18 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mendengarkan Hidup Saya dari Mulut Orang Lain

Angga Wijaya by Angga Wijaya
June 18, 2026
in Esai
Mendengarkan Hidup Saya dari Mulut Orang Lain

Reda Subagio (kanan) saat diwawancarai oleh mahasiswi Psikologi Universitas Udayana. (Foto: Angga Wijaya)

TIGAminggu lalu saya mendengarkan tunangan saya diwawancarai. Kalimat itu terdengar aneh. Biasanya sayalah yang mewawancarai orang. Sejak menjadi wartawan, entah sudah berapa ratus orang yang saya wawancarai. Dari bupati, gubernur, anggota dewan, seniman, penyair, petani, sampai tukang parkir yang lebih pandai bercerita daripada pejabat yang gajinya puluhan juta rupiah.

Kemarin saya hanya duduk diam, yang banyak bicara adalah Reda, tunangan saya.  Kami bertemu di sebuah kedai di Denpasar bersama dua mahasiswi Psikologi Universitas Udayana. Salah satunya bernama Maya. Ia sedang menyusun skripsi. Topiknya tentang pendamping orang dengan skizofrenia.

Saya sengaja tidak menyebut istilah caregiver saat itu. Kata itu terdengar terlalu resmi. Terlalu kampus. Bagi saya, Reda adalah Reda. Orang yang selama dua belas tahun terakhir mendengar keluhan-keluhan saya yang kadang tidak penting, menerima telepon ketika saya sedang cemas, orang yang berkali-kali saya kirimi puisi, dan bertahan lebih lama daripada yang pernah saya bayangkan.  

Maya membuka buku catatannya, dan menyalakan alat rekam. Lalu wawancara dimulai. Awalnya saya santai saja. Saya pikir pertanyaannya tidak akan jauh-jauh dari pengalaman mendampingi seseorang yang pernah didiagnosis skizofrenia.

Ternyata saya keliru. Karena setiap jawaban Reda seperti membuka laci-laci lama yang sudah lama tidak saya buka. Ada banyak peristiwa yang ternyata masih diingatnya, banyak percakapan yang ternyata masih disimpannya, dan ada banyak hari yang sudah saya lupakan, tetapi masih hidup dalam ingatannya.

Dan saya mulai merasa seperti sedang mendengarkan hidup saya sendiri dari mulut orang lain. Ada satu momen yang masih saya ingat. Ketika Maya bertanya tentang perubahan yang ia lihat pada diri saya selama bertahun-tahun. Pertanyaan itu sederhana, tetapi jawaban Reda membuat saya terdiam.

Ia bercerita tentang saya yang sekarang dan saya yang dulu. Tentang bagaimana seseorang bisa berubah tanpa benar-benar menyadari bahwa dirinya sedang berubah. Saya tidak ingat persis kalimat-kalimat yang ia gunakan. Wartawan pun kadang gagal menjadi pencatat yang baik ketika sedang sibuk menjadi manusia biasa.

Namun saya menangkap kesannya. Bahwa pemulihan ternyata lebih mudah dilihat dari luar daripada dari dalam. Kita yang menjalaninya sering merasa tidak bergerak ke mana-mana. Masih orang yang sama, membawa kecemasan yang sama, atau bergulat dengan masalah yang hampir serupa.

Tetapi orang yang setiap hari melihat kita rupanya bisa melihat hal-hal yang tidak kita sadari. Mereka melihat kita lebih sabar, tenang, mampu mengendalikan diri, dan lebih mampu menghadapi hidup. Atau setidaknya lebih mampu menertawakan hidup.

Saya tersenyum ketika mendengar sebagian cerita itu.Bukan karena bangga, melainkan karena merasa sedang mendengar biografi singkat tentang diri sendiri yang ditulis oleh orang lain. Ada bagian yang terasa akurat, ada bagian yang membuat saya ingin menyela. Juga, ada bagian yang membuat saya berpikir, “Benarkah saya seperti itu?”

