3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pertemuan William James dan Vivekananda

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
June 3, 2026
in Esai
Pertemuan William James dan Vivekananda

William James dan Vivekananda | Sumber foto: Wikipedia

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat

SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata, India. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga terpelajar, terpapar filsafat Barat, logika, dan tradisi intelektual modern. Sejak muda ia sudah menunjukkan kecenderungan kritis: ia tidak mudah menerima dogma agama tanpa pembuktian pengalaman langsung. Pendidikan formalnya di Presidency College dan University of Calcutta mempertemukannya dengan pemikiran rasional Barat, tetapi sekaligus menimbulkan kegelisahan eksistensial: apa makna Tuhan yang benar-benar bisa dialami, bukan sekadar dipercaya?

Pencarian itu berujung pada pertemuannya dengan Ramakrishna Paramahamsa. Dari sosok sederhana di Dakshineswar inilah Narendra menemukan sesuatu yang tidak ia temukan di filsafat Barat: pengalaman spiritual langsung ). Setelah itu ia dikenal sebagai Swami Vivekananda, dan menjadi jembatan besar antara Vedanta India dan dunia modern.

Di sisi lain dunia, William James lahir di New York pada 1842 dalam keluarga intelektual. Ia adalah salah satu pendiri psikologi modern dan tokoh utama pragmatisme. Karya terkenalnya The Principles of Psychology (1890) menjadikannya figur sentral dalam memahami pikiran manusia secara ilmiah. Namun James juga mengalami krisis spiritual dan kesehatan, yang membuatnya tertarik pada pengalaman kesadaran non-ordinary—termasuk pengalaman mistik, hipnosis, dan fenomena religius.

Dua tokoh ini datang dari arah berbeda: Vivekananda dari spiritualitas Timur, James dari rasionalisme ilmiah Barat. Namun keduanya bertemu di titik yang sama: kesadaran manusia.

Pertemuan di Amerika: Ketika Dua Dunia Saling Menatap

Pertemuan intelektual antara Vivekananda dan William James terjadi sekitar tahun 1896, ketika Vivekananda berada di Amerika Serikat setelah sukses besar di Parliament of the World’s Religions 1893.

Pada masa itu, Vivekananda mulai memberikan kuliah di Harvard dan Boston tentang Vedanta dan yoga. William James, yang saat itu mengajar di Harvard University, tertarik menghadiri beberapa ceramah tersebut.

Pertemuan mereka tidak selalu dicatat sebagai dialog formal panjang, tetapi lebih sebagai interaksi intelektual dan diskusi singkat yang meninggalkan kesan mendalam. James melihat Vivekananda bukan sekadar “guru agama Timur”, tetapi sebagai seorang pengamat fenomenologi kesadaran yang serius.

Bagi James, ini penting: Vivekananda tidak berbicara tentang Tuhan sebagai konsep metafisik abstrak, tetapi sebagai pengalaman langsung kesadaran tertinggi. Hal ini sejalan dengan minat James terhadap pengalaman religius sebagai data psikologis yang sah.

Dari pertemuan ini, terbentuk sebuah jembatan pemikiran: spiritualitas tidak lagi berada di luar sains, tetapi menjadi bagian dari studi kesadaran manusia.

Dialog Tak Tertulis: Pengalaman sebagai Sumber Kebenaran

Inti pertemuan intelektual mereka bukan pada debat, tetapi pada kesamaan paradigma baru: bahwa pengalaman manusia adalah sumber pengetahuan yang sah.

Vivekananda membawa gagasan Vedanta bahwa realitas tertinggi tidak bisa hanya dipahami lewat logika. Ia harus dialami secara langsung melalui meditasi, dan semua agama pada dasarnya mengarah pada pengalaman kesatuan (oneness)

Sementara William James mulai merumuskan bahwa pengalaman mistik adalah fenomena psikologis nyata. Kesadaran manusia memiliki lapisan yang belum dipahami sains dan nilai suatu pengalaman diukur dari dampaknya pada kehidupan (pragmatisme)

Dalam karya James kemudian, terutama The Varieties of Religious Experience (1902), jejak pemikiran ini terlihat jelas. Ia menulis tentang pengalaman spiritual sebagai sesuatu yang “nyata bagi subjek yang mengalaminya”, tanpa harus direduksi menjadi ilusi.

