5 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
in Panggung
‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

Pementasan tari kreasi ‘Nalaskara’ karya I Kadek Oke Prawira Wibawa│Foto: Dok. UPMI Bali

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan dari karya pembuka usai menggema, perhatian penonton kembali tertuju ke tengah panggung. Enam penari dengan kostum bernuansa merah menyala dan keemasan memasuki arena pertunjukan. Gerak mata tegas, kibasan kipas ritmis, serta formasi yang terus berubah menghadirkan energi yang langsung memikat perhatian.

Malam itu, karya tari kreasi kekebyaran berjudul ‘Nalaskara’ tampil sebagai karya kedua dalam Diseminasi Karya Tugas Akhir (TA) Proyek Inovatif Seni Pertunjukan mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik (Sendratasik), Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali.

Kegiatan yang menghadirkan lima karya inovatif mahasiswa angkatan 2022 tersebut tidak hanya menjadi bagian dari proses akademik. Diseminasi menjadi ruang bagi mahasiswa untuk membuktikan kemampuan mereka dalam mengolah ide, mengembangkan kreativitas artistik, mengelola proses produksi, hingga membangun kerja sama yang solid demi menghadirkan sebuah pertunjukan yang utuh.

Khusus di Program Studi Pendidikan Sendratasik, tugas akhir kini dapat diwujudkan dalam bentuk proyek inovatif seni pertunjukan. Meski demikian, setiap karya tetap dilengkapi laporan tugas akhir sebagai bentuk pertanggungjawaban proses kreatif sekaligus penjelasan mengenai relevansi karya dengan pembelajaran seni budaya maupun pendidikan seni budaya secara umum.

Pementasan tari kreasi ‘Nalaskara’ karya I Kadek Oke Prawira Wibawa│Foto: Dok. UPMI Bali

 

Di antara lima karya yang ditampilkan malam itu, ‘Nalaskara’ hadir dengan tema kuat dan dekat dengan tradisi Bali. Karya ciptaan I Kadek Oke Prawira Wibawa atau yang akrab disapa Oka ini mengangkat inspirasi dari ritual Siat Geni yang hidup di Desa Adat Tuban, Badung.

Bagi Oka, Siat Geni bukan sekadar tradisi yang diwariskan turun-temurun. Ritual tersebut menyimpan nilai-nilai filosofis yang sangat kaya dan relevan dengan kehidupan manusia hingga saat ini. Karena itulah ia memilih menjadikannya sebagai sumber inspirasi dalam penciptaan karya tari kreasi kekebyaran.

“Tradisi Siat Geni di Desa Tuban memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan tradisi yang ada di Bali. Selain itu, sejauh yang saya ketahui belum ada yang mengangkat tradisi ini menjadi sebuah karya tari kekebyaran. Karena itu saya tertarik menjadikannya sebagai karya tari kreasi kekebyaran yang ekspresif, sekaligus menghadirkan kelembutan sebagai pemanis dalam garapan,” ujar Oka.

Pementasan tari kreasi ‘Nalaskara’ karya I Kadek Oke Prawira Wibawa│Foto: Dok. UPMI Bali

Judul ‘Nalaskara’ sendiri memiliki makna yang sarat filosofi. Nama tersebut berasal dari dua kata, yakni ‘Anala’ berarti api dan ‘Askara’ berarti sinar cahaya agung dan suci. Keduanya kemudian menyatu menjadi simbol energi kehidupan yang menjadi roh utama dalam karya ini.

Melalui gerak dinamis dan penuh semangat, ‘Nalaskara’ merepresentasikan perjuangan manusia dalam mengendalikan diri demi mencapai keseimbangan dan harmoni hidup. Api yang menjadi simbol utama tidak hanya dimaknai sebagai unsur fisik yang membakar, melainkan juga sebagai kekuatan spiritual yang menerangi, membersihkan, dan memberi kehidupan.

Inspirasi tersebut berangkat dari tradisi Siat Geni yang dilakukan masyarakat Desa Tuban sebagai bagian dari rangkaian upacara keagamaan. Ritual ini menggunakan api sebagai simbol pembersihan diri dan lingkungan dari berbagai bentuk keburukan maupun pengaruh negatif.

Pementasan tari kreasi ‘Nalaskara’ karya I Kadek Oke Prawira Wibawa│Foto: Dok. UPMI Bali

Dalam pelaksanaannya, masyarakat mengarak api menuju tempat-tempat tertentu sebagai bentuk pembaruan energi positif sekaligus memohon keselamatan dan kesejahteraan. Tradisi tersebut umumnya dilaksanakan pada hari-hari tertentu dalam kalender Bali, termasuk menjelang Hari Raya Galungan maupun upacara-upacara besar lainnya.

