29 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

5 Sutradara yang Bikin Saya Ingin Terus Nonton Film

Hidayat by Hidayat
March 20, 2019
in Esai
5 Sutradara yang Bikin Saya Ingin Terus Nonton Film

Foto-foto Google/Wikipedia

Kiranya sudah lebih dari 8 bulan, terhitung sejak pertengahan 2018 saya mulai serius untuk menonton film secara kritis—tentu masih dalam tahap yang bisa dikatakan “pemula”.

Beberapa film yang saya tonton dalam 8 bulan tersebut saya catat di buku khusus dengan judul dan tahun rilis, nama sutradara dan aktor/aktris yang paling berkesan aktingnya. Yang tercatat dalam buku tersebut hanya 32 film. Sebuah prestasi yang sama sekali tidak layak disombongkan bagi cinephile amatir seperti saya.

Menonton film bukan semata-mata sebagai hiburan—alih-alih untuk membunuh kejenuhan di tengah kesibukan sehari-hari. Tapi lebih dari itu, aktivitas menonton film lebih-lebih melatih kepekaan dan terus berdialektika.

Sebagai seseorang yang tidak pernah paham tentang teknik pengambilan gambar, justru saya berkali-kali kagum pada teknik-teknik pengambilan gambar. Dalam scene-scene yang terus bergerak, saya merasa, dalam berbagai teknik pengambilan gambar, ada sesuatu yang memang sengaja dibangun untuk mendorong kepekaan penonton. Dan sialnya, saya tidak pernah mencatat dan mengingat nama sinematografer.

Ketika saya mulai ingin menonton film, saya biasanya melakukan cara-cara berikut:

Pertama, mencari referensi yang layak dari situs di internet, saya hanya akan melihat sinopsis, rating, sutradara, aktor/aktris, pengisi musik, dan melihat penghargaan yang didapatkan dalam kancah perfilman;

Kedua, dengan meminta rekomendasi dari kawan yang saya hormati sebagai senior dalam penilaiannya terhadap film; Ketiga, Jika saya menyukai film garapan sutradara A, misalnya, saya akan mencari film-film garapannya, dan menonton semua film yang disutradarai dan mencari-cari perbedaan dan gaya.

Saya telah terpesona dengan cara kerja sutradara film. Entah seberapa penting peran sutradara, saya curiga, jangan-jangan cinematographer, scoring musik, dan penata busana dalam film juga penting. Tapi perannya selalu tertutup oleh sutradara.

Dan sutradara, bagi saya adalah kemenangan itu sendiri. Sutradara mampu melampaui siapa saja yang terlibat dalam filmnya jika memang filmnya diakui bagus oleh penonton. Tentu, hal tersebut akan merangsang pertanyaan, siapa siematografer, scoring music, dan siapa aktornya?

Seorang sutradara film, bagi saya harus menciptakan sebuah visi tunggal, mampu melampaui zaman, dan menjadikan film garapannya mampu menemukan penonton atau penikmatnya sendiri.

Saya telah memilih 5 sutradara favorit dan merekomendasikan kepada orang-orang yang membaca tulisan ini. Mengingat saya hanya penggemar, ‘bisa saja ini bersifat subjektif’.  Tidak ada alasan lain, saya memilih 5 sutradara ini karena film-filmnya yang menggugah dan mempunyai ciri khas tersendiri dan membuat saya ketagihan menonton film.

1

Stanley Kubrick (1928-1999)

Menonton karya-karya Almarhum Pak Kubrick, Terbukti bahwa beliau memang menunjukkan gaya dan bakat sutradaranya. Saya hanya menonton beberapa filmnya, dan itu cukup kuat meyakinkan bahwa beliau memang layak mendapat predikat sutradara yang handal. Dalam adaptasi karya-karya sastra (Novel), yang kemudian difilmkan dengan gayanya sendiri sangat kental dengan adegan kekerasan dan seksualitas. Seoalah ia jujur dalam melihat situasi kemanusian pada saat itu.

Pada film Lolita (1962), yang diadaptasi dari judul novel yang sama karya Vladimir Nabokov, beliau tidak pernah menghindar dari topik kontroversial untuk mengungkap sisi gelap kemanusiaan. Menceritakan seorang ayah tiri paruh baya yang mencintai anak tirinya sendiri. Di film tersebut, Pak Kubrick, yang meskipun mengangkat cerita menjijikkan, beliau tetap bisa membangun keintiman tanpa adegan yang erotis. Kedekatan Humbert dan Lolita sangat emosional dan jujur.

