5 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bagaimana Kalau Sekolah Dibubarkan Saja? – Renungan Saat PPL

Jaswanto by Jaswanto
October 1, 2018
in Esai
Bagaimana Kalau Sekolah Dibubarkan Saja? – Renungan Saat PPL

Ilustrasi diolah dari gambar di Google

APAKAH misi lembaga persekolahan atau lembaga pengajaran yang secara salah kaprah sering juga di sebut sebagai “lembaga pendidikan”? Atau mengapa sekolah dan universitas relatif “harus” ada?

Nurcholish Madjid dan Pater Drost (selengkapnya silakan baca buku Andrias Harefa, Sekolah Saja Tidak Penah Cukup) telah memaparkan sejumlah pandangan yang sedikit banyak membantu kita untuk menemukan jawaban kita sendiri atas pertanyaan semacam itu.

Sudah hampir dua bulan kurang dua minggu saya mengikuti program PPL-Real di salah satu SMAN  di kabupaten Buleleng. Selama hapir dua bulan merasakan susah senangnya menjadi seorang guru (latihan), timbul tenggelam pertanyaan dalam benak saya; mengapa sekolah ada, dan sebuah pertanyaan yang mungkin bagi sebagian orang agak aneh; bagaimana kalau lembaga persekolahan—yang sebagaimana kita kenalselama ini—dipertimbangkan untuk dibubarkan?

Mengapa sekolah ada? Pertanyaan pertama yang kemudian saya pikirkan, mencari untuk menemukan sebuah jawaban tentu saja. Adalah Andrias Harefa, drop out dari Fakultas Hukum UGM, kemudian memulai kariernya sebagai jurnalis independen, dan menulis buku tentu saja. Salah satu bukunya yang kemudian saya anggap bisa menjawab pertanyaan saya adalah buku yang berjudul Sekolah Saja Tidak Pernah Cukup, terbitan PT Gramedia Pustaka Utama itu, sebuah buku yang membahas tentang “menyoal pendidikan, persekolahan, pencarian alternatif pembelajaran”.

Dalam buku tersebut, Andrias menulis misi terselubung lembaga persekolahan. Sepanjang yang kita ketahui saat ini, lembaga persekolahan—terutama sekolah dan universitas, tetapi juga mencakup lembaga-lembaga pelatihan yang mendukung sekolah dan universitas—telah dianggap atau diperlakukan sebagai pemegang hak monopoli atau pengetahuan (knowledge) dan keterampilan (skills) (Harefa, 2002).

Disadari atau tidak, mereka yang berkuasa atas lembaga-lembaga persekolahan, mulai dari pemerintah sampai pengurus yayasan dan kepala sekolah, tidak ubahnya bagai raja yang berhak mendiktekan pengetahuan mana yang diperlukan dan keterampilan apa yang harus dilatihkan kepada semua orang yang bersekolah.

Tidak terlalu mengherankan jika kemudian kita menyaksikan bahwa lembaga-lembaga persekolahan hampir selalu dipolitisasi (misi terselubung) untuk melestarikan kekuasaan regim tertentu. Hubungan pengajar dengan pelajar di kelas-kelas atau di bangku kuliah dengan akurat menggambarkan struktur kekuasaan yang ada dalam masyarakat. Jika dalam struktur kekuasaan raja-raja dikenal ajaran “The King can do no wrong”, di kelas berlaku ajaran “Teacher can do no wrong” (Harefa, 2002).

Misi terselubung lembaga persekolahan, yakni untuk melestarikan kekuasaan dan status quo tadi, tentu saja terlepas dari berbagai pernyataan misi resmi yang tercantum dalam AD/ART lembaga-lembaga pengajaran tersebut, yang umumnya berisi kata-kata luhur dan mulia, misi lembaga persekolahan yang sesungguhnya adalah yang terselubung itu. Mungkin itu sebabnya sikap kritis, yang ingin menggugat status quo, hampir boleh dikatakan tidak bisa diharapkan sama sekali dari sekolah dan universitas pada abad ini.

Upaya misi terselubung itu dilaksanakan secara sistematis, terprogram, dan dapat diprediksi, karena mengacu pada “kelompok ahli” yang “paling mengetahui” kebutuhan masyarakat. Keikutsertaan masyarakat hanyalah dalam soal mendanai pelaksanaan “kurikulum nasional” itu. Masyarakat, terutama yang bukan “produk” sekolahan, hampir dapat dipastikan tidak pernah diajak terlibat memikirkan “kurikulum nasional” ini. Mereka dianggap “bodoh” dan karenanya harus menerima begitu saja apa yang telah ditentukan oleh “kaum terpelajar” (Harefa, 2002).

***

Sampai di sini, saya agak tergelitik untuk terus melanjutkan tulisan yang bagi sebagian orang mungkin masih membingungkan ini. Bagaimana tidak, misi terselubung persekolahan tadi, pelaksanaan tekniksnya misal, ditangani oleh guru/dosen, yang bagi Andrias Harefa disebut sebagai “buruh terpelajar”. Yang kemudian dibayar dengan sangat rendah, sehingga mereka tidak mungkin lagi memikirkan hal-hal lain kecuali soal-soal cara menyiasati nafkah hidup sehari-hari. Untuk menyenangkan hati “buruh terpelajar” di lembaga persekolahan itu, diciptakanlah berbagai mitos, misalnya tentang “pahlawan tanpa tanda jasa”, begitu tulis Andrias.

