18 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
October 18, 2026
in Esai
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

Foto ilustrasi: Canva

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan jejak hubungan sosial masyarakat. Pembahasan mengenai nyama selam, krama nyelam, dan olahan selam mengundang pembaca melihat bahasa sebagai bagian dari pengalaman hidup bersama. Perhatian pada praktik saling menghormati, termasuk dalam penyediaan makanan, juga memberi tulisan ini kedekatan dengan kehidupan sehari-hari.

Ketertarikan itulah yang mendorong saya membaca beberapa bagiannya lebih jauh. Ada sejumlah keterangan mengenai bahasa dan sejarah yang tampaknya masih membutuhkan penjelasan. Catatan berikut saya ajukan untuk mendiskusikan dasar penafsiran yang digunakan, dengan tetap menghargai semangat kebersamaan yang hendak disampaikan penulis.

Pada paragraf pembuka, Sudiana mengaitkan Geguritan Krama Selam dengan kesusastraan Bali abad ke-19. Kehadiran karya tersebut berpotensi menjadi pijakan penting untuk menelusuri pemakaian istilah selam. Namun, dasar penanggalannya belum tampak dalam artikel. Apakah keterangan abad ke-19 berasal dari kolofon, katalog naskah, penelitian terdahulu, atau petunjuk internal teks? Apakah bukti yang tersedia memungkinkan penempatan pada awal, pertengahan, atau akhir abad tersebut? Jika penanggalannya memang baru dapat ditetapkan secara umum, penjelasan mengenai keterbatasan itu akan membantu pembaca.

Dalam hal ini, waktu penggubahan teks perlu dibedakan dari waktu penyalinan naskah. Sebuah naskah yang disalin pada abad ke-19 mungkin memuat karya yang lebih tua. Angka tahun dalam kolofon pun perlu diperiksa untuk mengetahui peristiwa yang ditandainya. Penyebutan naskah, tempat penyimpanan, nomor koleksi, atau penelitian yang dirujuk akan membuat keterangan tersebut lebih mudah ditelusuri.

Kajian filologis, kodikologis, dan paleografis dapat membantu memperjelas persoalan ini melalui pemeriksaan transmisi teks, bahan dan bentuk fisik naskah, serta ciri aksaranya. Tentu artikel surat kabar tidak harus menyajikan seluruh pemeriksaan tersebut. Meskipun demikian, rujukan singkat terhadap dasar penanggalan tetap diperlukan apabila sebuah karya digunakan sebagai bukti historis. Pertanyaannya bukan apakah penanggalan Sudiana pasti keliru, melainkan sejauh mana pembaca dapat memeriksa landasannya.

Persoalan serupa muncul pada penggunaan kamus. Rujukan kepada KBBI dan Kamus Bali–Indonesia memberi dasar untuk mengetahui makna yang dicatat dalam kedua sumber itu. Akan tetapi, karena pembahasan kemudian bergerak menuju sejarah bentuk dan makna, perbandingan dengan kamus-kamus terdahulu, termasuk karya Van der Tuuk dan Van Eck, menjadi relevan.

Perbandingan tersebut memungkinkan kita bertanya apakah bentuk, definisi, dan contoh pemakaiannya memperlihatkan kesinambungan atau perubahan. Kamus yang lebih tua tidak otomatis lebih benar, tetapi dapat menyediakan jejak pencatatan yang tidak terlihat dalam kamus modern. Artikel Sudiana belum memperlihatkan penelusuran ini. Karena itu, penjelasan historisnya masih menyisakan ruang pembuktian leksikografis, terutama untuk membedakan makna yang tercatat dalam kamus dari dugaan mengenai proses terbentuknya kata.

Ada pula persoalan ejaan pada ungkapan menyama braya. Bentuk yang tepat ialah manyama braya, dengan struktur ma- + nyama braya. Prefiksnya adalah ma-. Catatan ini memperoleh relevansi karena tulisan tersebut secara khusus membahas bahasa, dan penulisnya diperkenalkan sebagai peneliti bahasa di Pusat Riset Preservasi Bahasa dan Sastra, BRIN. Keterangan profesi itu menumbuhkan harapan akan ketelitian, tanpa berarti bahwa suatu kekeliruan ejaan dapat dijadikan ukuran bagi keseluruhan kemampuan penulis.

Hal lain yang menarik untuk didiskusikan ialah hubungan antara istilah dan keharmonisan sosial. Sudiana membaca nyama selam, krama nyelam, dan olahan selam sebagai cerminan hubungan harmonis masyarakat Bali. Penafsiran tersebut mungkin beralasan, tetapi keberadaan istilah saja belum cukup untuk membuktikannya.

Sebutan nyama selam, misalnya, mengandung bahasa kekerabatan yang dapat menyatakan kedekatan. Namun, konteks penggunaannya tetap penting: apakah sebutan itu mengungkapkan hubungan yang dijalankan sehari-hari, kesantunan dalam pergaulan, atau harapan akan persaudaraan? Ketiganya dapat berhubungan, tetapi tidak selalu sama. Demikian pula, penyediaan makanan yang sesuai dengan pantangan seseorang dapat memperlihatkan akomodasi. Nama olahan selam sendiri belum menjelaskan bagaimana praktik tersebut berlangsung dalam setiap lingkungan sosial.

