7 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Catatan Pulang” Penyair Angga Wijaya, Catatan Seorang Pengagum

Radita Puspa by Radita Puspa
February 3, 2018
in Ulasan
“Catatan Pulang” Penyair Angga Wijaya, Catatan Seorang Pengagum

Bagain gambar cover buku kumpulan puisi Catatan Pulang

PERTAMA-TAMA, sebelum saya membahas buku kumpulan puisi ini, saya ingin menceritakan bagaimana pertemuan saya dengan Pak Angga (selanjutnya saya sebut Angga saja).

Jauh sebelum saya mengenal langsung, maaf, maksud saya bertemu atau bertatap muka. Saya cukup familiar dengan nama Angga Wijaya ini. Saya sudah menemukan cukup banyak tulisan-tulisannya. Kebetulan, saya gila baca.

Hampir semua media online (baik itu dari jurnalis atau netizen) semacam Tatkala, Hipwee, Qureta, Mojok, Balebengong, dan Basabasi. Waktu saya habis hanya untuk baca dan baca. Hanya media online terpercaya inilah yang dapat menghibur hari-hari saya yang (katakanlah) jobless, pun saya belum mampu membeli buku-buku karya para penulis idola.

Saya cukup punya beberapa nama penulis yang gak pernah saya lewatkan, pun selalu saya tunggu tulisan-tulisannya. Contohnya, kalau saya lagi ingin baca yang rada menggelitik, saya akan buka Mojok dan mencari tagar Agus Mulyadi. Kalau saya ingin baca yang agak berat, saya akan cari di Basabasi, atau sekedar hiburan di Tatkala. Atau mau baca berita, paling asique, ya di Balebengong.

Untuk puisi, kebetulan saya orangnya malas ribet, malas mikir, malas nyerna. Banyak puisi sastra yang cuma bikin saya pusing, karena gak mengerti isi atau makna puisinya. Atau memang apa daya otak tak sampai? Atau pernah juga saya menemukan puisi yang saya suka, tapi kalau diminta menjabarkan kisah di balik puisi, saya suka angkat tangan.

Dan puisi yang cukup bisa saya pahami dan mengerti kebetulan nemu punyanya Angga.

Puisi karya Angga di mata saya cukup sederhana, tapi tetap kudu diperhitungkan. Karena apa? Ya bahasa dalam puisinya mengalir. Dikatakan puisi, mungkin agak ke sajak, dikatakan sajak, eh ini puisi bukan ya?

Puisi Angga yang saya baca selama ini benar-benar seperti bercerita, padahal ini hanya puisi, rangkaian kata singkat. Tapi mampu menerangkan atau menggambarkan pokok bahasan. Terlebih bahasa yang dipilih oleh Angga cukup mudah dimengerti. Dan membaca puisinya, saya merasa seperti diceritakan sebuah kisah.

Oh iya, ada sedikit cerita menarik dari pertemuan saya dan Angga. Ibu sayalah yang sebenarnya lebih dulu mengenal Angga.

Waktu itu, Ibu sedang menggulung koran di Rumah Berdaya. Angga menghampiri Ibu lalu bertanya, “Bu, Ibu pasien sini ya?”

Ibu menjawab, “Nggih, saya membantu di sini.”

Saya waktu itu jengkel pada Ibu, dan mengatakan bahwa Angga yang Ibu kenal itu kemungkinan besar tidak lain adalah Angga Wijaya, penulis puisi dan essai yang gak pernah saya lewatkan.

Nah, beberapa hari berselang, saya berkesempatan bertemu dengan Angga. Ibu iseng nyeletuk, “Pak, Bapak pasien sini ya?”

Dengan santainya Angga menjawab, “Ya.”. Jawaban ‘Ya’ tersebut saya pikir hanya bercandaan.

Angga adalah salah satu alumni Rumah Berdaya. Awal obrolan kami, saya cukup kesulitan berbicara dengan Angga. Ia tidak seperti di tulisan-tulisannya yang saya baca. Saya berusaha mengimbangi pembawaan bicaranya yang putus-putus. Hingga saya berhasil mengobrol panjang lebar dengannya. Kami punya topik yang cukup asique untuk dibahas.

