Ketika anak-anak itu bermain riang, ruang Gedung Mario berubah menjadi area interaktif, sangat dinamis dan terkesan lebih hidup. Langit-langit tinggi dan tiang-tiang bangunan ikut berteriak, karena energi dari aktivitas anak-anak itu. Mereka adu lari dengan cara yang unik. Satu anak berlari dengan mengangkat kedua kaki temannya, satu anak lari menggunakan tangannya. Sorak dan teriakan pun pecah. Itu pertanda stres, energi negatif dan ketegangan telah lepas.
Sebanyak 80 anak-anak dari SD Negeri 1 Buahan itu sedang mengikuti Maplayanan (permainan) dalam acara Workshop Permainan Tradisional “Kakua Buta” (Penyu Buta) di Gedung Mario, Jumat 26 Juni 2026. Workshop dalam kegiatan Pemajuan Kebudayaan dari Badan Pelestarian Kebudayaan Bali yang memberikan bantuan kepada I Wayan Sumerta Dana Arta itu menghadirkan dua narasumber, yaitu I Nyoman Budarsana dan Dewa Gede Sudarma.
Anak-anak itu telah mempersiapkan diri sejak pagi. Mereka berkumpul di sekolahnya, lalu naik bus untuk bisa sampai di gedung kesenian yang terletak di jantung Kota Tabanan itu. Wajah mereka sangat senang. Mereka bermain dengan mengenakan busana adat, seperti kain, baju kaos dan udeng untuk anak laki-laki. Selama dua jam mereka menikmati permainan tradisional yang dipercaya dapat membentuk karakter. Melalui permaian itu, mereka juga belajar tentang pentingnya menjaga kelestarian alam dengan cara bermain.
Sebab, Kekua Buta merupakan permainan tradisional Bali yang mengajak anak-anak mengenal dan menyayangi binatang langka, salah satunya penyu. Permainan ini dapat dimainkan oleh 12 anak hingga 20 anak secara berkelompok. Setiap kelompok terdiri atas dua orang. Satu anak berperan sebagai kekua (anak yang lari dengan kedua tangan dengan mata ditutup). Sementara, satu anak berperan sebagai pendamping kekua yang mengangkat kedua kaki dan mengarahkan.

Sebelum permainan dimulai, seluruh anak-anak bernyanyi, melantunkan lagu tentang pelestarian kekua atau penyu. Lagu dengan struktur melodi sederhana dan lirik yang berulang secara alami sangat mudah diikuti seluruh yang hadir. Dalam kebersamaan itu, mereka kemudian bernyanyi:
• Timpal-timpal ngiring lestariang beburone ane langka
(teman-teman ayo lestarikan bianatang langka)
• Timpal-timpal ngiring lestariang beburone ane langka
(teman-teman ayo lestarikan bianatang langka)
• Apa to…, apa to…, adane, ento kekua
(apa itu, apa itu, namanya penyu)
• Jalan lebang ka pasihe
(ayo lepas ke laut)
• Jemak batisne, ekutne egol-egol
(ambil kakinya, ekornya goyang-goyang)
Ketika lagu pada kalimat “jemak batisne, ekutne egol-egol” anak yang dibelakang mengangkat kedua kaki anak yang berperan sebagai kekua, lalu berlari. Masing-masing kelompok mengerahkan seluruh kekuatan untuk menjadi pemenang. Tidak sedikit anak yang berperan sebagai kekua itu keluar lintasan karena matanya tertutup (buta). Itu karena anak dibelakkang, tidak baik mengarahkan temannya, sehingga kekua keluar lintasan, bahkan jatuh. Tawa pun kembali pecah.
Permainan menggunakan sistem perlombaan. Kelompok yang paling cepat mencapai garis akhir dan tetap berada di dalam lintasan akan menjadi pemenang. Kelompok yang menang kemudian dikumpulkan, kemudian bertanding untuk menjadi penenang kembali, sehingga memperoleh satu kelompok yang terbaik. Meski sudah diberikan kesempatan bermain, namun ada saja yang tidak puas, sehingga melakukan secara berulang-ulang saking serunya.
Sejarah dan manfaat
Sebelum praktik berlangsung, para peserta mengikuti sesi pengenalan mengenai sejarah dan filosofi permainan. Narasumber I Nyoman Budarsana menjelaskan, Maplayanan Kakua Buta diciptakan oleh I Wayan Sumerta Dana Arta atau yang akrab disapa Wayan Mokoh pada tahun 2016. Permainan ini lahir sebagai media edukasi untuk mengenalkan satwa langka kepada generasi muda, terutama penyu yang populasinya perlu terus dijaga.
Menurut Budarsana, inspirasi permainan tersebut muncul ketika Wayan Mokoh menyaksikan kegiatan pelepasan tukik di Pantai Yeh Gangga, Tabanan. Saat itu, wisatawan mancanegara tampak antusias melepas anak-anak penyu menuju laut sebagai bentuk kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.
“Semangat itulah yang ingin dikenalkan dan ditularkan kepada anak-anak, agar mereka tumbuh dengan kesadaran untuk menjaga binatang langka sekaligus melestarikan lingkungan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa penyu merupakan satwa yang dilindungi sehingga masyarakat memiliki tanggung jawab menjaga kebersihan pantai dan laut sebagai habitatnya.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, Budarsana menilai permainan tradisional memiliki peran yang semakin penting. Selain menjadi media rekreasi, permainan tradisional mampu menyeimbangkan tumbuh kembang anak melalui aktivitas fisik, membangun kemampuan sosial, melatih sportivitas, serta menjaga keberlangsungan warisan budaya Bali.

Sementara itu, narasumber Dewa Gede Sudarma menjelaskan, gerakan dalam permainan Kakua Buta memberikan manfaat bagi kebugaran tubuh. Posisi berjalan menggunakan tangan sambil menopang berat badan mampu melatih kekuatan otot lengan, otot perut, otot punggung, daya tahan, serta keseimbangan tubuh.
“Permainan Kakua Buta dapat memperkuat otot lengan, otot perut, dan otot punggung. Selain menyenangkan, permainan ini juga menyehatkan,” katanya.
Workshop ini menunjukkan bahwa permainan tradisional bukan sekadar hiburan. Di balik tawa dan keceriaan anak-anak, tersimpan pelajaran tentang kerja sama, kepercayaan, kecintaan terhadap alam, serta pentingnya melestarikan budaya lokal agar tetap hidup di tengah perubahan zaman. [T]
Reporter/Penulis: Wahyu Mahaputra
Editor: Adnyana Ole






























