DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh bisa saling bertaut dengan tubuh lain, terlipat dalam posisi ganjil, atau menjadi bagian kecil dari lanskap luas. Perubahan cara menghadirkan tubuh ini membuka kemungkinan pembacaan yang lebih jauh daripada persoalan anatomi dan keindahan bentuk. Tubuh menjadi jalan untuk menyelami pengalaman manusia, seperti hasrat, keintiman, kesendirian, hingga hubungannya dengan dunia yang tak sepenuhnya bisa dipahami.
Hal itu tampak pada pameran tunggal Kuek yang bertajuk “The Idiolect of the Unseen” di The Code Universe, Frieze London, Inggris, pada 14–18 Oktober 2026. Pameran yang dikurasi Carol Yinghua Lu ini menampilkan karya-karya Kuek yang mempertemukan keterampilan melukis dengan keliaran imajinasi yang surealistik. Latar hitam, warna-warna tanah, tubuh yang saling berkelindan, serta lanskap yang menentang logika ruang sehari-hari menjadi unsur penting dalam membangun dunia artistiknya.
Kuek lahir di Pengosekan, Ubud, Bali, 28 Februari 1984. Ia menamatkan pendidikan seni lukis di ISI Bali pada tahun 2008. Sejak masa kuliah ia rajin menampilkan karya-karyanya dalam pameran bersama. Pada 2023, ia berpameran tunggal bertajuk “Liku, Laku – Cosmic Pavement of Nyoman Darmawan” di Nonfrasa Gallery, Peliatan, Ubud, Bali.


Begitulah. Jika diamati, karya-karya Kuek tetap mempertahankan keterbacaan objek. Tubuh masih dikenali sebagai tubuh manusia. Tumbuhan tetap mengingatkan kita pada bentuk-bentuk alam. Dan bentangan tanah masih dapat dibayangkan sebagai lanskap. Namun, ketika unsur-unsur itu disusun dalam hubungan yang tidak lazim, maka terciptalah karya-karya yang terkesan ganjil dan surealistik. Hal inilah yang membuat karya-karyanya menarik dibaca melalui pengalaman manusia. Tidak cuma melalui persoalan gaya atau pembaruan tradisi seni lukis.
Tubuh-Tubuh yang Kehilangan Batas
Dalam salah satu lukisannya yang berjudul “Sentuhan Malam” (40 x 60 cm, tinta di kanvas, 2026), Kuek menghadirkan sekumpulan figur setengah telanjang yang saling bertumpuk dan bersinggungan di atas latar hitam. Ada figur yang berciuman, berpelukan, membungkuk, meregang, atau menopang tubuh yang berada di atasnya. Kaki dan tangan saling menyilang, sementara susunan anatomi yang rapat membuat mata harus menelusuri hubungan antar tubuh untuk membedakan satu figur dari figur lainnya.
Adegan itu tidak disusun seperti peristiwa yang berlangsung dalam ruang realistis. Tidak ada lantai, kamar, atau lingkungan tertentu yang membantu kita memahami posisi mereka. Tubuh-tubuh itu seakan hadir dalam ruang tersendiri, terlepas dari tempat dan waktu yang bisa dikenali.
Latar hitam memperkuat kesan tersebut. Latar tidak hanya bidang yang membuat figur terlihat lebih terang. Latar adalah ruang yang meniadakan petunjuk tentang dunia di luar tubuh. Akibatnya, perhatian apresian fokus pada gestur dan hubungan yang berlangsung di antara figur-figur itu.


Kecermatan penggambaran anatomi berhadapan dengan komposisi yang nyaris mustahil. Setiap tubuh masih memiliki karakter visual, tetapi keseluruhan susunannya membentuk semacam organisme yang rumit. Tidak mudah menentukan di mana hubungan satu figur berakhir dan figur lainnya dimulai. Tubuh individual seolah tetap ada, sekaligus kehilangan karakternya ketika masuk ke dalam jalinan tersebut.
Di sinilah lukisan itu membuka kemungkinan pembacaan tentang manusia sebagai makhluk relasional. Kita sering membayangkan diri sebagai individu yang berdiri sendiri, memiliki kehendak dan identitas masing-masing. Padahal, pengalaman kita selalu terbentuk melalui kehadiran orang lain. Keluarga, pergaulan, kedekatan fisik, konflik, dan kebutuhan untuk diterima ikut menentukan bagaimana seseorang memahami dirinya.