Bukti kebahasaan akan lebih kuat apabila dibaca bersama pengalaman para penutur, catatan sejarah, dan praktik sosial yang dapat ditelusuri. Dengan begitu, harmoni dapat dijelaskan melalui keadaan yang konkret, termasuk cara masyarakat menghadapi perbedaan dan kemungkinan ketegangan di dalamnya.

Kebutuhan akan konteks juga berlaku pada ungkapan “kerajaan-kerajaan Hindu di masa lampau”. Kerajaan mana yang dimaksud, dan pada periode apa? Tanpa batas tersebut, pembaca sulit mengetahui hubungan historis yang sedang dirujuk. Kehadiran komunitas Muslim dan hubungannya dengan kekuasaan kerajaan perlu ditempatkan dalam ruang dan waktu tertentu.

Kategori “Hindu” sendiri memiliki sejarah yang patut diperhitungkan. Dalam “L’hindouisation contemporaine de la religion balinaise et ses implications” (2023), Michel Picard membahas pembentukan identitas agama Bali melalui perjumpaan kolonial dan perjuangan memperoleh pengakuan negara. Ia menyebut pemilihan nama agama Hindu Bali pada 1952, pembentukan seksi Hindu Bali dalam Kementerian Agama pada 1958, serta pendirian Parisada Dharma Hindu Bali pada 1959. Tahapan itu berkaitan dengan penamaan dan pelembagaan agama modern, bukan awal keberadaan tradisi keagamaan Bali.

Picard tetap mengakui warisan Hindu-Buddha dalam masyarakat Bali. Pembedaan antara warisan tersebut dan identitas agama modern membantu kita membaca istilah “kerajaan Hindu” secara lebih cermat. Sebutan itu dapat digunakan sebagai kategori analitis, tetapi perlu dijelaskan dasar dan cakupannya. Apakah yang dirujuk adalah tradisi ritual istana, kedudukan pendeta, atau identitas yang disebut dalam sumber sezaman? Tanpa penjelasan, terdapat risiko anakronisme: pengertian masa kini terbawa ke dalam pembacaan masa lampau.

Catatan-catatan ini lahir dari kesediaan menanggapi tulisan Sudiana dengan serius. Ruang yang terbatas dalam artikel populer memang menuntut pemadatan, tetapi rujukan singkat, batas waktu yang jelas, dan pembedaan antara bukti dengan penafsiran dapat membantu menjaga ketepatannya.

Pembaca datang dengan perhatian dan bekal pengetahuan yang beragam. Sebagian mungkin membaca tulisan ini sepintas, tetapi sebagian lainnya akan memeriksa sumber, menimbang pengertian setiap istilah, dan menguji hubungan antara bukti dengan pendapat yang diajukan. Karena itu, memberi batas pada suatu klaim, menyatakan ketidakpastian, atau menunda kesimpulan sampai bukti mencukupi merupakan bagian dari tanggung jawab penulis kepada pembacanya.

Harapan saya, tanggapan ini dapat menjadi ruang percakapan untuk memperjelas hal-hal yang masih terbuka. Kesediaan memeriksa kembali pilihan kata dan pendapat sendiri merupakan sikap yang berharga dalam kerja keilmuan. Sikap itulah yang hendak saya tekankan: kerendahan hati epistemik.[T]

Tags: BahasahinduIslam
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

Next Post

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails

Cara Kerja Kekuasaan Meredam Kritik Publik

by Teddy Chrisprimanata Putra
October 18, 2026
0
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

“No Rocky, No Party” BARANGKALI jargon tersebut masih sangat relate hingga hari ini. Pasalnya, nama Rocky Gerung kembali menjadi diskursus...

Read moreDetails

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

by Pande Susan
October 17, 2026
0
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

Read moreDetails

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

by Angga Wijaya
October 17, 2026
0
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

Read moreDetails

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

by I Wayan Artika
October 16, 2026
0
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

Read moreDetails

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
0
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

Read moreDetails

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
0
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

Read moreDetails

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

Read moreDetails

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

by Angga Wijaya
October 13, 2026
0
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

Read moreDetails

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

Read moreDetails
Next Post
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media
Esai

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

by Angga Wijaya
October 18, 2026
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana
Esai

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan
Ulas Rupa

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto
Cerpen

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

by Sigit Susanto
October 18, 2026
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta
Esai

Cara Kerja Kekuasaan Meredam Kritik Publik

“No Rocky, No Party” BARANGKALI jargon tersebut masih sangat relate hingga hari ini. Pasalnya, nama Rocky Gerung kembali menjadi diskursus...

by Teddy Chrisprimanata Putra
October 18, 2026
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali
Khas

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

by Ingga Adelia
October 18, 2026
BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali
Pameran

BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

Empat seniman dari Bali dan Korea Selatan menggelar pameran kolaboratif bertajuk BURU-JIWA-BUMI di Nata-Citta Art Space (N-CAS), Institut Seni Indonesia...

by Nyoman Budarsana
October 18, 2026
Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara
Persona

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar
Esai

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

by Pande Susan
October 17, 2026
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali
Esai

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

by Angga Wijaya
October 17, 2026
Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir
Buku Tatkala

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir

Judul: Panduan Lumut -- Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putri Wijaya ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM
Esai

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

by I Wayan Artika
October 16, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co