pak Ustadz. Keduanya dipertemukan dalam acara lamaran, yang dibuat oleh keluarga Suhana. Dalam acara itu keluarga Pak Ustadz tidak bisa datang lantaran jauh di luar pulau. Acara itu hanya dihadiri orang-orang penting desa, semisal: Pak Lurah, Modin, Ketua RT, dan kawan-kawannya itu.

Semua orang menyetujui rencana pernikahan itu. Kata orang-orang keduanya adalah pasangan yang cocok. Pak Ustadz dengan tampang rupawan kearab-araban. Sementara Suhana perempuan desa yang kecantikannya selalu jadi pembicaraan pria-pria bujang di warung kopi. Sangat beruntung pria yang dapat menikah dengannya, begitulah kata pria-pria bujang itu. Meski masih seumuran anak SD paling tidak aku sudah tahu mana itu perempuan cantik dan tidak. Dan Suhana sudah pasti perempuan cantik, lantaran sering diperbincangkan namanya oleh para lelaki.

Namun perlu kukatakan pada kalian, ketika acara lamaran itu berlangsung. Saat aku sedang memakan Nagasari mataku mendapati wajah Suhana tak serupa orang bahagia, malahan sebaiknya. Rona wajahnya serupa orang yang baru saja mendengar kabar kematian. Sepertinya Suhana tak suka dengan rencana kedua orang tuanya.

“Nduk sudah waktunya kau menikah, ingat usiamu sudah dua puluh lima tahun.”, Kata ibu Suhana saat acara lamaran tengah berlangsung. Namun Suhana hanya diam ketika itu. Tanggal pernikahan sudah ditetapkan dengan perhitungan jawa. Kemudian orang-orang pada mengangguk setuju.

Saat itu kulihat seluruh warga desa yang tak diundang berdiri mengerumuni rumah Suhana. Kami saling berdesakan melihat kedalam rumah. Beberapa ada yang mengintip lewat jendela, salah satunya adalah Rudi. Namun pada acara itu tak kudapati Yanto Bujang disitu. Padahal biasanya ia selalu hadir dalam acara seperi ini.

***

Dua minggu kemudian, desaku ramai. Alunan lagu dangdut menggema di sepanjang pagi. Membuat telingaku sakit seperti di tarik-tarik. Sekarang adalah hari H berlangsungnya acara pernikahan Pak Ustadz dan Suhana. Orang-orang desa, tua muda, besar kecil, laki-laki perempuan. Semuanya berkerumun mengitari terop dimana akan dilangsungkannya akad pernikahan.

Di hari Minggu pagi inilah, acara itu akan dilangsungkan. Rudi, pagi-pagi sekali datang kerumah untuk mengajakku melihat acara resepsi pernikahan ini. Memang seperti inilah kebiasaan orang-orang didesaku. Mereka gemar sekali menghadiri keramaian, salah satunya acara resepsi pernikahan. Paling tidak nantinya kita bisa makan enak jika menghadiri acara besar semacam ini.

Aku dan Rudi sekarang duduk di sebuah kursi yang menghadap kearah dua mempelai sedang duduk. Disebuah panggung semacam podium kecil tak terlalu tinggi, disitulah nantinya akad pernikahan akan dilangsungkan. Pak Ustadz dan Suhana sekarang tengah duduk bersanding sambil mengenakan pakain adat Jawa,  kali ini blangkon tersemat di kepala guru ngaji kami. Sementara Suhana pantas sekali mengenakan kebaya berwarna putih, amat serasi dengan warna kulitnya yang juga cerah. Pemandangan di podium itu dipercantik dengan hiasan semacam taman bunga-bunga yang ditanam didalam pot. Dijejer melingkari podium. Sesekali mereka berdiri dan menyalami warga yang sedang mengucapkan selamat untuk keduanya. Namun entah mengapa aku melihat seakan ada keganjilan disitu. Seperti saat acara lamaran tempo hari.

“Din, apa kau melihatnya?”, Kata Rudi disampingku.

“Melihat apa Rud?”

“Jangan bodoh kau!”

“Aku tak mengerti apa yang kau maksud!”

“Bodoh kau, jelas-jelas tercium aroma keterpaksaan di acara pernikahan ini. Lihat wajah Suhana, Din. Ia seolah sedang menanggung beban yang amat berat. Sekalipun tak kutemui senyum tersemat di bibirnya sejak tadi.”

Ternyata Rudi juga melihatnya. Kemudian baru kusadari semua orang yang duduk dikursi yang berada disekitar kami juga membicarakan perihal ini. Sesekali kudengar orang berbisik, membicarakan keganjilan ini. Diantara desas-desus orang, kulihat Pak Ustadz amat sangat bahagia dengan pernikahan yang akan halal dalam hitungan menit.

Namun tiba-tiba terdengar suara ricuh diantara orang-orang yang berkerumun mengitari terop. Beberapa orang berdiri sambil berjinjit memandang kearah kerumunan. Apa yang sebenarnya sedang terjadi. Kedua pengantin terlihat gelisah. Tiba-tiba dari kerumunan itu seorang lelaki tirus yang tidak asing lagi di mata kami keluar dan merangsek ke acara resepsi. Penampilannya sungguh tak enak dipandang. Barangkali ia baru bangun tidur, dan belum mandi, bahkan sekedar cuci muka, ia tak sempat. Bajunya kusut, celana jinsnya kumal.

