8 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

Angga Wijaya by Angga Wijaya
July 8, 2026
in Ulas Rupa
Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

Dr. Nyoman Suardina dan karyanya, Stupid Smile (Senyuman Bodoh) | Foto: Angga Wijaya

DI Bale Daja Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud, aroma tanah bakar seperti masih tertinggal di antara puluhan karya yang memenuhi ruang pamer. Sebagian hadir sebagai patung, sebagian lagi berupa guci, instalasi, wastra, logam, hingga kayu yang diperlakukan bukan sekadar benda, melainkan medium untuk menyampaikan pengalaman hidup.

Di ruangan itulah saya kembali bertemu karya-karya Dr. Nyoman Suardina. Beberapa bulan sebelumnya saya pernah menulis tentang dirinya di media daring Tatkala.co. Ketika itu, perhatian saya lebih banyak tertuju pada sosoknya sebagai seniman dan akademisi, juga bagaimana ia membangun dunia artistiknya melalui keramik. Kali ini suasananya berbeda. Saya tidak lagi datang untuk mengenal siapa Suardina, melainkan untuk melihat bagaimana perjalanan kreatifnya terus bergerak.

Dan saya menemukan satu hal, bahwa Suardina tetap berbicara dengan bahasa yang sama, yakni tanah. Namun bahasa itu kini terasa semakin tenang. Karya Suardina yang menyita perhatian pengunjung adalah Stupid Smile atau Senyuman Bodoh. Di atas sebuah meja bundar, pohon terakota berdiri terbalik. Akar menjulang ke atas, sementara batangnya menggantung lesu, tak lagi menjadi penyangga kehidupan, melainkan menjelma monumen kematian. Di sampingnya duduk seorang badut bertubuh tambun dengan rambut merah menyala dan senyum yang tak pernah pudar.

Dari bibirnya menjulur sebuah sedotan yang terhubung ke akar pohon. Ia mengisap. Perlahan, tanpa tergesa. Benda sederhana itu menjadi pusat narasi karya, bahwa manusia tidak sedang memelihara alam, melainkan mengisap kehidupan darinya sedikit demi sedikit.

Suardina menghadirkan metafora yang tajam tentang kerakusan manusia modern, ketika eksploitasi terhadap alam tidak selalu berlangsung melalui kekerasan yang kasatmata, melainkan justru dibungkus wajah ramah, janji kesejahteraan, dan senyum yang menenangkan.

Di tengah tema besar Prakriti–Pustaka–Padma yang mengajak publik menimbang kembali relasi manusia dengan alam, Senyuman Bodoh tampil sebagai sindiran yang getir terhadap kuasa dan modal yang terus menguras bumi. Suardina tidak menawarkan jawaban atau khotbah moral. Ia hanya menghadirkan sebuah senyuman.

Dr. Nyoman Suardina dan karyanya, Stupid Smile (Senyuman Bodoh) | Foto: Angga Wijaya

Namun justru senyum itulah yang paling mengganggu, karena memaksa penonton bertanya;  siapa sesungguhnya badut itu? Segelintir pemilik modal, para penguasa yang abai terhadap lingkungan, atau jangan-jangan diri kita sendiri yang setiap hari menikmati hasil eksploitasi alam tanpa pernah menyadari bahwa kita sedang mengisap masa depan.

Pameran Kriya Internasional Becoming: Prakriti–Pustaka–Padma menghadirkan lima puluh seniman dari delapan negara dengan tujuh puluh sembilan karya dua dan tiga dimensi. Keramik, terakota, logam, kayu, batik, tapestri, wayang kulit, instalasi hingga berbagai eksplorasi medium lain dipertemukan dalam satu ruang yang memperlihatkan perkembangan seni kriya kontemporer.

Pameran ini bukan sekadar perayaan ulang tahun ke-30 Museum ARMA. Ia juga menjadi penanda semakin terbukanya percakapan seni kriya Indonesia dengan dunia internasional melalui kolaborasi ARMA dan Program Studi Kriya Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Bali.

Tema yang diusung, Prakriti–Pustaka–Padma, terdengar puitis sekaligus filosofis. Prakriti berbicara tentang alam sebagai sumber kehidupan. Pustaka mengingatkan bahwa pengetahuan tidak hanya hidup dalam buku, tetapi juga diwariskan melalui tangan-tangan yang bekerja.

Padma menjadi metafora tentang proses menjadi. Tentang kehidupan yang terus berubah sebagaimana bunga teratai yang tumbuh dari lumpur sebelum akhirnya mekar. Ketiganya membentuk sebuah cara pandang bahwa penciptaan bukanlah hasil akhir, melainkan perjalanan panjang yang tidak pernah selesai.

Ketika membaca pengantar kuratorial itu, saya justru teringat pada perjalanan berkarya Suardina. Dalam dunia seni rupa, tidak sedikit seniman yang merasa harus terus menemukan sesuatu yang benar-benar baru agar dianggap berkembang.