Kitapun berteman via facebook. Dan, cuma Angga lho yang di awal pertemanan sudah blak-blakan bilang saya (asli) dan di foto profile facebook kok beda? Padahal saya gak pernah sampai hati membohongi teman maya dengan aplikasi percantik foto. Tapi setelah ceki-ceki, oya iya beda. Foto facebook saya saat itu foto yang terjepret tahun 2015. Saya jarang ganti foto. Jadilah dari percakapan itu, saya mulai baper dan mengganti foto FB secara berkala maksimal 1 bulan sekali.

Baik lanjut ke buku karya Angga. Buku ini desain cover-nya cukup menarik. Ada kesan tersendiri pada sampulnya.

Menggambarkan tiga orang anak kecil bermain ombak di pantai. Anak-anak ibarat tanpa beban. Sesulit apapun yang mereka rasa, tetap bisa tertawa lepas. Tidak ada kata permusuhan di hati anak-anak.

Membahas anak-anak, mengingatkan masa kecil saya dulu. Saya terlahir berbeda, tapi tidak pernah merasa ‘perbedaan’ itu beban. Meski sudah diberi tahu, sudah diwanti-wanti tidak boleh begini, begitu, ina, inu, endebrew. Seperti bukan masalah, toh hanya beda sedikit. Barulah ketika dewasa, mulai mengerti. Mulai tau rasa down. Mulai belajar menyikapi diri, menata emosi dan acceptance.

Suasana di cover menggambarkan keindahan matahari terbenam atau senja yang telah lewat. Warna langit biru kelabu. Abu-abu. Sedikit muram. Di mana gelap bagi orang pada umumnya, seolah menggambarkan bahwa gelap melindungi kita dari kelelahan. Gelap bagi saya pribadi adalah serupa inspirasi-inspirasi liar yang hendak tumpah. Bagai pikiran, ide dan imajinasi yang siap untuk dilepaskan menjadi sebuah karya.

Dari gambar pantai ini, saya menyimpulkan tentang kembali ke alam. Pulang. Pulang adalah keindahan yang tak ternilai. Berharga mahal yang tidak bisa ditukar dengan apapun.

Begitupun debur ombak, seakan bercerita, jika kita kuat seperti batu karang, kita akan tegar menghadapi ujian. Bila tidak mampu bertahan, kita akan terseret. Terseret disini bagi saya adalah hanya sebagai kata pengganti ‘penerimaan diri’. Biar, biarlah mengalir. Kita memang berbeda dan akan tetap berbeda sekuat apapun keinginan untuk pulih. Pulang, pulanglah! Kebahagiaan ada saat kembali.

Buku ini tebalnya 90 halaman. Tidak ada oretan pada layout, jadi para pembaca tenang saja. Kalian bisa baca dengan fokus puisi-puisinya tanpa terganggu oleh ornament tata letak yang biasanya menghiasi latar buku.

Berisi sejumlah 67 puisi (semoga gak salah hitung). Penerbit: Pustaka Ekspresi bekerja sama dengan : KPSI SIMPUL BALI dan Rumah Berdaya. Sampul oleh: Wayan Martino. Tata Letak: Phalaya Suksmakarsa. ISBN : 978-602-5408-17-5. Cetakan pertama, Januari 2018.

Berikut saya tampilkan beberapa judul puisi dalam buku ini

 

KENANGAN DI RUMAH SAKIT JIWA

 

Kopi di sini nikmat sekali

dibawakan tiap pagi menjelang

“kopi, kopi, kopi,” suaranya

bangunkanku dari mimpi

kami minum bersama

ada yang meminumnya

saat panas, tanpa takut

terbakar

 

orang-orang menyebut

kami gila, dan kami

menyangka merekalah

penyebab kami berada

di rumah sakit ini

di ruangan berterali

bersama orang lain

yang juga disebut gila

 

matahari meninggi

saatnya mandi

lalu makan

dan minum obat

sementara ruangan

dibersihkan dari

segala kotoran dan

serapah, juga

tangis kami semalam

 

aku tak tahu

sampai kapan di sini

rinduku pada rumah

semakin menebal

ingin sekali menelpon

“kapan kemari menjemputku,

kalian membiarkanku

membusuk bertahun-tahun

di tempat asing ini”

 

kudengar kabar

pasien yang lari

atau bunuh diri

sebab hidup tak

penting lagi

tak ada cinta

untuk kami

(2017) —halaman 89.

