23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pilkada Buleleng – PASS Lengkapi Sukses PDIP di Bali atau Terjungkal?

Kambali Zutas by Kambali Zutas
February 2, 2018
in Ulasan

“Anggada” karya Putu Dian Ujiana, pemenang ketiga sayembara maskot Pilkada Buleleng. Sumber: kpu-bulelengkab.go.id

HAJATAN besar sejarah pemilu di Indonesia telah dimulai Rabu, 9 Desember 2015. Ada sembilan provinsi dan 260 kabupaten/kota se-Nusantara waktu itu yang melaksanakan pilkada serentak. Event pertama dalam periodisasi penyelenggaraan pemilu langsung secara bersama-sama.

Di Bali, waktu itu ada enam kabupaten/kota yang menggelar pilkada. Adalah Kota Denpasar, Kabupaten Badung, Tabanan, Jembrana, Bangli, dan Karangasem. Masing-masing kabupaten/kota ini memiliki pasangan calon atau paslon dengan jumlah berbeda. Kota Denpasar ada tiga paslon. Pasangan petahana atau incumbent IB Rai Dharmawijaya Mantra–IGN Jaya Negara. Dua penantangnya paslon Ketut Resmiyasa–IB Batu Agung, dan paslon Made Arjaya–Anak Agung Ayu Rai Sunasri.

Kemudian bergeser ke kabupaten terkaya di Bali yaitu Badung dengan dua paslon. Ada pasangan Nyoman Giriasa-Ketut Suiasa, dan pasangan I Made Sudiana-I Nyoman Sutrisno. Menuju kabupaten Lumbung Padi Tabanan terdapat dua paslon. Adalah paslon petahana Ni Putu Eka Wiryastuti dan Komang Gede Sanjaya, serta paslon Wayan Sarjana dan IB Komang Astawa Mertha.

Ujung barat Bali, Kabupaten Jembrana waktu itu punya dua paslon. Pasangan I Komang Sinatra-I Gusti Agung Ketut Sudanayasa menantang petahana I Putu Artha-Made Kembang Hartawan. Kabupaten Bangli petahana I Made Gianyar-Sang Nyoman Sedana Arta ditantang Ida Bagus Brahma Putra-Ketut Ridet. Lantas, di Gumi Lahar Kabupaten Karangasem ini terdapat tiga paslon. Adalah I Gusti Ayu Mas Sumatri-Wayan Artha Dipa (MASDIPA), I Made Sukerana-I Komang Kisid (SUKSES), dan I Wayan Sudirta-Ni Made Sumiati (SMS).

Dari enam gelaran di kabupaten/kota di Bali, nyaris semuanya milik para paslon dari Partai besutan Megawati, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Kota Denpasar  pasangan IB Rai Dharmawijaya Mantra-IGN Jaya Negara atau Dharma-Jaya (petahana), Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti dan I Gede Komang Sanjaya atau Eka-Jaya (petahana), lalu Bangli pasangan Made Gianyar dan SN Sedana Arta (petahana) dan Jembrana Putu Artha-Kembang (petahana).

Bahkan Kabupaten Badung dalam satu dekade atau dua kali even pilkada milik Partai Golkar kini jatuh dipelukan pasangan PDIP – Golkar Giri Prasta-I Ketut Suiasa. Di Kabupaten Karangasem, PDIP bisa saja mengambil hati pasangan Masdipa. Dia memang didukung Partai NasDem, Hanura, dan Partai Demokrat yang mengalihkan dukungan di-last minute.

Dari enam kabupaten/kota ini maka Bali sudah mutlak di genggaman PDIP. Tinggal mempertahankan pasangan Putu Agus Suradnyana dan I Nyoman Sutjidra (PASS) di Kabupaten Buleleng. Juga mengembalikan tradisi di Klungkung yang kini lepas ke tangan Gerindra. Jika berhasil maka Bali benar-benar menjadi kandang banteng PDIP. Praktis tinggal memenangkan kursi gubernur, maka Bali akan disebut Gubernur dan Bupati/Walikota PDIP.