Tetapi mungkin memang begitulah manusia. Kita mengenal diri sendiri sepanjang hidup, tetapi tetap ada sudut-sudut yang hanya bisa dilihat oleh orang lain. Saya lalu teringat sebuah kebiasaan lama. Ketika hubungan kami masih baru, saya sering mengirim tulisan kepada Reda sebelum tulisan itu dikirim ke media. Kadang puisi, esai, atau tulisan yang sekarang jika saya baca ulang mungkin akan membuat saya malu sendiri.

Anehnya, ia selalu membacanya. Tidak semua orang sanggup menjadi pembaca pertama bagi seorang penulis yang sedang belajar. Itu pekerjaan yang lebih berat daripada yang dibayangkan. Karena menjadi pembaca pertama berarti menyaksikan semua kegagalan sebelum orang lain melihat keberhasilannya.

Dan sore itu saya sadar, mungkin selama ini Reda bukan hanya saksi perjalanan hidup saya. Ia juga saksi perjalanan tulisan-tulisan saya, Dari hari-hari ketika saya belum memiliki buku, ketika saya mulai menerbitkan buku, dan saksi dari hari-hari ketika saya masih terus mencoba menjadi penulis yang lebih baik.

Saya pertama kali didiagnosis mengidap skizofrenia paranoid pada 2009. Sudah cukup lama berlalu, waktu yang cukup panjang untuk membuat seseorang lupa banyak hal. Tetapi ada beberapa hal yang tetap tinggal. Saya masih ingat perasaan bingung saat itu, masih ingat bagaimana hidup tiba-tiba terasa seperti jalan yang peta arahnya hilang.

Ketika masih muda, kita sering berpikir masa depan adalah sesuatu yang pasti. Kita membayangkan kuliah, bekerja, menikah, punya rumah, lalu tua dengan tenang Kenyataannya tidak selalu demikian. Hidup kadang melemparkan sesuatu yang tidak ada dalam rencana. Dan ketika itu terjadi, kita dipaksa belajar dari awal.

Belajar menerima, memahami, bertahan, dan berharap. Mungkin karena itulah saya selalu merasa orang yang pernah jatuh memiliki cara pandang berbeda terhadap hidup. Mereka tahu bahwa banyak hal yang dianggap pasti ternyata bisa berubah dalam sekejap.

Saya mengenal Reda beberapa tahun setelah diagnosis itu. Tahun 2014. Kalau dipikir-pikir sekarang, saya sering heran sendiri mengapa ia mau menjalin hubungan dengan saya. Saat itu saya bukan siapa-siapa, tidak punya banyak uang, prestasi, dan buku yang bisa dipamerkan. Belum punya nama yang dikenal orang. Saya hanya seorang lelaki yang sedang berusaha menyusun kembali hidupnya.

Kadang saya membayangkan jika kisah kami ditulis sebagai proposal investasi, mungkin tidak ada yang tertarik menanam modal. Risikonya terlalu besar, prospeknya belum jelas, dan masa depannya masih kabur. Tetapi untunglah cinta tidak bekerja seperti analis keuangan. Ia sering mengambil keputusan yang tidak masuk akal. Dan syukurlah untuk itu.

Dalam salah satu bagian wawancara, Maya bertanya tentang masa-masa awal hubungan kami. Saya melirik Reda. Ia tersenyum kecil sebelum menjawab. Saya tahu senyum itu, senyum yang biasanya muncul ketika seseorang sedang mengingat sesuatu yang jauh. Saya tidak ingat persis semua jawaban yang ia berikan.

Tetapi saya tahu inti ceritanya. Bahwa perjalanan kami tidak selalu mudah. Hubungan apa pun yang bertahan lebih dari satu dekade pasti pernah melewati masa-masa sulit. Apalagi hubungan yang dibangun di atas berbagai perbedaan. Kami berbeda agama, latar belakang keluarga. Kami berbeda dalam banyak hal.

Kadang saya berpikir satu-satunya kesamaan kami adalah sama-sama keras kepala. Mungkin itu juga alasan hubungan ini masih bertahan. Dua orang keras kepala yang sama-sama menolak menyerah.

