- Judul : 30 Tahun dan Gagal
- Penulis : Arman Dhani
- Tahun terbit : Februari 2026
- Penerbit : EA Books
- Tebal : x + 138 halaman
- ISBN : 978-623-5280-25-7
Membaca buku 30 Tahun dan Gagal, buku terbaru karya Arman Dhani terasa seperti mendengar curhat yang panjang. Ceritanya beragam, ada sedih, jenaka, dan tragis. Ada pula bagian yang menyisakan kesan mendalam. Buku setebal 138 halaman ini membahas kegagalan dari kaca mata penulisnya. Pertanyaan besarnya, apa itu gagal? Atau jika dibalik, apa itu sukses?
Saya selalu yakin, buku-buku semacam ini semakin dibutuhkan. Gagal dan sukses bisa digapai siapa saja. Hanya saja proses dan caranya yang berbeda-beda. Sebab ‘neraka’ ada di mana-mana, kesehatan mental menjadi penyakit akut yang perlu dihindari. Ada banyak kebaikan dan refleksi hidup dalam buku jenis ini. Dalam buku 30 Tahun dan Gagal Dhani tidak hanya membahas kegagalan pada ranah personal. Ia mengaitkan kegagalan individu dengan struktur di negeri ini.
Seperti yang tertulis pada KBBI, gagal/ga.gal diartikan sebagai tidak berhasil; tidak tercapai (maksudnya): keinginan untuk menjadi juara ; Definisi ini pun ditulis dengan jelas pada sampul buku. Mungkin dimaksudkan agar pembaca memiliki sudut pandang sejalan tentang kata gagal. Buku ini secara garis besar dibagi menjadi sembilan bagian, di antaranya Deklarasi Kegagalan di Usia 30 Tahun, Mengurai Kondisi Kesehatan Mental, Racun-Racun Layar, Mengusut Kegagalan Struktural, Melepas Alienasi Diri, Memaknai Kesuksesan di Usia 30 Tahun, Seni Merangkak dari Bawah di Pasar Kerja, Membangun Fondasi Hubungan Sehat, dan Timeline-Mu Aturanmu. Ada benang merah yang kuat dalam setiap bagian.
Arman Dhani menulis semacam kilas balik kisah hidupnya. Bisa jadi semacam nukilan autobiografi namun tidak diceritakan dengan alur yang runut. Saya melihat, buku yang diterbitkan EA Books, 2026 ini menjadi arsip atas kisah hidup manusia yang pernah gagal. Dunia terus menerus berubah, penilaian gagal dan sukses tiap orang pun berbeda. Subjek cerita yang dibicarakan buku ini, Arman Dhani, seperti sedang mencari pijakan. Dalam kisahnya tersebut, tanpa disadari memberikan makna hidup yang sangat relevan untuk pembaca.
Daya tarik buku ini, tentu dari cara Dhani bertutur sederhana namun menggugah. Dari kalimat-kalimat yang dilontarkan, dengan gampang kita menyimpulkan ia adalah orang yang memiliki bacaan yang luas. Bagi yang mengikuti Dhani, baik sebagai penulis buku dan jurnalis, atau bahkan pada podcast-podcast pasti telah hapal dengan cara dia bertutur. Untuk yang suka kalimat-kalimat untuk bahan quotes, buku ini punya melimpah. Beberapa kutipan yang saya suka adalah ‘‘Banyak orang berpikir menyerah itu mudah, tapi kenyataannya justru jadi hal paling sulit untuk dilakukan’’ (hlm 6) atau ‘‘jangan masuk hubungan bersama orang yang belum selesai dengan dirinya sendiri’’ (hlm 109).
Awal membaca buku ini, pembaca akan diceritakan kondisi kegagalan yang dialami Dhani. Mulai gagal dalam pekerjaan, cinta, dan kesehatan. Dia menceritakan sempat divonis positif Covid19 dan diabetes. Dari sana, mulai diceritakan lagi kegagalan-kegagalan berikutnya dengan lebih detail. Secara keseluruhan, kegagalan yang dialami Dhani berkelindan dari mulai satu faktor ke faktor lainnya. Lalu ia analisis bahwa penyebab kegagalan tidak hanya berasal dari dirinya sendiri, akan tetapi tidak jarang berasal dari luar dirinya. Faktor yang berasal dari luar dirilah yang amat sulit untuk dikontrol.
Dalam satu bagian sub Mengusut Kegagalan Struktural, ia menulis ‘‘orang miskin tidak hanya kekurangan materi, tapi juga kekurangan akses: akses ke pendidikan yang layak, ke waktu luang untuk berpikir, ke jaringan sosial yang ‘berguna’, ke informasi yang benar,… ‘‘ (hlm 57). Dengan asumsi bahwa kegagalan yang dialami salah satunya karena ‘ditindas sistem’.
Kegagalan yang datang silih berganti seakan tidak hanya membuat babak belur secara fisik, namun juga menghancurkan mentalnya. Tentu, ia tetap bisa berdiri dan kuat melangkah maju setelah berbagai kegagalan tersebut adalah doa ibu dan jalan yang ditunjukkan Tuhan kepadanya. Setidaknya, inilah yang masih Dhani yakini. Ada bagian yang dia mengingat masakan ibu, pesan-pesan ibu dan akhirnya membuatnya bangkit kembali. ‘‘Pesan ibu akan kupegang erat-erat…’’ kata dia (hlm 79).
Kegagalan ternyata tidak hanya disebabkan oleh diri sendiri. Akan tetapi, kegagalan bisa muncul karena media sosial (Dhani menyebutnya neraka di dalam layar) dan relasi dengan orang lain/lingkungan sekitar. Bahkan yang terparah, sebelum gagal kita akan diserang penyakit mental sehingga akhirnya kita ‘merasa’ telah gagal. Kegagalan akan semakin parah jika tidak ada dukungan sekitar. Misal ketika dipecat kerja atau diputuskan pacar, jika tidak ada dukungan dari teman dan keluarga maka ‘kegagalan’ ini akan semakin terasa kuat. Bukankah, kita nggak serapuh yang selama ini kita kira.
Menurut saya, bagian penting lain di buku ini pada bagian Memaknai Kesuksesan di Usia 30 Tahun. Pada bagian ini Dhani menulis panjang lebar bahwa kemenangan tidak selalu datang dalam hasil besar (hlm 88) ‘‘Peradaban kita terbiasa merayakan hasil daripada proses, lebih peduli tinggi jabatan daripada pengalaman’’ pada kalimat ini terasa sekali ketegasan bahwa sukses itu ukurannya relatif, ditambah struktur dunia kerja atau kaca mata sukses masyarakat kita.
Setelah membaca buku ini, saya sebenarnya berharap mendapat makna dari sukses. Apa itu sukses? Bagaimana cara meraihnya? Akan tetapi, sukses setiap orang ternyata berbeda, panduan sukses pun berbeda. Begitu pula, apa itu gagal? Kondisi bagaimana seseorang dikatakan gagal, pun berbeda-beda. Yang hampir pasti, mungkin gagal yang kita alami ada andil negara di dalamnya. Jadi, baca sampai selesai rancauan Arman Dhani di buku ini untuk menemukan gagal atau sukses versi masing-masing. [T]
Penulis: Wayan Esa Bhaskara
Editor: Adnyana Ole




























