16 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

Asmaran Dani by Asmaran Dani
August 16, 2026
in Cerpen
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

Ilustrasi tatkala.co | Canva

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan hanya berkata “Kancitan”. Lelaki itu duduk tegap bersila di atas trotoar yang berjarak sembilan meter dari halte. Berjarak empat meter dari rumah ibadah di hadapannya. Dan hanya dua setengah meter dari rumah makan di sisi kiri tubuhnya.

Tidak ada yang tahu kapan lelaki itu datang.

Tiba-tiba saja ia sudah ada di sana, seperti foto calon Wali Kota di tiang listrik yang mendadak muncul setiap pemilu. Pagi pertama orang-orang melihatnya, ia duduk sambil menatap kosong ke arah rumah ibadah. Siang harinya masih di sana. Malamnya tetap di sana. Besoknya juga begitu. Sampai enam bulan kemudian kota menjadi heboh.

Perawakan lelaki itu tidak sedap di mata. Rambutnya kucel seperti sikat kakus berumur enam tahun. Punggungnya hitam kotor seperti dinding sungai musi. Panu di wajahnya tampak seperti pulau kemaro dilihat dari buku atlas dunia. Matanya cekung seperti tidak pernah tidur sejak zaman reformasi. Ekspresinya mirip kucing sehabis tertabrak mobil travel. Telapak kakinya pecah-pecah, seolah ia berjalan berjuta kilometer tanpa alas kaki.

Ia tidak pernah meminta uang. Ia tidak pernah meminta makan. Tetapi lelaki itu seperti membuktikan ucapan Tuhan di setiap kitab suci. Rezeki sudah ada yang mengatur. Kalau lapar, orang-orang memberinya makan. Kalau haus, ada saja yang menyodorkan air mineral. Kalau hujan, beberapa bocah pengemis di sekitar rumah ibadah yang prihatin memayunginya seperti sedang mengawal tokoh agama.

Aneh sekali. Ia tetap duduk bersila. Tangannya diletakkan di atas ke dua pahanya beralas kain handuk kusam yang sudah getas karena disengat matahari musim kemarau sehingga sempaknya menjadi transparan. Kalau mengantuk, ia memejamkan mata sambil mendengkur kecil. Sesekali bibirnya yang seperti perumahan subsidi kumuh bergerak pelan. “Kancitan.”

Suaranya begitu halus sampai orang harus mendekat tepat di depan mukanya untuk mendengar jelas kata itu. “Kancitan.” Kata itu menjadi candu. Warga kota ketagihan mendegar kata itu keluar dari mulut lelaki yang konon dianggap ajaib.

Tidak ada tambahan kata lain. Tidak pernah. Hanya itu. Warga yang menyaksikan melalui siaran instagram humas pemerintahan kota mulai menjadikan lelaki itu bahan taruhan.

“Kalau dia ngomong selain Kancitan, aku traktir pempek.”

“Kalau dia nyanyi gimana?”

“Mana mungkin!”

Lelaki itu menjadi pusat perhatian. Membuat warga melupakan banjir di musim hujan yang mengepung jalan dan perumahan.

Orang-orang yang sudah kenyang dari rumah makan Pak Rodes, mendapat hiburan. Mereka sering mendekati lelaki itu untuk memberi uang logam seribu rupiah ke pangkuannya. Namun lelaki itu hanya tersenyum setiap kali mendengar suara logam jatuh tanpa peduli jumlah uangnya.

Senyumnya tidak lebar, tetapi aneh. Seperti orang yang tahu rahasia mengatasi masalah banjir dan membasmi peredaran sabu-sabu di kota yang padat penduduk miskin. Tetapi lelaki itu malas menjelaskan.

Pak Rodes, pemilik rumah makan Sepuluh Bintang, menjadi satu-satunya orang paling gelisah di kota. Rumah makan miliknya terkenal karena ayam bakar madu yang bisa membuat orang lupa cicilan motor. Keberadaan lelaki itu berdekatan dengan rumah makan milik Pak Rodes.  Sejak lelaki itu muncul, Pak Rodes merasa terganggu meskipun rumah makannya masih saja ramai seperti biasa.

“Lelaki sinting, membuat darah tinggi,” keluh Pak Rodes sambil mengipas ayam bakar madu. Istrinya,  justru kasihan.

“Kasih makan saja, Pak. Jangan banyak ngomel.”

“Lah, kalau dikasih makan! Dia malah betah!”

Pak Rodes menuruti istrinya. Memberi makan lelaki itu sebagai rutinitas terkutuk. Pukul sebelas siang ia mengantar makan yang sudah disajikan di wadah Sterofoam. Pukul delapan malam menjelang tutup ia kembali datang membawa teh hangat dan lauk sisa. Namun setiap kali diberi makanan, lelaki itu hanya tersenyum.