 

NOCTURNO

 

Daun-daun menguning

Kenangan membiru

Lebam oleh waktu

 

Dimanakah kita bertemu

Di ranjang atau kuburan

Tempat segala usia

Berakhir semestinya

 

Aku merindukanmu, Ibu

Maafkan aku tak bisa

Membuat kau bahagia

Sakit ini merenggut

Mimpi dan harapan

 

Beban kupikul sendiri

Kadang aku tak kuat

Tapi Tuhan baik

Kirimkan aku gadis

Merawat dan menjagaku

 

Ibu suruh Tuhan?

Terima Kasih, Ibu

Aku berjanji

Giat bekerja

Suatu waktu

Kita bertemu

Lahir kembali

Kulihat Ibu

Dalam mata

Anakku

(2017) —halaman 83

.

MANUSKRIP DIRI

 

Aku sulit mengingat nama anak-anak

Aku lebih suka menatap mata mereka

Mata yang penuh kepolosan dan keluguan

Juga tawa mereka yang lepas

 

Bersamamu

Aku menjadi kanak-kanak lagi

Berlari sambil tertawa

Melewati hari-hari yang semakin biru

 

Adakah kau lihat bahagia

Di mataku

Di sekujur tubuhku

Kasihmu membuatku bangkit

Hari-hari yang kelam

Kini berganti rupa

 

Wahai Kekasih

Mari mengucap doa

Semoga perjalanan kita

abadi, meski keabadian

Milik Sang Khalik semata

(2014) —halaman 77.

 

SEBELUM PULANG

 

“jangan pulang

kita ngobrol dulu,” ucapmu

 

malam berjalan lambat

jalanan riuh. kita menatap

jendela berembun

 

orang datang dan pergi

restoran sebentar tutup

kau enggan beranjak

ingin mengabadikan

perjumpaan kita

bukan dengan gambar

diambil dari ponsel

seperti pasangan remaja

genit dan kasmaran

melukis malam

di pundak waktu

seakan tak ada

hari esok

 

sebelum pulang

kulihat diriku

di tajam matamu

terbakar

api cintamu!

(2016) —halaman 67/68.

 

SKIZOFRENIA-3

Isap dan hembuskan rokokmu, agar dunia tahu kita masih ada. Melukis di atas kanvas, tuangkan gelisah dan laramu. Petik gitarmu dan nyanyikan lagu perlawanan. Jika kau lelah tidurlah, biarkan obat yang kau minum bekerja. Jangan pedulikan mereka yang tak peduli padamu. Kita orang terbuang, mereka lelah bersamamu dan membiarkan kau membusuk bertahun-tahun di rumah sakit jiwa.

Jangan takut pada malam. Semua akan berlalu seiring pagi menjelang. Ingatlah bahwa duka adalah penawar rasa sakitmu. Menangislah! Bukan untuk dikasihani melainkan untuk bangkit kembali. Mari ber-ria, mari bersuka. Menarilah di bawah rembulan, di malam-malam saat sepi mencekikmu. Alam semesta bersamamu. Kawan abadi bagi setiap luka.

(2017) —halaman 43.

 

SKIZOFRENIA-4

kepada Virginia Woolf

Suara-suara itu berbisik di telingaku. Aku tak kuat lagi, kegilaan ini menyiksaku. Tokoh dalam bukuku seakan hidup dan aku ada di dalamnya. Kau dengar, aku mulai berbicara sendiri, meracau tentang sesuatu yang tak kumengerti. Aku berpikir untuk bunuh diri. Maafkan aku, mungkin ini jalan terbaik untuk mengakhiri semua.

Jalan menuju desa sepi pagi itu. Daun-daun gugur, burung berkicau dengan riang. Sungai di dekat rumah kita mengalir deras. Air berwarna kecoklatan, hujan semalam membawa lumpur dan keruh. Aku bergegas memakai jaketku dan membuka pintu menuju ke sana. Bisikan di telingaku makin keras dan menyuruhku mengakhiri hidup. Aku tak tahan lagi. Menuju sungai, aku mengambil batu dan kumasukkan ke kantong jaketku lalu masuk ke dalam air. Sesaat aku tercenung, sebelum tenggelam ke dasar sungai. Kesunyian yang amat sangat.

