14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bagaimana Kalau Sekolah Dibubarkan Saja? – Renungan Saat PPL

Jaswanto by Jaswanto
October 1, 2018
in Esai
Bagaimana Kalau Sekolah Dibubarkan Saja? – Renungan Saat PPL

Ilustrasi diolah dari gambar di Google

APAKAH misi lembaga persekolahan atau lembaga pengajaran yang secara salah kaprah sering juga di sebut sebagai “lembaga pendidikan”? Atau mengapa sekolah dan universitas relatif “harus” ada?

Nurcholish Madjid dan Pater Drost (selengkapnya silakan baca buku Andrias Harefa, Sekolah Saja Tidak Penah Cukup) telah memaparkan sejumlah pandangan yang sedikit banyak membantu kita untuk menemukan jawaban kita sendiri atas pertanyaan semacam itu.

Sudah hampir dua bulan kurang dua minggu saya mengikuti program PPL-Real di salah satu SMAN  di kabupaten Buleleng. Selama hapir dua bulan merasakan susah senangnya menjadi seorang guru (latihan), timbul tenggelam pertanyaan dalam benak saya; mengapa sekolah ada, dan sebuah pertanyaan yang mungkin bagi sebagian orang agak aneh; bagaimana kalau lembaga persekolahan—yang sebagaimana kita kenalselama ini—dipertimbangkan untuk dibubarkan?

Mengapa sekolah ada? Pertanyaan pertama yang kemudian saya pikirkan, mencari untuk menemukan sebuah jawaban tentu saja. Adalah Andrias Harefa, drop out dari Fakultas Hukum UGM, kemudian memulai kariernya sebagai jurnalis independen, dan menulis buku tentu saja. Salah satu bukunya yang kemudian saya anggap bisa menjawab pertanyaan saya adalah buku yang berjudul Sekolah Saja Tidak Pernah Cukup, terbitan PT Gramedia Pustaka Utama itu, sebuah buku yang membahas tentang “menyoal pendidikan, persekolahan, pencarian alternatif pembelajaran”.

Dalam buku tersebut, Andrias menulis misi terselubung lembaga persekolahan. Sepanjang yang kita ketahui saat ini, lembaga persekolahan—terutama sekolah dan universitas, tetapi juga mencakup lembaga-lembaga pelatihan yang mendukung sekolah dan universitas—telah dianggap atau diperlakukan sebagai pemegang hak monopoli atau pengetahuan (knowledge) dan keterampilan (skills) (Harefa, 2002).

Disadari atau tidak, mereka yang berkuasa atas lembaga-lembaga persekolahan, mulai dari pemerintah sampai pengurus yayasan dan kepala sekolah, tidak ubahnya bagai raja yang berhak mendiktekan pengetahuan mana yang diperlukan dan keterampilan apa yang harus dilatihkan kepada semua orang yang bersekolah.

Tidak terlalu mengherankan jika kemudian kita menyaksikan bahwa lembaga-lembaga persekolahan hampir selalu dipolitisasi (misi terselubung) untuk melestarikan kekuasaan regim tertentu. Hubungan pengajar dengan pelajar di kelas-kelas atau di bangku kuliah dengan akurat menggambarkan struktur kekuasaan yang ada dalam masyarakat. Jika dalam struktur kekuasaan raja-raja dikenal ajaran “The King can do no wrong”, di kelas berlaku ajaran “Teacher can do no wrong” (Harefa, 2002).

Misi terselubung lembaga persekolahan, yakni untuk melestarikan kekuasaan dan status quo tadi, tentu saja terlepas dari berbagai pernyataan misi resmi yang tercantum dalam AD/ART lembaga-lembaga pengajaran tersebut, yang umumnya berisi kata-kata luhur dan mulia, misi lembaga persekolahan yang sesungguhnya adalah yang terselubung itu. Mungkin itu sebabnya sikap kritis, yang ingin menggugat status quo, hampir boleh dikatakan tidak bisa diharapkan sama sekali dari sekolah dan universitas pada abad ini.

Upaya misi terselubung itu dilaksanakan secara sistematis, terprogram, dan dapat diprediksi, karena mengacu pada “kelompok ahli” yang “paling mengetahui” kebutuhan masyarakat. Keikutsertaan masyarakat hanyalah dalam soal mendanai pelaksanaan “kurikulum nasional” itu. Masyarakat, terutama yang bukan “produk” sekolahan, hampir dapat dipastikan tidak pernah diajak terlibat memikirkan “kurikulum nasional” ini. Mereka dianggap “bodoh” dan karenanya harus menerima begitu saja apa yang telah ditentukan oleh “kaum terpelajar” (Harefa, 2002).

***

Sampai di sini, saya agak tergelitik untuk terus melanjutkan tulisan yang bagi sebagian orang mungkin masih membingungkan ini. Bagaimana tidak, misi terselubung persekolahan tadi, pelaksanaan tekniksnya misal, ditangani oleh guru/dosen, yang bagi Andrias Harefa disebut sebagai “buruh terpelajar”. Yang kemudian dibayar dengan sangat rendah, sehingga mereka tidak mungkin lagi memikirkan hal-hal lain kecuali soal-soal cara menyiasati nafkah hidup sehari-hari. Untuk menyenangkan hati “buruh terpelajar” di lembaga persekolahan itu, diciptakanlah berbagai mitos, misalnya tentang “pahlawan tanpa tanda jasa”, begitu tulis Andrias.