Maya terus bertanya. Reda terus menjawab. Saya terus mendengarkan. Dan semakin lama saya merasa sore itu bukan lagi tentang skripsi. Ia berubah menjadi perjalanan melintasi waktu. Saya melihat kembali diri saya pada 2015. Tahun ketika saya mulai aktif kembali sebagai wartawan.

Saya masih ingat betapa bersemangatnya saya saat itu. Menulis berita, mengejar narasumber, enghadiri konferensi pers, atau menunggu pejabat yang terlambat datang. Pulang malam dengan kepala penuh catatan. Ada kebahagiaan yang sulit dijelaskan ketika seseorang kembali menemukan pekerjaannya.

Bagi sebagian orang, menjadi wartawan mungkin bukan pekerjaan impian. Tetapi bagi saya, pekerjaan itu seperti rumah yang selalu bisa saya datangi kembali. Di sana saya belajar mendengar orang lain, belajar bahwa setiap manusia membawa cerita. Dan di sana pula saya perlahan belajar bahwa saya pun memiliki cerita.

Karier menulis saya berkembang pelan-pelan. Tidak ada ledakan besar atau keajaiban mendadak. Saya tidak tiba-tiba menjadi penulis terkenal. Yang ada hanyalah kebiasaan menulis setiap hari. Menulis ketika suasana hati baik, atau sebaliknya; buruk. Menulis ketika ada ide, atau ketika tidak ada ide. Sampai akhirnya satu buku terbit. Lalu buku berikutnya. Lalu berikutnya lagi. Hari ini jumlahnya sudah dua puluh buku. Sembilan buku kumpulan puisi, dan sebelas kumpulan esai dan artikel.

Kadang saya sendiri heran melihat angka itu. Bukan karena merasa hebat, melainkan karena saya tahu dari mana saya memulainya. Saya tahu ada masa ketika bangun pagi saja terasa sulit. Karena itu setiap buku selalu terasa seperti kemenangan kecil. Bukan kemenangan atas orang lain, melainkan kemenangan atas diri sendiri.

Di tengah wawancara, saya tiba-tiba teringat sesuatu. Selama ini orang-orang sering mengucapkan selamat kepada saya. Selamat atas buku baru, penghargaan, artikel yang terbit, dan berbagai pencapaian kecil yang saya raih. Dan saya berterima kasih untuk semua itu.

Tetapi sore itu membuat saya berpikir bahwa ada banyak orang yang sebenarnya juga pantas menerima ucapan selamat. Mereka hanya tidak terlihat. Tidak menulis buku, nama mereka tidak muncul di koran, atau diundang menjadi pembicara. Mereka hanya hadir. Hari demi hari, tahun demi tahun. Tanpa banyak suara. Saya kira Reda termasuk di antaranya.

Ada satu pertanyaan yang tidak diajukan Maya, tetapi terus berputar di kepala saya. Bagaimana jika Reda pergi? Pertanyaan itu terdengar dramatis. Namun bukankah hidup sering berubah karena seseorang memutuskan pergi? Banyak persahabatan berakhir karena itu, hubungan kandas karena itu, dan mimpi runtuh karena itu. Tetapi Reda tidak pergi. Setidaknya sampai hari ini.

Ia masih ada ketika saya menulis artikel ini. Masih menjadi orang pertama yang membaca sebagian tulisan saya. Ia masih sering mengoreksi kesalahan-kesalahan kecil yang luput dari perhatian saya. Dan entah sudah berapa kali ia mengingatkan saya tentang hal-hal yang saya lupa. Usia mungkin membuat daya ingat manusia berkurang. Untung ada orang lain yang bersedia mengingatkan.

Menjelang sore, suasana kedai mulai berubah. Pengunjung bertambah ramai. Suara kendaraan dari jalan raya semakin terdengar. Maya masih mencatat. Sesekali ia mengajukan pertanyaan lanjutan. Saya memperhatikan kesungguhannya. Saya membayangkan skripsi itu suatu hari akan selesai. Mungkin akan dijilid dan disimpan di perpustakaan kampus. Mungkin akan dibaca mahasiswa lain bertahun-tahun kemudian. Dan mungkin di antara ratusan halaman itu akan ada sebagian kecil cerita tentang kami.

