21 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

5 Sutradara yang Bikin Saya Ingin Terus Nonton Film

Hidayat by Hidayat
March 20, 2019
in Esai
5 Sutradara yang Bikin Saya Ingin Terus Nonton Film

Foto-foto Google/Wikipedia

Kiranya sudah lebih dari 8 bulan, terhitung sejak pertengahan 2018 saya mulai serius untuk menonton film secara kritis—tentu masih dalam tahap yang bisa dikatakan “pemula”.

Beberapa film yang saya tonton dalam 8 bulan tersebut saya catat di buku khusus dengan judul dan tahun rilis, nama sutradara dan aktor/aktris yang paling berkesan aktingnya. Yang tercatat dalam buku tersebut hanya 32 film. Sebuah prestasi yang sama sekali tidak layak disombongkan bagi cinephile amatir seperti saya.

Menonton film bukan semata-mata sebagai hiburan—alih-alih untuk membunuh kejenuhan di tengah kesibukan sehari-hari. Tapi lebih dari itu, aktivitas menonton film lebih-lebih melatih kepekaan dan terus berdialektika.

Sebagai seseorang yang tidak pernah paham tentang teknik pengambilan gambar, justru saya berkali-kali kagum pada teknik-teknik pengambilan gambar. Dalam scene-scene yang terus bergerak, saya merasa, dalam berbagai teknik pengambilan gambar, ada sesuatu yang memang sengaja dibangun untuk mendorong kepekaan penonton. Dan sialnya, saya tidak pernah mencatat dan mengingat nama sinematografer.

Ketika saya mulai ingin menonton film, saya biasanya melakukan cara-cara berikut:

Pertama, mencari referensi yang layak dari situs di internet, saya hanya akan melihat sinopsis, rating, sutradara, aktor/aktris, pengisi musik, dan melihat penghargaan yang didapatkan dalam kancah perfilman;

Kedua, dengan meminta rekomendasi dari kawan yang saya hormati sebagai senior dalam penilaiannya terhadap film; Ketiga, Jika saya menyukai film garapan sutradara A, misalnya, saya akan mencari film-film garapannya, dan menonton semua film yang disutradarai dan mencari-cari perbedaan dan gaya.

Saya telah terpesona dengan cara kerja sutradara film. Entah seberapa penting peran sutradara, saya curiga, jangan-jangan cinematographer, scoring musik, dan penata busana dalam film juga penting. Tapi perannya selalu tertutup oleh sutradara.

Dan sutradara, bagi saya adalah kemenangan itu sendiri. Sutradara mampu melampaui siapa saja yang terlibat dalam filmnya jika memang filmnya diakui bagus oleh penonton. Tentu, hal tersebut akan merangsang pertanyaan, siapa siematografer, scoring music, dan siapa aktornya?

Seorang sutradara film, bagi saya harus menciptakan sebuah visi tunggal, mampu melampaui zaman, dan menjadikan film garapannya mampu menemukan penonton atau penikmatnya sendiri.

Saya telah memilih 5 sutradara favorit dan merekomendasikan kepada orang-orang yang membaca tulisan ini. Mengingat saya hanya penggemar, ‘bisa saja ini bersifat subjektif’.  Tidak ada alasan lain, saya memilih 5 sutradara ini karena film-filmnya yang menggugah dan mempunyai ciri khas tersendiri dan membuat saya ketagihan menonton film.

1

Stanley Kubrick (1928-1999)

Menonton karya-karya Almarhum Pak Kubrick, Terbukti bahwa beliau memang menunjukkan gaya dan bakat sutradaranya. Saya hanya menonton beberapa filmnya, dan itu cukup kuat meyakinkan bahwa beliau memang layak mendapat predikat sutradara yang handal. Dalam adaptasi karya-karya sastra (Novel), yang kemudian difilmkan dengan gayanya sendiri sangat kental dengan adegan kekerasan dan seksualitas. Seoalah ia jujur dalam melihat situasi kemanusian pada saat itu.

Pada film Lolita (1962), yang diadaptasi dari judul novel yang sama karya Vladimir Nabokov, beliau tidak pernah menghindar dari topik kontroversial untuk mengungkap sisi gelap kemanusiaan. Menceritakan seorang ayah tiri paruh baya yang mencintai anak tirinya sendiri. Di film tersebut, Pak Kubrick, yang meskipun mengangkat cerita menjijikkan, beliau tetap bisa membangun keintiman tanpa adegan yang erotis. Kedekatan Humbert dan Lolita sangat emosional dan jujur.

