22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

Tri Nugroho Adi by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
in Esai
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tri Nugroho Adi

“Pinten niki, Bu?”  (Berapa ini, Bu?)

“Tigang doso gangsal ewu.” (Tiga puluh lima ribu )

“Waduh… mboten saged kirang? Kula tumbas kathah, nggih.” ( Wah bisa kurang? Saya beli banyak ya )

Sang penjual tersenyum, lalu menimbang kembali cabai yang baru saja dipilih pembeli.

“Nggih sampun… tigang doso ewu mawon. Nanging ngenjang mriki malih nggih.” (Ya sudah. Tiga puluh saja. Tapi besok ke sini lagi ya)

Percakapan sederhana seperti itu mungkin berlangsung hanya beberapa menit. Tidak ada kontrak tertulis, tidak ada algoritma yang menghitung peluang pembelian berikutnya, bahkan sering kali tidak ada struk sebagai bukti transaksi. Namun justru di sanalah tersimpan sesuatu yang jauh lebih bernilai daripada sekadar pertukaran uang dengan barang: tumbuhnya rasa saling percaya.

Di tengah derasnya modernisasi, pasar tradisional memang perlahan kehilangan sebagian ruangnya. Minimarket, supermarket, hingga perdagangan digital menawarkan efisiensi yang sulit ditandingi. Namun menariknya, di berbagai daerah di Indonesia, pasar tradisional tetap bertahan. Bahkan tidak sedikit yang justru menjadi denyut kehidupan masyarakat. Pertanyaannya kemudian bukan lagi mengapa pasar itu masih ada, melainkan apa sesungguhnya yang sedang dipertahankan.

Barangkali jawabannya bukan semata-mata sistem jual beli, melainkan sebuah cara hidup. Pasar tradisional adalah teks budaya yang terus ditulis setiap hari oleh para pedagang, pembeli, pengangkut barang, penjual jajanan, hingga anak-anak yang ikut membantu orang tuanya. Ia bukan sekadar bangunan fisik, tetapi ruang sosial tempat manusia saling membaca dan dibaca. Karena itu, pasar dapat dipahami melalui pendekatan semiotika maupun fenomenologi: sebagai jaringan tanda sekaligus sebagai pengalaman hidup bersama.

Roland Barthes mengemukakan bahwa setiap praktik sosial dapat dibaca layaknya sebuah teks. Sebuah tanda tidak berhenti pada makna denotatifnya, tetapi berkembang menjadi konotasi, bahkan menjadi mitos budaya yang dianggap alamiah oleh masyarakat. Dalam pandangan Barthes, sesuatu yang tampak biasa sesungguhnya menyimpan lapisan makna yang jauh lebih dalam. Pasar tradisional adalah salah satu contohnya.

Suara tawar-menawar misalnya. Secara denotatif, ia hanyalah negosiasi harga. Namun secara konotatif, percakapan itu merupakan ritual sosial. Sapaan seperti “monggo dipilih,” “mboten napa-napa,” atau “langganan nggih” bukan sekadar strategi pemasaran, melainkan penanda kedekatan emosional. Di sana harga memang dinegosiasikan, tetapi hubungan antarmanusia justru sedang dibangun.

Fenomena ini sejalan dengan berbagai penelitian mengenai pasar tradisional di Indonesia yang menunjukkan bahwa loyalitas pembeli sering kali lebih dipengaruhi oleh relasi interpersonal dibandingkan pertimbangan harga semata. Penelitian-penelitian di bidang antropologi ekonomi maupun sosiologi pasar menemukan bahwa interaksi yang berulang melahirkan modal sosial (social capital) berupa kepercayaan, rasa saling mengenal, dan kewajiban moral yang menjaga keberlangsungan hubungan antara pedagang dan pelanggan. Pasar, dengan demikian, bekerja bukan hanya melalui logika ekonomi, tetapi juga melalui logika sosial.

Tata Ruang Pasar sebagai Tanda

Los-los yang berhimpitan tanpa sekat permanen sering dianggap sebagai bentuk ketidakteraturan jika dibandingkan dengan pusat perbelanjaan modern. Namun justru dalam “ketidakteraturan” itu tersimpan filosofi keterbukaan. Tidak ada batas tegas antara satu pedagang dengan pedagang lainnya. Percakapan mudah mengalir melintasi kios-kios. Pembeli dapat berpindah dari satu lapak ke lapak lain tanpa hambatan psikologis.

Ruang yang demikian menyampaikan pesan simbolik bahwa kehidupan sosial dibangun di atas kedekatan, bukan isolasi. Barang dagangan yang dipajang terbuka pun mengandung makna. Sayuran, ikan, buah, rempah, hingga beras disusun sedemikian rupa agar dapat disentuh, dicium, dan diperiksa langsung oleh pembeli. Transparansi fisik tersebut menjadi simbol kejujuran. Tidak ada kemasan yang menyembunyikan kualitas barang. Penjual dan pembeli sama-sama berbagi ruang penilaian yang terbuka.

