15 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

Komang Sujana by Komang Sujana
June 3, 2026
in Panggung
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

Lomba Membaca Teks Proklamasi di Desa Depeha, Buleleng | Foto: Dok. Penulis

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng. Wantilan yang biasanya digunakan untuk kegiatan pelayanan masyarakat oleh Pemerintah Desa (Pemdes) Depeha—sering kali riuh oleh Musyawarah Desa, rembuk stunting, hingga pembagian bansos—kini bersolek menjadi sebuah panggung proklamasi yang sakral.

Namun, atmosfer di dalam gedung tetap terasa hangat bagi sekumpulan siswa berseragam putih-merah yang telah memenuhi area sejak pukul 07.30 WITA. Tak seirama dengan angin yang berembus pelan di luar, jantung mereka justru berdebar jauh lebih kencang. Sebuah kondisi personal yang normal, menandakan mereka sedang bersiap menghadapi situasi yang menantang: mengumandangkan kembali teks proklamasi, kalimat sakral penanda berdirinya republik ini.

Hari itu adalah pelaksanaan Lomba Membaca Teks Proklamasi Kemerdekaan Tingkat SD se-Desa Depeha dalam rangka Memperingati Bulan Bung Karno VIII Tahun 2026. Berdasarkan laporan Ketua Panitia kegiatan, Made Kembar Nesa Sariawan, S.Pd., lomba yang mengusung tema “Kawya Atma Kerthi” (Meraya Jiwa Perjuangan Proklamator) ini diikuti oleh 16 peserta yang mewakili 4 SD di wilayah Desa Depeha. Setiap sekolah diwakili oleh 4 peserta yang merupakan siswa kelas V dan/atau VI.

Sebelum unjuk keberanian, seluruh peserta didampingi guru pembina mengikuti rangkaian acara pembukaan dengan tertib. Perbekel Desa Depeha, I Gede Srinyarnya, membuka acara secara resmi dengan didampingi oleh Ketua BPD dan Ketua Karang Taruna Desa Depeha. Protokoler pembukaan ini tak pelak membuat debaran di dada para peserta cilik bertahan sedikit lebih lama.

Acara Pembukaan Lomba. Dari kiri-kanan: I Komang Gede Mahaputra Andi Winarga (Ketua Karang Taruna), I Ketut Budiartha (Ketua BPD), I Gede Srinyarnya (Perbekel Desa Depeha), Putu Dessi Rosdiani, S.Pd. (Dewan Juri), Made Kembar Nesa Sariawan, S.Pd. (Ketua Panitia) | Foto: Dok. Penulis

Dalam sambutannya, I Gede Srinyarnya menjelaskan bahwa giat positif peringatan Bulan Bung Karno yang diselenggarakan oleh Pemdes Depeha tidak sekadar seremonial tahunan yang digelar setiap bulan Juni. Namun, merupakan bentuk penghargaan nyata terhadap jasa-jasa Bapak Proklamator, Ir. Soekarno.

Bulan Juni memuat tiga peristiwa bersejarah yang sangat melekat dengan perjuangan Ir. Soekarno, Presiden Pertama Republik Indonesia. Pada tanggal 1 Juni 1945, Bung Karno pertama kali menyampaikan gagasan Pancasila sebagai dasar negara pada sidang BPUPKI, yang lantas diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila. Tanggal 6 Juni merupakan hari lahir Bung Karno di Surabaya pada tahun 1901. Sementara pada tanggal 21 Juni, menjadi momen khidmat untuk mengenang wafatnya Sang Putra Fajar yang mengembuskan napas terakhirnya di Jakarta pada tahun 1970 silam.

“Inilah momentum kita untuk menghargai apa yang menjadi perjuangan beliau dalam mendirikan bangsa ini,” tegas Perbekel I Gede Srinyarnya.

