Pengantar singkat:
Buku puisi Soto Otak
ODGJ, tidak pernah menjadi “isu besar” yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia, kesetaraan sebagai warga negara di negeri ini. ODGJ, masih bisa ditemukan di perkotaan, desa. Beberapa dapat terlihat, beberapa tak atau tak cukup diketahui orang, “jerit sakit” – nya ditahan, diabaikan …. Kemiskinan, lingkungan yang tak bersahabat … membuat mereka “terbuang”, terkurung, terpasung … lebih dari penjahat kakap.
ODGJ ada, namun tidak ada. Padahal, banyak dari mereka bisa hidup produktif, “normal dengan obat”, jika negara bersungguh-sungguh hadir, maka mereka perlu disuarakan, mereka tak layak ditutup-tutupi, mereka bukan aib. Tan Lioe Ie lewat buku puisi Soto Otak, menyuarakan mereka, dengan “spektrum luas”, tidak “steril” tentang ODGJ: ada Chairi Anwar, Ikon wisata Gate of Heaven dan Stairway to Heaven, Led Zeppelin, Pink Floyd, mitologi, tragedi ’65, air mata di surga (Bali dijuluki the last paradise) dll. Ironis, di kawasan wisata internasional Bali, ada ODGJ dipasung, dikurung, dan ini tak mustahil ada juga di daerah lain. Pengalaman Tan Lioe Ie pernah menjadi ODGJ (juga riset lapangan dll), berperan sebagai kunci masuk ke dunia ODGJ, pengalaman yang tak diinginkan siapa pun.
Puisi Tan Lioe Ie:
Soto Otak
Penyesalanmu. Jam
tua dari gudang tua. Jarumnya,
kaki patah langkah. Detiknya
pukulan
keras pada Gong
bergaung di telinganya
yang jauh menyusup
ke sel-sel otak. Beku
serupa otak sapi
di freezer
sebelum mendidih
dalam kuah
soto otak.
Soto yang hilang
rasa. Jiwa
serpihan kaca diterbangkan
puting beliung
berputar seperti
baling-baling
helikopter rusak. Jatuh
di tubuh sempit
penjara jiwa yang luas. Tubuh
sempit itu kini bumi. Serpihan
kaca jiwa membesar
membentur
tubuh yang bumi
serupa helikopter
patah baling-baling
menghujam bumi. Pijaran
api. Panas serupa
yang mendidihkan
soto otak. Suara hujaman helikopter
di tubuh yang bumi
mengalir bersama darah, plasma, sampai di telinga
otak menerjemahkannya:
Dengung tawon raksasa, gedubyar, duar, bam, bum, bam, bum
Bum Bum Bum
Bumbung
jangkrik. Liang
telinga membesar
bumbung jangkrik terbuka.
Dia kini jangkrik
bertarung dengan
jangkrik lain
di bagian diri
yang tak dikenalnya
di tengah sorak-sorai dunia. Dunia
yang dilupa dan
melupakannya.
Suara jangkrik menambah riuh telinga. Otak
bingung menerjemahkan
begitu banyak suara-suara
berkelindan. Otak
super lelah. Sakit
dikunyah-kunyah
tajam giginya. Otak
menduga-duga
cemas yang tak terduga.
Cemasnya
cemasmu beda,
melintas di jalur
yang tak pernah sua.
Kauharap ia di sini
untuk apa?
Surga dan neraka
yang tak dikenal? Tak
juga kaukenal?
Kaukunyah-kunyah
otakmu. Sakit
sakit yang beda
dari sakitnya
Sakit
yang jauh dari obat
pun sobat.
Kaumenunggu dan menunggunya
dalam harap
dalam cemas
Cemasnya
Cemasmu beda
Tak ada titik sua.
Kau telah lelah
pun dia, maka
bersandar kalian pada lupa.
*Diinspirasi lagu Wish You Were Here, Pink Floyd dan “kisah” seputarnya terkait Syd Barret.