Dalam bahasa Barthes, seluruh elemen itu membentuk mitos mengenai kepercayaan sebagai fondasi kehidupan ekonomi rakyat. Namun pasar tidak hanya dapat dibaca sebagai kumpulan tanda. Ia juga dapat dialami.

Di sinilah pendekatan fenomenologi Alfred Schutz menawarkan cara pandang yang berbeda. Schutz menekankan bahwa dunia sosial dipahami melalui pengalaman hidup sehari-hari (lifeworld). Manusia tidak hidup di dalam dunia yang netral, melainkan di dalam dunia yang telah dipenuhi makna bersama.

Ketika seseorang memasuki pasar tradisional pada pagi hari, pengalaman yang muncul tidak hanya bersifat visual. Aroma rempah yang bercampur dengan wangi daun pisang, suara ayam yang berkokok dari kejauhan, teriakan pedagang menawarkan dagangan, lantai yang sedikit basah, hingga sentuhan tangan ketika menerima uang kembalian menghadirkan pengalaman indrawi yang utuh.

Ruang pasar bukan sekadar lokasi. Ia adalah pengalaman. Fenomenologi menyebutnya sebagai lived space, ruang yang dihayati, bukan hanya ditempati. Pasar hidup karena manusia hadir di dalamnya. Kehadiran orang lain bukan gangguan, melainkan syarat agar pengalaman itu memiliki makna. Di sinilah falsafah Jawa tuno satak bathi sanak menemukan relevansinya.

Secara harfiah ungkapan itu berarti “rugi sedikit, untung saudara”. Namun maknanya jauh melampaui kalkulasi ekonomi. Ia mengajarkan bahwa keuntungan terbesar bukan selalu tambahan pendapatan, melainkan bertambahnya hubungan baik. Pedagang yang memberi potongan harga kepada pelanggan lama mungkin kehilangan beberapa ribu rupiah hari itu. Akan tetapi ia memperoleh sesuatu yang lebih sulit diukur: kepercayaan.

Kepercayaan itulah yang membuat pembeli kembali. Kepercayaan itulah yang membuat pasar tetap hidup. Kepercayaan pula yang membuat ekonomi rakyat bertahan melewati berbagai krisis.

Kajian ekonomi kelembagaan maupun sosiologi ekonomi modern juga menunjukkan bahwa kepercayaan merupakan bentuk modal yang mampu menurunkan biaya transaksi. Ketika relasi sosial telah terbentuk, kebutuhan akan pengawasan, kontrak yang rumit, maupun mekanisme perlindungan yang mahal menjadi berkurang. Dalam konteks pasar tradisional, modal sosial itu telah lama hadir dalam bentuk hubungan kekeluargaan yang diwariskan lintas generasi.

Ironi Modernisasi

Di pusat perbelanjaan modern, transaksi berlangsung cepat, efisien, dan nyaris tanpa percakapan. Harga telah diputuskan sebelumnya. Mesin kasir menggantikan proses tawar-menawar. Barcode menggantikan tatapan mata. Pembayaran digital mengurangi sentuhan tangan. Hubungan menjadi semakin praktis, tetapi sekaligus semakin impersonal.

Tentu modernisasi bukan sesuatu yang harus ditolak. Efisiensi merupakan kebutuhan masyarakat modern. Digitalisasi juga membuka kesempatan ekonomi yang jauh lebih luas. Persoalannya bukan memilih pasar tradisional atau pasar modern, melainkan memastikan bahwa modernisasi tidak menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan yang selama ini menjadi fondasi kehidupan sosial.

Sebab yang sedang dipertaruhkan sesungguhnya bukan keberadaan sebuah bangunan pasar. Yang sedang dipertaruhkan adalah cara manusia saling hadir bagi sesamanya. Barangkali karena itulah pasar tradisional masih bertahan. Ia bertahan bukan karena kalah bersaing dengan teknologi. Ia bertahan karena manusia masih membutuhkan ruang untuk menyapa, bercakap, menawar, bercanda, saling percaya, dan merasakan bahwa dirinya tidak hidup sendirian.

Di tengah dunia yang semakin terdigitalisasi, pasar tradisional mengingatkan bahwa ekonomi tidak pernah benar-benar berdiri sendiri. Ia selalu berakar pada kebudayaan. Dan kebudayaan pada akhirnya selalu berbicara tentang manusia.

Mungkin suatu hari nanti sebagian besar transaksi dapat dilakukan hanya dengan menyentuh layar telepon genggam. Barang datang tanpa kita mengenal siapa yang mengirimnya. Pembayaran selesai tanpa pernah bertatap muka. Dunia memang bergerak ke arah itu.

Namun selama masih ada seseorang yang berkata, “Monggo, dipilih rumiyin…”, dan seseorang lain menjawab, “Nggih, Bu. Kula langganan mriki…”, selama itu pula pasar tradisional akan terus hidup. Bukan semata sebagai tempat jual beli. Melainkan sebagai salah satu ruang terakhir tempat kebudayaan Indonesia masih berbicara dengan suara manusianya. [T]

Penulis: Tri Nugroho Adi
Editor: Adnyana Ole

Tags: pasar tradisional
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Next Post

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi-Fisip, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails
Next Post
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co