Begitu upacara pembukaan usai, panggung sepenuhnya menjadi milik peserta. Satu per satu dari mereka melangkah maju, berdiri tegap, dan membacakan teks proklamasi dengan sangat lancar. Tidak ada kata atau baris kalimat yang luput dari kelantangan suara mereka. Di atas panggung itu, anak-anak Desa Depeha sukses menunjukkan mental pahlawan dan membangkitkan kembali ruh semangat 1945.

Ketiga dewan juri yang mengawal jalannya penilaian: Made Dwi Susanti, S.Pd.B. (guru SMPN 2 Kubutambahan), Putu Dessi Rosdiani, S.Pd. (guru SMPN Satu Atap 1 Sukasada), dan saya sendiri, merasa bangga melihat semangat para peserta. Bagi kami, mereka semua adalah pemenang karena telah tampil dengan berani. Untuk memberikan umpan balik serta sebagai pertanggungjawaban objektif, kami memberikan beberapa catatan evaluasi terkait empat aspek utama: vokal, intonasi, ekspresi, dan gestur.

Lomba Membaca Teks Proklamasi | Foto: Dok. Penulis

Putu Dessi Rosdiani menjelaskan bahwa mengumandangkan teks proklamasi tidak sekadar membaca teks mati, melainkan harus dijiwai untuk menghidupkan maknanya. Teks yang bernyawa melibatkan pancaindra dan emosi, sehingga setiap barisnya mampu menyentuh pendengar.

“Temponya jangan seperti dikejar anjing, melainkan harus dirasakan per kata,” jelasnya kepada seluruh peserta dengan senyum ramah.

Ia juga menyoroti sikap gestur peserta. Sebagai teks pengumuman kemerdekaan, pembawaannya harus didukung posisi badan yang tegap, siap, dan penuh keyakinan agar aura wibawanya keluar. Selain itu, pada aspek vokal, ia mengingatkan peserta agar berlatih lagi menggunakan napas diafragma untuk menghasilkan suara yang bulat. Beliau lantas memberikan contoh pembacaan baris pembuka dengan pelafalan bersih dan intonasi yang tepat.

Saya sendiri menambahkan catatan pada aspek pelafalan dan penampilan. Ada beberapa peserta yang masih keliru melafalkan kata ‘saksama’ (dibaca seksama) dan ‘Sukarno’ (dibaca Soekarno dengan vokal lama). Walau minor, saya ingin anak-anak terbiasa melafalkan kata sesuai kaidah Ejaan Bahasa Indonesia (EYD) modern yang berlaku sekarang. Untuk menunjang penampilan, saya mengingatkan pentingnya kontak mata dengan audiens. Mata yang terus menempel pada kertas akan mengikis karisma, dan teks proklamasi yang sakral bisa kehilangan daya magisnya.

Dengan perasaan lega setelah melewati momen menegangkan, para peserta mendengarkan evaluasi juri dengan penuh perhatian. Namun, ketegangan itu kembali memuncak saat lembar keputusan juara telah berada di tangan dewan juri.

Setelah melalui proses penilaian yang ketat, para pemenang akhirnya diumumkan. Juara 1 berhasil diraih oleh Ni Luh Suci Padma Putri dari SDN 4 Depeha. Juara 2 diraih oleh Luh Putu Ari Suartini (SDN 4 Depeha), dan Juara 3 diraih oleh I Gede Rama Sutapa Saputra (SDN 1 Depeha). Sementara untuk kategori harapan, Juara Harapan 1 diraih oleh Ni Putu Niki Lestari (SDN 4 Depeha), Juara Harapan 2 diraih oleh I Putu Celvin Aditya Putra (SDN 1 Depeha), dan Juara Harapan 3 diraih oleh Ni Kadek Putri Aditya Wardani (SDN 2 Depeha).

Lomba Membaca Teks Proklamasi | Foto: Dok. Penulis

Perbekel I Gede Srinyarnya Memberikan Apresiasi kepada Peraih Juara 1 | Foto: Dok. Panitia

Ekspresi luar biasa pun terpancar dari wajah para pemenang. Mereka tersenyum lebar dengan mata berbinar saat menerima trofi juara, piagam, dan hadiah buku yang diserahkan langsung oleh Perbekel Desa Depeha.

