WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan hanya berkata “Kancitan”. Lelaki itu duduk tegap bersila di atas trotoar yang berjarak sembilan meter dari halte. Berjarak empat meter dari rumah ibadah di hadapannya. Dan hanya dua setengah meter dari rumah makan di sisi kiri tubuhnya.
Tidak ada yang tahu kapan lelaki itu datang.
Tiba-tiba saja ia sudah ada di sana, seperti foto calon Wali Kota di tiang listrik yang mendadak muncul setiap pemilu. Pagi pertama orang-orang melihatnya, ia duduk sambil menatap kosong ke arah rumah ibadah. Siang harinya masih di sana. Malamnya tetap di sana. Besoknya juga begitu. Sampai enam bulan kemudian kota menjadi heboh.
Perawakan lelaki itu tidak sedap di mata. Rambutnya kucel seperti sikat kakus berumur enam tahun. Punggungnya hitam kotor seperti dinding sungai musi. Panu di wajahnya tampak seperti pulau kemaro dilihat dari buku atlas dunia. Matanya cekung seperti tidak pernah tidur sejak zaman reformasi. Ekspresinya mirip kucing sehabis tertabrak mobil travel. Telapak kakinya pecah-pecah, seolah ia berjalan berjuta kilometer tanpa alas kaki.
Ia tidak pernah meminta uang. Ia tidak pernah meminta makan. Tetapi lelaki itu seperti membuktikan ucapan Tuhan di setiap kitab suci. Rezeki sudah ada yang mengatur. Kalau lapar, orang-orang memberinya makan. Kalau haus, ada saja yang menyodorkan air mineral. Kalau hujan, beberapa bocah pengemis di sekitar rumah ibadah yang prihatin memayunginya seperti sedang mengawal tokoh agama.
Aneh sekali. Ia tetap duduk bersila. Tangannya diletakkan di atas ke dua pahanya beralas kain handuk kusam yang sudah getas karena disengat matahari musim kemarau sehingga sempaknya menjadi transparan. Kalau mengantuk, ia memejamkan mata sambil mendengkur kecil. Sesekali bibirnya yang seperti perumahan subsidi kumuh bergerak pelan. “Kancitan.”
Suaranya begitu halus sampai orang harus mendekat tepat di depan mukanya untuk mendengar jelas kata itu. “Kancitan.” Kata itu menjadi candu. Warga kota ketagihan mendegar kata itu keluar dari mulut lelaki yang konon dianggap ajaib.
Tidak ada tambahan kata lain. Tidak pernah. Hanya itu. Warga yang menyaksikan melalui siaran instagram humas pemerintahan kota mulai menjadikan lelaki itu bahan taruhan.
“Kalau dia ngomong selain Kancitan, aku traktir pempek.”
“Kalau dia nyanyi gimana?”
“Mana mungkin!”
Lelaki itu menjadi pusat perhatian. Membuat warga melupakan banjir di musim hujan yang mengepung jalan dan perumahan.
Orang-orang yang sudah kenyang dari rumah makan Pak Rodes, mendapat hiburan. Mereka sering mendekati lelaki itu untuk memberi uang logam seribu rupiah ke pangkuannya. Namun lelaki itu hanya tersenyum setiap kali mendengar suara logam jatuh tanpa peduli jumlah uangnya.
Senyumnya tidak lebar, tetapi aneh. Seperti orang yang tahu rahasia mengatasi masalah banjir dan membasmi peredaran sabu-sabu di kota yang padat penduduk miskin. Tetapi lelaki itu malas menjelaskan.
Pak Rodes, pemilik rumah makan Sepuluh Bintang, menjadi satu-satunya orang paling gelisah di kota. Rumah makan miliknya terkenal karena ayam bakar madu yang bisa membuat orang lupa cicilan motor. Keberadaan lelaki itu berdekatan dengan rumah makan milik Pak Rodes. Sejak lelaki itu muncul, Pak Rodes merasa terganggu meskipun rumah makannya masih saja ramai seperti biasa.
“Lelaki sinting, membuat darah tinggi,” keluh Pak Rodes sambil mengipas ayam bakar madu. Istrinya, justru kasihan.
“Kasih makan saja, Pak. Jangan banyak ngomel.”
“Lah, kalau dikasih makan! Dia malah betah!”
Pak Rodes menuruti istrinya. Memberi makan lelaki itu sebagai rutinitas terkutuk. Pukul sebelas siang ia mengantar makan yang sudah disajikan di wadah Sterofoam. Pukul delapan malam menjelang tutup ia kembali datang membawa teh hangat dan lauk sisa. Namun setiap kali diberi makanan, lelaki itu hanya tersenyum.
“Kancitan.”
Kadang Pak Rodes kesal sendiri.
“Nama kakekmu Kancitan?!”
Lelaki itu tetap tersenyum.
“Kancitan.”
Pernah suatu malam Pak Rodes mencoba mengusirnya.
“Pergi sana! Cari trotoar lain!”
Seekor kucing hitam liar melompat dari tong sampah dan mencakar kaki Pak Rodes sampai terjungkal ke selokan. Semenjak peristiwa itu Pak Rodes tidak peduli, namun ia masih memberi makan lelaki itu rutin menuruti perintah istrinya.
**
Warga kota semakin heboh, lantas langsung percaya lelaki itu kemungkinan memang betul-betul ajaib.
“Jangan-jangan dia asisten Tuhan yang diturunkan dari langit untuk mengamati perkembangan manusia di abad 21.” Bisik tukang parkir di rumah makan Sepuluh Bintang.