Secara simbolis, Siat Geni menggambarkan proses pembakaran yang membersihkan segala hal negatif dan membuka ruang bagi keberkahan serta kehidupan yang baru. Api yang digunakan dalam ritual itu tidak hanya berfungsi sebagai media fisik, tetapi juga dipercaya memiliki kekuatan spiritual untuk mengusir roh-roh jahat dan melindungi masyarakat.

Melalui ritual tersebut, masyarakat mengungkapkan rasa syukur, memohon kedamaian dan kesejahteraan, sekaligus menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan.

Nilai-nilai itulah yang kemudian diterjemahkan Oka ke dalam bahasa tari. Di atas panggung, api tidak dihadirkan secara literal, melainkan melalui karakter gerak yang tegas, dinamis, dan penuh energi. Sesekali gerakan para penari tampak meledak-ledak, menggambarkan kekuatan api yang membakar. Namun pada bagian lain, gerak berubah menjadi lebih lembut dan mengalir, menghadirkan kesan cahaya yang menuntun manusia menuju keseimbangan.

Pergantian tempo, perubahan formasi, serta ekspresi para penari menciptakan dinamika yang membuat karya ini tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga mampu menyampaikan pesan yang ingin dibangun oleh koreografernya.

Pementasan tari kreasi ‘Nalaskara’ karya I Kadek Oke Prawira Wibawa│Foto: Dok. UPMI Bali

Di balik penampilan yang memukau, perjalanan penciptaan ‘Nalaskara’ ternyata tidak selalu berjalan mulus. Oka mengaku menghadapi berbagai tantangan selama proses penggarapan, terutama dalam mengatur jadwal latihan para penari.

“Kendala terbesar selama proses penciptaan adalah mengatur jadwal latihan para penari karena mereka memiliki kesibukan masing-masing. Di tengah proses, dua penari mengalami kecelakaan sehingga saya harus mencari pengganti. Setelah mendapatkan pengganti, ternyata masih ada kendala pengaturan waktu sehingga saya kembali harus mencari penari lain agar proses penciptaan karya ‘Nalaskara’ bisa tetap berjalan,” ungkapnya.

Meski menghadapi berbagai hambatan, proses kreatif tersebut akhirnya dapat diselesaikan dengan baik. Dukungan dari banyak pihak menjadi salah satu faktor penting yang membuat karya ini berhasil dipentaskan sesuai rencana.

Pementasan tari kreasi ‘Nalaskara’ karya I Kadek Oke Prawira Wibawa│Foto: Dok. UPMI Bali

Ketika pertunjukan berakhir dan tepuk tangan penonton memenuhi wantilan, rasa lega bercampur bangga tampak jelas dirasakan Oka. Setelah melewati proses panjang penuh tantangan, ia akhirnya berhasil membawa gagasan yang selama ini ada dalam pikirannya menjadi sebuah karya yang utuh di atas panggung.

“Perasaan saya setelah diseminasi karya tentu sangat lega karena akhirnya bisa menyelesaikan dan mementaskan karya yang lahir dari hasil keringat sendiri. Saya juga bangga bisa sampai di tahap ini. Yang paling membuat saya bersyukur adalah dukungan yang begitu besar dari keluarga, sahabat, saudara, rekan kerja, adik tingkat, dan banyak pihak lainnya,” ungkapnya.

Melalui ‘Nalaskara’, Oka tidak hanya menyelesaikan tugas akhirnya sebagai mahasiswa Sendratasik UPMI Bali. Ia juga menghadirkan sebuah tafsir baru atas tradisi Siat Geni yang selama ini hidup di tengah masyarakat Desa Tuban. Dengan memadukan semangat tari kreasi kekebyaran dan nilai-nilai spiritual yang terkandung dalam ritual tersebut, ia menunjukkan bahwa tradisi tidak harus berhenti sebagai warisan masa lalu. Tradisi dapat terus hidup, berkembang, dan menemukan bentuk-bentuk baru yang tetap berakar pada nilai aslinya. [T]

Reprter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Tags: kesenian baliseni tariUPMI Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cukup Telulas?

Next Post

Menonton Pemimpin yang ‘Adigang, Adigung, Adiguna’

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

by tatkala
October 4, 2026
0
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

Read moreDetails

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
0
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

Read moreDetails

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
0
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

Read moreDetails

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

by Ingga Adelia
September 11, 2026
0
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Menonton Pemimpin yang ‘Adigang, Adigung, Adiguna’

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co