Usai gemuruh tepuk tangan dan sesi foto bersama mereda, saya berkesempatan berbincang sejenak dengan Ni Luh Suci Padma Putri, sang peraih Juara 1. Dengan mata berbinar polos, ia menceritakan perjuangannya berlatih membaca teks proklamasi dalam waktu kurang lebih satu minggu. Lantas, apa yang menjadi kendala terbesarnya sebelum berhasil menaklukkan panggung proklamasi yang sakral itu?

“Ini kan saya sudah dibilang dengan guru saya, disuruh lambatin dikit tapi saya tidak bisa,” katanya dengan gemas.

Namun, semangat untuk bisa tampil maksimal membuatnya menolak menyerah. Ia terus berlatih keras mengatur tempo serta ekspresi wajah di bawah bimbingan telaten gurunya, Ni Made Tini Sulasmi, S.Pd.

Tak hanya sang juara, saya juga berkesempatan berbincang dengan peserta lomba lainnya, Kadek Redipa. Hari itu, ia memang belum berkesempatan merasakan sensasi berdiri di podium tertinggi. Namun, tidak ada rona kesedihan di wajahnya; ia tetap merasa sangat senang karena telah berhasil tampil membacakan teks proklamasi. Baginya, ini adalah sebuah pengalaman yang sangat berharga.

“Dapat ke panggung, dapat ikut lomba,” cetusnya dengan nada bangga yang jujur.

Dewan Juri. Dari kiri-kanan: Putu Dessi Rosdiani, S.Pd., Penulis, Made Dwi Susanti, S.Pd.B | Foto: Dok. Penulis

Cerita jujur dari Kadek Redipa membuktikan bahwa esensi lomba ini memang bukan sekadar tentang siapa yang membawa pulang piala, melainkan tentang pembentukan mental pahlawan, jiwa yang tangguh seperti yang disampaikan oleh Perbekel I Gede Srinyarnya. Ungkapan polos Kadek menyadarkan kita pada sebuah kebenaran yang sering diulas dalam buku Atomic Habits: Perubahan Kecil yang Memberikan Hasil Luar Biasa karya James Clear: bahwa terlalu fokus pada sasaran atau hasil akhir (outcome-oriented) justru seringkali menghambat pertumbuhan positif dalam hidup. Kita kerap menunda kebahagiaan dan baru merasa berhasil jika target utama tercapai.

Padahal, esensi dari sebuah kompetisi dan kegiatan positif apa pun—terlepas dari apa pun hasil akhirnya—perlu dirayakan dengan bahagia di setiap prosesnya. James Clear menyebutnya ‘berfokus pada sistem’. Komitmen terhadap proses dapat menentukan kemajuan jangka panjang. 

Sebelum anak-anak ini sampai dan berdiri tegap di atas panggung, ada serangkaian ‘kemenangan atomik’ (kemenangan kecil) yang sudah berhasil mereka taklukkan: mereka berhasil menghafal teks, berkomitmen meluangkan waktu bermainnya untuk berlatih, hingga berhasil menjinakkan rasa gugup di dalam dada. Semua lompatan kecil ini adalah sebuah pencapaian besar bagi seorang anak. Semua ini harus dirayakan sebagai kemenangan sejati.

Panggung Proklamasi Bulan Bung Karno VIII di Desa Depeha telah usai. Satu per satu peserta meninggalkan panggung. Namun, Perbekel I Gede Srinyarnya berharap gema proklamasi yang dikumandangkan anak-anak tidak pernah mati, senantiasa hidup dan tumbuh besar di jiwa generasi penerus Desa Depeha.