Seleruh pasang mata tertuju ke arah Yanto Bujang yang sedang merangsek masuk mendekati podium. Dimana akan dilangsungkannya akad pernikahan.

“Suhana, Aku tahu kau tidak suka dengan pernikahan ini.”

Suhana hanya diam tertunduk.

“Jika seperti ini kau hanya membohongi dirimu sendiri, agar orang-orang disekitarmu senang. Sementara kau tidak. Apa itu yang disebut baik?”

Orang-orang tersentak, mata Bapak Suhana melotot seakan ingin menampar mulut Yanto Bujang. Dan Suhana hanya diam menekurkan wajahnya.

“Asal kau tahu Suhana, langit selalu membisikkan namamu setiap kali aku bertanya padanya. dan kau adalah perempuan yang dijanjikan langit kepadaku. Jadi ayo ikut denganku Suhana, kita akan bahagia bersama-sama.”

Amarah orang-orang semakin memuncak. Beberapa orang disekitarku terlihat geram. Sesekali terdengar makian keluar dari mulut mereka. Tak beberapa kemudian dua petugas keamanan yang berbadan tinggi besar masuk sambil membawa pentungan ditangannya. Yanto tidak menyadari. Dia masih melanjutkan omongan. Dengan sigap dua orang tadi meringkus Yanto, serupa orang hendak membuang anak kucing. Yanto diseret-seret. Dia meronta, namun itu percuma saja. Orang-orang tak ada yang nembelanya. Malahan terlihat gembira. Syukurlah pengganggu itu sudah disingkirkan, mungkin seperti itulah kalimat yang tersemat di kepala orang-orang ini.

Diluar terdengar teriakan-teriakan sarkastik. Kerumunan terjadi beberapa saat di sana. Dari tempatku duduk sesekali terdengar jeritan kesakitan. Aku tahu itu suara Yanto yang sedang dihakimi warga. Sementara di podium, upacara pernikahan baru saja usai dilangsungkan. Orang-orang berhamburan menyalami pengantin, begitu juga denganku. Namun yang masih membuatku penasaran adalah ucapan Yanto baruasan. Apa mungkin langit bisa berbicara pada Yanto?

***

Beberapa bulan usai pernikahan Suhana, langit selalu menangis pada sore hari. Yanto Bujang juga tak pernah terlihat lagi menyemir sepatu warga. Rumahnya yang berada di dibawah pepohonan bambu juga terlihat tak berpenghuni, terasnya penuh dengan ayam yang berterbangan kesana kemari. Tahi-tahi ayam pun berhamburan disekita teras. Jika kau melintasi jalan didepan rumah itu. Dengan segera kau akan memegangi hidung. lantaran aroma yang sama sekali tidak enak.

Menurut kabar yang sering melintas, di Padang ilalang selatan kampung tercium aroma busuk serupa bangkai. Namun tiap kali orang mendekati dan mencari asal muasal bau itu. Mereka tidak menemukan apa-apa. Dan konon ketika langit menurunkan hujan pada sore hari. Akan nampak dari kejauhan Lelaki yang menengadah ke langit.

“Itu adalah Lelaki yang menagih janji kepada langit.”, Kata seorang warga yang kutemui di pematang jalan menuju masjid. (T)

Tags: Cerpen
Share85TweetSendShareSend
Previous Post

Wayan Jengki Sunarta# Teluk Benoa, Malam Mabuk di Ubud

Next Post

Selamat Galungan, Selamat “Maceki”, Semoga Menang!

Fatah Anshori

Fatah Anshori

Lahir di Lamongan, bukunya yang telah terbit Ilalang di Kemarau Panjang (2015), Hujan yang Hendak Menyalakan Api (2018), Melalui Mimpi, Ia Mencari Cinta yang Niscaya (Frase Pinggir, 2021). Cerpen dan puisinya telah dimuat beberapa media online, juga Majalah Suluk (DK Jatim), Terpilih sebagai Penulis Cerpen Unggulan Litera.co (2018). Bergiat di Guneman Sastra dan Songgolangit Creative Space.

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post

Selamat Galungan, Selamat “Maceki”, Semoga Menang!

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana
Esai

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
‘Sanè Kantun Ring Manah’: Ketika Marlowe Bandem Menghidupkan Ingatan Budaya di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

‘Sanè Kantun Ring Manah’: Ketika Marlowe Bandem Menghidupkan Ingatan Budaya di Singaraja Literary Festival 2026

MALAM itu nyaris tak terdengar suara selain desir angin dan dialog yang mengalun dari layar. Puluhan pasang mata tertuju ke...

by Dede Putra Wiguna
July 10, 2026
Mahindu, Si Perempuan Tembikar
Ulas Buku

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali
Khas

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan
Khas

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
Bonangan Saluang, Barungan Gamelan Baru di Pesta Kesenian Bali 2026 yang Memperkaya Khazanah Karawitan Bali
Panggung

Bonangan Saluang, Barungan Gamelan Baru di Pesta Kesenian Bali 2026 yang Memperkaya Khazanah Karawitan Bali

SORE itu, suasana sakral menyelimuti Kalangan Ratna Kanda, Taman Budaya Provinsi Bali, Kamis (9/7/2026). Nada-nada yang terdengar sederhana, tetapi kokoh...

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

by Chusmeru
July 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co