26 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bagaimana Kalau Sekolah Dibubarkan Saja? – Renungan Saat PPL

Jaswanto by Jaswanto
October 1, 2018
in Esai
Bagaimana Kalau Sekolah Dibubarkan Saja? – Renungan Saat PPL

Ilustrasi diolah dari gambar di Google

APAKAH misi lembaga persekolahan atau lembaga pengajaran yang secara salah kaprah sering juga di sebut sebagai “lembaga pendidikan”? Atau mengapa sekolah dan universitas relatif “harus” ada?

Nurcholish Madjid dan Pater Drost (selengkapnya silakan baca buku Andrias Harefa, Sekolah Saja Tidak Penah Cukup) telah memaparkan sejumlah pandangan yang sedikit banyak membantu kita untuk menemukan jawaban kita sendiri atas pertanyaan semacam itu.

Sudah hampir dua bulan kurang dua minggu saya mengikuti program PPL-Real di salah satu SMAN  di kabupaten Buleleng. Selama hapir dua bulan merasakan susah senangnya menjadi seorang guru (latihan), timbul tenggelam pertanyaan dalam benak saya; mengapa sekolah ada, dan sebuah pertanyaan yang mungkin bagi sebagian orang agak aneh; bagaimana kalau lembaga persekolahan—yang sebagaimana kita kenalselama ini—dipertimbangkan untuk dibubarkan?

Mengapa sekolah ada? Pertanyaan pertama yang kemudian saya pikirkan, mencari untuk menemukan sebuah jawaban tentu saja. Adalah Andrias Harefa, drop out dari Fakultas Hukum UGM, kemudian memulai kariernya sebagai jurnalis independen, dan menulis buku tentu saja. Salah satu bukunya yang kemudian saya anggap bisa menjawab pertanyaan saya adalah buku yang berjudul Sekolah Saja Tidak Pernah Cukup, terbitan PT Gramedia Pustaka Utama itu, sebuah buku yang membahas tentang “menyoal pendidikan, persekolahan, pencarian alternatif pembelajaran”.

Dalam buku tersebut, Andrias menulis misi terselubung lembaga persekolahan. Sepanjang yang kita ketahui saat ini, lembaga persekolahan—terutama sekolah dan universitas, tetapi juga mencakup lembaga-lembaga pelatihan yang mendukung sekolah dan universitas—telah dianggap atau diperlakukan sebagai pemegang hak monopoli atau pengetahuan (knowledge) dan keterampilan (skills) (Harefa, 2002).

Disadari atau tidak, mereka yang berkuasa atas lembaga-lembaga persekolahan, mulai dari pemerintah sampai pengurus yayasan dan kepala sekolah, tidak ubahnya bagai raja yang berhak mendiktekan pengetahuan mana yang diperlukan dan keterampilan apa yang harus dilatihkan kepada semua orang yang bersekolah.

Tidak terlalu mengherankan jika kemudian kita menyaksikan bahwa lembaga-lembaga persekolahan hampir selalu dipolitisasi (misi terselubung) untuk melestarikan kekuasaan regim tertentu. Hubungan pengajar dengan pelajar di kelas-kelas atau di bangku kuliah dengan akurat menggambarkan struktur kekuasaan yang ada dalam masyarakat. Jika dalam struktur kekuasaan raja-raja dikenal ajaran “The King can do no wrong”, di kelas berlaku ajaran “Teacher can do no wrong” (Harefa, 2002).

Misi terselubung lembaga persekolahan, yakni untuk melestarikan kekuasaan dan status quo tadi, tentu saja terlepas dari berbagai pernyataan misi resmi yang tercantum dalam AD/ART lembaga-lembaga pengajaran tersebut, yang umumnya berisi kata-kata luhur dan mulia, misi lembaga persekolahan yang sesungguhnya adalah yang terselubung itu. Mungkin itu sebabnya sikap kritis, yang ingin menggugat status quo, hampir boleh dikatakan tidak bisa diharapkan sama sekali dari sekolah dan universitas pada abad ini.

Upaya misi terselubung itu dilaksanakan secara sistematis, terprogram, dan dapat diprediksi, karena mengacu pada “kelompok ahli” yang “paling mengetahui” kebutuhan masyarakat. Keikutsertaan masyarakat hanyalah dalam soal mendanai pelaksanaan “kurikulum nasional” itu. Masyarakat, terutama yang bukan “produk” sekolahan, hampir dapat dipastikan tidak pernah diajak terlibat memikirkan “kurikulum nasional” ini. Mereka dianggap “bodoh” dan karenanya harus menerima begitu saja apa yang telah ditentukan oleh “kaum terpelajar” (Harefa, 2002).

***

Sampai di sini, saya agak tergelitik untuk terus melanjutkan tulisan yang bagi sebagian orang mungkin masih membingungkan ini. Bagaimana tidak, misi terselubung persekolahan tadi, pelaksanaan tekniksnya misal, ditangani oleh guru/dosen, yang bagi Andrias Harefa disebut sebagai “buruh terpelajar”. Yang kemudian dibayar dengan sangat rendah, sehingga mereka tidak mungkin lagi memikirkan hal-hal lain kecuali soal-soal cara menyiasati nafkah hidup sehari-hari. Untuk menyenangkan hati “buruh terpelajar” di lembaga persekolahan itu, diciptakanlah berbagai mitos, misalnya tentang “pahlawan tanpa tanda jasa”, begitu tulis Andrias.

Dampak dari sistem persekolahan yang demikian itu jelas. Siswa dan mahasiswa yang “pintar”, yang mendapatkan nilai tertinggi, rengking, atau Indeks Prestasi (IP) tinggi dan menjadi anak kesayangan guru/dosen, adalah mereka yang pandai mengulang-ulang apa yang telah diajarkan oleh guru/dosen dan mereka yang tidak pernah bertanya kritis tentang apa-apa yang dikatakan guru/dosen.