Dampak dari sistem persekolahan yang demikian itu jelas. Siswa dan mahasiswa yang “pintar”, yang mendapatkan nilai tertinggi, rengking, atau Indeks Prestasi (IP) tinggi dan menjadi anak kesayangan guru/dosen, adalah mereka yang pandai mengulang-ulang apa yang telah diajarkan oleh guru/dosen dan mereka yang tidak pernah bertanya kritis tentang apa-apa yang dikatakan guru/dosen.

Sedangkan kaum muda yang kritis, yang tidak mau dijadikan “tape-recorder”—beo-perkutut-monyet-lumba-lumba sirkus— yang suka menggugat dan mempertanyakan segala sesuatu yang diajarkan, akan segera diberi label “nakal”, “subversif”, sehingga harus disingkirkan.Pada giliran berikutnya, kaum muda yang telah kehilangan daya kritis dan kemampuan kreatifnya inilah yang memasuki dunia kerja, menjadi pegawai dan aparat birokrasi yang taat sepenuhnya kepada apa kata “komandan”. Mereka menjadi “generasi sarimin”, monyet yang terlatih, bukan terdidik, untuk mengikuti instruksi dan perintah dari majikannya, agar mereka kebagian “hadiah”—uang, jabatan, proyek, korupsi-kolusi-nepotisme, dan sejenisnya (Harefa, 2002).

Di lembaga persekolahan pula, “sistem kasta” yang diskriminatif masih dilestarikan. “Kasta tertinggi” adalah rektor/kepala sekolah dan guru/dosen. Di bawahnya siswa/mahasiswa yang paling pandai menghafal, patuh dan taat, yang bagi Andrias mereka yang disebut “sarimin-sarimin” tadi, para juara kelas, dll, yang jumlahnya kurang dari hitungan jari tangan. Selebihnya, dalam jumlah yang amast sangat besar, adalah kaum paria, orang-orang pinggiran, pelengkap penderitaan. Keadaan ini diperparah dengan adanya sebagian guru yang masih berpikiran bahwa anak IPA lebih pintar daripada anak IPS.

Harga diri dan nilai kemanusiaan seseorang “diukur” berdasarkan nilai ujian, indeks prestasi, dan tingkat kepatuhan kepada “atasan”. Herankah kita jika kemudian angkatan kerja yang lahir dari dunia persekolahan sangat tidak menunjukkan kepercayaan diri untuk menjalani kehidupan nyata di luar sekolah? Enggan untuk keluar dari zona nyaman, dan lebih mencari aman untuk merasa nyaman, meskipun dimainkan seperti wayang, hidup yang tidak benar-benar hidup. Atau seperti bebek yang ingin selalu digiring, atau kerbau yang sudah dicocok hidungnya

Bagi pembaca yang kritis dan punya wawasan luas, tentu tidak heran membaca tulisan saya ini. Sejumlah kritikus radikal yang cenderung “anti sekolah formal”, khususnya Ivan Illich, Everett Reimer, dan Paulo Freire—mungkin juga Maria Montessori dan Jean Piaget, dalam hal cara pandangnya tentang “potensi anak”—pun tidak bisa saya sangkal. Mereka berpikir, bahwa jika sistem pendidikan formal terus menerus dipolitisasi sedemikian rupa, maka manusia tak ubahnya bagaikan binatang-binatang sirkus. Kita boleh mengatakan binatang sirkus tadi terlatih, tapi tidak terdidik.

Akhirnya, sampai di sini saya berharap, mulai dari sekarang, kita harus memikirkan alternatif-alernatif pembelajaran baru atau “sekolah-sekolah alternatif” yang perlu dimulai—atau yang sudah ada sekiranya perlu dilanjutkan—perintisannya di negeri tercinta ini. Dan—lagi-lagi mengutip dalam buku yang ditulis Andrias Harefa—forum-forum pembelajaran tersebut, yang sebisa mungkin dijauhkan dari formalisme berlebihan, haruslah benar-benar mencerminkan inti proses belajar yakni berubah (learning is changing), sesuatu yang sangat susah diharapkan dari lembaga persekolahan saat ini. Jika tidak begitu, bagaimana jika sekolah dibubarkan saja?

Bagaimana menurut pendapat Anda?

NB: Tulisan ini hanya untuk mengajak kita berpikir dan merenungkan sejenak tentang sistem pendidikan dan pengajaran, bukan untuk menyinggung atau menyalahkan siapa-siapa. Dan hampir sebagian tulisan ini diambil dari buku Sekolah Saja Tidak Penah Cukup karya Andrias Harefa.

Tags: guruPendidikansekolahsiswa
Share32TweetSendShareSend
Previous Post

“Bali Poetry Slam” di Singaraja: Mengucapkan yang Ragu-ragu Diucapkan di Panggung

Next Post

Cak Rusdi, Tentang Sehat, Sakit, dan Tetap Menulis

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails
Next Post
Cak Rusdi, Tentang Sehat, Sakit, dan Tetap Menulis

Cak Rusdi, Tentang Sehat, Sakit, dan Tetap Menulis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co