Jalinan tubuh dalam lukisan Kuek dapat mengingatkan kita pada kenyataan itu. Keberadaan satu figur berkaitan dengan posisi figur lainnya. Ada tubuh yang mendekat, menopang, dan yang tampak menyerahkan berat tubuhnya kepada tubuh lain. Hubungan mereka diwujudkan melalui susunan visual yang intim.
Tentu, kedekatan fisik dalam lukisan ini juga membuka pembacaan berkaitan dengan erotisme. Namun, erotisme tidak melulu tentang gambaran aktivitas seksual. Sentuhan dan pelukan dapat mengungkapkan kebutuhan manusia untuk mengatasi keterpisahan dirinya. Untuk merasa dekat, atau menemukan pengakuan melalui kehadiran orang lain. Pada saat yang sama, kedekatan juga dapat membuat batas pribadi menjadi tidak pasti.
Karya tersebut tidak memberikan jawaban tentang sifat hubungan antar tokohnya. Kita tidak mengetahui apakah mereka sedang mengalami kenikmatan, ketergantungan, kebingungan, atau sesuatu yang lain. Ketidakjelasan ini justru membuat lukisan tidak jatuh menjadi ilustrasi dari satu cerita tertentu. Apresian memiliki kebebasan untuk menafsirkannya.
Tubuh dalam Pusaran
Karya lain yang berjudul “Menuju Keseimbangan” (75 x 175 cm, tinta & akrilik di kanvas, 2026) menghadirkan susunan figur manusia setengah telanjang dalam komposisi vertikal. Tubuh-tubuh itu tersusun dari bagian atas hingga bawah kanvas, saling berimpitan dan membentuk gerak yang seolah berputar. Ada pasangan yang berpelukan di bagian tengah, sementara figur-figur lain berada dalam posisi terbalik atau melipat tubuh di sekitar mereka.
Dibandingkan karya sebelumnya, susunan ini terasa lebih menyerupai arus yang membawa setiap figur ke dalam pusaran. Orientasi tubuh tidak lagi mengikuti kebiasaan kita dalam memahami posisi manusia. Atas dan bawah kehilangan kepastian, sementara arah gerak tidak mudah ditentukan.

Kuek tetap menggambarkan anatomi dengan teliti. Otot, lekuk tubuh, rambut, dan kain yang membungkus bagian pinggang tampil melalui pengolahan garis dan warna yang terukur. Akan tetapi, kecermatan tersebut justru membuat ketidakmungkinan komposisi semakin terasa. Kita mengenali setiap bagian, tetapi kesulitan memahami keseluruhan peristiwa yang sedang berlangsung.
Pertentangan antara bagian yang masuk akal dan keseluruhan yang ganjil menjadi kekuatan karya ini. Hal ini memperlihatkan bahwa sesuatu yang tersusun dari unsur-unsur yang dapat dikenali belum tentu menghasilkan dunia yang logis. Dalam kehidupan manusia, pengalaman individual pun demikian. Setiap keputusan, hubungan, dan peristiwa mungkin dapat dijelaskan secara terpisah. Tetapi ketika semuanya bertemu, terbentuklah keadaan yang jauh lebih rumit daripada yang kita perkirakan.
Pusaran tubuh tersebut dapat dibaca sebagai metafora bagi kehidupan yang tidak pernah sepenuhnya berada dalam kendali seseorang. Kita bergerak di antara keinginan sendiri dan dorongan dari luar. Antara kebutuhan mempertahankan identitas dan kenyataan bahwa diri kita selalu berubah melalui hubungan dengan orang lain.
Namun, pembacaan itu tidak harus menghapus kemungkinan makna erotis atau spiritual. Justru keterbukaan terhadap beragam tafsir membuat komposisi tersebut tidak habis dibaca. Tubuh-tubuh itu dapat dipahami sebagai perwujudan gairah, ketergantungan, energi kehidupan, atau pergulatan manusia dengan batas-batas dirinya sendiri.