Tentang seorang perempuan yang mendampingi laki-laki yang pernah didiagnosis skizofrenia, tentang perjalanan yang tidak selalu mudah. Tentang kehidupan yang terus berjalan. Ketika wawancara selesai, kami pun beranjak pulang. Tidak ada peristiwa besar. Tidak ada adegan dramatis. Tidak ada musik pengiring seperti dalam film. Hanya sore biasa di Denpasar.

Tetapi sering kali hidup memang berubah melalui peristiwa-peristiwa biasa. Dalam perjalanan pulang, saya memikirkan banyak hal. Tentang waktu, cinta, dan pemulihan. Juga, tentang orang-orang yang diam-diam membantu kita menjadi diri kita hari ini. Lalu saya teringat kalimat yang sejak tadi berputar-putar di kepala.

Kemarin saya mendengarkan hidup saya sendiri dari mulut orang lain. Dan untuk pertama kalinya saya menyadari bahwa hidup saya ternyata tidak hanya milik saya. Di dalamnya ada keluarga yang tidak pernah berhenti berdoa, dokter yang membantu ketika keadaan menjadi sulit, sahabat yang tetap bertahan. Ada pembaca yang terus memberi semangat. Dan tentu saja, ada Reda.

Perempuan yang selama dua belas tahun terakhir berjalan bersama. Menjadi saksi ketika hidup berada di titik terendah. Perempuan yang juga menyaksikan ketika hidup perlahan membaik. Tidak ada manusia yang benar-benar berjalan sendirian. Kita dibentuk oleh banyak tangan, banyak suara, banyak kehadiran.

Kemarin, melalui pertanyaan-pertanyaan Maya dan jawaban-jawaban Reda, saya diingatkan kembali tentang hal itu. Dan saya pulang dengan satu perasaan yang sangat sederhana. Syukur. Karena masih hidup, menulis, bekerja, masih bisa menjadi wartawan, pekerjaan yang pernah saya tinggalkan dan kemudian saya temukan Kembali. Selain itu, karena masih bisa menerbitkan buku-buku yang dulu hanya saya impikan. Juga, karena masih bisa tertawa pada hal-hal kecil yang dahulu terasa mustahil untuk ditertawakan.

Dan terutama karena, sampai hari ini, masih ada seseorang yang bersedia membantu saya mengingat bagian-bagian hidup yang mulai saya lupakan. Seseorang yang dua minggu lalu diwawancarai untuk sebuah skripsi. Tetapi bagi saya, ia jauh lebih dari sekadar narasumber penelitian. Ia adalah saksi. Saksi dari tahun-tahun yang berantakan, dari hari-hari yang penuh harapan. Saksi dari perjalanan panjang yang membawa saya sampai di titik ini.

Dan mungkin itulah arti cinta yang sesungguhnya. Bukan kata-kata besar atau janji-janji yang diucapkan pada hari-hari bahagia. Melainkan kesediaan untuk tetap tinggal ketika hidup sedang tidak mudah. Kesediaan untuk menemani seseorang melewati jalan panjang. Tahun depan, kami berencana untuk menikah. Semoga ikhtiar kami tidak menemui kendala yang berarti. Tiga minggu lalu, di sebuah kedai di Denpasar, saya tidak hanya mendengarkan jawaban-jawaban Reda. Saya mendengarkan hidup saya sendiri. Dan dalam cerita itu, nama Reda muncul hampir di setiap halaman. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: jurnalismekehidupan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wikan Satya, Musisi Cilik Kelas 6 SD Rilis Karya Terbaru Berjudul ‘Galungan’

Next Post

‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

by Pande Susan
June 18, 2026
0
‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

SAAT matahari mulai menuju satu garis lurus di atas kepala, derau ritmis mengisi ruang di bawah atap Bale Daja rumahku...