(2017) —halaman 84.

 

SENJA DI BUKIT KAPUR

 

layang-layang

tak bisa bisa pulang

mungkin juga aku

sendiri di tempat ini

 

percakapan kian hambar

terlempar dadu waktu

ujian tak berperi

tertancap di pori-pori

 

adakah kejujuran

pada kita

pada semua

tanya di mata

 

O, Keabadian

ajak aku

menujumu

semesta raya

semesta jiwa

 

(Bukit Jimbaran, Juli 2011) —halaman 46.

 

RENDEZVOUS

:Reda

 

perjalanan ini

semoga tak sekadar

persinggahan

 

seorang turis

menyenangi

negeri eksotis

mampir di setiap

tempat

pada waktunya

akan pergi

melupakan nama

juga tempat

yang disinggahi

 

pernah aku

berkelana

ke negeri jauh

lupa

jalan pulang

tersesat di hati

perempuan

yang kemudian

meninggalkanku

 

aku tak ingin

jatuh lagi

percakapan kita

membuatku paham

arti kehadiran

pejalan asing

di negeri asing

singgah

hanya singgah

di hati kita

yang sepi

tanpa tepi.

 

(Negara, 11 Maret 2014) —halaman 30.

 

CARI TUHAN

 

Seperti kesurupan

Orang-orang mencari tuhan

Di dawai doa

Di debur ombak

Di sunyi hutan

Di lemari es

Di hingar diskotik

Di puncak birahi

“Di mana tuhan?” teriak mereka lelah

Sambil merobek dan membakar

Kitab sucinya

 

Di balik nurani, nurani, nurani

Tuhan tersenyum

Menatap lubang jendela

(2003) —halaman 7.

Tak perlulah saya jabarkan puisi demi puisi ini, kalian pasti bisa dengan mudah memahaminya. Lagipula siapalah saya? Saya bukan sastrawan, bukan juga kritikus sastra. Saya hanya penikmat karya sastra yang juga gila menulis, gila membaca, dan gemar bercerita.

Oh iya di cover belakang tertulis sebuah penggalan :

. . . .

berapa kelok lagi

mesti kutempuh

untuk sampai padamu

jarak terasa jauh

 

ingatan melekat

mesa laluku

perbincangan kita

menggantung

senja yang muram

 

celoteh anak-anak

bangunkanku dari mimpi

. . . .

(yang penasaran versi utuhnya bisa dicek langsung halaman 49, judulnyaaa… ehmp, kasi tau gak yaaa?)

Wah, rangkaian kata yang cukup mendalam. Saya bahkan tidak perlu berulang kali baca untuk memahaminya. Karena kata-kata yang ditulis cukup mudah untuk dimengerti.

Saya tidak pernah menyangka Angga Wijaya yang tulisannya selama ini saya kagumi adalah salah satu bagian dari Orang Dengan Skizofrenia (ODS). Saya pikir ucapan kalimatnya yang terputus-putus hanya sebuah kerendahan hati. Tidak ada yang berbeda darinya. Dan saya juga tidak mau menilai orang hanya dari satu sisi.

Angga di mata saya, cukup beruntung menemukan jalan, menemukan cara untuk memulihkan diri. Bonusnya adalah kini menulis menjadi bagian hidupnya. Banyak karya tulisnya dimuat di koran lokal. Bisa ditemukan juga di beberapa media online.

Oh iya, buku ini tidak sepenuhnya berisi atau membahas tentang skizofrenia. Ada banyak judul berbeda di buku ini. Ada yang rangkaiannya hanya terdiri dua kata di tiap baitnya. Ada yang hampir melebihi satu halaman, adapula yang satu kalimat penuh. Buku ini merupakan kumpulan puisi Pak Angga selama 16 tahun (2001 s/d 2017).

Puisinya bagi saya cukup ringan tapi tidak remeh. Cocok bagi kalian yang malas mikir kayak saya tapi maunya tetap yang berbobot.

