18 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

Angga Wijaya by Angga Wijaya
October 18, 2026
in Esai
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

Ilustrasi tatkala.co | Canva

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja, kemudian menjadi wartawan, koresponden, hingga pemimpin redaksi. Selain menulis cerpen dan novel, ia dikenal melalui esai-esainya yang kritis tentang kehidupan sosial dan kebudayaan Bali. Kumpulan cerpennya, Mandi Api, meraih penghargaan Khatulistiwa Literary Award pada 2006. Ia juga merintis usaha percetakan dan penerbitan Prasasti di Denpasar.

Percakapan kami tidak panjang, tetapi ada satu hal yang membuat saya terus memikirkannya setelah percakapan berakhir. Kami berbicara tentang pers, idealisme, dan uang. Tiga hal yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan saya sebagai wartawan, penulis, sekaligus orang yang sedang berusaha membangun media sendiri.

Ketika Pak Aryantha bertanya tentang media tempat saya bekerja, saya bercerita bahwa saya masih menulis untuk KanalBali, Tatkala.co, dan Podiumnews.com. Saya juga mengembangkan Bicarabali.com, media yang ingin saya jadikan ruang untuk membicarakan Bali dari berbagai sisi. Saya tidak sedang membangun perusahaan media besar. Saya hanya berusaha merawat sebuah gagasan di tengah keterbatasan yang saya miliki.

Mengelola media sendiri ternyata tidak semudah menerbitkan berita dan tulisan. Selain memikirkan isi pemberitaan, saya harus menghadapi persoalan teknis, biaya operasional, dan pekerjaan lain yang tidak kalah penting. Saya pernah mengalami masalah pada website Bicarabali.com. Karena belum memiliki cukup dana untuk meminta bantuan orang lain, saya mencoba mencari jalan keluar sendiri dengan belajar melalui internet.

Saya membaca petunjuk, mencoba berbagai cara, dan sesekali menemui jalan buntu. Pengalaman itu membuat saya menyadari bahwa membangun media membutuhkan banyak hal di luar kemampuan menulis. Ada teknologi yang harus dipahami, keuangan yang perlu dikelola, pembaca yang perlu dijangkau, dan sumber pendapatan yang harus dicari.

Di tengah percakapan malam itu, Pak Aryantha menyampaikan pandangan yang menarik perhatian saya. Menurutnya, pers yang bagus berawal dari idealisme, bukan uang. Ia juga mengingatkan bahwa pers membutuhkan sponsor atau penyandang dana. Untuk menjelaskan pandangannya, ia mencontohkan bank besar. Memiliki banyak uang, menurutnya, tidak otomatis membuat sebuah perusahaan mempunyai idealisme pers.

Saya membaca pesan tersebut sambil memikirkan perjalanan saya sendiri. Ada sesuatu yang terasa dekat dengan pengalaman saya selama ini. Saya ingin membangun media yang memiliki prinsip, tetapi saya juga tahu bahwa prinsip saja tidak cukup untuk membuat sebuah media bertahan.

Persoalannya kemudian menjadi lebih sederhana sekaligus lebih rumit. Bagaimana mempertahankan idealisme ketika biaya hidup terus berjalan dan media yang kita bangun belum mampu memberikan penghasilan yang memadai?

Pers Bukan Sekadar Bisnis

Saya memahami maksud Pak Aryantha. Uang memang penting untuk menjalankan perusahaan media, tetapi uang saja tidak cukup untuk menghasilkan jurnalisme yang baik. Sebuah media bisa memiliki kantor besar, peralatan lengkap, dan banyak wartawan. Namun, semua itu tidak menjamin keberanian untuk memberitakan persoalan yang menyangkut kepentingan masyarakat.

Pers mempunyai tanggung jawab untuk mengawasi kekuasaan, memeriksa kebijakan pemerintah, dan menyampaikan informasi yang dibutuhkan publik. Tanggung jawab itu tidak selalu mudah dijalankan karena kepentingan politik dan ekonomi dapat memengaruhi kerja jurnalistik.

Di Bali, berita tentang perkembangan pariwisata, pembangunan hotel, kunjungan pejabat, dan berbagai acara resmi kerap memenuhi ruang publik. Berita semacam itu tentu penting. Namun, kehidupan Bali tidak hanya terdiri atas kegiatan pemerintah dan pertumbuhan industri pariwisata. Persoalan masyarakat juga membutuhkan perhatian yang sama.

