12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
in Khas
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

Panel Diskusi ‘Posisi dan Potensi Sastra Indonesia dalam Lanskap Dunia’│Foto: Dok. SLF

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.”

Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah diskusi tentang posisi sastra Indonesia hari ini. Di tengah kemajuan kecerdasan buatan (AI), perubahan perilaku membaca, dan berkembangnya platform digital, ia justru melihat harapan sastra berada pada generasi muda yang selama ini acap dipandang sebelah mata.

Di Kawasan Museum Buleleng, Sabtu, 4 Juli 2026, perbincangan tentang sastra berlangsung hangat sekaligus reflektif. Panel bertajuk “Posisi dan Potensi Sastra Indonesia dalam Lanskap Dunia” menjadi salah satu rangkaian hari kedua Singaraja Literary Festival (SLF) 2026. Ratih Kumala, Sasti Gotama, dan JS Khairen hadir sebagai narasumber dengan Desi Nurani sebagai moderator. Selama hampir dua jam, pembahasan tidak hanya menyoroti sastra sebagai karya, tetapi juga perubahan ekosistem yang mengitarinya, mulai dari lahirnya penulis baru, bergesernya perilaku membaca, hingga tantangan di era kecerdasan buatan (AI).

Desi Nurani membuka diskusi dengan sebuah pertanyaan yang langsung mengarahkan percakapan ke inti persoalan: jika diminta menggambarkan posisi sastra Indonesia hari ini, apakah sastra sedang tumbuh atau justru menghadapi krisis?

Panel Diskusi ‘Posisi dan Potensi Sastra Indonesia dalam Lanskap Dunia’│Foto: Dok. SLF

Bagi JS Khairen, jawaban atas pertanyaan itu bergantung pada cara orang memaknai sastra. Ia mengawali dengan pengalaman pribadinya. Ketika tujuh novel pertamanya belum laris, ia lebih sering diundang ke forum-forum diskusi sastra. Namun, setelah karya-karyanya menjadi best seller, undangan justru lebih banyak datang dari kampus dan ruang-ruang publik lain.

Pengalaman itu, menurutnya, menunjukkan bahwa batas antara sastra dan pasar masih sering diperdebatkan. Namun, ada satu hal yang tidak bisa dibantah: Generasi Z memiliki posisi yang sangat penting dalam menjaga kehidupan sastra Indonesia. Mereka mungkin tidak banyak mengenal karya-karya sastra masa lalu, tetapi justru menjadi pembaca yang menghidupi sastra hari ini.

Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa generasi yang kini mulai menjadi penulis akan menghadapi tantangan baru yang belum pernah dihadapi generasi sebelumnya. Di era AI, persoalannya bukan hanya menghasilkan karya, tetapi juga membuktikan bahwa karya itu benar-benar lahir dari tangan dan pikiran sendiri.

Meski begitu, ia tetap optimistis. “Kalau autentik, AI itu nggak bisa niru. Semua penulis pasti punya signature-nya. Semua punya gaya yang tidak bisa ditiru AI,” tegasnya.

Panel Diskusi ‘Posisi dan Potensi Sastra Indonesia dalam Lanskap Dunia’│Foto: Dok. SLF

Ratih Kumala melihat persoalan dari sudut berbeda. Baginya, sastra Indonesia bukan sedang mengalami krisis, melainkan transformasi.

Transformasi itu tampak dari tema, genre, hingga cara penulis membangun kariernya. Jika dahulu seorang penulis harus bersaing ketat agar bisa dimuat di surat kabar atau diterbitkan penerbit besar, kini jalurnya jauh lebih beragam. Platform digital memberi ruang lebih luas bagi siapa pun untuk mulai menulis dan menemukan pembacanya sendiri.

“Perubahan medium justru membuka peluang baru. Penulis masa kini bahkan bisa hidup dari aktivitas menulis tanpa harus menjadi jurnalis atau menerbitkan buku secara konvensional. Platform seperti Wattpad dan berbagai media digital memungkinkan penulis membangun komunitas pembaca sekaligus memperoleh penghasilan. Interaksi yang terbangun dengan pembaca juga lebih intens sehingga mendorong lahirnya karya-karya yang lebih eksperimental,” ungkap Ratih Kumala.

Panel Diskusi ‘Posisi dan Potensi Sastra Indonesia dalam Lanskap Dunia’│Foto: Dok. SLF

Pandangan Ratih Kumala diamini Sasti Gotama. Penulis yang mengawali karier melalui platform digital itu mengaku dirinya menjadi salah satu bagian dari transformasi tersebut.

