SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya mengucapkan selamat kepada IGA Darma Putra yang telah menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Prancis. Selamat atas pencapaian akademik tersebut.
Esai ini berangkat dari pengalaman saya pernah belajar Antropologi Budaya di Fakultas Sastra Universitas Udayana, meski tidak menuntaskan pendidikan sarjana. Saya tidak hendak menentukan siapa yang paling benar dalam perdebatan mengenai istilah selam dan nyelam dalam tradisi Bali. Saya ingin ikut belajar dan menyampaikan pandangan dari sudut antropologi.
Ada satu istilah yang disampaikan Darma Putra pada bagian akhir tulisannya di Tatkala.co, yakni kerendahan hati epistemik. Bagi saya, istilah itu bukan sekadar penutup yang terdengar akademis. Ia mengingatkan bahwa pengetahuan selalu memiliki batas. Kita perlu berani mengakui batas itu, termasuk ketika berhadapan dengan bidang ilmu yang tidak kita tekuni secara mendalam.
Kata yang Tidak Hidup Sendirian
Perbincangan mengenai istilah selam dan nyelam mengemuka setelah I Made Sudiana menulis tentang terminologi tersebut dalam tradisi Bali. Tulisannya mengajak pembaca menengok istilah yang akrab dalam kehidupan sehari-hari, seperti nyama selam, krama nyelam, dan olahan selam. Istilah-istilah itu tidak hanya berkaitan dengan bahasa, tetapi juga dengan cara orang Bali mengenali, menyebut, dan membangun hubungan dengan komunitas Muslim.
Tulisan Sudiana kemudian mendapat tanggapan dari IGA Darma Putra melalui esai berjudul Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana. Darma Putra menyoroti pentingnya dasar sumber, ketelitian dalam membaca naskah, sejarah pemakaian kata, dan konteks ketika sebuah istilah digunakan. Ia mengingatkan bahwa kesimpulan tentang sejarah bahasa atau hubungan sosial tidak cukup dibangun dari dugaan yang belum ditopang bukti memadai.
Bagi saya, perbedaan penekanan itu justru membuka ruang belajar. Kata memang dapat ditelusuri melalui kamus, naskah, dan dokumen lama. Namun, kata juga hidup di mulut manusia, hadir dalam percakapan, berubah mengikuti zaman, dan memperoleh makna melalui pengalaman sosial. Sebuah istilah mungkin memiliki sejarah yang panjang, tetapi pemakaiannya hari ini tidak selalu identik dengan makna yang pernah dimilikinya pada masa lampau.
Karena itu, kita tidak cukup hanya bertanya dari mana sebuah kata berasal. Kita juga perlu mengetahui siapa yang menggunakannya, dalam situasi apa kata itu diucapkan, dan bagaimana orang yang mendengarnya memahami kata tersebut.
Filologi dan Antropologi, Dua Jalan Memahami Kebudayaan
Filologi memiliki peran penting dalam menelusuri sejarah teks dan bahasa. Melalui pemeriksaan naskah, perbandingan varian, penanggalan, kolofon, serta sumber-sumber pendukung, peneliti dapat menguji kapan sebuah teks disalin, bagaimana teks mengalami perubahan, dan apa yang mungkin dapat disimpulkan dari bukti yang tersedia. Ketelitian seperti ini penting agar cerita tentang masa lalu tidak berdiri di atas perkiraan semata.
Antropologi menempuh jalan yang berbeda, meski tidak harus bertentangan. Antropologi berusaha memahami manusia dalam kehidupan sosialnya. Ia memperhatikan praktik, ingatan, relasi, simbol, serta cara masyarakat memberi arti kepada pengalaman mereka. Dalam kajian tentang istilah nyama selam, misalnya, antropologi dapat meneliti bagaimana istilah itu dipakai dalam percakapan, bagaimana maknanya berbeda antargenerasi, dan apakah penggunaannya berubah di lingkungan yang berbeda.