Sebagian pekerja kesulitan memenuhi kebutuhan hidup karena penghasilannya terbatas. Warga menghadapi persoalan sampah, kemacetan, dan perubahan lingkungan. Penyandang disabilitas masih menemui hambatan dalam mengakses layanan publik, sedangkan orang dengan gangguan kesehatan mental kerap menghadapi stigma ketika berusaha kembali menjalani kehidupan sosial.

Kisah-kisah tersebut merupakan bagian dari kehidupan Bali yang sesungguhnya. Sayangnya, suara mereka tidak selalu mendapatkan ruang yang cukup dalam pemberitaan.

Saya ingin jurnalisme tidak hanya mengikuti apa yang sedang ramai dibicarakan. Wartawan perlu mendatangi tempat-tempat yang jarang diperhatikan, mendengarkan orang-orang yang suaranya tidak cukup keras, dan memeriksa persoalan yang mungkin tidak masuk dalam agenda para pemegang kekuasaan.

Bukan berarti wartawan harus membela satu pihak tanpa memeriksa fakta. Keberpihakan kepada kepentingan publik justru harus disertai ketelitian, verifikasi, dan kesediaan mendengarkan berbagai pihak. Tanpa itu, jurnalisme mudah berubah menjadi sekadar pendapat yang dibungkus sebagai berita.

Bagi saya, idealisme pers terletak pada kesediaan menjalankan tanggung jawab tersebut, termasuk ketika pekerjaan itu tidak menghasilkan keuntungan langsung atau tidak menyenangkan pihak yang mempunyai kepentingan.

Idealisme Tidak Membayar Biaya Hidup

Ada satu kenyataan yang tidak bisa saya abaikan. Orang-orang yang bekerja di dunia pers juga membutuhkan penghasilan. Mereka harus makan, membayar tempat tinggal, membeli bensin, dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Saya menjalani pekerjaan sebagai wartawan dan penulis sambil berusaha mengembangkan Bicarabali.com. Saya membagi waktu untuk meliput, menulis berita, menyusun esai, dan mengurus website. Semua itu membutuhkan tenaga dan pikiran, sementara kebutuhan hidup terus berjalan.

Saya kira banyak wartawan dan penulis menghadapi keadaan serupa. Mereka dituntut menghasilkan tulisan berkualitas, bekerja cepat, dan menjaga akurasi. Namun, penghasilan yang diterima belum tentu cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup secara layak.

Dalam keadaan seperti itu, idealisme kadang-kadang justru dijadikan alasan untuk menerima penghasilan rendah. Seolah-olah orang yang mencintai jurnalistik harus bersedia bekerja dengan bayaran seadanya. Seolah-olah membicarakan upah yang layak merupakan tanda bahwa seseorang terlalu memikirkan uang.

Saya tidak sepakat dengan cara pandang tersebut. Wartawan adalah pekerja yang berhak mendapatkan penghasilan layak. Penulis juga membutuhkan pendapatan agar dapat terus berkarya. Kecintaan terhadap pekerjaan tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengabaikan kesejahteraan orang yang melakukannya.

Saya ingin terus menulis tentang Bali, masyarakatnya, dan berbagai persoalan yang terjadi di sekitarnya. Namun, saya juga ingin mendapatkan penghasilan yang cukup dari pekerjaan tersebut. Saya ingin bisa memenuhi kebutuhan hidup tanpa terus-menerus merasa cemas tentang bagaimana membayar pengeluaran bulan berikutnya.

Bagi saya, kedua keinginan itu tidak bertentangan. Idealisme membuat saya tahu mengapa saya harus menulis, sedangkan penghasilan yang layak membantu saya terus melakukannya.

Karena itu, mempertahankan idealisme tidak berarti menolak uang. Persoalannya adalah bagaimana memperoleh pendapatan tanpa kehilangan kebebasan dalam bekerja. Media membutuhkan uang untuk membiayai kegiatan jurnalistik, tetapi uang tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan kepentingan publik.

Merawat Bicarabali.com

Percakapan dengan Pak Aryantha membuat saya kembali memikirkan alasan mengembangkan Bicarabali.com. Saya ingin media ini menjadi ruang untuk membicarakan Bali secara lebih mendalam, bukan hanya sebagai destinasi wisata, melainkan sebagai tempat tinggal masyarakat dengan persoalan dan harapan yang beragam.

Di balik pertumbuhan pariwisata, ada pertanyaan tentang kesejahteraan masyarakat lokal. Apakah pertumbuhan ekonomi memberikan manfaat yang merata? Bagaimana nasib pekerja dengan penghasilan rendah? Apakah pembangunan yang terus berlangsung membuat kehidupan warga semakin baik?