Suardina memilih jalan berbeda. Ia tidak meninggalkan tanah dan justru semakin masuk ke dalamnya. Pilihan itu mungkin terdengar sederhana, padahal tidak. Tanah adalah medium yang jujur. Ia tidak bisa dipaksa. Sedikit berbeda suhu pembakaran, warna berubah. Jika sedikit berbeda kadar air, bentuk bisa retak. Begitu pun saat ada sedikit terlambat mengering, seluruh proses harus diulang.

Karena itu, bekerja dengan keramik selalu menuntut kesabaran. Barangkali itulah sebabnya karya-karya Suardina tidak pernah terasa tergesa-gesa. Ia membiarkan material menyelesaikan percakapannya sendiri.

Kurator pameran menulis bahwa dalam seni kriya kontemporer, material bukan lagi sekadar alat untuk mewujudkan gagasan. Tanah mempunyai sifatnya sendiri. Api menghadirkan kemungkinan yang tak selalu bisa diprediksi. Seniman bukan hanya membentuk material, tetapi juga dibentuk oleh material yang sedang dikerjakannya.

Kalimat itu seperti menjelaskan perjalanan artistik Suardina selama ini. Di tengah derasnya perkembangan seni kontemporer yang sering mengejar sensasi visual, karya-karya Suardina justru mengajak penonton memperlambat langkah, dimana tekstur dan retakan menjadi penting. Bahkan, permukaan yang tidak sepenuhnya rata menjadi penting.

Semuanya berbicara mengenai waktu dan juga tentang proses, dan pengalaman. Keramik yang diciptakannya tidak sedang berusaha menjadi benda yang sempurna. Sebaliknya, ia mengingatkan bahwa ketidaksempurnaan adalah bagian dari kehidupan.

Di sinilah saya merasa karya-karyanya selalu memiliki kedalaman yang berbeda. Ia tidak menawarkan jawaba, melainkan perenungan. Pengantar kuratorial pameran berkali-kali menegaskan bahwa seni kriya hari ini tidak lagi dibatasi oleh fungsi praktis. Kriya telah berkembang menjadi ruang dialog yang mempertemukan tradisi, inovasi, pengetahuan, pengalaman budaya, dan kesadaran ekologis. Medium tidak lagi dipahami sebagai batas, melainkan sebagai kemungkinan.

Saya melihat gagasan itu hidup pada karya Suardina. Tradisi tetap hadir, tetapi tidak diperlakukan sebagai benda museum. Ia dibaca, dan ditafsirkan kembali. Lalu dihadirkan dalam bahasa visual yang relevan dengan hari ini.

Di situlah letak kekuatan seorang perupa yang telah matang seperti Suardina. Ia tidak sibuk membuktikan dirinya modern. Ia cukup jujur terhadap pengalaman artistiknya sendiri.

Pameran ini juga menghadirkan seniman dari Amerika Serikat, Belanda, Jerman, Swiss, India, Kenya, Iran, dan Indonesia. Keberagaman itu memperlihatkan bahwa bahasa seni memang tidak mengenal batas negara.

Namun justru di tengah perjumpaan lintas budaya itulah identitas seorang seniman menjadi penting. Suardina tidak kehilangan Bali, ia juga tidak terjebak pada romantisme Bali, namun ia berdiri di antara keduanya.

Mengambil akar tradisi, tetapi membiarkannya tumbuh ke arah yang baru. Mungkin inilah makna Becoming yang sesungguhnya. Menjadi dan terus ‘menjadi’. Bukan selesai, dan juga bukan tiba. Melainkan bergerak tanpa henti.

Sebelum meninggalkan ruang pamer, saya kembali memandangi karya-karya yang memenuhi Bale Daja; tanah, kayu, logam, kain, dan serat. Semuanya seolah sedang berbicara. Namun, suara yang paling lama tinggal dalam ingatan saya justru datang dari sesuatu yang paling sederhana.

Tanah, yang selama ribuan tahun menjadi tempat manusia berpijak. Tanah yang diam-diam menyimpan ingatan. Dan di tangan Nyoman Suardina, tanah kembali menemukan bahasanya. Namun, bahasa yang tidak berteriak, tetapi sanggup membuat kita berhenti sejenak untuk mendengarkan kehidupan.[T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Jaswanto

Tags: Dr. Nyoman SuardinaPameran Kriya Internasional Becoming: Prakriti–Pustaka–PadmaSenyuman Bodoh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

Next Post

Bunglon di Republik Kita

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 7, 2026
0
BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

“Ring wwang haywa nirāśrayeka gawayen tekeng mahānaśraya” – Niti Sastra SENI rupa kontemporer tidak lagi menekankan pada aspek pemaknaan sebuah...