Sesi Foto Bersama | Foto: Dok. Panitia

Seperti harapan kita semua, Perbekel I Gede Srinyarnya ingin anak-anak merasakan kemerdekaan sejati–tidak hanya dirasakan di atas kertas, tapi juga di setiap embusan napas. Penanaman jiwa nasionalisme Bung Karno sejak dini bukan sekadar pemanis peringatan tahunan. Ini adalah fondasi untuk membentuk generasi Desa Depeha yang bermental tangguh dan memiliki kemandirian. Mereka telah sukses menaklukkan panggung proklamasi yang sakral. Esok, anak-anak hebat ini diharapkan berdiri dengan berani di panggung-panggung kehidupan.

Harapannya sejalan dengan konsep Berdikari (Berdiri di Atas Kaki Sendiri) yang dicetuskan Bung Karno. Perbekel I Gede Srinyarnya tak ingin kelak anak-anak Desa Depeha menjadi tamu di rumah sendiri. Sebuah realitas getir yang pernah dilukiskan oleh sastrawan sekaligus Redaktur Harian Kompas, Putu Fajar Arcana, dalam puisinya yang berjudul “Di Depan Arca Saraswati”:

“…Garis yang kau gores di atas debu, diterbangkan angin ke awan. Kita sedang bertamu di pelataran sendiri. Tak bebas lagi memetik bunga atau terlentang di pasir menciumi hangat matahari…”

Ia tak ingin riuh di negeri yang kosong ini menjadi warisan abadi dari generasi ke generasi di desanya.

Apresiasi dari Peserta dan Pembina kepada Peserta yang Sudah Berhasil Mengumandangkan Teks Proklamasi | Foto: Dok. Panitia

“Anak-anak Desa Depeha harus menjadi anak yang tangguh, yang kuat, baik dalam tenaga, kesehatan jasmani dan rohani,” ucap perbekel yang memilih mengabdikan dirinya membangun Desa Depeha sejak 15 Desember 2021 dengan penuh keyakinan. [T]

Reprter/Penulis: Komang Sujana
Editor: Adnyana Ole

Tags: Bulan Bung KarnoBung KarnoDesa DepehaPendidikanproklamasiproklamator
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

Next Post

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

Komang Sujana

Komang Sujana

Guru SMP Negeri 2 Sawan. Suka menulis puisi Bali. Biasa jadi komentar dalam turnamen bola voli

Related Posts

Lomba Mewarnai di Pesta Kesenian Bali 2026 —Ketut Kayla Safira Maharani Eliani Tirta Juara I

by Nyoman Budarsana
June 15, 2026
0
Lomba Mewarnai di Pesta Kesenian Bali 2026 —Ketut Kayla Safira Maharani Eliani Tirta Juara I

ANAK-anak ini tampak tenang dan santai. Mereka duduk manis di atas karpet di teras Museum Taman Budaya, Art Center Provinsi...

Read moreDetails

Peed Aya PKB 2026, Seni Keberlanjutan

by Nyoman Budarsana
June 15, 2026
0
Tari Siwanataraja, Simbol Awal Penciptaan yang Selalu Hadir dalam Peed Aya Pesta Kesenian Bali

PEMENTASAN Peed Aya serangkaian dengan pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) selalu ada yang baru, dan pastinya menarik. Arak-arakan barisan yang...

Read moreDetails

Mendengar Kembali Bunyi yang Terlupakan: Catatan atas Pertunjukan Gula Gending 2.0 di Taman Budaya NTB

by Jaswanto
June 14, 2026
0
Mendengar Kembali Bunyi yang Terlupakan: Catatan atas Pertunjukan Gula Gending 2.0 di Taman Budaya NTB

ADA bunyi-bunyi yang hidup begitu lama di sekitar kita hingga akhirnya menghilang dari ingatan. Ia pernah hadir setiap hari, melintas...

Read moreDetails

Tari Siwanataraja, Simbol Awal Penciptaan yang Selalu Hadir dalam Peed Aya Pesta Kesenian Bali

by Nyoman Budarsana
June 14, 2026
0
Tari Siwanataraja, Simbol Awal Penciptaan yang Selalu Hadir dalam Peed Aya Pesta Kesenian Bali

Tari Siwanataraja selalu menjadi bagian penting dalam Peed Aya (Pawai Budaya) pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) setiap tahunnya. Tari yang...