“Kancitan.”

Kadang Pak Rodes kesal sendiri.

“Nama kakekmu Kancitan?!”

Lelaki itu tetap tersenyum.

“Kancitan.”

Pernah suatu malam Pak Rodes mencoba mengusirnya.

“Pergi sana! Cari trotoar lain!”

Seekor kucing hitam liar melompat dari tong sampah dan mencakar kaki Pak Rodes sampai terjungkal ke selokan. Semenjak peristiwa itu Pak Rodes tidak peduli, namun ia masih memberi makan lelaki itu rutin menuruti perintah istrinya.

**

Warga kota semakin heboh, lantas langsung percaya lelaki itu kemungkinan memang betul-betul ajaib.

“Jangan-jangan dia asisten Tuhan yang diturunkan dari langit untuk mengamati perkembangan manusia di abad 21.” Bisik tukang parkir di rumah makan Sepuluh Bintang.

“Iya juga? Bau tubuhnya saja seperti bangkai usus ayam tetapi betah di dekatnya, dan semakin nagih kalau ia mengucapkan kata itu,” jawab Driver Ojek Online yang sedang menunggu orderan Gofood ayam bakar madu.

Kabar mistis cepat menyebar. Orang-orang mulai datang sekadar melihat lelaki itu. Ada yang memotretnya diam-diam, merekam video untuk disebarkan di media sosial. Konten kreator bahkan membuat keterangan. “Manusia Kancitan” videonya ditonton ratusan ribu orang.

Keadaan kota semakin heboh. Anak-anak rela bolos sekolah demi ingin melihat lelaki itu. Anehnya para guru juga tertarik ingin melihat lelaki itu. Mereka meninggalkan kelas bersama para murid untuk membersamai massa yang mengerumuni lelaki itu. Mereka rela kepanasan disengat matahari demi menyaksikan kata yang keluar dari mulut lelaki itu.

Bahkan beberapa politisi yang hendak mencalonkan Wali Kota menjadikan lelaki itu konten kampanye.

“Kalau terpilih nanti, saya berjanji akan membuatkan kandang khusus, dan tempat duduk yang dilengkapi kanopi supaya betah menyaksikan sosok manusia kancitan itu. Lelaki ajaib itu akan menjadi pusat pariwisata di kota,” ucap salah-satu calon Wali Kota yang disinyalir memiliki bisnis sabu-sabu di setiap kelurahan.

Semenjak kedatangan para politisi, recehan dan uang kertas semakin menumpuk di sekeliling tubuhnya. Namun lelaki itu tidak pernah menyentuh uangnya. Anak-anak pengemis mengambilnya. Bahkan menjadi jatah preman yang bergilir bergantian setiap malam merampas uang lelaki itu, memasukkan uang bertumpuk-tumpuk ke kantong celana sambil batuk pura-pura tidak tahu.

Lelaki itu tetap hanya berkata.

“Kancitan.”

Perdebatan soal arti Kancitan lebih menarik perhatian warga kota daripada isu pemilihan Wali Kota. Sampai akhirnya datang seorang dosen linguistik dari Universitas Kuning Menyala disingkat UKM. Namanya Doktor Botol. Ia datang membawa buku catatan tebal dan wajah terlalu serius untuk meneliti di pinggir trotoar. Selama sebelas jam ia duduk di depan lelaki itu.

“Kancitan,” kata lelaki itu.

Doktor Botol mengangguk-angguk.

“Hmmm.”

“Kancitan.”

“Hmmm.”

“Kancitan.”

“Hmmm.”

Orang-orang yang sedang mengantri ayam bakar madu di rumah makan Sepuluh Bintang menunggu penuh harap. Akhirnya Sang Doktor berdiri sambil membetulkan kacamatanya.

“Menurut analisis semiotik saya, kata Kancitan merupakan bentuk simbolik dari kehampaan eksistensial manusia urban.”

Doktor Botol pulang setelah diserbu kata “kancitan” sebanyak tiga ribu kali sejak melakukan penelitian dari pukul 08.00 WIB sampai menjelang maghrib. Hasil penelitian Doktor Botol sudah tersebar di grup Whatsapp menjadi bahan obrolan tanpa jeda.

Panas datang. Hujan turun. Jalanan banjir. Remaja putus sekolah. Peredaran sabu-sabu menyerbu pemuda kota. Panggilan ibadah terus dikumandangkan. Harga telur ayam naik. Sedangkan lelaki itu tidak pernah peduli. Ia tetap setia bersila sambil berkata.

“Kancitan.”