Kini, giliran Kabupaten Buleleng. Tahun 2017 akan menjadi ‘barata’ Pilkada Buleleng. Kabupaten terluas di Bali ini akan memilih ‘penguasa’ bupati dan wakil bupati kesepuluh dalam sejarah pemerintahan Buleleng. Waktu setengah tahun tidaklah lama bagi calon pengusaha kabupaten yang dulu disebut Sunda Kecil ini. Ajang pilkada kali ini bak menjadi ladang pengukuhan bagi PDIP untuk menahbihkan sebagai ‘pengusaha’ Bali. Atau ini menjadi ajang pembuktian partai koalisi di bawah bendera Koalisi Bali Mandara (KBM).

Buleleng memiliki 9 kecamatan dan 148 desa/kelurahan dengan Bupati pertama Bagus Made Berata (1955-1960). Dengan karakteristik kultur-sosial masyakarat Gumi Panji Sakti yang berbeda dengan kabupaten lain, para pemangku politik akan hitung-hitungan siapa yang paling layak dicalonkan. Bukan hanya sekadar popularitas namun hitungan lainnya kedekatan emosional. Bulan telah berganti, deadline telah menanti. Para petinggi partai bersiap adu strategi.

PDIP dengan cepat mengusung pasangan petahana. Langkah paling tepat, kalau sudah calonnya petahana sulit ditumbangkan. Begitu kira-kira. Pasangan ideal PDIP ini Putu Agus Suradnyana dan I Nyoman Sutjidra (PASS). Sebagai Ketua Ketua DPC PDIP Buleleng, Suradnyana cukup gampang mendapatkan rekomendasi dari DPP PDIP. Apalagi beberapa kali Megawati datang ke acara di Buleleng.

Dalam pilkada dengan sistem pemilihan langsung, calon yang diusung PDIP selalu unggul. Sebelumnya,  ada Putu Bagiada-Made Arga Pynatih (2007-2012). Lalu, digantikan Putu Agus Suradnyana dan I Nyoman Sutjidra (PASS). Lantas siapa yang bakal berani menantang PASS tahun 1917 nanti?

Kabar paling santer, koalisi KBM akan mengusung paslon di Buleleng, meskipun koalisi tarik-ulur. Ini juga menjadi kesempatan KBM untuk membuktikan bahwa koalisi ini tetap solid dan berhasil memenangkan perebutan kursi bupati dan wakil bupati. Koalisi racikan Golkar-Demokrat ini digadang-gadang bakal mengusung Ketut Rochineng. Birokrat asal Desa Patemon, Kecamatan Seririt yang kini menjabat Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Bali.

Secara hitung-hitungan, tentu akan terjadi pertarungan secara figur. Soal massa, Rochineng tidak bisa diremehkan. Maklum, selain menjadi birokrat juga petinggi organisasi masyarakat (Ormas) Laskar Bali. Kini, Rochineng bakal menanti tandem yang kuat lagi untuk mengimbangi gempuran PASS.

Tampaknya ada penantang PASS yang lain, yakni calon independent. Dari kabar yang beredar, paket Dewa Sukrawan-Dharma Wijaya (Surya) sudah mengumpulkan dukungan untuk ikut bertarung dalam perhelatan Pilkada Buleleng. Akankah paket Surya bisa mengacaukan peta pertarungan PDIP dan KBM dan keluar sebagai pemenang? Tentu harus ditunggu.

Bertarung melawan petahana memang bukan perkara mudah, apalagi KBM dirongrong isu perpecahan seperti di kabupaten/kota lain pada pilkada kemarin. Pertarungan Pilkada Buleleng 2017 ini layak dinanti. Apakah PASS bisa mempertahankan kursinya sekaligus melengkapi kemenangan PDI-P di Bali, atau justru penantangnya mampu menjungkalkannya. (T)

Tags: baliPartai PolitikPilkadaPolitik
Share33TweetSendShareSend
Previous Post

Justru Karena Lembaga Intelek, Kampus Mesti Terlibat di Dunia Politik

Next Post

Balawan Konser di Kupang, Hasil Tiket untuk “Ngenteg Linggih”

Kambali Zutas

Kambali Zutas

Lahir di Nganjuk, Jawa Timur, kini tinggal di Denpasar, Bali. Kesibukan sehari-hari selain jurnalis, juga menulis esai, puisi, dan cerpen. Berkecimpung di organisasi profesi sebagai Anggota Bidang Etika dan Profesionalisme AJI Kota Denpasar.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

Balawan Konser di Kupang, Hasil Tiket untuk “Ngenteg Linggih”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co