24 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

Andre Syahreza by Andre Syahreza
September 2, 2026
in Kritik Sastra
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Andre Syahreza

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang boleh dipikirkan dan apa yang harus dibungkam.

Pada era platform digital, ancamannya bergeser menjadi lebih halus: manusia masih bebas berpikir, tapi ekosistem perhatian mengarahkan sedemikian rupa sehingga pemikiran yang lambat semakin sulit bertahan. Kini muncul ancaman yang lebih halus lagi. Tidak dalam bentuk larangan atau pengalihan perhatian, tapi sebuah tawaran yang sangat menarik, yaitu jalan keluar dari kesulitan berpikir itu sendiri.

Kecerdasan buatan generatif tidak datang ke dunia sastra Indonesia yang sehat lalu tiba-tiba merusaknya. Ia datang ke ekosistem yang sudah mengalami erosi panjang. Erosi standar, erosi keberanian kritik, erosi kesabaran pembaca. Dengan kata lain: ia tidak menciptakan penyakitnya. Ia adalah akselerator dari penyakit yang sudah lama ada. Dan justru karena itu, ia jauh lebih berbahaya dari yang biasanya diasumsikan.

Pembicaraan tentang AI dalam sastra hampir selalu terjebak pada dua pertanyaan yang kurang esensial: apakah AI bisa menulis karya yang bagus, dan apakah karya yang ditulis AI bisa dianggap seni. Keduanya adalah pertanyaan yang menarik secara filosofis, tapi keduanya melewatkan sesuatu yang lebih mendesak dan lebih konkret: apa yang terjadi pada proses berpikir manusia ketika jalan keluar instan dari setiap kebuntuan kreatif selalu tersedia?

Menulis bukan sekadar memindahkan gagasan yang sudah utuh dari kepala ke halaman. Dalam bentuknya yang paling dalam, menulis adalah cara manusia menemukan apa yang sebenarnya ia pikirkan. Banyak penulis baru memahami emosinya sendiri ketika mereka mencoba menyusunnya menjadi bahasa. Banyak gagasan paling penting lahir justru dari kebuntuan, dari jam-jam ketika kalimat yang tepat tidak datang, ketika struktur cerita tidak mau terbentuk, ketika sesuatu terasa benar tetapi belum bisa dijelaskan mengapa. Kebuntuan itu bukan gangguan dalam proses kreatif. Ia adalah proses kreatif itu sendiri.

AI generatif mampu memotong proses yang selama ini melelahkan dalam menulis. Justru di situlah persoalannya: ia hadir bukan sebagai sesuatu yang memaksa dari luar, melainkan sebagai kemudahan yang sulit ditolak.

Buntu di paragraf ketiga? Minta AI meneruskan. Tidak tahu bagaimana mengakhiri cerita? Minta AI mengusulkan beberapa opsi. Karakter terasa datar? Minta AI mendeskripsikan motivasi yang lebih kompleks. Satu per satu, bagian-bagian paling sulit dalam proses menulis mulai bisa dialihkan. Dan karena hasilnya sering kali tampak “cukup baik”, banyak orang gagal melihat apa yang sebenarnya hilang dalam proses itu.

Banyak yang khawatir hilangnya keaslian teks. Padahal yang paling berbahaya adalah hilangnya pengalaman manusia bergulat dengan pikirannya sendiri.

Di Indonesia, eksperimen dengan AI dalam penulisan sastra sudah dimulai. Pada 2023, penulis Dadang Ari Murtono mengerjakan proyek novela dengan bantuan AI. Ia menulis draf, lalu berdialog dengan sistem AI untuk mengembangkan cerita, mengambil sebagian kecil masukan yang terasa tepat dan menolak sisanya. Novela itu diterbitkan Indonesia Tera pada April 2024.

Temuan terpenting bukan pada kualitas novela itu sendiri, melainkan pada pengakuan yang muncul dalam prosesnya, bahwa AI cenderung menghasilkan teks yang “normatif, penuh pesan moral seperti pendakwah, dan bahkan menyerupai cerita populer yang sudah ada.” Itu cukup menjelaskan bahwa AI senada dengan apa yang telah dihasilkan oleh mekanisme algoritma. AI sejalan dengan Sastra Perhatian.

Pengakuan ini penting karena ia menunjukkan sesuatu yang lebih dari sekadar keterbatasan teknis. Ini menunjukkan ketidakmampuan AI dalam menghasilkan apa yang bisa disebut “ketidakefisienan yang produktif”: momen ketika penulis tidak tahu apa yang ingin ia katakan, lalu duduk bersama ketidaktahuannya itu cukup lama hingga sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya mulai terbentuk.

Persoalannya jauh melampaui kasus eksperimen seperti yang dilakukan Dadang, yang dengan sadar dan kritis mempertahankan posisinya sebagai pembuat keputusan estetik. Persoalan yang lebih besar adalah apa yang terjadi di skala massal, di platform penulisan online tempat ratusan ribu orang memproduksi konten setiap hari, di ekosistem print on demand yang tidak memiliki standar kurasi, di antara penulis yang sudah terbiasa memproduksi satu bab per hari untuk memenuhi jadwal platform.

Bagi mereka, AI bukan alat eksperimen, tapi solusi logistik. Dengan begitu, teks semakin mudah diproduksi dan semakin bebas dari kurasi. Di sinilah “inflasi kata”, salah satu akibat langsung dari Sastra Perhatian, mencapai titik paling ekstremnya. Tidak ada lagi yang berdiri di antara mesin dan teks kecuali keputusan manusia untuk segera menekan tombol publikasi.

Jika ledakan print on demand menghasilkan ratusan judul baru per bulan dari penulis manusia, AI generatif berpotensi menghasilkan ribuan dengan kecepatan yang tidak bisa disaingi manusia, dengan biaya yang mendekati nol, dan dengan hasil yang secara permukaan cukup menyerupai fiksi untuk lolos dari pengamatan pembaca yang tidak teliti.

Kata-kata tidak lagi membutuhkan manusia untuk lahir. Dalam konteks ini, pertanyaan tentang standar tidak lagi relevan. Karena tidak ada lagi subjek yang bisa dimintai pertanggungjawaban atas pilihan estetiknya.

Menulis sastra membutuhkan waktu, kesabaran, dan kemampuan bertahan dalam kebingungan. Di situlah biasanya sebuah karya menemukan bentuknya. Tetapi platform digital menuntut kecepatan, pasar menghargai volume, dan AI menawarkan kemudahan instan. Sedikit demi sedikit, proses kreatif dipersingkat hingga yang tersisa hanyalah produksi teks yang lancar tanpa pergulatan yang sungguh-sungguh.

Dalam ekosistem Sastra Perhatian, AI tidak datang sebagai invasi dari luar. Ia datang sebagai kelanjutan yang logis, langkah mutakhir dari proses panjang yang sudah dimulai jauh sebelum mesin belajar menulis kalimat pertamanya. Selama bertahun-tahun, ekosistem ini terus memberi hadiah kepada kecepatan dan produktivitas, sambil membuat proses kreatif yang lambat dan penuh kebuntuan terasa semakin tak berguna.

Pertanyaannya bukan apakah AI akan mengakhiri sastra. Sastra tidak semudah itu lenyap. Pertanyaannya adalah: setelah bertahun-tahun tekanan untuk menulis lebih cepat, lebih mudah, dan lebih produktif, masih adakah cukup banyak penulis yang percaya bahwa kesulitan bukan sesuatu yang harus dihindari, melainkan bagian penting dari lahirnya sastra itu sendiri? [T][Bersaqmbung]

Penulis: Andre Syahreza
Editor: Adnyana Ole

BACA ARTIKEL SEBELUMNYA:

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [7]: Rezim Algoritma dan Pembubaran Standar Sastra
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [2]: Pintu yang Terbuka, Pagar yang Runtuh
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Tags: algoritmaAndre Syahrezakritik sastrasastraSastra Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

Next Post

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Andre Syahreza

Andre Syahreza

Penulis Indonesia yang pernah diundang ke negeri Belanda sebagai fellow researcher di The Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies untuk meneliti sejumlah karya Sastra Indonesia. Ia mengawali karier sebagai editor majalah djakarta! Kumpulan tulisannya diterbitkan dalam buku bertajuk “The Innocent Rebel” (Gagas Media—2006), “Black Interview” (Gagas Media—2008) dan “City of Fiction” (Gramedia—2010). Pada tahun 2023, ia merilis “Prosa Gerilya”, sebuah karya travel writing yang berkaitan dengan kisah hidup I Gusti Ngurah Rai. Pada tahun 2025 ia merilis “Semua Karena Nirankara?” (Penerbit Buku Kompas) yang merupakan karya perdananya dalam penulisan novel. Disusul karya sastra “Semesta Nekra” (Penerbit Buku Kompas) di tahun 2026.

Related Posts

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

by Andre Syahreza
September 4, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

by Andre Syahreza
August 30, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [7]: Rezim Algoritma dan Pembubaran Standar Sastra

by Andre Syahreza
August 26, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Semua tekanan yang sudah diuraikan dalam bagian-bagian sebelumnya bisa dibaca sebagai masalah-masalah yang terpisah. Namun semuanya adalah gejala dari satu...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

Read moreDetails

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
0
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [2]: Pintu yang Terbuka, Pagar yang Runtuh

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA tahun 1999, Seno Gumira Ajidarma menerbitkan kumpulan essay Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara. Judulnya adalah pernyataan sekaligus pengakuan,...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA masa Orde Baru, sebuah karya sastra tidak begitu saja bisa diterbitkan. Ia harus bergulat dengan dunia pemikiran, terjebak dalam...

Read moreDetails
Next Post
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian
Politik

Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian

PEMILIHAN Perbekel Desa Guwang 2026 telah usai. I Ketut Karben Wardana meraih suara terbanyak dalam pemungutan suara yang berlangsung pada...

by Dede Putra Wiguna
September 23, 2026
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif
Ulas Rupa

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

by Emi Suy
September 23, 2026
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik
Esai

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”
Pop

Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”

SETELAH merilis single “Air Keras”, Jangar melanjutkan perjalanan menuju album penuh kedua mereka, Raja Pasir, dengan melepas dua lagu sekaligus,...

by Dede Putra Wiguna
September 22, 2026
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga
Esai

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati
Esai

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

by Angga Wijaya
September 22, 2026
Guci Nasib di Titik Nol Kota
Ulas Rupa

Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

by I Wayan Westa
September 22, 2026
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi
Ulas Film

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir
Lingkungan

Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir

DENPASAR | TATKALA.CO -- Ekosistem pesisir dan hutan mangrove di Bali kini menghadapi ancaman krisis lingkungan yang sangat serius, salah...

by tatkala
September 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

by Chusmeru
September 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co