“Iya juga? Bau tubuhnya saja seperti bangkai usus ayam tetapi betah di dekatnya, dan semakin nagih kalau ia mengucapkan kata itu,” jawab Driver Ojek Online yang sedang menunggu orderan Gofood ayam bakar madu.
Kabar mistis cepat menyebar. Orang-orang mulai datang sekadar melihat lelaki itu. Ada yang memotretnya diam-diam, merekam video untuk disebarkan di media sosial. Konten kreator bahkan membuat keterangan. “Manusia Kancitan” videonya ditonton ratusan ribu orang.
Keadaan kota semakin heboh. Anak-anak rela bolos sekolah demi ingin melihat lelaki itu. Anehnya para guru juga tertarik ingin melihat lelaki itu. Mereka meninggalkan kelas bersama para murid untuk membersamai massa yang mengerumuni lelaki itu. Mereka rela kepanasan disengat matahari demi menyaksikan kata yang keluar dari mulut lelaki itu.
Bahkan beberapa politisi yang hendak mencalonkan Wali Kota menjadikan lelaki itu konten kampanye.
“Kalau terpilih nanti, saya berjanji akan membuatkan kandang khusus, dan tempat duduk yang dilengkapi kanopi supaya betah menyaksikan sosok manusia kancitan itu. Lelaki ajaib itu akan menjadi pusat pariwisata di kota,” ucap salah-satu calon Wali Kota yang disinyalir memiliki bisnis sabu-sabu di setiap kelurahan.
Semenjak kedatangan para politisi, recehan dan uang kertas semakin menumpuk di sekeliling tubuhnya. Namun lelaki itu tidak pernah menyentuh uangnya. Anak-anak pengemis mengambilnya. Bahkan menjadi jatah preman yang bergilir bergantian setiap malam merampas uang lelaki itu, memasukkan uang bertumpuk-tumpuk ke kantong celana sambil batuk pura-pura tidak tahu.
Lelaki itu tetap hanya berkata.
“Kancitan.”
Perdebatan soal arti Kancitan lebih menarik perhatian warga kota daripada isu pemilihan Wali Kota. Sampai akhirnya datang seorang dosen linguistik dari Universitas Kuning Menyala disingkat UKM. Namanya Doktor Botol. Ia datang membawa buku catatan tebal dan wajah terlalu serius untuk meneliti di pinggir trotoar. Selama sebelas jam ia duduk di depan lelaki itu.
“Kancitan,” kata lelaki itu.
Doktor Botol mengangguk-angguk.
“Hmmm.”
“Kancitan.”
“Hmmm.”
“Kancitan.”
“Hmmm.”
Orang-orang yang sedang mengantri ayam bakar madu di rumah makan Sepuluh Bintang menunggu penuh harap. Akhirnya Sang Doktor berdiri sambil membetulkan kacamatanya.
“Menurut analisis semiotik saya, kata Kancitan merupakan bentuk simbolik dari kehampaan eksistensial manusia urban.”
Doktor Botol pulang setelah diserbu kata “kancitan” sebanyak tiga ribu kali sejak melakukan penelitian dari pukul 08.00 WIB sampai menjelang maghrib. Hasil penelitian Doktor Botol sudah tersebar di grup Whatsapp menjadi bahan obrolan tanpa jeda.
Panas datang. Hujan turun. Jalanan banjir. Remaja putus sekolah. Peredaran sabu-sabu menyerbu pemuda kota. Panggilan ibadah terus dikumandangkan. Harga telur ayam naik. Sedangkan lelaki itu tidak pernah peduli. Ia tetap setia bersila sambil berkata.
“Kancitan.”
***
Tepat di hari Jumat pagi datang perintah dari pemerintah kota untuk mengamankan lelaki itu, sebab pemilu segera dimulai. Kehadiran lelaki itu bisa membuat warga GOLPUT. Sebab sudah pasti warga kota lebih memilih mengunjungi lelaki itu daripada pergi memasukkan surat yang dicoblos ke kotak suara.
Mobil dinas sosial datang. Para petugas turun. Mereka membawa alat setrum mengantisipasi lelaki itu mengamuk. Warga berkumpul menontoni lelaki itu hendak diangkut ke atas mobil. Petugas kini hanya berjarak 1 cm dari lelaki itu.
“Bapak ikut kami dulu ya, nanti setelah pemilihan Wali Kota selesai, kami antar bapak duduk bersila lagi di sini.” Ucap petugas paling gemuk.
Lelaki itu tersenyum.
“Kancitan.”
Petugas mencoba memegang tangannya. Tiba-tiba lelaki itu dengan mudahnya berdiri untuk pertama kalinya setelah hampir satu tahun duduk bersila. Warga serentak mundur. Tubuh lelaki itu ternyata tinggi. Ia menatap rumah ibadah itu beberapa detik setelah toa dari atas menara memberikan informasi saldo keuangan yang diumumkan setiap jumat.
Lelaki itu diamankan. Menjadi tahanan di rumah dinas sosial untuk sementara waktu, sampai Wali Kota baru terpilih. Di separuh perjalanan, lelaki itu merampas pulpen dan map dari tangan petugas. Menuliskan sepotong kata.
“Kancitan”
Para petugas dinas sosial membaca sepotong kata itu dari atas mobil yang biasa digunakan untuk mengangkut gepeng. Para petugas tiba-tiba mendadak seperti digigit Zombie.
Lima petugas dinas sosial yang baru lolos P3K itu menggema takzim saling bersahutan.
”Kancitan….”
”Kancitan….”
”Kancitan……………..” [T]
Penulis: Asmaran Dani
Editor: Adnyana Ole































