19 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
in Pameran
Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati

Dari kiri ke kanan: I Made Galung Wiratmaja, I Made Mahendra Mangku, dan I Wayan Arnata | Foto: tatkala.co/Budarsana

TIGA perupa asal Sukawati, I Made Mahendra Mangku, I Wayan Arnata, dan Made Galung Wiratmaja, mempertemukan karya mereka dalam pameran bersama bertajuk “Impulse” di Kalpataru Art Space, Sanur Art Hub. Pameran yang berlangsung di ruang kreatif independen yang menggabungkan galeri seni, area kuliner, serta tempat bersantai ini dibuka oleh Marlow Bandem pada 19 Agustus 2026 dan berlangsung hingga 15 September 2026.

Pertemuan ketiga perupa tersebut menjadi bagian penting dari gagasan yang ingin dibangun Sanur Art Hub sebagai ruang perjumpaan seni. “Kehadiran karya Made Mahendra Mangku, Wayan Arnata, dan Galung Wiratmaja dalam Impulse menjadi pengalaman istimewa baginya, sekaligus mempertemukan perjalanan dan proses panjang mereka dalam satu ruang. Sanur Art Hub kami hadirkan sebagai ruang terbuka bagi seni, kreativitas, dan pertemuan—tempat seniman, komunitas, generasi muda, dan masyarakat dapat bertemu dan berkembang bersama,” kata Founder sekaligus Art Director Sanur Art Hub, I Wayan “Apel” Hendrawan, dalam konferensi pers, Minggu, 16 Agustus 2026.

Ketika memasuki ruang pamer, perbedaan medium menjadi hal pertama yang mudah dikenali. Dalam pameran kali ini, ketiga perupa datang dengan medium dan pengalaman artistik yang berbeda. Mahendra Mangku bekerja dengan kertas, Wayan Arnata menggunakan benang, sementara Galung Wiratmaja menghadirkan karya di atas kanvas. Namun, ada satu hal yang mempertemukan mereka, yaitu abstraksi sebagai bahasa visual sekaligus ruang untuk membaca kembali pengalaman, lingkungan, tradisi, dan hubungan manusia dengan kehidupan.

Dari kiri ke kanan: I Wayan Arnata, I Made Galung, I Wayan “Apel” Hendrawan, I Made Mahendra Mangku, dan Vincent Chandra | Foto: tatkala.co/Budarsana

Pertemuan ketiganya bukan sekadar menyatukan karya dalam satu ruang pamer. Ketiga perupa itu memiliki kedekatan pengalaman yang membuat mereka seperti berada dalam satu frekuensi. Ketiganya tumbuh di Sukawati, salah satu kantong seni rupa dan kriya penting di Bali. Berasal dari lingkungan tersebut, mereka mengenal tradisi, material, serta cara pandang terhadap seni yang kemudian berkembang menjadi praktik personal masing-masing.

Bagi Made Mahendra Mangku, tempat pameran ini menjadi ruang baru yang selalu memberikan rangsangan tersendiri. Ia merasakan kehadiran Sanur Art Hub sebagai dorongan untuk menciptakan karya yang mampu berdialog dengan ruang. Baginya, karya bukan sekadar eksplorasi material, tetapi juga bentuk respons emosional dan spiritual terhadap tempat.

Pendekatan itu tampak dalam karya-karyanya yang banyak berbicara tentang alam dan lingkungan. Namun, ia tidak menunjuk pada satu tempat tertentu, melainkan mengajak melihat persoalan yang lebih luas, yaitu bagaimana manusia memperlakukan alam dan bagaimana keharmonisan dapat terus dijaga.

Dalam prosesnya, Mahendra Mangku memberi ruang besar kepada air dan warna untuk menemukan jalannya sendiri di atas kertas. Teknik blobor, ketika pigmen dan air dibiarkan merambat secara bebas, menjadi bagian penting dari bahasa visualnya. Namun, kebebasan itu bukan berarti tanpa kendali.

Di balik proses tersebut terdapat pengalaman panjang yang membuatnya mampu membaca kapan aliran warna menghasilkan komposisi yang tepat dan kapan harus dihentikan. Spontanitas kemudian bertemu dengan kepekaan yang terbentuk dari puluhan tahun berhadapan dengan air, kertas, warna, dan ruang.

