1 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

Tri Nugroho Adi by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
in Esai
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tri Nugroho Adi

“Pinten niki, Bu?”  (Berapa ini, Bu?)

“Tigang doso gangsal ewu.” (Tiga puluh lima ribu )

“Waduh… mboten saged kirang? Kula tumbas kathah, nggih.” ( Wah bisa kurang? Saya beli banyak ya )

Sang penjual tersenyum, lalu menimbang kembali cabai yang baru saja dipilih pembeli.

“Nggih sampun… tigang doso ewu mawon. Nanging ngenjang mriki malih nggih.” (Ya sudah. Tiga puluh saja. Tapi besok ke sini lagi ya)

Percakapan sederhana seperti itu mungkin berlangsung hanya beberapa menit. Tidak ada kontrak tertulis, tidak ada algoritma yang menghitung peluang pembelian berikutnya, bahkan sering kali tidak ada struk sebagai bukti transaksi. Namun justru di sanalah tersimpan sesuatu yang jauh lebih bernilai daripada sekadar pertukaran uang dengan barang: tumbuhnya rasa saling percaya.

Di tengah derasnya modernisasi, pasar tradisional memang perlahan kehilangan sebagian ruangnya. Minimarket, supermarket, hingga perdagangan digital menawarkan efisiensi yang sulit ditandingi. Namun menariknya, di berbagai daerah di Indonesia, pasar tradisional tetap bertahan. Bahkan tidak sedikit yang justru menjadi denyut kehidupan masyarakat. Pertanyaannya kemudian bukan lagi mengapa pasar itu masih ada, melainkan apa sesungguhnya yang sedang dipertahankan.

Barangkali jawabannya bukan semata-mata sistem jual beli, melainkan sebuah cara hidup. Pasar tradisional adalah teks budaya yang terus ditulis setiap hari oleh para pedagang, pembeli, pengangkut barang, penjual jajanan, hingga anak-anak yang ikut membantu orang tuanya. Ia bukan sekadar bangunan fisik, tetapi ruang sosial tempat manusia saling membaca dan dibaca. Karena itu, pasar dapat dipahami melalui pendekatan semiotika maupun fenomenologi: sebagai jaringan tanda sekaligus sebagai pengalaman hidup bersama.

Roland Barthes mengemukakan bahwa setiap praktik sosial dapat dibaca layaknya sebuah teks. Sebuah tanda tidak berhenti pada makna denotatifnya, tetapi berkembang menjadi konotasi, bahkan menjadi mitos budaya yang dianggap alamiah oleh masyarakat. Dalam pandangan Barthes, sesuatu yang tampak biasa sesungguhnya menyimpan lapisan makna yang jauh lebih dalam. Pasar tradisional adalah salah satu contohnya.

Suara tawar-menawar misalnya. Secara denotatif, ia hanyalah negosiasi harga. Namun secara konotatif, percakapan itu merupakan ritual sosial. Sapaan seperti “monggo dipilih,” “mboten napa-napa,” atau “langganan nggih” bukan sekadar strategi pemasaran, melainkan penanda kedekatan emosional. Di sana harga memang dinegosiasikan, tetapi hubungan antarmanusia justru sedang dibangun.

Fenomena ini sejalan dengan berbagai penelitian mengenai pasar tradisional di Indonesia yang menunjukkan bahwa loyalitas pembeli sering kali lebih dipengaruhi oleh relasi interpersonal dibandingkan pertimbangan harga semata. Penelitian-penelitian di bidang antropologi ekonomi maupun sosiologi pasar menemukan bahwa interaksi yang berulang melahirkan modal sosial (social capital) berupa kepercayaan, rasa saling mengenal, dan kewajiban moral yang menjaga keberlangsungan hubungan antara pedagang dan pelanggan. Pasar, dengan demikian, bekerja bukan hanya melalui logika ekonomi, tetapi juga melalui logika sosial.

Tata Ruang Pasar sebagai Tanda

Los-los yang berhimpitan tanpa sekat permanen sering dianggap sebagai bentuk ketidakteraturan jika dibandingkan dengan pusat perbelanjaan modern. Namun justru dalam “ketidakteraturan” itu tersimpan filosofi keterbukaan. Tidak ada batas tegas antara satu pedagang dengan pedagang lainnya. Percakapan mudah mengalir melintasi kios-kios. Pembeli dapat berpindah dari satu lapak ke lapak lain tanpa hambatan psikologis.

Ruang yang demikian menyampaikan pesan simbolik bahwa kehidupan sosial dibangun di atas kedekatan, bukan isolasi. Barang dagangan yang dipajang terbuka pun mengandung makna. Sayuran, ikan, buah, rempah, hingga beras disusun sedemikian rupa agar dapat disentuh, dicium, dan diperiksa langsung oleh pembeli. Transparansi fisik tersebut menjadi simbol kejujuran. Tidak ada kemasan yang menyembunyikan kualitas barang. Penjual dan pembeli sama-sama berbagi ruang penilaian yang terbuka.

Dalam bahasa Barthes, seluruh elemen itu membentuk mitos mengenai kepercayaan sebagai fondasi kehidupan ekonomi rakyat. Namun pasar tidak hanya dapat dibaca sebagai kumpulan tanda. Ia juga dapat dialami.