Sedangkan kaum muda yang kritis, yang tidak mau dijadikan “tape-recorder”—beo-perkutut-monyet-lumba-lumba sirkus— yang suka menggugat dan mempertanyakan segala sesuatu yang diajarkan, akan segera diberi label “nakal”, “subversif”, sehingga harus disingkirkan.Pada giliran berikutnya, kaum muda yang telah kehilangan daya kritis dan kemampuan kreatifnya inilah yang memasuki dunia kerja, menjadi pegawai dan aparat birokrasi yang taat sepenuhnya kepada apa kata “komandan”. Mereka menjadi “generasi sarimin”, monyet yang terlatih, bukan terdidik, untuk mengikuti instruksi dan perintah dari majikannya, agar mereka kebagian “hadiah”—uang, jabatan, proyek, korupsi-kolusi-nepotisme, dan sejenisnya (Harefa, 2002).

Di lembaga persekolahan pula, “sistem kasta” yang diskriminatif masih dilestarikan. “Kasta tertinggi” adalah rektor/kepala sekolah dan guru/dosen. Di bawahnya siswa/mahasiswa yang paling pandai menghafal, patuh dan taat, yang bagi Andrias mereka yang disebut “sarimin-sarimin” tadi, para juara kelas, dll, yang jumlahnya kurang dari hitungan jari tangan. Selebihnya, dalam jumlah yang amast sangat besar, adalah kaum paria, orang-orang pinggiran, pelengkap penderitaan. Keadaan ini diperparah dengan adanya sebagian guru yang masih berpikiran bahwa anak IPA lebih pintar daripada anak IPS.

Harga diri dan nilai kemanusiaan seseorang “diukur” berdasarkan nilai ujian, indeks prestasi, dan tingkat kepatuhan kepada “atasan”. Herankah kita jika kemudian angkatan kerja yang lahir dari dunia persekolahan sangat tidak menunjukkan kepercayaan diri untuk menjalani kehidupan nyata di luar sekolah? Enggan untuk keluar dari zona nyaman, dan lebih mencari aman untuk merasa nyaman, meskipun dimainkan seperti wayang, hidup yang tidak benar-benar hidup. Atau seperti bebek yang ingin selalu digiring, atau kerbau yang sudah dicocok hidungnya

Bagi pembaca yang kritis dan punya wawasan luas, tentu tidak heran membaca tulisan saya ini. Sejumlah kritikus radikal yang cenderung “anti sekolah formal”, khususnya Ivan Illich, Everett Reimer, dan Paulo Freire—mungkin juga Maria Montessori dan Jean Piaget, dalam hal cara pandangnya tentang “potensi anak”—pun tidak bisa saya sangkal. Mereka berpikir, bahwa jika sistem pendidikan formal terus menerus dipolitisasi sedemikian rupa, maka manusia tak ubahnya bagaikan binatang-binatang sirkus. Kita boleh mengatakan binatang sirkus tadi terlatih, tapi tidak terdidik.

Akhirnya, sampai di sini saya berharap, mulai dari sekarang, kita harus memikirkan alternatif-alernatif pembelajaran baru atau “sekolah-sekolah alternatif” yang perlu dimulai—atau yang sudah ada sekiranya perlu dilanjutkan—perintisannya di negeri tercinta ini. Dan—lagi-lagi mengutip dalam buku yang ditulis Andrias Harefa—forum-forum pembelajaran tersebut, yang sebisa mungkin dijauhkan dari formalisme berlebihan, haruslah benar-benar mencerminkan inti proses belajar yakni berubah (learning is changing), sesuatu yang sangat susah diharapkan dari lembaga persekolahan saat ini. Jika tidak begitu, bagaimana jika sekolah dibubarkan saja?

Bagaimana menurut pendapat Anda?

NB: Tulisan ini hanya untuk mengajak kita berpikir dan merenungkan sejenak tentang sistem pendidikan dan pengajaran, bukan untuk menyinggung atau menyalahkan siapa-siapa. Dan hampir sebagian tulisan ini diambil dari buku Sekolah Saja Tidak Penah Cukup karya Andrias Harefa.

Tags: guruPendidikansekolahsiswa
Share32TweetSendShareSend
Previous Post

“Bali Poetry Slam” di Singaraja: Mengucapkan yang Ragu-ragu Diucapkan di Panggung

Next Post

Cak Rusdi, Tentang Sehat, Sakit, dan Tetap Menulis

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
0
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

Read moreDetails

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

by Chusmeru
June 24, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

Read moreDetails

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails
Next Post
Cak Rusdi, Tentang Sehat, Sakit, dan Tetap Menulis

Cak Rusdi, Tentang Sehat, Sakit, dan Tetap Menulis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pengabdian Internasional Undiksha & Ubon Ratchathani University —Perkuat Kesadaran Antarbudaya Bali-Thailand
Pendidikan

Pengabdian Internasional Undiksha & Ubon Ratchathani University —Perkuat Kesadaran Antarbudaya Bali-Thailand

SINGARAJA – TATKALA.CO | Tim Pengabdi Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Undiksha sukses menggelar International Community Service-Based Workshop bertajuk “PROMOTING...

by tatkala
June 25, 2026
Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket
Bahasa

Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket

BAGI orang awam di bidang kargo seperti saya, kata kargo selalu memantik imajinasi tentang gudang yang pengap, deru mesin, aroma...

by I Made Sudiana
June 25, 2026
Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
Khas

Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?

DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang...

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal
Panggung

‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal

PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini...

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co