Perbedaan metode bukan alasan untuk saling meniadakan. Filologi dapat membantu menjelaskan jejak tertulis suatu istilah, sedangkan antropologi dapat mengamati bagaimana istilah itu bekerja dalam kehidupan masyarakat. Kajian sejarah bahasa pun dapat mempertemukan keduanya. Ketika sumber-sumber tersebut dibaca secara berdampingan, pemahaman kita tentang kebudayaan justru menjadi lebih utuh.
Yang perlu dijaga ialah batas kesimpulan. Sebuah naskah dapat memberi petunjuk tentang gagasan pada masa tertentu, tetapi belum tentu mewakili pengalaman seluruh masyarakat. Sebaliknya, pengalaman masa kini tidak otomatis menjadi bukti asal-usul kata berabad-abad lalu. Setiap jenis bukti memiliki kekuatan dan keterbatasan.
Loloan dan Ingatan tentang Bali yang Majemuk
Saya teringat pada tulisan saya di Kanalbali.id tentang Kampung Loloan, sebuah kawasan di Negara, Jembrana, yang memiliki sejarah panjang komunitas Muslim di Bali Barat. Dalam tulisan itu, saya merujuk buku I Wayan Reken, Sejarah Perkembangan Islam di Bali, Khususnya di Jembrana, yang merekam kisah kedatangan orang-orang Bugis-Makassar dan orang Melayu ke Jembrana dalam gelombang yang berbeda.
Dalam catatan Reken, para pendatang tidak hanya hadir sebagai kelompok yang menetap di suatu tempat. Mereka juga menjadi bagian dari kehidupan ekonomi dan pertahanan kerajaan Jembrana. Loloan berkembang sebagai kawasan perdagangan sebelum Negara tumbuh sebagai pusat kota. Kisah-kisah semacam ini menunjukkan bahwa sejarah Bali dibentuk oleh perjumpaan, perpindahan manusia, dan hubungan lintas komunitas.
Masjid Jami’ Loloan di Loloan Timur, yang disebut dibangun pada 1848, menjadi salah satu penanda sejarah komunitas tersebut. Catatan tentang tanah wakaf dan tokoh-tokoh yang terlibat memperlihatkan pentingnya dokumen serta ingatan lokal dalam merekonstruksi masa lalu. Di sisi lain, kesenian Joget Janturan, yang memadukan unsur joged Bali dan pencak silat Bugis, memberi gambaran bagaimana perjumpaan budaya dapat meninggalkan jejak dalam praktik seni.
Dalam menulis tentang Loloan, saya belajar bahwa sejarah komunitas tersimpan dalam beragam sumber, mulai dari dokumen dan bangunan hingga tradisi serta cerita lisan. Semua perlu didengarkan dan diperiksa dengan hati-hati. Cerita lisan tidak harus diterima tanpa kritik, tetapi juga tidak layak diabaikan hanya karena tidak berbentuk naskah tertulis.
Kisah Loloan tentu tidak membuktikan asal-usul istilah nyama selam, selam, atau nyelam. Saya tidak bermaksud menjadikannya bukti etimologis. Loloan saya hadirkan sebagai pengingat bahwa hubungan Hindu-Muslim di Bali memiliki sejarah sosial yang konkret. Komunitas Muslim bukan unsur yang berada di luar sejarah Bali, melainkan bagian dari perjalanan panjang pulau ini. Sejarah tersebut perlu dibaca melalui beragam sumber dan pengalaman, tanpa memaksakan satu kisah untuk menjelaskan semua hal.
Toleransi yang Hidup dalam Keseharian
Istilah olahan selam juga menarik diperhatikan karena berkaitan dengan makanan dan praktik keseharian. Makanan bukan hanya perkara rasa atau bahan yang dimasak. Ia berhubungan dengan keyakinan, aturan agama, kebiasaan keluarga, ekonomi, dan cara orang menerima tamu. Dalam masyarakat yang beragam, urusan makanan dapat menjadi ruang tempat perbedaan dinegosiasikan.