Pertanyaan semacam itu perlu dijawab melalui pemberitaan yang mendalam, bukan sekadar mengutip pernyataan pejabat atau menyajikan angka statistik tanpa konteks.

Saya juga ingin Bicarabali.com memberikan ruang bagi tulisan tentang kebudayaan Bali. Tradisi tidak cukup dibicarakan sebagai sesuatu yang indah dan harus dilestarikan. Kita perlu memahami bagaimana tradisi dijalankan, bagaimana masyarakat memaknainya, dan bagaimana perubahan zaman memengaruhi kehidupan mereka.

Melalui berita, reportase mendalam, esai, opini, profil tokoh, dan catatan perjalanan, saya ingin menghadirkan berbagai sisi kehidupan Bali. Saya berharap pembaca dapat menemukan persoalan yang selama ini luput dari perhatian mereka.

Namun, saya menyadari bahwa gagasan editorial saja tidak cukup untuk membuat media bertahan. Bicarabali.com membutuhkan pembaca yang percaya pada karya jurnalistiknya dan sumber pendapatan untuk membiayai pekerjaan redaksi.

Saya masih perlu belajar mencari sponsor, membangun kerja sama, dan mengembangkan sumber pendapatan lain. Semua itu harus dilakukan dengan tetap menjaga batas antara kepentingan bisnis dan keputusan editorial.

Sponsor boleh membantu membiayai kegiatan media. Pengiklan boleh membeli ruang promosi. Lembaga tertentu juga dapat memberikan dukungan untuk kegiatan jurnalistik. Namun, dukungan tersebut tidak boleh menjadi alat untuk menentukan siapa yang boleh dikritik atau persoalan apa yang harus disembunyikan.

Media perlu memperoleh pendapatan, tetapi keputusan redaksi harus tetap berada di tangan orang-orang yang bertanggung jawab atas kerja jurnalistiknya.

Bagi saya, inilah tantangan membangun media independen. Kita harus mencari uang agar bisa terus bekerja, tetapi tidak boleh membiarkan uang menentukan seluruh arah pemberitaan.

Saya tidak tahu apakah suatu hari Bicarabali.com akan menjadi media besar. Untuk sekarang, saya ingin membangunnya secara bertahap, sesuai kemampuan yang saya miliki. Saya ingin media ini menghasilkan tulisan yang bermutu, dipercaya pembaca, dan perlahan-lahan mampu membiayai pekerjaannya sendiri.

Belajar Bertahan Tanpa Kehilangan Arah

Percakapan dengan Pak Aryantha malam itu tidak memberikan jawaban untuk semua persoalan yang saya hadapi. Namun, pembicaraan tersebut membuat saya melihat kembali hubungan antara idealisme dan uang dalam dunia pers.

Saya memahami bahwa modal besar tidak otomatis melahirkan media yang baik. Sebuah media membutuhkan tujuan yang jelas, orang-orang yang bersedia bekerja dengan sungguh-sungguh, dan keberanian untuk mempertahankan prinsip. Namun, saya juga menyadari bahwa idealisme membutuhkan dukungan nyata agar tidak berhenti sebagai cita-cita.

Media yang tidak mampu membiayai pekerjaannya akan kesulitan bertahan. Wartawan yang terus-menerus menghadapi masalah keuangan juga akan kesulitan berkonsentrasi pada pekerjaannya. Karena itu, memikirkan keberlanjutan finansial bukan berarti mengkhianati idealisme. Justru hal tersebut merupakan bagian dari usaha mempertahankannya.

Saya masih harus belajar mengelola Bicarabali.com dengan lebih baik. Saya perlu menyelesaikan persoalan teknis, memperluas jangkauan pembaca, dan mencari sumber pendanaan yang sesuai dengan karakter media. Pada saat yang sama, saya harus mengukur kemampuan diri agar keinginan mengembangkan media tidak berubah menjadi beban yang mengganggu kehidupan pribadi.

Saya tidak ingin Bicarabali.com hanya menjadi proyek yang menghabiskan tenaga dan pikiran tanpa arah yang jelas. Saya ingin media ini mempunyai alasan kuat untuk hadir di tengah masyarakat. Keberadaannya harus memberikan manfaat sekaligus memungkinkan orang yang mengerjakannya memperoleh penghasilan yang layak.

Malam itu, setelah membaca pesan-pesan Pak Aryantha, saya kembali memikirkan alasan saya memilih pekerjaan ini. Saya belum menemukan jawaban untuk semua persoalan. Namun, saya semakin memahami bahwa mempertahankan idealisme bukan berarti menolak kenyataan ekonomi. Kita perlu mencari jalan agar keduanya dapat berjalan bersama.