I Made Mahendra Mangku bersama karyanya dalam pameran bersama bertajuk “Impulse” di Kalpataru Art Space, Sanur Art Hub | Foto: tatkala.co/Budarsana

I Wayan Arnata bersama karyanya dalam pameran bersama bertajuk “Impulse” di Kalpataru Art Space, Sanur Art Hub | Foto: tatkala.co/Budarsana

Made Galung Wiratmaja bersama karyanya dalam pameran bersama bertajuk “Impulse” di Kalpataru Art Space, Sanur Art Hub | Foto: tatkala.co/Budarsana

Abstraksi Mahendra Mangku pun terasa dekat dengan gagasan tentang alam yang selalu bergerak. Ia tidak berusaha meniru bentuk alam secara langsung, tetapi menangkap ritme dan energinya. “Alam hadir bukan sebagai objek yang harus digambarkan, melainkan sebagai pengalaman yang diterjemahkan melalui warna dan gerak,” ucap Mahendra Mangku.

Dari kertas dan aliran warna, perjalanan pameran kemudian beralih pada material yang memiliki hubungan lebih dekat dengan ingatan dan praktik ritual. Wayan Arnata membawa pengalaman yang berbeda. Ia menggunakan benang sebagai medium utama, sebuah pilihan yang memiliki hubungan erat dengan pengalaman masa kecilnya. Arnata tumbuh dengan ingatan tentang sang kakek, seorang sangging, yang mempraktikkan teknik anyaman serat atau benang (ngodi) pada sarana ritual.

Pengalaman tersebut kemudian menjadi bagian dari perjalanan artistiknya. Helai demi helai benang, garis demi garis, disusun menjadi bahasa visual yang berbicara tentang keterhubungan, ketekunan, dan warisan budaya. Dalam pameran “Impulse”, Arnata juga menghadirkan dua karya baru, “Resonansi” dan “Lintasan Lelaku”. Keduanya menjadi bentuk respons terhadap ruang Sanur Art Hub sekaligus berhubungan dengan perjalanan personal sang perupa.

Bagi Arnata, benang bukan sekadar material. Di dalamnya terdapat ingatan tentang praktik ritual dan pengetahuan yang diwariskan. Ngodi sendiri merupakan bagian dari ruang sakral yang berkaitan dengan perjalanan atma menuju pembebasan. Ketika teknik tersebut dipindahkan ke dalam praktik seni rupa kontemporer, Arnata seolah membawa kembali warisan tersebut ke dalam konteks baru.

“Saya tidak sekadar mengulang tradisi, tetapi menerjemahkannya melalui bahasa abstrak yang personal. Tradisi menjadi akar, sementara abstraksi menjadi ruang untuk terus mencari bentuk baru,” papar Arnata.

Karya I Made Mahendra Mangku dalam pameran bersama bertajuk “Impulse” di Kalpataru Art Space, Sanur Art Hub | Foto: tatkala.co/Budarsana

Jika Mahendra Mangku berangkat dari alam dan Arnata dari ingatan tentang material serta ritual, Galung Wiratmaja memilih jalan yang berbeda. Kanvas menjadi ruang baginya untuk menghadirkan figur, siluet, dan berbagai kemungkinan hubungan manusia dengan lingkungan sosialnya. Bentuk-bentuk yang muncul sering kali tidak diselesaikan secara utuh. Justru ketidakselesaian itu memberi ruang bagi pengunjung untuk membaca dan menafsirkan karya dari pengalaman masing-masing.

Galung banyak berangkat dari kehidupan sosial di sekitarnya. Figur manusia hadir sebagai pemantik emosi, bukan sebagai gambaran yang harus dibaca secara tunggal. “Saya tetap membiarkan bentuk tetap terbuka, sehingga pengunjung memiliki kebebasan untuk menemukan maknanya sendiri,” sebut Galung.

Tiga pendekatan tersebut kemudian dibaca oleh penulis pameran, Vincent Chandra, melalui tajuk “Impulse”. Ia menyebut “Impulse” sebagai pertemuan antara dorongan dan denyut. Dorongan bersifat personal dan spontan, sementara denyut bersifat kolektif dan mampu bertahan lintas generasi.

Kerangka tersebut menjadi dasar membaca karya ketiga perupa. Rangsangan dapat datang dari medium, memori, lingkungan, maupun warisan budaya. Rangsangan itu kemudian melahirkan dorongan untuk berkarya. Setelah melewati proses panjang, dorongan tersebut mengendap menjadi bahasa visual yang lebih tenang dan matang.

Perbedaan pendekatan ketiganya justru membuat “Impulse” menjadi menarik. Mahendra Mangku bergerak melalui alam dan spontanitas warna, Arnata melalui ingatan, benang, serta warisan ritual, sementara Galung melalui figur dan relasi sosial. Tiga jalan berbeda itu bertemu dalam satu wilayah, yaitu abstraksi yang tidak sepenuhnya meninggalkan pengalaman dan akar budaya.

Karya I Wayan Arnata dalam pameran bersama bertajuk “Impulse” di Kalpataru Art Space, Sanur Art Hub | Foto: tatkala.co/Budarsana

Menurut Vincent, ketiga perupa ini merupakan bagian dari generasi yang sejak dekade 1990-an tetap setia mengembangkan bahasa abstrak. Mereka sama-sama tumbuh di Sukawati, tetapi menempuh perjalanan pendidikan dan artistik yang berbeda. Perbedaan itu justru menunjukkan bahwa abstraksi di Bali tidak lahir dari satu sumber pemikiran saja.

Dalam sejarah seni rupa Bali, abstraksi juga memiliki perjalanan yang panjang. Pengaruh pendidikan seni modern dari Yogyakarta bertemu dengan tradisi, mitologi, dan identitas lokal. Pertemuan tersebut melahirkan bentuk-bentuk baru yang tidak sepenuhnya Barat, tetapi juga tidak sekadar mengulang tradisi. “Pada titik ini, abstraksi menjadi lebih dari sekadar gaya. Ia menjadi bahasa untuk mempertemukan pengalaman personal dengan akar budaya,” ucap Vincent.

Hal itu terlihat pada ketiga perupa. Menurut Vincent, Mahendra Mangku menemukan hubungan antara spontanitas warna dan keharmonisan alam. Arnata membawa ingatan tentang ngodi dan tradisi ritual ke dalam susunan benang yang kontemporer. Galung menghadirkan figur yang tidak selesai sebagai refleksi tentang identitas dan kehidupan sosial yang terus berubah.

“Ketiganya menunjukkan bahwa tradisi tidak selalu harus hadir dalam bentuk yang mudah dikenali. Ia dapat hidup dalam cara seorang seniman memilih material, mengolah garis, menyusun komposisi, maupun merespons lingkungan,” paparnya.

Vincent menyebutkan, pendekatan tersebut juga berhubungan dengan gagasan Tri Hita Karana tentang menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Nilai tersebut tidak selalu ditampilkan secara literal, tetapi terasa sebagai kesadaran yang mengalir dalam karya.

Karya Made Galung Wiratmaja dalam pameran bersama bertajuk “Impulse” di Kalpataru Art Space, Sanur Art Hub | Foto: tatkala.co/Budarsana

Vincent menegaskan, “Impulse” bukan hanya tentang tiga perupa dan karya abstrak mereka. Pameran ini juga menjadi pertemuan antara pengalaman masa lalu dan pencarian masa kini. Mahendra Mangku, Arnata, dan Galung Wiratmaja telah menemukan karakter masing-masing. Namun, perjalanan mereka belum berhenti. Justru ketika seorang seniman telah memiliki bahasa visual yang kuat, tantangan berikutnya adalah bagaimana bahasa itu tetap berkembang dan tidak berubah menjadi sekadar formula.

Tajuk “Impulse” pun menemukan kaitannya dengan perjalanan ketiga perupa tersebut. Seni membutuhkan dorongan untuk bergerak, sekaligus denyut yang membuatnya tetap hidup. Seperti Kalpataru—pohon kehidupan yang terus tumbuh ketika akarnya dirawat—seni abstrak pun membutuhkan akar yang kuat sekaligus keberanian untuk terus mencari. Tradisi bukan sesuatu yang harus dibekukan, melainkan sumber energi yang dapat terus diterjemahkan melalui pengalaman zaman.