Kita dapat melihat bagaimana keluarga atau tetangga menyesuaikan hidangan ketika mengadakan kegiatan bersama. Kita juga dapat meneliti bagaimana pedagang memahami kebutuhan pembeli yang berbeda keyakinan, atau bagaimana istilah tertentu dipakai untuk menandai jenis makanan yang dianggap sesuai bagi kelompok tertentu. Namun, praktik semacam itu perlu diperiksa di tempat dan situasi yang nyata. Tidak semua komunitas memiliki kebiasaan yang sama.
Dengan cara itu, istilah olahan selam tidak hanya menjadi bahan perdebatan tentang kata. Ia dapat menjadi pintu masuk untuk memahami hubungan antara agama, kebudayaan material, dan kehidupan bersama. Penelitian semacam ini membutuhkan percakapan dengan orang-orang yang terlibat, pengamatan terhadap praktik sehari-hari, serta kehati-hatian agar pengalaman satu kelompok tidak dianggap mewakili semuanya.
Kita sering menyebut Bali sebagai ruang toleransi dan kerukunan. Sebutan itu dapat menjadi kebanggaan, tetapi juga perlu terus diuji melalui pengalaman konkret. Toleransi bukan hanya sesuatu yang diwariskan dalam ungkapan atau slogan. Ia hadir dalam keputusan sehari-hari, dalam cara orang memperlakukan tetangga, menghormati kebutuhan ibadah, menyelesaikan perselisihan, dan memberi ruang kepada orang lain untuk menjalani keyakinannya.
Memahami toleransi secara antropologis bukan berarti mencari pertentangan. Kita berusaha melihat bagaimana kerukunan dibentuk, siapa yang merawatnya, dan apa yang membuatnya bertahan. Praktik baik patut dicatat, sementara ketegangan yang muncul juga perlu dipahami. Toleransi pun tidak berhenti sebagai citra yang harus selalu tampak sempurna.
Istilah nyama selam dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk mempelajari hubungan tersebut. Namun, kita perlu menempatkannya di antara banyak unsur lain, seperti sejarah lokal, kekerabatan, perdagangan, adat, agama, dan pengalaman hidup. Persaudaraan tidak hanya berada dalam kata. Ia juga tumbuh dari tindakan yang berulang, dari rasa percaya yang dibangun, dan dari kesediaan menghadapi perbedaan tanpa merendahkan orang lain.
Kerendahan Hati Epistemik
Perdebatan mengenai selam dan nyelam mengingatkan saya bahwa satu persoalan kebudayaan dapat dibaca melalui beberapa disiplin ilmu. Setiap disiplin membawa pertanyaan, metode, dan perangkat analisisnya sendiri. Kita tidak perlu menguasai semuanya untuk ikut belajar, tetapi kita perlu mengetahui batas pengetahuan yang kita miliki dan menghormati kerja ilmiah orang lain.
Saya membaca tanggapan Darma Putra bukan sebagai ajakan untuk menutup pembicaraan, melainkan sebagai pengingat agar klaim tentang sejarah dan bahasa ditopang oleh bukti yang bisa diperiksa. Saya juga melihat tulisan Sudiana sebagai pemantik untuk membicarakan kembali istilah yang hidup dalam masyarakat Bali. Keduanya dapat menjadi awal percakapan yang lebih luas, selama perbedaan pendapat tidak berubah menjadi upaya saling meniadakan.
Saya menulis esai ini bukan untuk menggurui para peneliti yang menekuni bidangnya. Saya hanya ingin mengingatkan diri sendiri bahwa memahami kebudayaan menuntut kesediaan mendengarkan, memeriksa sumber, mengajukan pertanyaan, dan menerima kemungkinan bahwa pengetahuan kita belum lengkap. Membaca kebudayaan bukan hanya menemukan makna dalam kata atau teks, melainkan juga memahami manusia yang memberi makna kepada keduanya. Untuk itu, kita perlu membaca tulisan sekaligus mendengarkan apa yang dijalani, diingat, dan diwariskan manusia dalam kehidupan. Sebab, di balik kata, ada manusia. [T]
BACA JUGA:































