KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia membawa rasa kehilangan yang mengambang. Galih melangkah perlahan, mengusap wajahnya yang basah oleh embun, tetapi yang basah sesungguhnya adalah dadanya, dadanya yang terasa lebih berat dari biasanya.
Di kampungnya, orang tua sering berkata: “Aya anu manggil lamun haté teu anteng.” (Ada yang memanggil ketika hati tak tenang). Galih tahu siapa yang memanggilnya. Ia hanya belum sanggup mengakui betapa besar panggilan itu menjerat hidupnya.
Ketika Galih memasuki hutan bambu, angin berhenti bergerak. Seolah alam menahan napas. Suara-suara kecil, serangga, daun, bahkan aliran sungai jauh, semua hilang. Yang tersisa hanya satu: bisikan halus, serupa suara perempuan yang menyebut namanya dengan lembut:
“Galih…”
Suara itu bukan dari luar. Suara itu muncul dari jauh di dalam dirinya. Dan dari balik kabut, perempuan itu muncul. Perempuan yang wajahnya sudah mengisi mimpi-mimpinya setiap malam, mengusir tidur nyenyaknya, menanam rindu yang tumbuh liar tanpa izin.
Ia mengenakan selendang putih yang berpendar seperti cahaya bulan. Wajahnya cantik dengan cara yang ganjil: cantik yang tidak tunduk pada waktu. Rambutnya panjang, berkilau basah, seolah ia baru keluar dari kolam rahasia di tengah hutan. Dia tersenyum. Dan dalam senyum itu, Galih merasakan dunia runtuh.
“Anjeun sumping,”(Kau datang) katanya.
Galih ingin menjawab, tetapi suaranya tak keluar. Ia hanya bisa menatap perempuan itu dengan dada yang terus mengencang, menahan rindu yang tidak ia pahami asalnya. Perempuan itu melangkah maju. Setiap langkahnya membuat tanah bergetar halus, seperti jantung bumi ikut berdebar.
“Kuring nyangka…” Galih akhirnya bisa berbicara. Suaranya patah. “Aku hanya bermimpi tentangmu.”
Perempuan itu tersenyum tipis, penuh rasa yang tak terucap. “Kadang mimpi adalah tempat yang lebih jujur dibandingkan hidup,” katanya. “Dan rindu selalu lebih dulu tiba daripada pertemuan.”
Kata-katanya menampar lembut dada Galih. Ia merasa seperti telah mencintai perempuan itu sejak sebelum lahir.
Perempuan itu mengangkat tangan. Jemarinya halus, pucat, dingin seperti purnama. Ia menyentuh pipi Galih. Sentuhan itu, pelan, ringan, namun membuat kaki Galih seperti kehilangan kekuatan. Napasnya tercekat. Dadanya terasa seperti retak oleh sesuatu yang ia tahan terlalu lama.
“Galih…” bisik perempuan itu, “Aku telah menunggumu.”
“Menungguku?” Galih menelan ludah.
“Sejak kapan?” Perempuan itu mendekat, begitu dekat hingga helai rambutnya menyentuh dagu Galih. Aromanya seperti tanah basah setelah hujan, bercampur harum bunga hutan yang hanya mekar sebelum subuh.
“Sejak kau belum menjadi kau.”
“Sejak dunia belum menjadi dunia.”
“Sejak aku kehilangan diriku.”
Ia meletakkan telapak tangannya di dada Galih. Tepat di tempat jantungnya berdetak. Dan jantung Galih…berhenti sesaat. Tidak mati. Hanya… berhenti, seperti berusaha mendengar sesuatu dari telapak tangan perempuan itu.
“Hatimu mengingatku,” ucap perempuan itu dengan suara lembut namun pasti. “Meski pikiranmu tidak.”
Kalimat itu menghancurkan Galih. Ia merasakan sesuatu mengalir di dadanya: hangat, getir, sangat tua, sangat dalam, seperti cinta yang sudah hidup ribuan tahun tetapi dipaksa tidur. Ia menutup mata. Lalu meletakkan tangannya di atas tangan perempuan itu, menekan lembut, agar perempuan itu tahu ia merasakannya.
“Jika aku benar-benar mengenalmu…” suara Galih bergetar, “…mengapa aku lupa?”
Perempuan itu tersenyum pahit. Senyum yang indah, namun membuat hati seperti diremas. “Karena aku mati sebelum sempat memelukmu,” bisiknya. “Dan lupa adalah cara dunia melindungimu dari patah.”
Galih membuka mata. Luruh. Rusak oleh rindu yang datang begitu cepat, begitu kuat.
“Kalau begitu…” Ia memegang wajah perempuan itu dengan kedua tangannya, gemetar. “…biarkan aku mengingatmu sekarang.”
Perempuan itu memejamkan mata, seolah menerima. “Coba,” katanya lirih. “Tapi hati-hati. Cinta kadang lebih tajam dari takdir.”
Dan saat itulah dunia berhenti bergerak. Galih memeluknya. Erat. Penuh. Seolah seluruh hidupnya selama ini hanya menunggu pelukan itu. Perempuan itu merespons, pelan, tenang, tapi dalam, seperti seseorang yang akhirnya pulang setelah ribuan musim hilang. Pelukan mereka bukan sekadar tubuh.
Itu pelukan dua jiwa yang pernah dirobek waktu, kini dipaksa bersatu kembali oleh rindu yang tidak mau dikalahkan. Dalam pelukan itu, dunia menjadi kecil.