Di titik ini, Vivekananda dan James secara tidak langsung membangun fondasi awal bagi apa yang sekarang disebut psikologi transpersonal—bidang yang mengkaji kesadaran di luar ego biasa.

Dampak Intelektual: Dari Psikologi ke Kesadaran Global

Pertemuan ide ini tidak berhenti pada dua individu. Ia menyebar menjadi arus besar dalam perkembangan intelektual modern.

Dari sisi Barat, William James membuka jalan bagi psikologi pengalaman religius, kemudian mempengaruhi psikologi humanistik (Maslow, Rogers), dan berkembang menjadi psikologi transpersonal (Grof, Wilber).

Dari sisi Timur, Vivekananda memperkenalkan Vedanta sebagai filsafat universal. Ia menekankan “strength is life” sebagai etika spiritual modern dan menghubungkan yoga dengan kehidupan praktis, bukan sekadar ritual.

Yang menarik, keduanya bertemu pada satu titik: manusia sebagai pusat eksplorasi kesadaran.

Di sini, batas antara sains dan spiritualitas mulai kabur. Kesadaran tidak lagi dianggap sekadar fungsi otak, tetapi sebagai medan pengalaman yang luas dan bertingkat.

Resonansi dalam Pemikiran Soekarno: Spiritualitas dan Kebangkitan Bangsa

Gagasan Vivekananda kemudian menyebar ke banyak pemikir dunia, termasuk Soekarno. Dalam berbagai pidato dan refleksi kebangsaannya, Soekarno menunjukkan kekaguman terhadap tokoh-tokoh kebangkitan spiritual Timur seperti Vivekananda.

Bagi Soekarno, Vivekananda bukan hanya tokoh agama, tetapi simbol kebangkitan harga diri bangsa Timur, penolakan terhadap inferioritas kolonial dan integrasi antara kekuatan spiritual dan politik.

Soekarno melihat bahwa kemerdekaan tidak hanya bersifat politik, tetapi juga kemerdekaan jiwa (mental independence). Dalam kerangka ini, gagasan Vivekananda tentang “kekuatan adalah kehidupan, kelemahan adalah kematian” sangat resonan dengan semangat revolusi Indonesia.

Lebih jauh, Soekarno mengaitkan kebangkitan spiritual dengan kebangkitan nasional: bangsa yang merdeka harus memiliki kesadaran diri yang kuat, bukan hanya struktur negara yang berdiri sendiri.

Dalam konteks ini, pertemuan intelektual antara Vivekananda dan William James menjadi penting secara tidak langsung: ia menunjukkan bahwa kesadaran manusia adalah medan universal yang melampaui batas bangsa, agama, dan ideologi.

Jembatan Kesadaran yang Masih Terbuka

Pertemuan antara Vivekananda dan William James bukan hanya peristiwa sejarah intelektual, tetapi simbol dari dialog besar antara Timur dan Barat. Dari satu sisi, spiritualitas yang berakar pada pengalaman langsung; dari sisi lain, sains yang mulai membuka diri terhadap misteri kesadaran.

Apa yang mereka mulai pada akhir abad ke-19 kini terus berkembang dalam psikologi modern, studi kesadaran, dan dialog antaragama.

Dan jika kita membaca ulang jejak ini melalui perspektif Soekarno, kita melihat satu benang merah: kebangkitan manusia selalu dimulai dari kebangkitan kesadaran.

Di titik itu, Vivekananda dan William James bukan hanya tokoh sejarah—mereka adalah dua suara yang masih berdialog dalam cara kita memahami diri sampai hari ini.[T]

Tags: filsafatSwami WiwekanandaWilliam James
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

Next Post

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni ---Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co