Dampak dari sistem persekolahan yang demikian itu jelas. Siswa dan mahasiswa yang “pintar”, yang mendapatkan nilai tertinggi, rengking, atau Indeks Prestasi (IP) tinggi dan menjadi anak kesayangan guru/dosen, adalah mereka yang pandai mengulang-ulang apa yang telah diajarkan oleh guru/dosen dan mereka yang tidak pernah bertanya kritis tentang apa-apa yang dikatakan guru/dosen.

Sedangkan kaum muda yang kritis, yang tidak mau dijadikan “tape-recorder”—beo-perkutut-monyet-lumba-lumba sirkus— yang suka menggugat dan mempertanyakan segala sesuatu yang diajarkan, akan segera diberi label “nakal”, “subversif”, sehingga harus disingkirkan.Pada giliran berikutnya, kaum muda yang telah kehilangan daya kritis dan kemampuan kreatifnya inilah yang memasuki dunia kerja, menjadi pegawai dan aparat birokrasi yang taat sepenuhnya kepada apa kata “komandan”. Mereka menjadi “generasi sarimin”, monyet yang terlatih, bukan terdidik, untuk mengikuti instruksi dan perintah dari majikannya, agar mereka kebagian “hadiah”—uang, jabatan, proyek, korupsi-kolusi-nepotisme, dan sejenisnya (Harefa, 2002).

Di lembaga persekolahan pula, “sistem kasta” yang diskriminatif masih dilestarikan. “Kasta tertinggi” adalah rektor/kepala sekolah dan guru/dosen. Di bawahnya siswa/mahasiswa yang paling pandai menghafal, patuh dan taat, yang bagi Andrias mereka yang disebut “sarimin-sarimin” tadi, para juara kelas, dll, yang jumlahnya kurang dari hitungan jari tangan. Selebihnya, dalam jumlah yang amast sangat besar, adalah kaum paria, orang-orang pinggiran, pelengkap penderitaan. Keadaan ini diperparah dengan adanya sebagian guru yang masih berpikiran bahwa anak IPA lebih pintar daripada anak IPS.

Harga diri dan nilai kemanusiaan seseorang “diukur” berdasarkan nilai ujian, indeks prestasi, dan tingkat kepatuhan kepada “atasan”. Herankah kita jika kemudian angkatan kerja yang lahir dari dunia persekolahan sangat tidak menunjukkan kepercayaan diri untuk menjalani kehidupan nyata di luar sekolah? Enggan untuk keluar dari zona nyaman, dan lebih mencari aman untuk merasa nyaman, meskipun dimainkan seperti wayang, hidup yang tidak benar-benar hidup. Atau seperti bebek yang ingin selalu digiring, atau kerbau yang sudah dicocok hidungnya

Bagi pembaca yang kritis dan punya wawasan luas, tentu tidak heran membaca tulisan saya ini. Sejumlah kritikus radikal yang cenderung “anti sekolah formal”, khususnya Ivan Illich, Everett Reimer, dan Paulo Freire—mungkin juga Maria Montessori dan Jean Piaget, dalam hal cara pandangnya tentang “potensi anak”—pun tidak bisa saya sangkal. Mereka berpikir, bahwa jika sistem pendidikan formal terus menerus dipolitisasi sedemikian rupa, maka manusia tak ubahnya bagaikan binatang-binatang sirkus. Kita boleh mengatakan binatang sirkus tadi terlatih, tapi tidak terdidik.

Akhirnya, sampai di sini saya berharap, mulai dari sekarang, kita harus memikirkan alternatif-alernatif pembelajaran baru atau “sekolah-sekolah alternatif” yang perlu dimulai—atau yang sudah ada sekiranya perlu dilanjutkan—perintisannya di negeri tercinta ini. Dan—lagi-lagi mengutip dalam buku yang ditulis Andrias Harefa—forum-forum pembelajaran tersebut, yang sebisa mungkin dijauhkan dari formalisme berlebihan, haruslah benar-benar mencerminkan inti proses belajar yakni berubah (learning is changing), sesuatu yang sangat susah diharapkan dari lembaga persekolahan saat ini. Jika tidak begitu, bagaimana jika sekolah dibubarkan saja?

Bagaimana menurut pendapat Anda?

NB: Tulisan ini hanya untuk mengajak kita berpikir dan merenungkan sejenak tentang sistem pendidikan dan pengajaran, bukan untuk menyinggung atau menyalahkan siapa-siapa. Dan hampir sebagian tulisan ini diambil dari buku Sekolah Saja Tidak Penah Cukup karya Andrias Harefa.

Tags: guruPendidikansekolahsiswa
Share32TweetSendShareSend
Previous Post

“Bali Poetry Slam” di Singaraja: Mengucapkan yang Ragu-ragu Diucapkan di Panggung

Next Post

Cak Rusdi, Tentang Sehat, Sakit, dan Tetap Menulis

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails
Next Post
Cak Rusdi, Tentang Sehat, Sakit, dan Tetap Menulis

Cak Rusdi, Tentang Sehat, Sakit, dan Tetap Menulis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co