“Melalui “Impulse”, tiga perupa dari Sukawati ini memperlihatkan bahwa abstraksi dapat berbicara tentang alam, manusia, tradisi, ingatan, dan identitas tanpa harus kehilangan kebebasan artistiknya. Tiga jalan berbeda, satu denyut yang sama yaitu menjaga agar seni terus tumbuh, bergerak, dan menemukan kemungkinan baru,” paparnya.

Menutup rangkaian pembicaraan, Apel Hendrawan menambahkan bahwa kehadiran Kalpataru Art Space juga berangkat dari cita-cita untuk menghadirkan ruang seni yang tumbuh secara organik. Sanur selama ini dikenal sebagai kawasan pariwisata yang semakin berkembang, tetapi di tengah hiruk-pikuk tersebut masih terdapat ruang hijau, persawahan, dan suasana yang tenang. Sanur Art Hub mencoba mempertemukan suasana tersebut dengan kehidupan seni.[T]

Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto

Tags: I Made Mahendra MangkuI Wayan ArnataImpulseKalpataru Art SpaceMade Galung WiratmajaMarlow Bandem
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

Next Post

Bangunan Tinggi di Bali: Kritik terhadap Solusi yang Terlalu Sederhana

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

by Nyoman Budarsana
October 18, 2026
0
BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

Empat seniman dari Bali dan Korea Selatan menggelar pameran kolaboratif bertajuk BURU-JIWA-BUMI di Nata-Citta Art Space (N-CAS), Institut Seni Indonesia...

Read moreDetails

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

by tatkala
October 14, 2026
0
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

Read moreDetails

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
0
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

Read moreDetails

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
0
Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

Read moreDetails

10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

by Nyoman Budarsana
October 7, 2026
0
10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

SUDAH mengunjungi pameran Ten Ubud Local Artists di Sthala Ubud Bali? Jumlah karya yang disajikan tidak terlalu banyak memang, namun...

Read moreDetails

Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

Sore itu, suasana hotel sudah semakin gelap. Pameran bertajuk “Udhar Banda Karma: Unshackling the Karma of Tradition” belum juga dibuka....

Read moreDetails

“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

by tatkala
September 17, 2026
0
“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

JAKARTA | TATKALA.CO -- Lukisan berjudul The Wings of the Sanghyang Dance (2026) karya Putu Fajar Arcana, berhasil mengalahkan ribuan...

Read moreDetails

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
0
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

Read moreDetails

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
0
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

Read moreDetails

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

by Satria Aditya
August 30, 2026
0
Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

SELAMA hampir tiga bulan, sejak awal Juni 2026, empat perupa muda asal Bali yaitu Made Ari, Made Arsana, Reka Biambara...

Read moreDetails
Next Post
Bangunan Tinggi di Bali: Kritik terhadap Solusi yang Terlalu Sederhana

Bangunan Tinggi di Bali: Kritik terhadap Solusi yang Terlalu Sederhana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU
Esai

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta
Ulas Rupa

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

by Emi Suy
October 19, 2026
Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental
Olahraga

Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental

KETIKA musik mulai diputar, tangan para peserta terangkat di atas kepala. Mereka bertepuk tangan mengikuti irama lagu “Gemu Fa Mi...

by Nyoman Budarsana
October 19, 2026
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata
Esai

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya mengucapkan selamat kepada IGA Darma Putra yang telah menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Prancis. Selamat...

by Angga Wijaya
October 19, 2026
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra
Esai

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya
Ulas Musik

Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

ADA masa ketika malam adalah malam. Setelah matahari tenggelam, kehidupan perlahan menurunkan volumenya. Warung mulai menutup pintu, pasar berhenti berisik,...

by Ahmad Sihabudin
October 19, 2026
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media
Esai

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

by Angga Wijaya
October 18, 2026
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana
Esai

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan
Ulas Rupa

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto
Cerpen

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

by Sigit Susanto
October 18, 2026
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta
Esai

Cara Kerja Kekuasaan Meredam Kritik Publik

“No Rocky, No Party” BARANGKALI jargon tersebut masih sangat relate hingga hari ini. Pasalnya, nama Rocky Gerung kembali menjadi diskursus...

by Teddy Chrisprimanata Putra
October 18, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co