Read moreDetails

‘The Adventure Seekers’, Drama Musikal yang Menghidupkan Makna Perpisahan di SDN 1 Ungasan

by Dede Putra Wiguna
June 10, 2026
0
‘The Adventure Seekers’, Drama Musikal yang Menghidupkan Makna Perpisahan di SDN 1 Ungasan

PULUHAN pesawat kertas melayang serentak dari atas panggung SD Negeri 1 Ungasan, Badung. Para siswa bersama guru yang berdiri berdampingan...

Read moreDetails

I Gusti Ngurah Rai di Atas Panggung Marga Fest II : Perang yang Dramatis dan Tragis dalam Balutan Teater Tari

by Nyoman Budarsana
June 8, 2026
0
I Gusti Ngurah Rai di Atas Panggung Marga Fest II : Perang yang Dramatis dan Tragis dalam Balutan Teater Tari

“Dini lade Pak Ngurah Rai nginep ajak pasukanne. Likangi ada, dini ada. Kak sing nawang, nak teka peteng. Di kenkenne,...

Read moreDetails

Peed Aya PKB 2026 Dirancang Tampil Lebih Dinamis Sebagai Pertunjukan Seni Berjalan

by Nyoman Budarsana
June 8, 2026
0
Spesies Bapak Pongah | Etnosentris di Parade PKB 2022

PEED Aya atau Pawai Budaya dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII tahun 2026 akan hadir dengan wajah baru yang...

Read moreDetails

Warna-warni Layang-layang di Atas Laut Peninsula Island —Cerita dari ‘World Ocean Day’ dan ‘Coral Triangle Day 2026’ di Nusa Dua

by Nyoman Budarsana
June 7, 2026
0
Warna-warni Layang-layang di Atas Laut Peninsula Island —Cerita dari ‘World Ocean Day’ dan ‘Coral Triangle Day 2026’ di Nusa Dua

LANGIT biru di atas pantai dan laut, di daerah Peninsula Island, Nusa Dua, Bali, dipenuhi warna-warni layang-layang yang menari mengikuti...

Read moreDetails

‘Temurun Warsa’, Tradisi Mendak Hujan di Desa Adat Pecatu yang Menjelma dalam Tabuh Kreasi Baleganjur

by Dede Putra Wiguna
June 6, 2026
0
‘Temurun Warsa’, Tradisi Mendak Hujan di Desa Adat Pecatu yang Menjelma dalam Tabuh Kreasi Baleganjur

DI Desa Adat Pecatu, hujan tidak hanya dimaknai sebagai peristiwa alam. Ia adalah harapan, doa, sekaligus sumber kehidupan yang dinantikan...

Read moreDetails

‘Madedari’ Karya Putu Ayu Kartika Dewi: Menafsir Jejak ‘Dedari’ dalam Tari Kreasi yang Kontemplatif

by Dede Putra Wiguna
June 5, 2026
0
‘Madedari’ Karya Putu Ayu Kartika Dewi: Menafsir Jejak ‘Dedari’ dalam Tari Kreasi yang Kontemplatif

CAHAYA panggung perlahan meredup. Alunan musik mengalir lembut, mengisi ruang Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, yang malam itu...

