DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah mengatakan “pilihan kata (diksi) mengolah rasa”. Pernyataan dr. Gia itu yang saya pakai judul tulisan ini.
Bahasa bukan sekadar susunan kata di dalam kamus, melainkan jembatan rasa yang menghubungkan pikiran dengan hati pendengarnya. Dalam dunia medis yang sering kali terasa kaku, dingin, dan penuh dengan istilah asing, pilihan kata menjadi sangat penting. Kehadiran dr. Gia di ruang publik digital memberikan sebuah kesegaran baru. Ia sangat pandai mengubah istilah medis yang menakutkan menjadi kalimat yang teduh, menyentuh, dan penuh dengan rasa empati kepada sesama manusia.
Kekuatan utama dr. Gia terletak pada kemampuannya menjelaskan istilah ilmiah lewat perumpamaan sehari-hari. Alih-alih memakai bahasa kedokteran yang membingungkan dan berjarak dengan masyarakat, ia memilih kata-kata yang membumi. Contohnya, ia menggambarkan tubuh manusia bukan sebagai mesin biologis yang kaku, melainkan sebagai “rumah dari misi besar yang sedang kita jalankan”. Pilihan kata “rumah” di sini mengubah cara pandang kita. Tubuh bukan lagi sekadar alat untuk bertahan hidup, melainkan sesuatu yang harus dihormati dan disyukuri.
Dokter Gia sangat lihai menyentuh emosi pembaca dengan penjelasan yang tetap masuk akal. Saat mengedukasi tentang penyakit seperti obesitas, ia menghindari kata-kata yang menghakimi seperti “lemak berlebih” atau “ancaman penyakit”. Ia justru mengajak pembaca melihat kesehatan sebagai wujud nyata dari “cinta pada diri sendiri”. Ia juga mengingatkan bahwa kesedihan terbesar orang tua adalah “kehilangan anaknya”, sebuah kepedihan yang ia sebut “tak mampu dilukiskan dengan kata-kata apa pun dalam bahasa manusia”. Melalui pilihan kata ini, edukasi medis tidak lagi terasa seperti perintah yang memaksa, melainkan ajakan untuk merenung.
Gaya bercerita dr. Gia menunjukkan bahwa ia sangat memahami cara berkomunikasi dengan masyarakat awam. Ia selalu menggunakan kalimat-kalimat pendek, mengalir, dan penuh kiasan yang indah. Hal ini membuat pesan medis yang rumit terasa hidup dan mudah dibayangkan oleh pembaca. Ada ketenangan yang menular dari setiap tulisan yang ia bagikan di media sosial. Ketika menghadapi perbedaan pendapat atau komentar negatif di internet, ia memilih kata yang adem. Ia berkomitmen untuk selalu “meluaskan hati menjadi seluas samudra” agar ruang publik “tetap teduh, tetap sehat, dan tetap penuh hormat”.
Seni mengolah kata ini juga membuat masyarakat tidak lagi takut untuk datang ke rumah sakit atau berkonsultasi dengan dokter. Ketika rasa takut itu hilang, proses penyembuhan pasien sebenarnya sudah dimulai sejak dari pikiran mereka. Dokter Gia berhasil meruntuhkan tembok pembatas antara dunia medis yang eksklusif dan masyarakat yang membutuhkan pertolongan.
Apa yang dilakukan dr. Gia adalah seni mengolah rasa lewat bahasa. Ia membuktikan bahwa tugas penyiar kesehatan bukan cuma memindahkan ilmu medis ke kepala masyarakat, tapi menyentuh hati mereka terlebih dahulu. Pilihan katanya yang hangat membuktikan satu hal: di tangan seorang dokter yang peduli, bahasa bisa menjadi obat yang menyembuhkan sebelum jarum suntik menyentuh tubuh kita. Bahasa yang membumi dan penuh cinta seperti inilah yang sangat kita butuhkan hari ini. [T]
Penulis: I Made Sudiana
Editor: Adnyana Ole





