Hanya ada dua manusia saling melepas dahaga dalam kehangatan yang hampir sakral.
***
Mereka duduk di bawah pohon hanjuang. Perempuan itu menyandarkan kepalanya di bahu Galih.
“Boleh aku tahu namamu?” tanya Galih pelan.
Perempuan itu mengangguk kecil. “Namaku dulu… Nyi Laraswangi.”
Nama itu jatuh ke telinga Galih seperti mantra. “Mengapa kau kembali?”
Nyi Laraswangi mengangkat wajahnya, menatap Galih dengan mata yang seperti danau tenang yang menyimpan badai. “Karena hatimu memanggilku,” jawabnya. “Karena kau adalah jaga baru. Dan jaga baru… harus memilih cinta atau kewajiban.”
Ia menyentuh ujung dagu Galih, mengangkat sedikit, agar Galih melihat matanya langsung. “Dan biasanya… yang memilih cinta akan hancur.”
Galih tersenyum kecil. “Aku tidak peduli.”
Perempuan itu menggeleng. “Tapi aku peduli.”
Ia menyentuh dada Galih lagi, sentuhan yang membuat jantungnya kembali melompat. “Jika aku memilihmu,” katanya lirih, “kau akan kehilangan dunia.”
Galih diam.
“Jika aku melepaskanmu, aku akan kehilangan diriku.” Ia memejam, menggigit bibirnya dengan getir. ”Aku,” katanya, “cinta yang tidak boleh dimiliki.”
Galih memegang kedua pipinya, membingkai wajah yang terlalu halus itu. “Cinta tidak perlu dimiliki,” bisiknya. “Cukup dirasakan.”
Perempuan itu menatapnya lama. Sangat lama. Dan air mata menetes di wajahnya, air mata bening yang memantulkan cahaya obor yang masih jauh di tengah lapang.
Mereka tiba di lapang tengah hutan. Obor itu menyala tanpa kayu. Angin bergerak seperti tarikan napas makhluk raksasa. Para penjaga lama sudah menunggu. Dan satu per satu, mereka hancur.
Nyi Laraswangi menggenggam tangan Galih. Genggamannya kuat, terlalu kuat untuk seorang perempuan. Seolah ia berusaha menahan waktu agar tidak bergerak. “Galih,” katanya, suaranya retak. “Aku tidak mau kehilanganmu lagi.”
Galih memegang pipinya. “Kau tidak akan kehilangan apa pun.”
Perempuan itu menggeleng keras. “Obor itu akan masuk ke tubuhmu.” “Dan setelah itu, kau… bukan kau lagi.”
Ia merapatkan tubuhnya ke Galih, memeluk dengan seluruh ketakutan dan cinta yang selama ini ia simpan. Dalam pelukan itu, Nyi Laraswangi berkata dengan suara paling jujur dalam hidupnya: “Biarkan aku mencintaimu… untuk terakhir kali, sebelum dunia mengambilmu.”
Dan mereka berpelukan, bukan pelukan rindu biasa, bukan pelukan dua manusia, tetapi pelukan dua arwah yang menolak dipisah.
***
Obor terbang mendekat. Cahaya itu menyentuh dada Galih. Nyi Laraswangi menangis, untuk pertama kalinya sejak ia menjadi sosok dari alam lain. Ia memeluk Galih erat-erat agar waktu tidak bisa merampasnya. Galih memegang kepala perempuan itu, menempelkan bibirnya di rambut dinginnya, merasakan aroma tanah dan hujan terakhir kali.
“Laras…” suara Galih pecah. “Aku mencintaimu.”
Perempuan itu menggigil, lalu menatapnya dengan tubuh yang hampir transparan karena cahaya obor. “Aku juga mencintaimu… jauh sebelum kau mengenal kata cinta.”
Obor masuk ke tubuh Galih. Cahaya pecah seperti matahari lahir dari dada manusia. Dan Nyi Laraswangi, dengan tubuh yang setengah kabut, mencium kening Galih. Pelan. Menyerah.
Mengirim seluruh cintanya ke dalam tubuh yang sebentar lagi berubah. Saat bibirnya menyentuh kulit Galih, ia berbisik:
“Lamun aya kahayang nu teu padam… éta nya éta cinta.” (Andai ada keinginan yang tak padam… itulah cinta.)
Dan tepat setelah itu. Tubuh perempuan itu menjadi kabut. Hilang.
Galih terbangun di depan gerbang. Sendiri. Namun ada sesuatu di dadanya: Hangat. Berdenyut. Seperti sisa pelukan. Seperti sisa ciuman. Seperti cinta yang menolak mati meski yang dicintai telah hilang. Ia menengadah ke langit. Kabut mulai naik. Ia tahu: Nyi Laraswangi tidak akan kembali dalam wujudnya.
Namun sesuatu dari perempuan itu, cinta itu, rindu itu, sentuhan itu, tinggal di dalam dirinya.
Dan Galih berbisik pada angin: “Lamun kuring jaga anyar…maka rasa ieu… bakal jadi cahaya nu ngajaga.” (Jika aku penjaga baru… maka cinta ini akan jadi cahaya penjaga)
Cinta yang tidak berakhir. Cinta yang tidak dimiliki. Cinta yang menyelamatkan dunia kecil yang mereka miliki hanya sebentar. Cinta yang tetap hidup dalam cahaya. [T]
Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole





