Read moreDetails

Bung Karno di Rumah Petani   

by I Nyoman Tingkat
June 18, 2026
0
Bung Karno di Rumah Petani   

JUNI adalah Bulan Bung Karno. Pada 1 Juni 1945, hari ketiga sidang BPUPKI, Bung Karno mendapat kesempatan ketiga setelah Muhamad...

Read moreDetails

Penjor Kesadaran di Tengah Gemerlap Bali: Galungan, Pariwisata, dan Pertaruhan Masa Depan Pulau Dewata

by Agung Sudarsa
June 17, 2026
0
Penjor Kesadaran di Tengah Gemerlap Bali: Galungan, Pariwisata, dan Pertaruhan Masa Depan Pulau Dewata

Penjor yang Menjulang dan Pertanyaan yang Menggantung Setiap Hari Galungan, Bali berubah menjadi lautan penjor. Di depan rumah-rumah, di sepanjang...

Read moreDetails

Pesta Kesenian Bali, Ya Dibuka Gubernur Bali

by Dede Putra Wiguna
June 16, 2026
0
Pesta Kesenian Bali, Ya Dibuka Gubernur Bali

MENJELANG pembukaan Pesta Kesenian Bali 2026, perhatian publik justru tidak tertuju pada tarian, tabuh-tabuh baru, atau tema yang diusung tahun...

Read moreDetails

Bangsa yang Kehilangan Waktu untuk Membaca

by Ahmad Fatoni
June 15, 2026
0
Bangsa yang Kehilangan Waktu untuk Membaca

BEBERAPA waktu lalu saya sengaja mampir ke sebuah toko buku di Malang yang pernah menjadi tempat favorit saya semasa mahasiswa....

Read moreDetails

Wisatawan Eropa Masih Menjadi Andalan Indonesia

by Chusmeru
June 15, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MASA tinggal terlama wisatawan mancanegara (wisman) di Indonesia didominasi oleh wisatawan asal negara-negara Eropa. Hal ini menunjukkan bahwa wisatawan Eropa...

Read moreDetails

Takdir dan Kehendak Bebas: Membaca Ulang Kehidupan melalui Pancakosha dan Peta Kesadaran Hawkins

by Agung Sudarsa
June 14, 2026
0
Takdir dan Kehendak Bebas: Membaca Ulang Kehidupan melalui Pancakosha dan Peta Kesadaran Hawkins

Antara Takdir dan Kebebasan: Pertanyaan Tua yang Tak Pernah Usai Sejak manusia mulai bertanya tentang dirinya sendiri, satu pertanyaan selalu...

Read moreDetails

Bung Karno dalam Puisi   

by I Nyoman Tingkat
June 13, 2026
0
Bung Karno dalam Puisi   

BUNG Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi. Dari 8 PresidenIndonesia,Bung Karno, Abdul Rachman Wahid (Gus...

Read moreDetails

Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

by Ahmad Prasetya Hady
June 12, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

SAYA menulis ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk banyak seniman yang mungkin merasakan hal yang sama. Mereka...

Read moreDetails

Bali Lupa Menyembuhkan Dirinya Sendiri

by Angga Wijaya
June 11, 2026
0
Bali Lupa Menyembuhkan Dirinya Sendiri

SUATU pagi di Ubud, seorang wisatawan asing duduk bersila di atas matras yoga. Ia memejamkan mata. Di hadapannya terbentang hamparan...

Read moreDetails
Next Post
‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas
Esai

‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

SAAT matahari mulai menuju satu garis lurus di atas kepala, derau ritmis mengisi ruang di bawah atap Bale Daja rumahku...

by Pande Susan
June 18, 2026
Mendengarkan Hidup Saya dari Mulut Orang Lain
Esai

Mendengarkan Hidup Saya dari Mulut Orang Lain

TIGAminggu lalu saya mendengarkan tunangan saya diwawancarai. Kalimat itu terdengar aneh. Biasanya sayalah yang mewawancarai orang. Sejak menjadi wartawan, entah...

by Angga Wijaya
June 18, 2026
Wikan Satya, Musisi Cilik Kelas 6 SD Rilis Karya Terbaru Berjudul ‘Galungan’
Pop