Menurut Sasti, perubahan tidak hanya terjadi pada medium publikasi, tetapi juga pada keberanian penulis bereksperimen. Kini ada buku yang dikemas menyerupai majalah, ada pula karya yang bermain dengan bentuk dan struktur yang sebelumnya nyaris tak terpikirkan.

Ia bahkan menyebut dirinya ‘tersesat’ ke dunia sastra karena berlatar belakang seorang dokter umum. Namun, justru latar belakang itulah yang memberi sudut pandang berbeda dalam menulis.

“Beragam pengalaman hidup, selalu menyimpan kemungkinan untuk diolah menjadi cerita yang autentik,” ucapnya.

Panel Diskusi ‘Posisi dan Potensi Sastra Indonesia dalam Lanskap Dunia’│Foto: Dok. SLF

Diskusi kemudian bergeser pada isu yang tak kalah penting, yakni bagaimana perubahan cara membaca memengaruhi proses kreatif seorang penulis.

Desi Nurani mengingatkan bahwa pembaca kini mengakses bacaan melalui banyak medium. Kebiasaan membaca pun berubah. Di tengah situasi itu, ia bertanya apakah para penulis akhirnya menyesuaikan diri dengan selera pasar atau tetap bertahan pada idealismenya.

JS Khairen menjawab dengan pengalaman yang justru bertolak belakang dari anggapan umum.

“Aku pernah menulis karya dengan keinginan pembaca, tapi tidak laku. Ketika aku menulis sebagai JS Khairen, justru laku.”

Menurutnya, pembaca pada akhirnya mencari orisinalitas dan ketulusan seorang penulis. Pasar akan menunggu karya yang benar-benar lahir dari identitas penulisnya sendiri.

Ratih Kumala memiliki pendekatan lebih kontekstual. Ia mengaku selalu berangkat dari idealisme dan kegelisahan pribadi ketika menulis novel. Namun, saat menulis skenario film, ia harus mempertimbangkan kebutuhan pasar karena medium tersebut memiliki karakter berbeda.

Panel Diskusi ‘Posisi dan Potensi Sastra Indonesia dalam Lanskap Dunia’│Foto: Dok. SLF

Sementara itu, Sasti Gotama mengakui bahwa seluruh karya yang ia tulis berawal dari kebutuhan untuk melakukan katarsis. Seiring waktu, muncul pula keinginan agar bukunya diterima pasar. Algoritma media sosial, menurutnya, membantu penulis membaca tren, sementara komunitas seperti bookstagram dan TikTok memperluas cara buku dipasarkan.

Kendati demikian, ia menyadari bahwa mengikuti selera pasar sepenuhnya bukan perkara mudah. Ia pernah mencoba, tetapi hasilnya kurang memuaskan. Pada akhirnya, ia meyakini karya yang lahir dari idealisme penulis sendiri lebih mudah menemukan pembaca. Kini, bukan hanya isi buku yang menarik perhatian publik, tetapi juga sosok penulisnya.

Menjelang akhir diskusi, satu benang merah terasa semakin jelas. Ketiga penulis itu boleh datang dari generasi, latar belakang, dan pengalaman yang berbeda. Namun, mereka bertemu pada satu keyakinan bahwa sastra Indonesia tidak sedang kehilangan arah.

Panel Diskusi ‘Posisi dan Potensi Sastra Indonesia dalam Lanskap Dunia’│Foto: Dok. SLF

Sastra Indonesia kini sedang bertransformasi. Perubahan itu menghadirkan tantangan baru: AI, algoritma, media sosial, hingga bergesernya perilaku membaca. Namun, di balik semua itu, selalu ada ruang bagi kejujuran, keberanian bereksperimen, dan suara-suara autentik yang membuat sastra tetap menemukan pembacanya.

Di halaman Museum Buleleng siang itu, percakapan tentang sastra bukan sekadar membahas buku atau penulis. Ia menjadi pengingat bahwa selama masih ada generasi yang membaca, menulis, dan percaya pada kekuatan cerita, sastra Indonesia akan terus bertumbuh, menemukan bentuk-bentuk baru, sekaligus menjaga denyut kehidupan yang membuatnya tetap relevan di tengah lanskap dunia yang terus berubah.[T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: JS KhairenRatih KumalaSasti GotamasastraSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2026
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

Next Post

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails
Next Post
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co