***
Ulasan IRZI:
Soto Otak: Hidangan Batin Paling Chaos yang Pernah Ada
Gengs, kalau kamu kira puisi itu cuma soal bunga, rembulan, dan mantan, berarti kamu belum nyobain racikan puisi “Soto Otak” dari Tan Lioe Ie. Ini puisi bukan main-main. Serius, ini bukan sekadar sajian kata—ini literary fine dining dengan plating absurd, aroma overthinking, dan aftertaste trauma yang nempel di langit-langit batin. Bayangin: kamu duduk di meja, dikasih semangkuk soto, tapi otaknya otak sendiri, kuahnya air mata dan keringat eksistensial. Selamat makan, eh—merenung.
Langsung dari baris pertama, kita udah disuguhi amuse-bouche yang pedas: “Penyesalanmu. Jam tua dari gudang tua.” Wow, starter-nya langsung dark aged emotion, fermentasi dari masa lalu yang nggak pernah expired. Jarum jamnya patah, tapi masih bunyi tik-tok kayak notifikasi dari mantan yang tiba-tiba chat “lagi apa?” Padahal kita tahu, dia bukan datang buat ngobrol. Dia datang buat menggonggong di telinga, seperti gong yang Tan sebut—bunyi yang nggak ngasih solusi, cuma bikin pusing kepala.
Trus, masuk ke menu utama: otak sapi beku. Tapi tenang, ini bukan kuliner biasa, ini emotional protein. Otaknya nggak disajikan begitu saja, gengs. Dibekuin dulu di freezer of regret, baru dipanasin dalam kuah mendidih. Teknik ini dalam gastronomi bisa disebut sous-vide trauma—dimatangkan perlahan dalam tekanan memori. Rasanya? Kayak habis buka chat lama di WhatsApp, terus scroll ke bagian kamu nunggu dia bales, tapi ternyata dia udah seen dari 2019.
Dan tunggu dulu, garnish-nya bukan daun bawang. Tan kasih topping helikopter rusak yang jatuh ke tubuh sempit yang jadi bumi. What? Iya, kayak gitu metafora Tan. Ini plating mental breakdown yang out of the box. Baling-balingnya nggak muter lagi, artinya otak udah nggak sinkron, sistem saraf crash, kayak kamu pas ngadepin realitas hidup pasca-LDR gagal. Pijaran api yang muncul bukan dari dapur, tapi dari dalam dada. Bukan spicy dari cabai rawit, tapi dari rasa cemas yang direbus 100 derajat tanpa pengaduk.
Terus, suara-suara muncul: gedubyar, duar, bum bum bum—bukan suara petasan, tapi auditory hallucination yang udah overcooked. Otak udah kayak panci bocor, semua suara masuk, nggak ada saringan. Liang telinga membesar, berubah jadi bumbung jangkrik. This is insane and brilliant. Di dunia fine dining, kita kenal konsep immersive experience, nah, ini immersive anxiety. Pembaca dibikin seolah-olah suara jangkrik itu bukan cuma di telinga si tokoh, tapi juga di kuping kita. Hening? Kagak. Ini ramai tapi sendirian. Kayak kamu lagi nongkrong tapi nggak bisa cerita apa-apa karena semua orang udah sibuk ngelawak dan kamu masih stuck di perasaan yang nggak selesai.
Terus, muncul punchline psikologis paling epik: “Cemasnya, cemasmu beda.” BOOM. Ini quote yang cocok jadi caption IG pas kamu upload foto kopi hitam dan langit mendung, padahal yang kamu minum es kopi susu dan hatimu lebih panas dari kuah soto. Beda orang, beda rasa, beda cara ngegodok perasaan. Kayak sambal, gengs—level 1 buat yang belum siap, level 10 buat yang udah kebal luka batin. Tan ngajarin kita bahwa bahkan dalam satu meja kehidupan, kita nggak selalu makan dari piring yang sama.
