5 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

Andre Syahreza by Andre Syahreza
September 4, 2026
in Kritik Sastra
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Andre Syahreza

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah dan tidak jujur. Tidak ada ekosistem sastra yang sepenuhnya homogen. Menganggapnya homogen justru menciptakan kesalahan yang sama dengan yang sedang dikritik, yaitu menyederhanakan sesuatu yang kompleks agar lebih mudah dicerna.

Kenyataannya tidak sesederhana itu.

Di dalam ekosistem yang terus mendorong percepatan dan penyederhanaan, masih ada karya-karya yang menolak bergerak mengikuti arusnya. Keberadaan mereka bukan bukti bahwa tekanan itu tidak nyata. Justru sebaliknya. Seperti tanaman yang tumbuh melalui retakan aspal, keberadaan mereka adalah bukti betapa kerasnya permukaan yang harus mereka tembus. Tekanan itu nyata. Karena itu, ketahanan mereka layak diperhatikan.

Laut Bercerita karya Leila S. Chudori terbit pada 2017 dan pada Juli 2025 mencapai cetakan ke-100 dengan lebih dari 500.000 eksemplar terjual. Angka itu mengejutkan bukan karena besarnya, melainkan karena cara novel itu menemukan pembacanya. Leila sendiri mengakui bahwa ia tidak menyangka novelnya akan dibaca generasi yang lebih muda. Ia memperkirakan pembacanya adalah mereka yang memiliki ingatan langsung terhadap peristiwa 1998.

Kenyataannya, popularitas novel itu di kalangan generasi Z tidak bisa dijelaskan semata-mata oleh logika algoritma. Novel tentang penghilangan paksa aktivis mahasiswa tidak memenuhi formula yang biasanya menghasilkan engagement massal: ia tidak memberi resolusi emosional yang bersih, tidak menawarkan karakter yang mudah dicintai, dan tidak bisa dipreteli menjadi kutipan yang hidup terpisah dari keseluruhannya tanpa kehilangan sesuatu yang esensial.

Bahwa ia justru menembus ekosistem digital dengan cara yang tidak dirancang oleh logika platform mana pun adalah bukti bahwa ada kelaparan terhadap sesuatu yang lebih dari sekadar kenyamanan emosional. Kelaparan yang tidak bisa sepenuhnya dipadamkan oleh ekosistem Sastra Perhatian.

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas karya Eka Kurniawan bekerja dengan cara yang serupa tapi berbeda. Novel itu tidak meminta pembaca untuk menyukai tokoh-tokohnya. Kekerasan di dalamnya tidak berfungsi sebagai dramaturgi yang membangkitkan simpati. Ia hadir sebagai fakta kehidupan yang absurd dan tidak minta dimengerti. Dalam ekosistem yang terus meminta karakter yang “relatable” dan konflik yang mudah diposisikan, Seperti Dendam memilih untuk tidak menurut. Bahwa ia tetap dibaca dan diperbincangkan adalah tanda bahwa sebagian pembaca memang sedang mencari sesuatu yang tidak mau menyederhanakan dirinya.

Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari adalah kasus yang paling instruktif dari semua yang ada di sini. Novel yang pertama terbit 1982 itu kembali dicetak ulang dalam edisi hardcover pada 2025, lebih dari empat dekade setelah pertama kali terbit. Kebangkitan itu tidak bisa dijelaskan semata-mata oleh logika algoritma.

Ronggeng Dukuh Paruk tidak memiliki elemen yang biasanya memicu rekomendasi massal. Bukan genre yang mudah dikategorikan, bukan narasi yang memberi resolusi emosional yang bersih, bukan karya yang bisa dipreteli menjadi kutipan viral tanpa kehilangan sesuatu yang esensial. Ada sesuatu dalam Ronggeng Dukuh Paruk yang bekerja di luar jangkauan metrik keterlibatan mana pun.

Dukuh Paruk dengan Srintil dan Rasus di dalamnya terus memanggil pembaca baru karena ia berbicara tentang sesuatu yang tidak bisa diselesaikan oleh satu bacaan saja. Bagaimana cara kekuasaan menghancurkan yang paling tidak berdaya, cara tubuh perempuan menjadi medan pertarungan yang tidak pernah ia minta, cara sejarah mewariskan dirinya kepada orang-orang yang bahkan tidak mengerti bahwa mereka sedang diwariskan sesuatu.

Dari ranah puisi, Joko Pinurbo adalah kasus yang paling paradoksal. Puisi-puisinya menggunakan objek sehari-hari. Celana, sarung, telepon genggam, dan kaleng Khong Guan sebagai pintu masuk menuju tema-tema yang jauh lebih besar: kesepian, kematian, ironi kehidupan modern, hubungan manusia dengan yang transenden.

Kesederhanaan bahasanya tidak pernah berarti kedangkalan gagasannya. Ia membuktikan bahwa keterbacaan dan kedalaman tidak harus bertentangan. Puisi-puisi Jokpin bisa dibaca oleh mereka yang sebelumnya tidak pernah membaca puisi, tanpa harus menyederhanakan dirinya menjadi kutipan motivasional. Okky Madasari menulis bahwa Jokpin adalah “penyair yang berhasil menangkap kegelisahan zaman, termasuk generasi Z”,  dan kegemaran generasi Z terhadap puisi yang tidak mau menyederhanakan dirinya adalah sinyal yang tidak boleh diabaikan.