Lalu, dalam A Clockwork Orange (1971), adaptasi dari Novel A Clockwork Orange karya Anthony Borges, Pak Kubrick sangat piawai merepresentasikan tokoh-tokoh dalam filmnya. Memainkan Malcolm McDowell, Kubrick masih mempertahankan dialog-dialog ala Burgess (kebetulan saya sudah membaca novelnya dalam versi bahasa  indonesia).


Stanley Kubrick (1928-1999) – Foto Google/Wikipedia

Beliau juga menghadirkan visualisasi yang ambigu: menjijikkan sekaligus surealis yang membingungkan penonton, merasa mual atau malah tergugah? Yang terpenting dalam film tersebut adalah pesan kuat yang semata-mata cerita tentang taubatnya seorang berandal. A Clockwork Orange sebenarnya adalah sindiran kepada sains dan peran negara dengan ambisi yang mengerikan dan menghantui kita dalam ambisinya mengontrol manusia.

Dengan latar belakang sebagai fotografer, set panggung dan pencahayaan dalam film-filmnya selalu menarik. Dalam Film The Shining (1980), yang ia adaptasi dari Novel karya Stephen King. Beliau mampu membuat film psikologi horror yang sepenuhnya diwujudkan dalam visualisasi yang khas melalui simbol-simbol.

The Shining memang tidak menjual aksi-aksi sadis ataupun jumpscare yang berlebihan namun Kubrick mampu membangun atmosfir yang sangat mencekam dalam filmnya dan mampu mempengaruhi psikologis para penonton dan memaksa kita untuk membayangkan bagaimana rasanya jadi seorang Jack Torrance. Stephen King sendiri malah membenci film ini karena dianggap terlalu melenceng dari novelnya. Namun tetap saja The Shining (1980) sekarang ini banyak orang yang menganggapnya film horor terbaik.

2

Hayao Miyazaki (1941)

Film-film Studio Ghibli memang menarik dan penuh kedalaman makna. Film-film animasi besutan Ghibli tidak hanya menarik untuk ditonton tetapi juga direnungi. Yang kemudian khas dari Ghibli adalah: Karakter (wanita) yang kuat, tema dewasa, dunia fantasi yang ekspresionis namun serupa dengan dunia nyata.


Hayao Miyazaki (1941) – Foto Google/Wikipedia

Hayao Miyazaki begitu ciamik dalam menempa unsur-unsur biografi, keluarga, romansa, pelualangan, dan drama.

Film-filmnya yang paling sukses antara lain: Princes Mononoke (1997), sebuah film fantasi dengan sentuhan cinta, spiritualitas dan filosofis. Di film tersebut, Hayao Miyazaki sangat piawai dalam mersepon hubungan antara manusia, alam, dan binatang dalam memperjuangkan hidup masing-masing.

Kemudian dalam Spirited Away (2010), yang mengisahkan petualangan gadis kecil yang menawan dan berani. Cukup kuat untuk menggambarkan hakikat kemanusian, terutama tentang eksploitasi dan perbudakan.

3

Alfonso Cuaron (1961)


Alfonso Cuaron (1961) = Foto Google/Wikipedia

Lewat film Children of Men (2006), saya benar-benar terpukau dengan gagasan Pak Cuaron yang tak lazim: manusia kehilangan kemampuan untuk bereproduksi. Berlatar tahun 2027: Perang, kelaparan, kemiskinan. Jelas bahwa Cuaron memang hendak melunturkan gagasan tentang masa depan yang serba cemerlang.

4

Denis Villeneuve (1967)

Melalui Incendies (2015), yang diadaptasi dari drama panggung karya Wajdi Mouawad tentang anak kembar yang bepergian ke Timur Tengah untuk mengungkap misteri siapa ayah mereka. Di sana, Villeneuve berhasil menggambarkan sebuah drama yang pelik dan sangat emosional. Film ini sebenarnya sangat standar soal plot, namun tetap memberikan twist yang lumayan di akhir.

Dalam Film Enemy (2013) yang diadaptasi dari Novel The Double karya Jose Saramago, Dengan menggandeng aktor Jake Gyllenhall, beliau membangun tone yang lebih gelap dan ending yang menyiratkan pesan lebih dalam bagi penontonnya.


Denis Villeneuve (1967) – Foto Google

Di mana dalam film tersebut Adam (Jake Gyllenhall) adalah seorang dosen sejarah yang  secara kebetulan ia direkomendasikan sebuah film oleh rekan kerjanya, ketika ia menononton, ia kaget karena melihat aktor dalam film tersebut mirip dengannya. Adam pun mulai mencari tahu. Namanya adalah Anthony (Jake Gyllenhall). Sampai pada akhirnya mereka salung bertemu dan malah menjadi sebuah bencana bagi kehidupan mereka.