Dan akhirnya, ketika semua udah lelah, semua bumbu udah keluar, semua kuah udah menyusut—yang tersisa cuma satu: lupa. Tapi lupa di sini bukan pencuci mulut yang manis. Dia bukan dessert, dia semacam clear palate yang hambar tapi dibutuhkan. Kayak air putih habis makan rawon ekstra kluwek: nggak ada rasa, tapi kamu butuh itu biar bisa lanjut hidup. Di puisi ini, lupa adalah bentuk kompromi terakhir antara dua otak yang udah overheat dan nggak bisa nyambung lagi.
Jadi, buat kamu yang selama ini mikir puisi itu cuma buat anak sastra ngopi senja, coba deh baca “Soto Otak”. Ini puisi kayak masakan fusion antara batin yang ringkih dan teknik masak lambat—lama, pedih, dan penuh tekanan. Habis baca ini, kamu nggak cuma kenyang makna, tapi juga ngerasa kayak baru selesai sesi terapi. Bedanya, ini gratis dan lebih gurih.
***
Puisi Tan Lioe Ie:
Dunia Lain
Ia masih muda
dibakar matahari. Ia
tetap hidup. Ia
tak bersinar
seperti musisi
yang meratapi bulan itu. Ia
membuka rahasia
Rahasia dunianya:
Ada naga menemaninya. Tapi,
dia bukan Mulan
perempuan melegenda itu. Ia
rimba tak dikenal
dalam laut tak terduga.
Ada warung mie
tempatnya makan
pembeli yang lain
hilang dicuri gelap
Gelap penglihatannya
diwarnai
malam dunia
lain. Yang dibangun
atau terbangun? Tak
ada LSD, seperti
pada yang meratapi
bulan. Terpenjara?
Mereka orang-orang
merdeka
di dunia lain. Tubuh
ada dan tak ada
telapak kaki
tak kenal aduh
dicungkil pisau
yang mendadak
tumpul. Ingatan
kabur dan kabur
hilang
dalam rimba rahasia
dunia lain
dunia kaum
merdeka.
dunia yang
tak hendak kumasuki. Kau?
Merdeka dalam penjajahan, ragumu.
Dunia merdeka
bayang-bayang
cemas. Mata
tak buta
meraba-raba. Tak
ada yang tersentuh. Tak
ada. Pikiran
melesat tersesat
dalam pekat rahasia. Dan
aku
masih tak hendak
memasuki dunia yang
dibangun
atau terbangun
oleh atau pada
yang hidup
dibakar matahari pun
yang meratapi bulan.
*Diinspirasi seorang teman dan lagu Shine on You Crazy Diamond, Pink Floyd.
*LSD (Lysergic Acid Diethylamide) “dari sisi” hidup Syd Barrett.
***
Ulasan IRZI:
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
“Ia masih muda / dibakar matahari. Ia / tetap hidup.” Tapi hidup macam apa? Di baris pembuka puisi Dunia Lain, Tan Lioe Ie langsung menancapkan realitas yang setengah nyata, setengah delirium: ada tokoh, mungkin nyata, mungkin kamu, yang terbakar oleh dunia tapi tak juga menyala. Ini bukan tentang kebangkitan atau kepahlawanan—ini tentang eksistensi dalam bentuk yang paling absurd dan paling sunyi. Seperti gema gitar Gilmour dalam Shine On You Crazy Diamond, puisinya membuka ruang pelan-pelan, dengan suasana murung dan misterius, mengaburkan batas antara kewarasan dan kelumpuhan jiwa. Di sinilah jantung puisi berdetak: bukan untuk memberi jawaban, tapi mengajukan satu dunia lain yang terasa terlalu akrab.