Jika dua lukisan figuratif ini dilihat berdampingan, tampak bahwa Kuek tidak sekadar tertarik pada tubuh sebagai objek. Ia mengolah tubuh menjadi bahasa untuk menggambarkan sesuatu yang lebih sulit ditampilkan secara langsung. Hal itu, misalnya, tentang bagaimana manusia berhubungan, saling memengaruhi, dan kadang kehilangan kepastian tentang dirinya sendiri ketika berhadapan dengan orang lain.
Manusia Kecil di Hadapan Semesta
Perubahan pendekatan terlihat pada lukisan yang berjudul “Cahaya Kehidupan” (130 x 200cm, akrilik di kanvas, 2025). Karya tersebut menghadirkan bentangan lanskap berwarna cokelat dan keemasan. Pada bagian bawah, di antara tumbuhan dengan bentuk dekoratif, tampak sosok manusia mengamati langit. Permukaan tanah membentang dalam lapisan-lapisan menyerupai bukit atau gelombang yang menjauh ke cakrawala. Cahaya jingga menyebar di bagian tengah. Di langit yang diterangi cahya purnama, jukung yang dikemudikan seorang perempuan tampak sedang berlayar menuju entah ke mana.
Berbeda dari dua karya sebelumnya yang dipenuhi figur, lukisan ini mengandalkan perbedaan skala. Tubuh manusia tidak lagi mendominasi bidang. Tubuh justru nyaris luput dari perhatian ketika mata pertama kali menyusuri bentangan lanskap, tumbuhan, cahaya, dan jukung yang melayang di langit.
Penempatan figur di bagian bawah membuat manusia tampak kecil di hadapan semesta yang tak terukur. Kita tidak mengetahui apa yang sedang dilakukan sosok tersebut. Ia mungkin sedang beristirahat, merenung, atau sekadar berada di tengah lingkungan yang asing. Lukisan tidak menyediakan petunjuk yang cukup untuk memastikan satu kemungkinan.
Ketidakpastian itu menjadi semakin kuat karena lanskapnya sendiri sulit dikenali sebagai tempat geografis tertentu. Bentangan tanah memiliki kedalaman, tetapi susunannya juga terasa seperti gelombang yang berulang. Tumbuhan di bagian bawah menyerupai unsur alam sekaligus bentuk imajinatif. Sementara itu, jukung yang melayang di langit “mengganggu” hubungan normal antara benda dan ruang. Tentu saja lukisan itu tampak surealistik.

Jukung atau perahu biasanya berhubungan dengan perjalanan, perpindahan, atau pencarian tempat berlabuh. Ketika ditempatkan di langit, jukung terlepas dari fungsi dan lingkungan yang kita kenal. Jukung menjadi metafora yang mengundang pertanyaan. Perjalanan atau pelayaran macam apa yang sedang berlangsung, dan ke mana arahnya?
Tidak ada jawaban pasti. Jukung itu dapat dibaca sebagai lambang perjalanan batin, metafora kebebasan imajinasi, atau unsur surealis yang sengaja mengganggu kepastian visual. Bulatan pucat di dekatnya juga tidak harus ditetapkan sebagai bulan dalam pengertian literal. Yang penting ialah hubungan antara benda-benda tersebut dengan lanskap dan sosok manusia di bawahnya.
Lukisan ini menggeser persoalan yang muncul dalam dua karya figuratif sebelumnya. Jika pada lukisan sebelumnya manusia mengalami dirinya melalui kedekatan dengan tubuh lain. Maka pada lukisan ini, kita berhadapan dengan keluasan semesta. Kesendirian tidak ditampilkan melalui ekspresi wajah atau gestur dramatis. Namun melalui perbandingan skala antara figur kecil dan ruang yang hampir memenuhi seluruh kanvas.
Lanskap pun tidak lagi sekadar menjadi pemandangan. Lanskap terasa seperti ruang psikologis, tempat suasana batin memperoleh bentuk melalui warna, cahaya, dan susunan objek. Kita tidak dapat memastikan apakah ruang itu mencerminkan kesepian, ketenangan, keterasingan, atau harapan. Namun, lukisan ini memberi kesempatan bagi semua perasaan itu untuk hadir bersama.