Read moreDetails

Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

by Mahesa Putra
July 6, 2026
0
Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

SEPERTI sajian pada menu makan bergizi, yang ditimbang, ditakar, hingga diukur kepada siapa porsi makan ini layak dihidangkan. Kepada tubuh...

Read moreDetails

Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

by Hartanto
July 4, 2026
0
Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni...

Read moreDetails

Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

by Mahesa Putra
June 30, 2026
0
Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana,...

Read moreDetails

‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

by Hartanto
June 29, 2026
0
‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu,...

Read moreDetails

Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

by Mahesa Putra
June 18, 2026
0
Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

SEJAK pagi langit mendung, angin membuat barisan pohon kelapa di halaman Roemah Tumbuh Kembang menari. Padahal sudah satu minggu ini...

Read moreDetails

Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

by Oka Rusmini
June 15, 2026
0
Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

SEBUAH pertanyaan tidak pernah lahir dari ruang hampa. Di balik kalimat pendek, “What’s for Dinner?” atau “Mau makan malam apa?”,...

Read moreDetails

Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

by Mas Ruscitadewi
June 13, 2026
0
Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar....

Read moreDetails

Stasiun Buraq : Arsitektur Mimpi Seorang Ilham Gusti Syahadat

by Made Chandra
June 8, 2026
0
Stasiun Buraq : Arsitektur Mimpi Seorang Ilham Gusti Syahadat

DERAP langkah beranjak naik, kain tirai perlahan mulai disingkapkan, lalu dengan segera bunyi-bunyian kendang, tembang dan segala perangkat kesenian jaranan,...

Read moreDetails

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

by Made Chandra
June 2, 2026
0
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

Read moreDetails
Next Post
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Bunglon di Republik Kita

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Bunglon di Republik Kita

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis
Ulas Rupa

Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

DI Bale Daja Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud, aroma tanah bakar seperti masih tertinggal di antara puluhan karya...

by Angga Wijaya
July 8, 2026
Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.” Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli...

by Dede Putra Wiguna
July 8, 2026
Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

AROMA kopi yang baru diseduh bercampur dengan wangi siobak dan tipat santok menyambut setiap langkah pengunjung di belakang panggung utama...

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa
Ulas Rupa

BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

“Ring wwang haywa nirāśrayeka gawayen tekeng mahānaśraya” – Niti Sastra SENI rupa kontemporer tidak lagi menekankan pada aspek pemaknaan sebuah...

by Dewa Purwita Sukahet
July 7, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

by Sugi Lanus
July 7, 2026
Wajah Baru, Jiwa yang Tertinggal —Catatan dari Titik Nol Kota Singaraja
Esai

Wajah Baru, Jiwa yang Tertinggal —Catatan dari Titik Nol Kota Singaraja

ADA yang janggal dari cara kita merayakan pembangunan hari ini. Setiap kali sebuah kawasan dipoles, dicat ulang, ditata dengan lampu-lampu...

by Satria Aditya
July 7, 2026
Era Chatting Telah Berlalu
Esai

Era Chatting Telah Berlalu

MENGOBROL, berdiskusi, atau berdebat secara daring, yang dalam bahasa Inggris lazim disebut chatting, pelan-pelan ingin saya tinggalkan. Bukan karena saya...

by Angga Wijaya
July 7, 2026
Memaknai Singaraja Literary Festival –Mengubur Sekat Kedisinian dan Kedisanaan
Esai

Memaknai Singaraja Literary Festival –Mengubur Sekat Kedisinian dan Kedisanaan

SINGARAJA Literary Festival (SLF)  IV   berlangsung sangat meriah selama 3 hari (Jumat-Minggu, 3-5 Juli 2026) di Kawasan Pusat Peradaban Bali...

by I Nyoman Tingkat
July 7, 2026
Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar
Khas

Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

MINGGU, 21 Juni 2026, di Griya Yangloni milik Dokter Ida Bagus Kesnawa, MM, di Banjar Buruan, Gianyar, sebuah pengalaman sederhana...

by Agung Sudarsa
July 7, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Negeri yang Sakit dan Ambulans yang Berbelok-Belok

PENGALAMAN mendengar Ambulan Zig Zag karya Iwan Fals memang seperti mendengar sirene yang tak pernah benar-benar berhenti. Sirene itu tidak...

by Ahmad Sihabudin
July 7, 2026
Prakriti–Pustaka–Padma 2026: Meneguhkan Seni Kriya sebagai Ruang Dialog Lintas Budaya
Pameran

Prakriti–Pustaka–Padma 2026: Meneguhkan Seni Kriya sebagai Ruang Dialog Lintas Budaya

PAMERAN seni rupa bertajuk Prakriti–Pustaka–Padma 2026 di Museum ARMA, Ubud, menghadirkan ruang apresiasi yang kaya akan keberagaman medium, gagasan, dan...

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co