1 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

I Wayan Yudana by I Wayan Yudana
August 1, 2026
in Esai
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

Prosesi persembahyangan Tumpek Krulut di satuan pendidikan

“Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan hati.”

Kalimat itu mungkin terdengar sedikit berlebihan. Namun, jika direnungkan lebih dalam, justru di situlah letak keistimewaan Bali. Jauh sebelum berbagai perayaan kasih sayang modern dikenal luas, leluhur Bali telah mewariskan sebuah tradisi yang mengajarkan cinta kasih sebagai jalan hidup, bukan sekadar perayaan sesaat. Tradisi itu bernama Tumpek Krulut.

Hari ini, dunia memang semakin terhubung oleh teknologi. Jarak antarbenua dapat ditempuh dalam hitungan jam, sementara pesan dapat dikirim dalam hitungan detik. Ironisnya, kedekatan secara digital tidak selalu diikuti oleh kedekatan secara emosional. Ujaran kebencian lebih cepat menyebar daripada kabar baik. Empati sering kalah cepat dibandingkan prasangka. Kita hidup di zaman ketika jempol lebih sering bekerja daripada hati.

Dalam konteks seperti itulah Tumpek Krulut menjadi semakin relevan. Ia hadir bukan sekadar sebagai bagian dari kalender pawukon Bali, melainkan sebagai pengingat bahwa manusia tidak cukup hanya hidup berdampingan. Manusia juga harus belajar saling mengasihi, saling menghormati, saling menguatkan, dan saling memuliakan. Nilai-nilai itulah yang menjadikan Tumpek Krulut layak disebut sebagai Hari Kasih Sayang Dresta Bali—sebuah warisan budaya yang lahir dari kebijaksanaan lokal, tetapi mengandung pesan yang bersifat universal.

Bagi masyarakat Bali, Tumpek Krulut bukan sekadar ritual keagamaan yang dirayakan setiap Saniscara Kliwon Wuku Krulut. Ia merupakan ungkapan syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas anugerah rasa kasih, kelembutan hati, keharmonisan, dan keindahan yang menyatukan manusia dengan sesamanya. Dalam denyut gamelan yang ditabuh, dalam doa yang dipanjatkan, dan dalam kebersamaan yang dirajut, sesungguhnya tersimpan pesan bahwa kasih sayang adalah fondasi utama kehidupan.

Nilai-nilai luhur inilah yang patut terus dirawat, disosialisasikan, dan diaktualisasikan. Terlebih, Pemerintah Provinsi Bali melalui program Jana Kerti telah menempatkan pembangunan manusia sebagai salah satu prioritas utama. Dengan demikian, Tumpek Krulut bukan hanya menjadi warisan budaya yang patut dibanggakan, tetapi juga menjadi inspirasi nyata dalam membangun masyarakat Bali yang berkarakter, harmonis, dan berkeadaban.

Nilai Universal

Setiap kali berbicara tentang hari kasih sayang, sebagian besar orang akan langsung mengingat berbagai perayaan modern yang identik dengan bunga, cokelat, atau hadiah. Padahal, jauh sebelum berbagai perayaan itu dikenal luas, masyarakat Bali telah mewariskan sebuah tradisi yang sarat makna kasih sayang, yakni Tumpek Krulut.        

Tumpek Krulut bukan sekadar hari dalam penanggalan Bali. Ia adalah pengingat bahwa manusia dilahirkan bukan hanya untuk hidup bersama, tetapi juga untuk saling mengasihi, menghormati, dan menguatkan satu sama lain. Nilai-nilai itu diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian dari dresta Bali yang hingga kini tetap hidup dalam denyut kehidupan masyarakat.

Di tengah dunia yang semakin maju tetapi juga semakin mudah terpecah oleh perbedaan, Tumpek Krulut menjadi sangat relevan. Ketika media sosial sering dipenuhi ujaran kebencian, ketika empati perlahan tergeser oleh ego pribadi, dan ketika manusia semakin dekat melalui teknologi tetapi terasa semakin jauh dalam hubungan kemanusiaan, Tumpek Krulut hadir mengingatkan bahwa kasih sayang tetap menjadi fondasi utama kehidupan.

Dalam tradisi Hindu Bali, kata krulut dimaknai sebagai kelembutan hati, rasa cinta kasih, dan getaran kasih yang mampu menyentuh batin manusia. Tidak mengherankan apabila Tumpek Krulut juga dikenal sebagai hari untuk memuliakan seni, khususnya seni tabuh dan gamelan. Alunan gamelan dipercaya mampu menghadirkan rasa damai, menghaluskan budi pekerti, serta membangun keharmonisan antarmanusia.

Persembahyangan Tumpek Krulut di Kalangan Masyarakat

Secara filosofis, Tumpek Krulut merupakan ungkapan syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas anugerah rasa, kasih, dan keindahan yang ditanamkan dalam diri manusia. Dalam beberapa lontar tattwa dan tradisi keagamaan Bali, hari ini dikaitkan dengan pemujaan kepada manifestasi Tuhan sebagai Sang Hyang Iswara, yang melimpahkan kehalusan budi, eni, dan keharmonisan hidup. Oleh karena itu, umat Hindu menghaturkan banten serta memohon agar kehidupan senantiasa dipenuhi cinta kasih, kedamaian, dan kebijaksanaan.