Dari Pengalaman Tubuh ke Pengalaman Batin
Ketiga karya tersebut memperlihatkan perbedaan cara Kuek membangun hubungan antara manusia dan ruang. Pada lukisan pertama, tubuh-tubuh saling berkelindan hingga batas individualnya menjadi tidak pasti. Pada lukisan kedua, tubuh-tubuh membentuk pusaran yang mengacaukan orientasi ruang. Pada lukisan ketiga, manusia justru menjadi sosok kecil yang berhadapan dengan keluasan lanskap dan benda-benda yang menentang logika sehari-hari.
Perbedaan itu memperlihatkan bahwa bahasa visual Kuek tidak hanya bertumpu pada penggambaran anatomi surealis. Ia juga bermain dengan kepadatan dan keluasan, kedekatan dan jarak, serta hubungan antara figur dan ruang. Tubuh yang memenuhi kanvas dan sosok yang hampir tenggelam dalam lanskap menjadi dua cara berbeda untuk memikirkan keberadaan manusia.

Dalam konteks The Idiolect of the Unseen, pendekatan tersebut memberi makna konkret pada gagasan tentang sesuatu yang tidak terlihat. Yang tak terlihat tidak harus berupa dunia gaib atau gejala spiritual. Hal itu dapat berupa pengalaman batin, kebutuhan akan kedekatan, ketidakpastian identitas, atau perasaan kecil di hadapan semesta.
Kuek membuat pengalaman-pengalaman itu dapat didekati melalui bentuk yang kasat mata. Namun, ia tidak menerjemahkannya menjadi simbol dengan arti yang tetap. Tubuh-tubuh yang saling bertaut tidak hanya berbicara tentang erotisme. Lanskap yang luas tidak melulu menggambarkan kesendirian. Atau, jukung yang melayang tidak harus menunjuk pada perjalanan tertentu. Makna muncul dari hubungan antara unsur-unsur visual dan pengalaman apresian.
Di sinilah latar artistik Kuek menjadi relevan. Ia tumbuh dalam lingkungan seni lukis yang memiliki warisan visual kuat. Tetapi warisan tersebut tidak harus dipertahankan melalui pengulangan bentuk yang sama. Kecermatan garis dan pengolahan detail tetap terasa dalam karya-karyanya. Sementara itu, susunan figur, ruang, dan objek dieksplorasi menjadi lebih personal dan surealistik.
Tradisi, dalam hal ini, tidak hanya menjadi sesuatu yang diwarisi. Tradisi diolah melalui pilihan artistik. Kuek tidak harus menanggalkan detail bahasa visual untuk menciptakan lukisan surealistik. Ia justru memanfaatkan detail itu agar dunia yang dibangunnya terasa dekat sekaligus asing.
Ketika karya-karya tersebut hadir di Frieze London, Kuek tidak hanya membawa identitas seorang perupa Bali. Namun juga cara mengolah pengalaman menjadi bahasa visual. Tubuh dan lanskap menjadi pintu masuk menuju persoalan yang dapat dirasakan melampaui batas geografis. Bagaimana manusia mengenali dirinya, membangun hubungan dengan orang lain, dan mencari tempat di tengah dunia yang makin tak menentu.
Kekuatan karya Kuek terletak pada jarak antara yang terlihat dan yang dapat kita simpulkan darinya. Kita dapat mengamati anatomi, menelusuri susunan figur, mengenali tumbuhan, atau mengikuti bentuk jukung di langit. Namun, setelah semua itu dikenali, masih tersisa pertanyaan tentang pengalaman yang hendak dibuka oleh gambar-gambar tersebut.
Kuek tidak buru-buru menutup jarak itu dengan jawaban. Ia membiarkan tubuh, ruang, dan lanskap bekerja sebagai bahasa yang maknanya terus bergerak. Apresian tidak hanya diminta melihat apa yang tergambar. Tetapi juga mempertanyakan pengalaman apa yang muncul ketika berhadapan dengannya. Dengan cara itu, yang tak terlihat memperoleh kemungkinan untuk dirasakan, tanpa harus dijelas-jelaskan. Begitulah kira-kira.[T]






























