19 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

Pande Susan by Pande Susan
June 18, 2026
in Esai
‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

SAAT matahari mulai menuju satu garis lurus di atas kepala, derau ritmis mengisi ruang di bawah atap Bale Daja rumahku di Kelurahan Beng, Gianyar, Bali. Di tengah orkestrasi aroma bahan-bahan basa genep yang diracik oleh bapak, sayup terdengar bunyi logam beradu, klek klek klek… Bunyi itu bukan berasal dari bilah pisau yang mencincang daging, melainkan dari stapler besi yang digerakkan dengan cekatan oleh tanganku dan tangan ibuku. Tradisi mejejaitan, yang dulunya merupakan ruang kognitif untuk meditasi, ketekunan, dan keheningan, kini perlahan bertransmisi menjadi aktivitas mekanis yang diburu oleh jarum jam modernitas.

Penjor sebagai salah satu penanda Hari Raya Galungan | Foto: Pande Susan

Di tengah riuh kosmopolitan, Pulau Dewata seolah berdiri di persimpangan jalan antara mempertahankan keajegan nilai spiritualitasnya atau larut dalam arus kepraktisan yang instan. Menjelang rerahinan jagat seperti Galungan, wajah kami bersolek rupa. Penjor-penjor menjulang tinggi melengkung di sepanjang jalan, menciptakan lanskap visual yang megah sekaligus eksotis. Namun, jika melangkah lebih dekat dan menatap pelinggih-pelinggih suci di pekarangan rumah, kita akan menemukan sebuah teater budaya yang sunyi pada selembar Lamak dan gantungan Ceniga.

Sanggah atau Merajan yang dipenuhi banten dan dihiasi lamak pada pelinggihnya saat Hari Raya Galungan | Foto: Pande Susan

Lelamak: Sepotong Sajak Kosmis yang Tergerus Estetika Instan

Lamak, selembar hiasan persegi panjang vertikal yang menyembul anggun di pelinggih, arca, hingga kendaraan bermotor. Ia bukan sekadar pemanis dekorasi ritual. Secara etimologis, lelamak berakar dari bahasa Kawi, yang berarti alas atau dasar. Sebelum banten atau sesajen ditempatkan di tempat suci, lamak terlebih dahulu dibentangkan sebagai landasan spiritual. Ia adalah jembatan estetis yang menghubungkan bumi (Bhuana Alit) dengan langit (Bhuana Agung), ruang transendental tempat manusia memohon anugerah sinar suci pengetahuan dari Sang Pencipta.

Lamak Galungan yang terbuat dari daun Ron dan daun Ambu | Foto: Pande Susan

Jika kita mengamati lembar demi lembar lamak tradisional, kita sedang membaca sebuah peta kosmologi yang kompleks. Ornamennya diatur dengan disiplin estetika yang ketat. Di bagian atasnya, ornamen sang surya yang memancarkan berkah kehidupan bersanding dengan figur cili sebagai simbol dualitas penciptaan (Purusa-Pradana atau Rwa Bhineda). Pada bagian tengah, hiasan Patra Mas-masan atau Kayonan menyimbolkan ketinggian suci tempat bersemayamnya para dewata. Terakhir, motif tumbuh-tumbuhan di bagian bawah, merepresentasikan kesuburan, kedamaian, dan keikhlasan hati manusia dalam ber-yadnya.

Ukiran berupa bunga, patra dan pohon pada lamak Galungan yang diletakkan di sanggah penjor | Foto: Pande Susan

Namun, kesakralan prosesi penciptaan lamak kini tengah berhadapan dengan badai komodifikasi. Sebelum aku lahir pada tahun 1990-an, membuat lamak adalah ritus keluarga yang intim. Kaum perempuan berkumpul di teras rumah, menganyam helai demi helai daun enau muda (ambu) yang putih kekuningan, lalu membingkainya dengan daun enau tua (ron) yang hijau pekat. Ada transfer pengetahuan kultural yang mengalir secara alami dari ibu ke anak perempuan dalam kehangatan percakapan domestik.

Dokumentasi akun instagram @istria_yds, suasana di pinggir jalan pertokoan pusat kota Gianyar yang dipenuhi penjual lamak Galungan dan diserbu pembeli yang keduanya adalah kaum ibu-ibu

Hari ini, keintiman itu menguap digantikan oleh transaksi cepat di pinggir jalan. Masyarakat Bali yang didera kesibukan kerja kantoran atau industri pariwisata lebih memilih membeli lamak Galungan siap pakai. Sentra-sentra penghasil lamak, seperti Banjar Angkling di Desa Babakan, Gianyar dan Banjar Serokadan di Desa Abuan, Bangli, kini menjadi pabrik musiman yang mendistribusikan ribuan lamak menjelang hari raya. Proses pembuatan yang dahulunya bersifat komunal dan personal, kini bergeser menjadi hubungan transaksional ekonomi. Bahkan, material alami yang memiliki filosofi kesucian karena dapat terurai kembali ke tanah mulai digantikan oleh bahan sintetis seperti pita plastik, kain, dan payet berwarna-warni demi keawetan dan kepraktisan visual.