Kemudian ada Madilog yang perlu disebut bukan sebagai karya sastra melainkan sebagai gejala. Teks filsafat yang ditulis Tan Malaka dalam penjara pada 1943 itu kini dibaca kembali oleh generasi muda Indonesia yang mencari kerangka berpikir yang tidak disederhanakan oleh format media sosial. Ini fakta bahwa sebuah teks yang menuntut pembacaan perlahan, berpikir keras, dan kesediaan untuk tidak setuju dengan diri sendiri masih dicari pembaca muda. Ini merupakan sinyal bahwa apa yang dicari sebagian pembaca muda bukan konfirmasi atas apa yang sudah mereka rasakan, melainkan alat untuk berpikir tentang sesuatu yang belum mereka mengerti.

Karya-karya ini tidak hidup di luar ekosistem Sastra Perhatian. Mereka hidup di dalamnya, menembus tekanannya, dan bertahan karena ada sesuatu dalam diri mereka yang tidak bisa direduksi menjadi formula semata. Keberadaan mereka tidak membatalkan diagnosis tentang Sastra Perhatian. Justru sebaliknya: mereka adalah ukuran seberapa besar tekanan itu sesungguhnya. Karena bertahan di bawah tekanan sebesar itu membutuhkan sesuatu yang luar biasa. Selama karya-karya semacam itu masih lahir dan masih menemukan pembacanya, ekosistem sastra Indonesia belum kehilangan segalanya. [T]

Penulis: Andre Syahreza
Editor: Adnyana Ole

BACA ARTIKEL SEBELUMNYA:

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [7]: Rezim Algoritma dan Pembubaran Standar Sastra
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [2]: Pintu yang Terbuka, Pagar yang Runtuh
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Tags: algoritmakritik sastrasastraSastra Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

Next Post

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

Andre Syahreza

Andre Syahreza

Penulis Indonesia yang pernah diundang ke negeri Belanda sebagai fellow researcher di The Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies untuk meneliti sejumlah karya Sastra Indonesia. Ia mengawali karier sebagai editor majalah djakarta! Kumpulan tulisannya diterbitkan dalam buku bertajuk “The Innocent Rebel” (Gagas Media—2006), “Black Interview” (Gagas Media—2008) dan “City of Fiction” (Gramedia—2010). Pada tahun 2023, ia merilis “Prosa Gerilya”, sebuah karya travel writing yang berkaitan dengan kisah hidup I Gusti Ngurah Rai. Pada tahun 2025 ia merilis “Semua Karena Nirankara?” (Penerbit Buku Kompas) yang merupakan karya perdananya dalam penulisan novel. Disusul karya sastra “Semesta Nekra” (Penerbit Buku Kompas) di tahun 2026.

Related Posts

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

by Andre Syahreza
September 2, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

by Andre Syahreza
August 30, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [7]: Rezim Algoritma dan Pembubaran Standar Sastra

by Andre Syahreza
August 26, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Semua tekanan yang sudah diuraikan dalam bagian-bagian sebelumnya bisa dibaca sebagai masalah-masalah yang terpisah. Namun semuanya adalah gejala dari satu...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

Read moreDetails

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
0
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [2]: Pintu yang Terbuka, Pagar yang Runtuh

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA tahun 1999, Seno Gumira Ajidarma menerbitkan kumpulan essay Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara. Judulnya adalah pernyataan sekaligus pengakuan,...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA masa Orde Baru, sebuah karya sastra tidak begitu saja bisa diterbitkan. Ia harus bergulat dengan dunia pemikiran, terjebak dalam...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Labirin Bahasa di Sekitar Kita
Bahasa

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

by I Made Sudiana
September 4, 2026
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang
Esai

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

by Andre Syahreza
September 4, 2026
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana
Opini

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang
Esai

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
Nusa Dua Memang Tiada Satunya
Esai

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot
Ulas Pentas

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

by Asmaran Dani
September 4, 2026
Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja
Kuliner

Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

MATAHARI pagi belum genap sejengkal naik ketika sebuah gerobak biru berhenti di pinggir Jalan Merak, Singaraja. Di belakangnya, truk-truk besar...

by Putu Gangga Pradipta
September 4, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Membaca Trilogi Kejujuran Wong Banyumas dari Dapur, Panggung, dan Mulut

Tubuh yang Bicara Sore di Banyumas tidak dimulai dengan jam. Ia dimulai dengan suara wajan. "Sesss" minyak panas ketemu adonan...

by Tri Nugroho Adi
September 4, 2026
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif
Ulas Rupa

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

by Hartanto
September 3, 2026
Gol versus Gul
Bahasa

Gol versus Gul

KITA teriak “gol” manakala tim sepak bola yang kita dukung memasukkan bola ke gawang lawan. Ketika bola mengenai tiang gawang,...

by I Made Sudiana
September 3, 2026
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana
Ulas Rupa

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

by I Wayan Westa
September 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co