Wikan Satya, Musisi Cilik Kelas 6 SD Rilis Karya Terbaru Berjudul ‘Galungan’

KESERIUSAN Wikan Satya terhadap musik rupanya tidak berhenti pada “Anacaraka”. Setelah karya itu mendapat banyak sorotan sebagai lagu anak-anak yang...

by Dede Putra Wiguna
June 18, 2026
Bung Karno di Rumah Petani   
Esai

Bung Karno di Rumah Petani   

JUNI adalah Bulan Bung Karno. Pada 1 Juni 1945, hari ketiga sidang BPUPKI, Bung Karno mendapat kesempatan ketiga setelah Muhamad...

by I Nyoman Tingkat
June 18, 2026
Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar
Kuliner

Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan,...

by Jaswanto
June 17, 2026
Penjor Kesadaran di Tengah Gemerlap Bali: Galungan, Pariwisata, dan Pertaruhan Masa Depan Pulau Dewata
Esai

Penjor Kesadaran di Tengah Gemerlap Bali: Galungan, Pariwisata, dan Pertaruhan Masa Depan Pulau Dewata

Penjor yang Menjulang dan Pertanyaan yang Menggantung Setiap Hari Galungan, Bali berubah menjadi lautan penjor. Di depan rumah-rumah, di sepanjang...

by Agung Sudarsa
June 17, 2026
Pesta Kesenian Bali, Ya Dibuka Gubernur Bali
Esai

Pesta Kesenian Bali, Ya Dibuka Gubernur Bali

MENJELANG pembukaan Pesta Kesenian Bali 2026, perhatian publik justru tidak tertuju pada tarian, tabuh-tabuh baru, atau tema yang diusung tahun...

by Dede Putra Wiguna
June 16, 2026
Timor Leste di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026:  Tarian Klasik dan Ragam Budaya Unik
Panggung

Timor Leste di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Tarian Klasik dan Ragam Budaya Unik

INI adalah pertunjukan seni panggung. Namun, stage proscenium itu dimeriahkan dengan foto-foto indah dan bersejarah. Bidikan aktivitas budaya, bangunan bersejarah...

by Nyoman Budarsana
June 15, 2026
Bangsa yang Kehilangan Waktu untuk Membaca
Esai

Bangsa yang Kehilangan Waktu untuk Membaca

BEBERAPA waktu lalu saya sengaja mampir ke sebuah toko buku di Malang yang pernah menjadi tempat favorit saya semasa mahasiswa....

by Ahmad Fatoni
June 15, 2026
Lantik 123 PNS Formasi 2024, Bupati Sutjidra: Junjung Tinggi Nilai BerAKHLAKdan Pelayan Terbaik bagi Masyarakat Buleleng
Pemerintahan

Lantik 123 PNS Formasi 2024, Bupati Sutjidra: Junjung Tinggi Nilai BerAKHLAKdan Pelayan Terbaik bagi Masyarakat Buleleng

Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra secara resmi mengambil sumpah/janji serta menyerahkan Surat Keputusan (SK) Pengangkatan Pegawai Negeri Sipil (PNS) Formasi...

by tatkala
June 15, 2026
Komunitas Aghumi Gelar Beranda Pustaka: Ruang Budaya Hidup Meriahkan Pesta Kesenian Bali hingga Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

Komunitas Aghumi Gelar Beranda Pustaka: Ruang Budaya Hidup Meriahkan Pesta Kesenian Bali hingga Festival Seni Bali Jani 2026

DALAM suasana yang akrab, pandangan orang-orang masih tertuju ke depan, tepatnya pada dua remaja yang berupaya menjaga suasana hati audiens...

by Ingga Adelia
June 15, 2026
Perkuat Kompetensi Berbahasa Indonesia, 449 Siswa SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Ikuti UKBI Adaptif
Pendidikan

Perkuat Kompetensi Berbahasa Indonesia, 449 Siswa SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Ikuti UKBI Adaptif

JARI-jari mereka bergerak cepat di atas layar gawai dan laptop. Di beberapa ruang kelas SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam),...

by Dede Putra Wiguna
June 15, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co