Tan Lioe Ie, penyair asal Bali yang juga dikenal sebagai pemusik puisi, tak pernah menulis dengan gaya megafon. Puisinya kerap memilih jalan sunyi, memasuki pembaca lewat atmosfer, bukan argumentasi. Ia adalah penerima Bali Jani Nugraha (2022), dan lewat buku puisinya Ekphrasis (2024), ia masuk tiga besar Buku Puisi Pilihan Tempo. Namun Dunia Lain berdiri sebagai karya yang tak butuh penghargaan untuk bersinar. Puisinya terasa seperti ruang bawah tanah kesadaran—diisi naga, mie, rimba tak dikenal, dan orang-orang yang merdeka dalam kabut. Dunia lain itu bukan hanya imajinasi, tapi barangkali refleksi dari zaman digital yang semakin surealis, di mana kenyataan dibangun dan dibongkar dalam kecepatan scroll.
Tokoh dalam puisi ini bukan pahlawan. Ia bukan Mulan, bukan legenda, bukan siapa-siapa. Ia “rimba tak dikenal / dalam laut tak terduga”—serupa tokoh dalam lagu Pink Floyd, Syd Barrett, yang dulu dibakar oleh sinar LSD dan kemudian tenggelam ke dunia yang tak bisa dijangkau oleh logika. Tapi Tan tak mengagungkan kegilaan. Justru, ia menghadapinya dengan jarak yang waspada. Dunia lain yang ditawarkan bukan pelarian, tapi labirin. Ia mengundang, namun juga memperingatkan: “dunia yang / tak hendak kumasuki. Kau?” Sebuah ajakan yang lebih mirip jebakan. Sebuah batas yang tak jelas antara pengalaman batin dan jebakan zaman.
Secara bentuk, puisi ini tampil seperti serpihan film noir. Imajinasinya bergerak cepat, potongan-potongan visual datang silih berganti: warung mie tempat makan, pisau yang tumpul, pembeli yang hilang, tubuh yang “ada dan tak ada.” Semua tampil seperti montase dari dunia gelap yang terus berubah bentuk. Teknik sinematik ini diperkuat oleh ritme yang tak meledak, tapi mendesis—dan inilah di mana musikalitas Pink Floyd merasuk. Gaya penulisan Tan mengalir seperti synthesizer dalam Shine On You Crazy Diamond—tak memaksa, tak terburu-buru, tapi menghantui.
Meski puisi ini mengambil inspirasi dari lagu Pink Floyd dan sosok Syd Barrett, dunia yang dibangun Tan lebih luas dari sekadar nostalgia psikedelik. Ia bicara tentang generasi—mungkin generasi pembaca saat ini—yang merasa terpisah dari dunia, tapi tak tahu dari mana tepatnya. Mereka tak punya LSD, tapi mereka punya algoritma. Mereka tak hidup di zaman perang Vietnam, tapi hidup dalam perang konten dan identitas. Di sinilah puisi ini terasa kekinian: ia menangkap suasana mental zaman yang kehilangan peta, tapi terus terseret oleh arus tanpa suara.
Yang paling menarik adalah bagaimana Tan tetap santun dalam kegilaan ini. Puisinya tidak menjerit, tidak meledak, tidak mengkhotbahi. Ia justru menunduk, dan dari ketenangan itu, muncul kekuatan. Ia mengajak pembaca untuk menyelami ketidakpastian, untuk meraba dalam gelap, dan menyadari bahwa mungkin dunia lain itu memang sudah dekat, sudah ada, sudah terbentuk. Dan kita hanya belum sadar sedang tinggal di dalamnya. Seperti kata Pink Floyd dalam lagunya: Come on you stranger, you legend, you martyr, and shine.
Dunia Lain bukan sekadar puisi tentang orang lain—ini puisi tentang kemungkinan dirimu sendiri. Ia bertanya pelan namun menohok: sejauh mana kamu masih tinggal di dunia ini, dan kapan kamu mulai berpindah? Ini puisi yang mengendap, seperti nada terakhir gitar Gilmour yang memudar. Kau ingin menolaknya, tapi ia terus mengalun. Tak terang. Tak gila. Tapi nyata. Sebut saja itu musik. Sebut saja itu dunia lain. [T]






