Prosesi Upakara Piranti Gamelan pada Tumpek Krulut

Nilai tersebut sejalan dengan ajaran dalam Bhagawad Gita Bab XII tentang Bhakti Yoga. Pada Bab XII ayat 13–14 dinyatakan bahwa orang yang dicintai Tuhan adalah mereka yang tidak membenci makhluk mana pun, bersahabat dengan semua, penuh kasih sayang (maitrah karuna eva ca), bebas dari rasa memiliki yang berlebihan, rendah hati, sabar, dan mampu mengendalikan diri. Ajaran ini menegaskan bahwa kasih sayang bukan sekadar perasaan, melainkan jalan hidup yang harus diwujudkan dalam tindakan nyata.

Demikian pula dalam Yajur Veda 36.18 terdapat doa yang mengandung pesan universal agar setiap manusia memandang sesamanya dengan mata persahabatan.

Mitrasya ma cakshusha sarvani bhutani samiksantam.

yang dimaknai sebagai harapan agar seluruh makhluk saling memandang dengan persahabatan, saling menghormati, dan saling mengasihi. Spirit inilah yang sesungguhnya hidup dalam perayaan Tumpek Krulut.

Nilai-nilai tersebut juga selaras dengan falsafah Tat Twam Asi—“Aku adalah engkau dan engkau adalah aku.” Ketika kita menyakiti orang lain, sesungguhnya kita sedang melukai diri sendiri. Sebaliknya, ketika kita menolong sesama, pada hakikatnya kita sedang memuliakan kemanusiaan yang juga ada dalam diri kita.

Dalam konteks pembangunan Bali, makna Tumpek Krulut menemukan relevansinya melalui program Pemerintah Provinsi Bali, yaitu Jana Kerti, salah satu bagian dari enam kerti yang menitikberatkan pada pembangunan kualitas manusia Bali. Jana Kerti tidak hanya berbicara tentang peningkatan kecerdasan atau kesehatan masyarakat, tetapi juga pembangunan karakter, etika, solidaritas sosial, dan kemanusiaan. Nilai-nilai tersebut sejatinya telah lama hidup dalam tradisi Tumpek Krulut.

Inilah yang menunjukkan bahwa Bali sesungguhnya telah memiliki kearifan lokal yang bernilai universal. Dunia boleh mengenal berbagai konsep tentang cinta kasih dan kemanusiaan, tetapi masyarakat Bali telah mewariskannya melalui tradisi yang diwariskan lintas generasi. Tumpek Krulut bukan sekadar ritual, melainkan pendidikan karakter yang hidup di tengah masyarakat.

Oleh karena itu, Tumpek Krulut tidak semestinya berhenti sebagai seremoni tahunan. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya perlu terus disosialisasikan secara lebih masif, terutama kepada generasi muda. Kasih sayang tidak cukup diajarkan melalui kata-kata, tetapi perlu dibiasakan melalui keteladanan dalam keluarga, pendidikan di sekolah, pelayanan publik, kehidupan bermasyarakat, hingga ruang-ruang digital yang kini menjadi bagian dari keseharian.

Secara sekala, kita patut bersyukur masih diberikan kesempatan untuk hidup berdampingan dengan sesama. Kesempatan itu bukan hanya untuk mengejar keberhasilan pribadi, tetapi juga untuk saling menjaga, saling menghormati, saling menguatkan, dan saling berbagi. Tidak ada keberhasilan yang bermakna apabila diperoleh dengan mengorbankan kemanusiaan.

Sementara secara niskala, Tumpek Krulut mengingatkan bahwa seluruh rasa kasih yang kita miliki sesungguhnya bersumber dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Karena itu, umat Hindu Bali menghaturkan bhakti dan sujud syukur sebagai ungkapan terima kasih atas anugerah kehidupan, cinta kasih, serta keharmonisan yang menyatukan manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam semesta.

Pada akhirnya, Tumpek Krulut mengajarkan bahwa kasih sayang bukanlah sesuatu yang dirayakan sehari, melainkan nilai yang dihidupi setiap hari. Di tengah dunia yang sering dipenuhi prasangka, kebencian, dan perpecahan, Bali sesungguhnya telah memiliki warisan yang sangat berharga. Tinggal bagaimana kita merawatnya, mengamalkannya, dan mewariskannya kepada generasi berikutnya.

Sebagaimana diajarkan dalam Bhagawad Gita XII.13,

“Adveshta sarva-bhutanam maitrah karuna eva ca”—

(Ia yang tidak membenci makhluk mana pun, bersahabat dan penuh kasih sayang kepada semua, dialah yang dicintai Tuhan).

Barangkali, itulah makna terdalam Tumpek Krulut: kasih sayang bukan sekadar tradisi Bali, melainkan jalan menuju kemuliaan manusia.[T]

Tags: agama hinduTumpek Krulutupacara hindu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

Next Post

Tuhan Yang Maha Puisi

I Wayan Yudana

I Wayan Yudana

Kepala SMKN 1 Petang, Badung, Bali

Related Posts

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails
Next Post
Tuhan Yang Maha Puisi

Tuhan Yang Maha Puisi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co