Lalu, dalam A Clockwork Orange (1971), adaptasi dari Novel A Clockwork Orange karya Anthony Borges, Pak Kubrick sangat piawai merepresentasikan tokoh-tokoh dalam filmnya. Memainkan Malcolm McDowell, Kubrick masih mempertahankan dialog-dialog ala Burgess (kebetulan saya sudah membaca novelnya dalam versi bahasa  indonesia).


Stanley Kubrick (1928-1999) – Foto Google/Wikipedia

Beliau juga menghadirkan visualisasi yang ambigu: menjijikkan sekaligus surealis yang membingungkan penonton, merasa mual atau malah tergugah? Yang terpenting dalam film tersebut adalah pesan kuat yang semata-mata cerita tentang taubatnya seorang berandal. A Clockwork Orange sebenarnya adalah sindiran kepada sains dan peran negara dengan ambisi yang mengerikan dan menghantui kita dalam ambisinya mengontrol manusia.

Dengan latar belakang sebagai fotografer, set panggung dan pencahayaan dalam film-filmnya selalu menarik. Dalam Film The Shining (1980), yang ia adaptasi dari Novel karya Stephen King. Beliau mampu membuat film psikologi horror yang sepenuhnya diwujudkan dalam visualisasi yang khas melalui simbol-simbol.

The Shining memang tidak menjual aksi-aksi sadis ataupun jumpscare yang berlebihan namun Kubrick mampu membangun atmosfir yang sangat mencekam dalam filmnya dan mampu mempengaruhi psikologis para penonton dan memaksa kita untuk membayangkan bagaimana rasanya jadi seorang Jack Torrance. Stephen King sendiri malah membenci film ini karena dianggap terlalu melenceng dari novelnya. Namun tetap saja The Shining (1980) sekarang ini banyak orang yang menganggapnya film horor terbaik.

2

Hayao Miyazaki (1941)

Film-film Studio Ghibli memang menarik dan penuh kedalaman makna. Film-film animasi besutan Ghibli tidak hanya menarik untuk ditonton tetapi juga direnungi. Yang kemudian khas dari Ghibli adalah: Karakter (wanita) yang kuat, tema dewasa, dunia fantasi yang ekspresionis namun serupa dengan dunia nyata.


Hayao Miyazaki (1941) – Foto Google/Wikipedia

Hayao Miyazaki begitu ciamik dalam menempa unsur-unsur biografi, keluarga, romansa, pelualangan, dan drama.

Film-filmnya yang paling sukses antara lain: Princes Mononoke (1997), sebuah film fantasi dengan sentuhan cinta, spiritualitas dan filosofis. Di film tersebut, Hayao Miyazaki sangat piawai dalam mersepon hubungan antara manusia, alam, dan binatang dalam memperjuangkan hidup masing-masing.

Kemudian dalam Spirited Away (2010), yang mengisahkan petualangan gadis kecil yang menawan dan berani. Cukup kuat untuk menggambarkan hakikat kemanusian, terutama tentang eksploitasi dan perbudakan.

3

Alfonso Cuaron (1961)


Alfonso Cuaron (1961) = Foto Google/Wikipedia

Lewat film Children of Men (2006), saya benar-benar terpukau dengan gagasan Pak Cuaron yang tak lazim: manusia kehilangan kemampuan untuk bereproduksi. Berlatar tahun 2027: Perang, kelaparan, kemiskinan. Jelas bahwa Cuaron memang hendak melunturkan gagasan tentang masa depan yang serba cemerlang.

4

Denis Villeneuve (1967)

Melalui Incendies (2015), yang diadaptasi dari drama panggung karya Wajdi Mouawad tentang anak kembar yang bepergian ke Timur Tengah untuk mengungkap misteri siapa ayah mereka. Di sana, Villeneuve berhasil menggambarkan sebuah drama yang pelik dan sangat emosional. Film ini sebenarnya sangat standar soal plot, namun tetap memberikan twist yang lumayan di akhir.

Dalam Film Enemy (2013) yang diadaptasi dari Novel The Double karya Jose Saramago, Dengan menggandeng aktor Jake Gyllenhall, beliau membangun tone yang lebih gelap dan ending yang menyiratkan pesan lebih dalam bagi penontonnya.