Mungkin banyak karya puisi sastra di luar sana yang rangkaian katanya sangat indah dan njelimet. Tapi pada puisi karya Angga Wijaya ini, saya menemukan bahwa kita bisa bercerita dengan menggunakan sebuah kesederhanaan kata dan cara yang sangat serderhana. Saya suka keunikan dari gaya penulisan Angga. Saya jatuh cinta sejak pertama kali membaca karyanya.

Akhir kata sebagai penutup, saya berpendapat, bahwa karya yang menyentuh hati —yang sampai ke para pembaca, ia adalah PEMENANG-nya.

Sekali lagi selamat dan sukses untuk Angga Wijaya, selamat atas launching-nya buku kumpulan puisi “CATATAN PULANG” ini.

Terima kasih untuk bukunya, terima kasih juga untuk bonus kalimat super menyentuh, “Puisi adalah tempat pulang yang hakiki” beserta tanda tangannya.

Tetaplah (pertahankan) menjadi penulis unik dengan ciri khas kuat, yang jika orang menemukan tulisan Anda tanpa membaca nama, mereka bisa menebak siapa penulis dibalik tulisan tersebut.

Oh iya, satu lagi. Bagi yang berminat dengan buku “Catatan Pulang karya Angga Wijaya”, bisa hubungi (contact person) fanspage facebook @ Rumah Berdaya (bisa datang ke RUMAH BERDAYA DENPASAR yang beralamat di Jalan Hayam Wuruk No. 179, Sumerta Kelod, Denpasar Timur, Bali 80239) atau obrolin langsung orderan kalian ke penulisnya juga bisa banget di facebook @Angga Wijaya.

“RumahKU…

Tempat hatiku berlabuh

Sepi disini tanpaMU

Oh aku ingin pulang

BersamaMU, aku…

Tenang…”

 

Denpasar, 21 Januari 2018

08.21 wita

Ditulis sambil mendengarkan lagu online (by youtube) di HardRock.FM Rumahku-Gita Gutawa (lagu yang beberapa penggal liriknya memiliki ‘makna’ tersendiri bagi saya pribadi, khususnya). (T)

Tags: BukuPuisiresensi
Share14TweetSendShareSend
Previous Post

In Memoriam Agus Sadikin Bakti: Santailah ke Nirwana, Ingat “Menang Kalah Sehat”

Next Post

Sekar Sumawur: Dialog Kosong tentang Saluran Air dan Ikan Lele

Radita Puspa

Radita Puspa

Suka menulis dan membuat kerajinan tangan. Sesekali merancang pakaian. Tulisan-tulisannya bisa dibaca di raditapuspa.wordpress.com

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Sekar Sumawur: Dialog Kosong tentang Saluran Air dan Ikan Lele

Sekar Sumawur: Dialog Kosong tentang Saluran Air dan Ikan Lele

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra
Cerpen

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

SUARA pintu diketuk membangunkanku dari tidur siang. Dengan lemas aku berdiri menuju arah pintu untuk membukakan seseorang yang ada di...

by Kadek Indra Putra
March 6, 2026
Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat
Puisi

Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat

Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat : umbu landu paranggi tubuhku mencatat dingindengan huruf-huruf kaburdi halaman kulit tipis gembur. bubuhkan sepenggal kalimatsebagai...

by Syeftyan Afat
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Edit Foto Profesional dengan CapCut: Hilangkan Latar Belakang Foto dan Ubah Background Foto dengan Mudah

Di era digital saat ini, kemampuan mengedit foto telah menjadi kebutuhan penting. Baik untuk keperluan media sosial, konten kreatif, maupun...

by tatkala
March 6, 2026
‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu
Ulas Musik

‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu

Dunia seakan berhenti sejenak, bukan karena damai, tetapi karena ngeri oleh ledakan mesiu yang tiba-tiba memekakkan dan menyengat. Saat itu,...

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 6, 2026
Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global
Esai

Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global

“I am not a man of religion, but religion alone cannot solve all our problem.” (Beyond Religion: Ethics for a...

by Agung Sudarsa
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto

Di era digital saat ini, kemampuan untuk membuat foto terlihat profesional menjadi sangat penting, terutama bagi pembuat konten dan pebisnis...

by tatkala
March 6, 2026
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co