Saya ingin Bicarabali.com tetap independen. Saya ingin media ini berani membicarakan persoalan Bali, mendengarkan suara masyarakat kecil, dan mengkritisi kebijakan yang menyangkut kepentingan publik. Namun, saya juga ingin bisa hidup layak dari pekerjaan jurnalistik.

Saya tidak ingin menganggap kesulitan ekonomi sebagai harga yang wajib dibayar untuk menjadi wartawan yang idealis. Saya ingin bekerja dengan baik tanpa harus terus-menerus mengorbankan kebutuhan hidup demi mempertahankan media.

Barangkali, inilah pekerjaan yang sesungguhnya sedang saya hadapi. Bukan hanya membangun sebuah website atau menerbitkan tulisan secara rutin, melainkan mencari cara agar gagasan yang saya yakini bisa bertahan dalam kehidupan nyata.

Saya masih ingin menulis, membaca Bali lebih dalam, dan mendengarkan cerita orang-orang yang kehidupannya jarang menjadi perhatian. Saya juga ingin belajar dari mereka yang telah lebih dahulu menjalani perjalanan panjang dalam dunia jurnalistik dan kepenulisan.

Percakapan singkat dengan Pak Aryantha menjadi pengingat bahwa idealisme perlu dirawat melalui kerja sehari-hari. Ia tidak cukup disimpan sebagai keyakinan pribadi atau dijadikan slogan sebuah media. Idealisme harus terlihat dalam pilihan berita, cara memperlakukan narasumber, keberanian mengungkap persoalan, dan kesediaan menjaga kepercayaan pembaca.

Pada akhirnya, saya tidak ingin memilih antara idealisme dan uang. Uang diperlukan agar media dapat bertahan, tetapi kepentingan publik harus tetap menjadi alasan utama mengapa media itu bekerja.

Saya ingin mempertahankan idealisme tanpa mengabaikan kebutuhan hidup. Saya ingin membangun media independen tanpa berpura-pura bahwa uang tidak penting.

Saya belum tahu seberapa jauh Bicarabali.com akan berkembang. Untuk sekarang, saya hanya ingin terus belajar, bekerja, dan mencari jalan agar media ini bisa tumbuh tanpa kehilangan arah. Sebab, selama masih ada persoalan Bali yang perlu dibicarakan dan kehidupan masyarakat yang perlu didengarkan, saya merasa masih ada alasan untuk terus menulis.[T]

Tags: mediamedia onlinepers
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
0
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

Read moreDetails

Cara Kerja Kekuasaan Meredam Kritik Publik

by Teddy Chrisprimanata Putra
October 18, 2026
0
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

“No Rocky, No Party” BARANGKALI jargon tersebut masih sangat relate hingga hari ini. Pasalnya, nama Rocky Gerung kembali menjadi diskursus...

Read moreDetails

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

by Pande Susan
October 17, 2026
0
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

Read moreDetails

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

by Angga Wijaya
October 17, 2026
0
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

Read moreDetails

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

by I Wayan Artika
October 16, 2026
0
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

Read moreDetails

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
0
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

Read moreDetails

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
0
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

Read moreDetails

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

Read moreDetails

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

by Angga Wijaya
October 13, 2026
0
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

Read moreDetails

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media
Esai

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

by Angga Wijaya
October 18, 2026
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana
Esai

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan
Ulas Rupa

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto
Cerpen

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

by Sigit Susanto
October 18, 2026
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta
Esai

Cara Kerja Kekuasaan Meredam Kritik Publik

“No Rocky, No Party” BARANGKALI jargon tersebut masih sangat relate hingga hari ini. Pasalnya, nama Rocky Gerung kembali menjadi diskursus...

by Teddy Chrisprimanata Putra
October 18, 2026
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali
Khas

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

by Ingga Adelia
October 18, 2026
BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali
Pameran

BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

Empat seniman dari Bali dan Korea Selatan menggelar pameran kolaboratif bertajuk BURU-JIWA-BUMI di Nata-Citta Art Space (N-CAS), Institut Seni Indonesia...

by Nyoman Budarsana
October 18, 2026
Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara
Persona

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar
Esai

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

by Pande Susan
October 17, 2026
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali
Esai

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

by Angga Wijaya
October 17, 2026
Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir
Buku Tatkala

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir

Judul: Panduan Lumut -- Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putri Wijaya ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM
Esai

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

by I Wayan Artika
October 16, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co