Read moreDetails
Next Post
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa ---Cerita Desa Kedisan Berbenah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Perkuat Kompetensi Berbahasa Indonesia, 449 Siswa SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Ikuti UKBI Adaptif
Pendidikan

Perkuat Kompetensi Berbahasa Indonesia, 449 Siswa SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Ikuti UKBI Adaptif

JARI-jari mereka bergerak cepat di atas layar gawai dan laptop. Di beberapa ruang kelas SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam),...

by Dede Putra Wiguna
June 15, 2026
Lomba Mewarnai di Pesta Kesenian Bali 2026 —Ketut Kayla Safira Maharani Eliani Tirta Juara I
Panggung

Lomba Mewarnai di Pesta Kesenian Bali 2026 —Ketut Kayla Safira Maharani Eliani Tirta Juara I

ANAK-anak ini tampak tenang dan santai. Mereka duduk manis di atas karpet di teras Museum Taman Budaya, Art Center Provinsi...

by Nyoman Budarsana
June 15, 2026
Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra dan Wakil Bupati Gede Supriatna Sampaikan Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan
Pemerintahan

Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra dan Wakil Bupati Gede Supriatna Sampaikan Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan

Om Swastyastu, Atas nama Pemerintah Kabupaten Buleleng dan pribadi, kami I Nyoman Sutjidra, Bupati Buleleng, bersama Gede Supriatna, Wakil Bupati...

by tatkala
June 15, 2026
Tari Siwanataraja, Simbol Awal Penciptaan yang Selalu Hadir dalam Peed Aya Pesta Kesenian Bali
Panggung

Peed Aya PKB 2026, Seni Keberlanjutan

PEMENTASAN Peed Aya serangkaian dengan pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) selalu ada yang baru, dan pastinya menarik. Arak-arakan barisan yang...

by Nyoman Budarsana
June 15, 2026
Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026
Ulas Pentas

Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

MENERJEMAHKAN tema Pesta Kesenian Bali (PKB) ke dalam seni pertunjukan kerap menjadi tantangan bagi para seniman. Pertama, tema-tema PKB dirumuskan...

by I Nyoman Darma Putra
June 15, 2026
Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali
Ulas Rupa

Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

SEBUAH pertanyaan tidak pernah lahir dari ruang hampa. Di balik kalimat pendek, “What’s for Dinner?” atau “Mau makan malam apa?”,...

by Oka Rusmini
June 15, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Wisatawan Eropa Masih Menjadi Andalan Indonesia

MASA tinggal terlama wisatawan mancanegara (wisman) di Indonesia didominasi oleh wisatawan asal negara-negara Eropa. Hal ini menunjukkan bahwa wisatawan Eropa...

by Chusmeru
June 15, 2026
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat
Puisi

Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak...

by Putu Intan Juliantika
June 14, 2026
Mendengar Kembali Bunyi yang Terlupakan: Catatan atas Pertunjukan Gula Gending 2.0 di Taman Budaya NTB
Panggung

Mendengar Kembali Bunyi yang Terlupakan: Catatan atas Pertunjukan Gula Gending 2.0 di Taman Budaya NTB

ADA bunyi-bunyi yang hidup begitu lama di sekitar kita hingga akhirnya menghilang dari ingatan. Ia pernah hadir setiap hari, melintas...

by Jaswanto
June 14, 2026
 ‘Sang Jaratkaru’ dari Buleleng pada Peed Aya PKB 2026: Presentasi Kejayaan dan Karakteristik Budaya Bali Utara
Budaya

 ‘Sang Jaratkaru’ dari Buleleng pada Peed Aya PKB 2026: Presentasi Kejayaan dan Karakteristik Budaya Bali Utara

DENPASAR – TATKALA.CO |  Seniman-seniman dari Kabupaten Buleleng tampil dengan ciri khas Bali Utara pada Peed Aya (Pawai) Pembukaan Pesta...

by Nyoman Budarsana
June 14, 2026
Takdir dan Kehendak Bebas: Membaca Ulang Kehidupan melalui Pancakosha dan Peta Kesadaran Hawkins
Esai

Takdir dan Kehendak Bebas: Membaca Ulang Kehidupan melalui Pancakosha dan Peta Kesadaran Hawkins

Antara Takdir dan Kebebasan: Pertanyaan Tua yang Tak Pernah Usai Sejak manusia mulai bertanya tentang dirinya sendiri, satu pertanyaan selalu...

by Agung Sudarsa
June 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co