Maceniga: Menggantungkan Cahaya (?)

Kisah serupa dialami oleh Ceniga. Benda ini sering kali disalahartikan sebagai lamak, padahal fungsinya adalah sebagai pelengkap. Ceniga atau juga disebut capah, sampian gantung, atau gantungan, berasal dari kata Cuni (cahaya/permata) dan Ga (terang/galang).

Contoh ceniga/capah/gantungan saat Hari Raya Galungan yang diletakkan di bawah banten | Foto: Pande Susan

Ceniga, Capah, atau Gantungan dibuat dengan dua sampai empat potongan janur. Pangkal janur dipotong sehingga membentuk rumbai yang akan bergerak jika ditiup angin. Di bagian atasnya melebar membentuk kerucut tanpa alas. Kemudian disambung pada bagian atas janur dan dibentuk menyerupai permata dengan empat sisi. Bagian paling atas (kepala capah) berbentuk seperti kerucut terbalik tanpa alas.

(a) Ilustrasi Capah dengan 4 janur

(b) Capah dengan 2 rontal yang digantung pada arca/togog

Ada beberapa cara yang digunakan untuk menggantung capah. Pertama, dengan menempelkan 1-4 ujung janur lain di bagian kepala capah kemudian diikat menjadi satu simpul. Kedua, dengan memasukan lidi janur dari bagian “permata” sampai menembus bagian kepala capah lalu ujungnya disimpul.

Secara teologis, memasang ceniga (disebut dengan istilah maceniga) adalah simbol permohonan agar pelinggih dan rumah senantiasa dipayungi oleh sinar suci Tuhan sebagai penolak bala. Tradisi maceniga dilakukan sore hari pada hari Penampahan, sehari sebelum Galungan. Pemilihan waktu tersebut dilandasi pertimbangan taktis: agar kelengkapan organik berupa ceniga, daun paku-pakuan, bunga ratna, dan daun edelweis kering tidak layu saat keesokan paginya upacara dimulai. Di dalam rumah-rumah tua atau pekarangan keluarga besar, maceniga menjadi momen pengenalan rerahinan bagi anak-anak. Mereka dituntun oleh orang tua untuk membersihkan pelinggih, memasang kain wastra, mengganti air suci di dalam caratan, hingga menggantungkan ceniga secara berpasangan menggunakan lidi janur pada paku pelinggih.

Di era modern yang menuntut efisiensi ruang dan waktu, tradisi maceniga mengalami penyusutan teknis. Demi kepraktisan, banyak umat kini tidak lagi menggantungkan ceniga secara mandiri pada pelinggih. Ceniga langsung disatukan secara paksa, sering kali di-staples, tepat di atas lembaran lamak. Secara visual ia memang terlihat menggantung di depan altar pelinggih, tetapi secara teknis tidak lagi tergantung secara bebas. Pergeseran kecil ini sesungguhnya menjadi metafora yang tajam bagi spiritualitas Bali modern: kita kerap kali menampilkan sesuatu yang tampaknya teguh dan indah di luar, namun kehilangan esensi proses dan kedalaman maknanya di dalam. Jika aku ditanya mengenai hal ini, aku akan balik bertanya, “yang penting secara visual masih cantik dan mempercepat waktu pemasangan, kan?”

Capah yang dipasang tergantung di sudut Bangunan Bale Dauh | Foto: Pande Susan
Capah yang dipasang  menempel pada lamak  di pelinggih  

Terkadang aku berpikir, benak kita melayang ke atas, ke hadapan dewata, namun kaki kita sudah melupakan bumi dan mengotorinya dengan bahan yang tidak bersahabat baginya.

Janur-Janur dalam Rakitan Besi

Ketika modernitas menawarkan kepraktisan, kebudayaan Bali sering kali harus membayar mahal dengan hilangnya keharmonisan ekologis. Salah satu transformasi kecil namun berdampak besar adalah peralihan dari penggunaan semat (lidi bambu tipis yang diraut gilik) menjadi staples besi dalam proses mejejaitan lamak dan ceniga.

​Staples logam dipilih karena murah, menghemat waktu pembuatan, serta mempermudah menyatukan bahan-bahan yang tebal atau ukurannya kecil. Namun, staples menimbulkan dilema teologis dan ekologis yang serius. Berbeda dengan semat yang merupakan unsur organik dan dapat terurai kembali ke dalam tanah bersama sisa sesajen (lungsuran), staples besi menjadi residu tajam yang mengotori tanah pekarangan dan pura, serta merusak kualitas kompos alami di Bali.