Di sinilah pendekatan fenomenologi Alfred Schutz menawarkan cara pandang yang berbeda. Schutz menekankan bahwa dunia sosial dipahami melalui pengalaman hidup sehari-hari (lifeworld). Manusia tidak hidup di dalam dunia yang netral, melainkan di dalam dunia yang telah dipenuhi makna bersama.

Ketika seseorang memasuki pasar tradisional pada pagi hari, pengalaman yang muncul tidak hanya bersifat visual. Aroma rempah yang bercampur dengan wangi daun pisang, suara ayam yang berkokok dari kejauhan, teriakan pedagang menawarkan dagangan, lantai yang sedikit basah, hingga sentuhan tangan ketika menerima uang kembalian menghadirkan pengalaman indrawi yang utuh.

Ruang pasar bukan sekadar lokasi. Ia adalah pengalaman. Fenomenologi menyebutnya sebagai lived space, ruang yang dihayati, bukan hanya ditempati. Pasar hidup karena manusia hadir di dalamnya. Kehadiran orang lain bukan gangguan, melainkan syarat agar pengalaman itu memiliki makna. Di sinilah falsafah Jawa tuno satak bathi sanak menemukan relevansinya.

Secara harfiah ungkapan itu berarti “rugi sedikit, untung saudara”. Namun maknanya jauh melampaui kalkulasi ekonomi. Ia mengajarkan bahwa keuntungan terbesar bukan selalu tambahan pendapatan, melainkan bertambahnya hubungan baik. Pedagang yang memberi potongan harga kepada pelanggan lama mungkin kehilangan beberapa ribu rupiah hari itu. Akan tetapi ia memperoleh sesuatu yang lebih sulit diukur: kepercayaan.

Kepercayaan itulah yang membuat pembeli kembali. Kepercayaan itulah yang membuat pasar tetap hidup. Kepercayaan pula yang membuat ekonomi rakyat bertahan melewati berbagai krisis.

Kajian ekonomi kelembagaan maupun sosiologi ekonomi modern juga menunjukkan bahwa kepercayaan merupakan bentuk modal yang mampu menurunkan biaya transaksi. Ketika relasi sosial telah terbentuk, kebutuhan akan pengawasan, kontrak yang rumit, maupun mekanisme perlindungan yang mahal menjadi berkurang. Dalam konteks pasar tradisional, modal sosial itu telah lama hadir dalam bentuk hubungan kekeluargaan yang diwariskan lintas generasi.

Ironi Modernisasi

Di pusat perbelanjaan modern, transaksi berlangsung cepat, efisien, dan nyaris tanpa percakapan. Harga telah diputuskan sebelumnya. Mesin kasir menggantikan proses tawar-menawar. Barcode menggantikan tatapan mata. Pembayaran digital mengurangi sentuhan tangan. Hubungan menjadi semakin praktis, tetapi sekaligus semakin impersonal.

Tentu modernisasi bukan sesuatu yang harus ditolak. Efisiensi merupakan kebutuhan masyarakat modern. Digitalisasi juga membuka kesempatan ekonomi yang jauh lebih luas. Persoalannya bukan memilih pasar tradisional atau pasar modern, melainkan memastikan bahwa modernisasi tidak menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan yang selama ini menjadi fondasi kehidupan sosial.

Sebab yang sedang dipertaruhkan sesungguhnya bukan keberadaan sebuah bangunan pasar. Yang sedang dipertaruhkan adalah cara manusia saling hadir bagi sesamanya. Barangkali karena itulah pasar tradisional masih bertahan. Ia bertahan bukan karena kalah bersaing dengan teknologi. Ia bertahan karena manusia masih membutuhkan ruang untuk menyapa, bercakap, menawar, bercanda, saling percaya, dan merasakan bahwa dirinya tidak hidup sendirian.

Di tengah dunia yang semakin terdigitalisasi, pasar tradisional mengingatkan bahwa ekonomi tidak pernah benar-benar berdiri sendiri. Ia selalu berakar pada kebudayaan. Dan kebudayaan pada akhirnya selalu berbicara tentang manusia.

Mungkin suatu hari nanti sebagian besar transaksi dapat dilakukan hanya dengan menyentuh layar telepon genggam. Barang datang tanpa kita mengenal siapa yang mengirimnya. Pembayaran selesai tanpa pernah bertatap muka. Dunia memang bergerak ke arah itu.

Namun selama masih ada seseorang yang berkata, “Monggo, dipilih rumiyin…”, dan seseorang lain menjawab, “Nggih, Bu. Kula langganan mriki…”, selama itu pula pasar tradisional akan terus hidup. Bukan semata sebagai tempat jual beli. Melainkan sebagai salah satu ruang terakhir tempat kebudayaan Indonesia masih berbicara dengan suara manusianya. [T]

Penulis: Tri Nugroho Adi
Editor: Adnyana Ole

Tags: pasar tradisional
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Next Post

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi-Fisip, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails
Next Post
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?
Esai

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra
Esai

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

by Emi Suy
September 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co