***

Tepat di hari Jumat pagi datang perintah dari pemerintah kota untuk mengamankan lelaki itu, sebab pemilu segera dimulai. Kehadiran lelaki itu bisa membuat warga GOLPUT. Sebab sudah pasti warga kota lebih memilih mengunjungi lelaki itu daripada pergi memasukkan surat yang dicoblos ke kotak suara.

Mobil dinas sosial datang. Para petugas turun. Mereka membawa alat setrum mengantisipasi lelaki itu mengamuk. Warga berkumpul menontoni lelaki itu hendak diangkut ke atas mobil. Petugas kini hanya berjarak 1 cm dari lelaki itu.

“Bapak ikut kami dulu ya, nanti setelah pemilihan Wali Kota selesai, kami antar bapak duduk bersila lagi di sini.” Ucap petugas paling gemuk.

Lelaki itu tersenyum.

“Kancitan.”

Petugas mencoba memegang tangannya. Tiba-tiba lelaki itu dengan mudahnya berdiri untuk pertama kalinya setelah hampir satu tahun duduk bersila. Warga serentak mundur. Tubuh lelaki itu ternyata tinggi. Ia menatap rumah ibadah itu beberapa detik setelah toa dari atas menara memberikan informasi saldo keuangan yang diumumkan setiap jumat.

Lelaki itu diamankan. Menjadi tahanan di rumah dinas sosial untuk sementara waktu, sampai Wali Kota baru terpilih. Di separuh perjalanan, lelaki itu merampas pulpen dan map dari tangan petugas. Menuliskan sepotong kata.

“Kancitan”

Para petugas dinas sosial membaca sepotong kata itu dari atas mobil yang biasa digunakan untuk mengangkut gepeng. Para petugas tiba-tiba mendadak seperti digigit Zombie.

Lima petugas dinas sosial yang baru lolos P3K itu menggema takzim saling bersahutan.
”Kancitan….”
”Kancitan….”
”Kancitan……………..” [T]

Penulis: Asmaran Dani
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

Next Post

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

Asmaran Dani

Asmaran Dani

Alumni Pascasarjana Sosiologi. Saat ini sedang aktif menulis fiksi di komunitas Opus Sastra Kota Palembang.

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian
Panggung

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

ANAK-ANAK itu menebar senyum ceria. Di tengah halaman hijau yang teduh, mereka berlari, bermain, bernyanyi, dan berinteraksi bersama teman-temannya. Ruang...

by Nyoman Budarsana
August 16, 2026
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

by Asmaran Dani
August 16, 2026
Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan
Ulas Rupa

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

SAYA berkesempatan menyaksikan pameran tunggal Sutjipto Adi (Mas Adi) yang dibuka pada malam 14 Agustus 2026, di Maya Sanur, Denpasar....

by I Wayan Sujana Suklu
August 16, 2026
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu
Ulas Musik

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

by I Made Kartawan
August 16, 2026
Wujudkan Desa Ramah Lingkungan ——Intip Keseruan KKN Udayana di Desa Sanding Gianyar
Pendidikan

Wujudkan Desa Ramah Lingkungan ——Intip Keseruan KKN Udayana di Desa Sanding Gianyar

MAHASISWA Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Udayana tahun 2026 melaksanakan serangkaian program kerja di Desa Sanding, Kecamatan...

by tatkala
August 16, 2026
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang
Khas

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara
Tualang

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
Sinergi Universitas Udayana dan Desa Lebih: Bekali Keluarga Hadapi Tantangan Kesehatan Mental Remaja di Era Digital
Pendidikan

Sinergi Universitas Udayana dan Desa Lebih: Bekali Keluarga Hadapi Tantangan Kesehatan Mental Remaja di Era Digital

KESEHATAN mental remaja tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan atau sekolah. Keluarga memiliki peran penting dalam mengenali perubahan yang...

by tatkala
August 16, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Mengejar Embun Upas ——Saat Manusia Memburu Keajaiban yang Hanya Bertahan Sebentar di Dieng

Bagaimana mungkin satu fenomena alam yang sama dapat menjadi keajaiban bagi seseorang dan penderitaan bagi orang lain? Kita menunggu embun...

by Tri Nugroho Adi
August 16, 2026
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah
Khas

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan
Bahasa

Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

 “Kenapa nama anakmu keindia-indiaan banget? Agak aneh rasanya.” Pertanyaan dan pernyataan itu terlontar dari seorang teman yang penasaran saat mendengar...

by I Made Sudiana
August 15, 2026
Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz
Esai

Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

SAYA kembali membuka buku The Interpretation of Cultures karya Clifford Geertz setelah membaca sebuah berita tentang seorang lelaki yang tewas...

by Angga Wijaya
August 15, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co