Capah/ ceniga yang dibuat dari rontal dengan staples dan hiasan dari pita merah dan payet hijau

Multi-dimensi Perempuan Bali

Di balik keindahan anyaman lamak dan gemerlap ceniga, ada beban sosial yang sangat berat yang dipikul oleh kami, perempuan Bali. Sebagai penjaga gerbang kebudayaan, kami mengemban tanggung jawab sosial-keagamaan yang masif. Tuntutan jam kerja profesional seperti perkantoran, hospitality dan kesehatan membatasi waktu yang kami bersentuhan dengan tradisi. Bahkan pertanyaan yang pernah terlontar dari rekan kerjaku ketika aku membawa janur ke kantor untuk persiapan hari raya, “Kak San mau buat canang sendiri? Aku jarang, malah nggak bisa buat?”.

Pertanyaan tersebut secara tidak langsung menjadi representasi kaum perempuan muda Bali yang memiliki pengetahuan dan keterampilan yang minim serta terkungkung waktu. Pada akhirnya, kondisi ini melahirkan pasar komersialisasi banten yang sangat besar di Bali. Membuat banten dan lamak tidak lagi menjadi ekspresi bhakti personal, melainkan tugas domestik yang dialihdayakan lewat rupiah.

Menjemput Sisa Spiritualisme Bali

Modernitas adalah keniscayaan, tetapi ia tidak harus menggilas orisinalitas jiwa kebudayaan Bali. Tantangannya adalah upaya kolektif dan peran multi-sektor dalam mentransmisikan pengetahuan dan praktik budaya kepada generasi muda. Kita perlu berintrospeksi dan berefleksi, sudah sejauh mana efektivitas regulasi pemerintah, penegakan hukum adat, penerapan kurikulum muatan lokal di sekolah, serta optimalisasi peran komunitas dan lembaga non-pemerintah sebagai ruang edukasi publik.

Pada akhirnya, lamak dan ceniga di atas pelinggih adalah cermin dari diri kita sendiri. Keindahan sejati Bali tidak terletak pada kemegahan visual yang instan dan penuh kepalsuan material sintetis, melainkan pada ketulusan proses, keringat perjuangan menganyam janur bersama keluarga, serta keharmonisan hubungan antara manusia, alam semesta, dan Sang Pencipta.[T]

Penulis: Pande Susan
Editor: Adnyana Ole

Tags: hari raya galunganhinduHindu BalipenjorTradisi Galungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mendengarkan Hidup Saya dari Mulut Orang Lain

Next Post

Tiongkok di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Perpaduan Seni Musik Pertunjukan, Tarian Tradisional hingga Pameran Warisan Budaya Tak Benda

Pande Susan

Pande Susan

Perempuan unyil yang punya rasa ingin tahu maksimal dengan latar belakang pendidikan ilmu pengetahuan alam dan praktik tradisional. Si unyil senang mengumpulkan pengalaman di berbagai bidang, seperti farmasi, lingkungan, dan basis data serta penelitian, praktik, dan dokumentasi budaya. Sedang tertarik mengawinkan sains-sosial untuk membedah pengetahuan tradisional sebagai dasar untuk kemajuan budaya. Keep in touch with me on instagram @earth_susan

Related Posts

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
0
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

Read moreDetails

Cara Kerja Kekuasaan Meredam Kritik Publik

by Teddy Chrisprimanata Putra
October 18, 2026
0
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

“No Rocky, No Party” BARANGKALI jargon tersebut masih sangat relate hingga hari ini. Pasalnya, nama Rocky Gerung kembali menjadi diskursus...

Read moreDetails

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

by Pande Susan
October 17, 2026
0
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

Read moreDetails

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

by Angga Wijaya
October 17, 2026
0
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

Read moreDetails
Next Post
Tiongkok di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Perpaduan Seni Musik Pertunjukan, Tarian Tradisional hingga Pameran Warisan Budaya Tak Benda

Tiongkok di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Perpaduan Seni Musik Pertunjukan, Tarian Tradisional hingga Pameran Warisan Budaya Tak Benda

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU
Esai

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta
Ulas Rupa

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

by Emi Suy
October 19, 2026
Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental
Olahraga

Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental

KETIKA musik mulai diputar, tangan para peserta terangkat di atas kepala. Mereka bertepuk tangan mengikuti irama lagu “Gemu Fa Mi...

by Nyoman Budarsana
October 19, 2026
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata
Esai

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

by Angga Wijaya
October 19, 2026
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra
Esai

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya
Ulas Musik

Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

ADA masa ketika malam adalah malam. Setelah matahari tenggelam, kehidupan perlahan menurunkan volumenya. Warung mulai menutup pintu, pasar berhenti berisik,...

by Ahmad Sihabudin
October 19, 2026
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media
Esai

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

by Angga Wijaya
October 18, 2026
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana
Esai

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

by IGA Darma Putra
October 18, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co