Denis Villeneuve (1967) – Foto Google

Di mana dalam film tersebut Adam (Jake Gyllenhall) adalah seorang dosen sejarah yang  secara kebetulan ia direkomendasikan sebuah film oleh rekan kerjanya, ketika ia menononton, ia kaget karena melihat aktor dalam film tersebut mirip dengannya. Adam pun mulai mencari tahu. Namanya adalah Anthony (Jake Gyllenhall). Sampai pada akhirnya mereka salung bertemu dan malah menjadi sebuah bencana bagi kehidupan mereka.

Ini adalah film favorit saya sepanjang 2018, dengan matang sang sutradara pelan-pelan memberikan clue lewat scene-scene di mana Adam mengajar materi Totalitarianisme, juga scene-scene absurd seorang wanita berkepala laba-laba, laba-laba raksasa menginvasi kota.

Dan, Film-film Denis Villeneuve selalu mengesankan.

5

Paul Thomas Anderson (PTA) (1970)

Tidak diragukan lagi, PTA adalah sutradara favorit saya dengan segala hal yang ia miliki: pencipta cerita yang orisinal dan intens dalam hal studi karakter. PTA, dalam film-film garapannya, aktor-aktornya selalu sukses. Ia selalu konsisten dalam memilih aktor yang ia libatkan dalam film-filmnya. Film-filmnya kaya dengan dialog-dialog yang panjang, romantis, dan penuh makna filosofis.

Beliau biasanya menulis screenplay sendiri, tetapi dalam Inherent Vice (2004), beliau memilih untuk mengadaptasi sebuah novel karya Thomas Pyncon. Sebuah kisah detektif dengan karakter hippies dan latar tahun 1970-an. Terbukti menjadi cerita cair dan kaya akan gambaran tentang tahun 70’an. Berkesan berantakan dan aneh namun tetap menarik untuk ditonton.


Paul Thomas Anderson (PTA) (1970) – Foto Google

Beliau mengalahkan dirinya. There Will Be Blood (2007) adalah film PTA yang paling berani, menurut saya. Kisah tentang booming minyak di California menampilkan Daniel Day-Lewis (DDL) sebagai pengusaha minyak sekaligus aktor antagonis. Akting yang memukau dari DDL, beliaulog-beliaulog dibangun tajam. Yang paling memukau adalah beliaulog antara Daniel Plainview (DDL) dan Eli (Paul Dono) seorang tokoh agamis yang rakus. Dalam film tersebut scoring music yang diisi oleh Jonny Greenwood, musisi Radiohead mampu menciptakan ketegangan-ketegangan yang khas.

Film terbarunya, Phantom Thread (2017), adalah kisah cinta yang indah, yang dibangun lewat penghancuran tokoh utama. Lagi-lagi ia memainkan Daniel Day-Lewis (DDL). Sudah tidak diragukan lagi, DDL selalu bisa memainkan peran dengan apik. Seolah DDL mampu melampaui dirinya dengan selalu menjadi orang lain. Kemewahan busana (tata artistic) dan musik yang megah (lagi-lagi scoring oleh Jonny Greenwood), PTA berhasil menghipnotis penonton untuk larut dalam filmnya.

Paul Thomas Anderson terus menantang para penonton film-filmnya dengan studi karakter yang menarik dan orisinal yang menghadirkan penampilan luar biasa dari para aktor pilihannya. [T]

Tags: filmsutradara film
Share16TweetSendShareSend
Previous Post

Yang Kita Cari Adalah Hening

Next Post

Kisah PPL di Thailand: Pakaian Siswa Sama Setiap Hari, Guru Tak Setiap Hari Berseragam

Hidayat

Hidayat

Berasal dari ujung timur pulau Jawa alias Banyuwangi. Sedang terdampar di sisi utara Pulau Dewata. Bercita-cita memiliki kedai kopi lengkap dengan perpus, tempat nonton film serta tempat diskusi. Bisa dijumpai di akun inatagram : cethe21

Related Posts

Di Bawah Lampu Kerlap-Kerlip: Membaca Fenomena “Coffee Shop” sebagai Teks Budaya

by Tri Nugroho Adi
August 28, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Segelas kopi tidak pernah hanya berisi kopi. Di dalamnya terseduh sejarah, identitas, percakapan, bahkan cara manusia memahami dirinya sendiri." MENJELANG...

Read moreDetails

BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar

by I Ketut Suar Adnyana
August 27, 2026
0
BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar

Kebudayaan tidak pernah benar-benar hidup hanya karena diwariskan. Sebuah tradisi akan tetap hidup apabila pengetahuan, nilai, simbol, dan ingatan yang...

Read moreDetails

Destinasi “Detour”: Tren Wisata Alternatif Menyimpang Rute Utama

by Chusmeru
August 27, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERWISATA kadang berjalan tidak sesuai dengan yang direncanakan. Di awal perjalanan sudah ditentukan destinasi wisata mana yang akan dikunjungi. Namun...

Read moreDetails

Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede

by Dharma Yuda
August 26, 2026
0
Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede

RANGKAIAN Karya Pedudusan Agung, Ngusaba Desa, dan Ngusaba Nini yang berpusat di Pura Puseh Sibanggede sudah mencapai akhir melalui upacara...

Read moreDetails

Kalau Rakyat Harus Naik Bus ke Jakarta Agar Didengar, Ada Apa dengan Telinga Kekuasaan?

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 26, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

ADA yang menarik dari perjalanan sejumlah warga Pati menuju Jakarta menjelang aksi 27 Agustus 2026.  Mereka tidak sedang piknik. Empat...

Read moreDetails

Ibu Memasak di Kota

by Angga Wijaya
August 25, 2026
0
Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

Read moreDetails

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

by Sugi Lanus
August 25, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

Read moreDetails

Karnaval dan Kemacetan Sosial

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
0
Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

Read moreDetails

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails
Next Post
Kisah PPL di Thailand: Pakaian Siswa Sama Setiap Hari, Guru Tak Setiap Hari Berseragam

Kisah PPL di Thailand: Pakaian Siswa Sama Setiap Hari, Guru Tak Setiap Hari Berseragam

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka
Khas

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Di Bawah Lampu Kerlap-Kerlip: Membaca Fenomena “Coffee Shop” sebagai Teks Budaya

"Segelas kopi tidak pernah hanya berisi kopi. Di dalamnya terseduh sejarah, identitas, percakapan, bahkan cara manusia memahami dirinya sendiri." MENJELANG...

by Tri Nugroho Adi
August 28, 2026
Kemarau di Kalianget
Buku Tatkala

Kemarau di Kalianget

Judul: Kemarau di Kalianget Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Luh Arik Sariadi ISBN: Masih dalam proses Tebal: 145 halaman...

by Buku Tatkala
August 28, 2026
Agung Ngurah Astara, Kepala Sekolah SMKN 5 Denpasar dengan Perubahan dan Harapan Baru
Pendidikan

Agung Ngurah Astara, Kepala Sekolah SMKN 5 Denpasar dengan Perubahan dan Harapan Baru

SEMUA berawal dari kesungguhan, keteguhan, disiplin dan upaya kreatif dalam menggapai sebuah kemuliaan. Tidak mudah melewati dan menghadapi  tantangan dalam...

by Nyoman Budarsana
August 27, 2026
BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar
Esai

BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar

Kebudayaan tidak pernah benar-benar hidup hanya karena diwariskan. Sebuah tradisi akan tetap hidup apabila pengetahuan, nilai, simbol, dan ingatan yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 27, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Destinasi “Detour”: Tren Wisata Alternatif Menyimpang Rute Utama

BERWISATA kadang berjalan tidak sesuai dengan yang direncanakan. Di awal perjalanan sudah ditentukan destinasi wisata mana yang akan dikunjungi. Namun...

by Chusmeru
August 27, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [7]: Rezim Algoritma dan Pembubaran Standar Sastra

Semua tekanan yang sudah diuraikan dalam bagian-bagian sebelumnya bisa dibaca sebagai masalah-masalah yang terpisah. Namun semuanya adalah gejala dari satu...

by Andre Syahreza
August 26, 2026
Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede
Esai

Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede

RANGKAIAN Karya Pedudusan Agung, Ngusaba Desa, dan Ngusaba Nini yang berpusat di Pura Puseh Sibanggede sudah mencapai akhir melalui upacara...

by Dharma Yuda
August 26, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Kalau Rakyat Harus Naik Bus ke Jakarta Agar Didengar, Ada Apa dengan Telinga Kekuasaan?

ADA yang menarik dari perjalanan sejumlah warga Pati menuju Jakarta menjelang aksi 27 Agustus 2026.  Mereka tidak sedang piknik. Empat...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 26, 2026
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya
Ulas Rupa

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

by Hartanto
August 26, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
Ibu Memasak di Kota
Esai

Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

by Angga Wijaya
August 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co