Ini adalah film favorit saya sepanjang 2018, dengan matang sang sutradara pelan-pelan memberikan clue lewat scene-scene di mana Adam mengajar materi Totalitarianisme, juga scene-scene absurd seorang wanita berkepala laba-laba, laba-laba raksasa menginvasi kota.

Dan, Film-film Denis Villeneuve selalu mengesankan.

5

Paul Thomas Anderson (PTA) (1970)

Tidak diragukan lagi, PTA adalah sutradara favorit saya dengan segala hal yang ia miliki: pencipta cerita yang orisinal dan intens dalam hal studi karakter. PTA, dalam film-film garapannya, aktor-aktornya selalu sukses. Ia selalu konsisten dalam memilih aktor yang ia libatkan dalam film-filmnya. Film-filmnya kaya dengan dialog-dialog yang panjang, romantis, dan penuh makna filosofis.

Beliau biasanya menulis screenplay sendiri, tetapi dalam Inherent Vice (2004), beliau memilih untuk mengadaptasi sebuah novel karya Thomas Pyncon. Sebuah kisah detektif dengan karakter hippies dan latar tahun 1970-an. Terbukti menjadi cerita cair dan kaya akan gambaran tentang tahun 70’an. Berkesan berantakan dan aneh namun tetap menarik untuk ditonton.


Paul Thomas Anderson (PTA) (1970) – Foto Google

Beliau mengalahkan dirinya. There Will Be Blood (2007) adalah film PTA yang paling berani, menurut saya. Kisah tentang booming minyak di California menampilkan Daniel Day-Lewis (DDL) sebagai pengusaha minyak sekaligus aktor antagonis. Akting yang memukau dari DDL, beliaulog-beliaulog dibangun tajam. Yang paling memukau adalah beliaulog antara Daniel Plainview (DDL) dan Eli (Paul Dono) seorang tokoh agamis yang rakus. Dalam film tersebut scoring music yang diisi oleh Jonny Greenwood, musisi Radiohead mampu menciptakan ketegangan-ketegangan yang khas.

Film terbarunya, Phantom Thread (2017), adalah kisah cinta yang indah, yang dibangun lewat penghancuran tokoh utama. Lagi-lagi ia memainkan Daniel Day-Lewis (DDL). Sudah tidak diragukan lagi, DDL selalu bisa memainkan peran dengan apik. Seolah DDL mampu melampaui dirinya dengan selalu menjadi orang lain. Kemewahan busana (tata artistic) dan musik yang megah (lagi-lagi scoring oleh Jonny Greenwood), PTA berhasil menghipnotis penonton untuk larut dalam filmnya.

Paul Thomas Anderson terus menantang para penonton film-filmnya dengan studi karakter yang menarik dan orisinal yang menghadirkan penampilan luar biasa dari para aktor pilihannya. [T]

Tags: filmsutradara film
Share16TweetSendShareSend
Previous Post

Yang Kita Cari Adalah Hening

Next Post

Kisah PPL di Thailand: Pakaian Siswa Sama Setiap Hari, Guru Tak Setiap Hari Berseragam

Hidayat

Hidayat

Berasal dari ujung timur pulau Jawa alias Banyuwangi. Sedang terdampar di sisi utara Pulau Dewata. Bercita-cita memiliki kedai kopi lengkap dengan perpus, tempat nonton film serta tempat diskusi. Bisa dijumpai di akun inatagram : cethe21

Related Posts

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
0
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

Read moreDetails

Cara Kerja Kekuasaan Meredam Kritik Publik

by Teddy Chrisprimanata Putra
October 18, 2026
0
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

“No Rocky, No Party” BARANGKALI jargon tersebut masih sangat relate hingga hari ini. Pasalnya, nama Rocky Gerung kembali menjadi diskursus...

Read moreDetails
Next Post
Kisah PPL di Thailand: Pakaian Siswa Sama Setiap Hari, Guru Tak Setiap Hari Berseragam

Kisah PPL di Thailand: Pakaian Siswa Sama Setiap Hari, Guru Tak Setiap Hari Berseragam

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU
Esai

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta
Ulas Rupa

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

by Emi Suy
October 19, 2026
Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental
Olahraga

Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental

KETIKA musik mulai diputar, tangan para peserta terangkat di atas kepala. Mereka bertepuk tangan mengikuti irama lagu “Gemu Fa Mi...

by Nyoman Budarsana
October 19, 2026
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata
Esai

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

by Angga Wijaya
October 19, 2026
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra
Esai

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya
Ulas Musik

Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

ADA masa ketika malam adalah malam. Setelah matahari tenggelam, kehidupan perlahan menurunkan volumenya. Warung mulai menutup pintu, pasar berhenti berisik,...

by Ahmad Sihabudin
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co