Roses are red
Violets are blue
106,20 KM?
WTF is wrong with you?
SEBUAH papan merah bertuliskan kata-kata di atas diangkat oleh seorang warga negara asing, tepat sebelum Race 100K serangkaian Bali Trail Running (BTR) Ultra 2026, Jumat, 15 Mei 2026 dimulai. Saat itu Batur Natural Hot Spring di Kintamani ramai dipadati orang-orang. Sebagian besar dari mereka adalah para peserta yang akan mengikuti race selama 2 hari ke depan. Kebetulan event berlangsung sejak 15–17 Mei 2026. Sebagian lagi yang datang bisa jadi adalah para official, media, teman, juga kerabat dari para peserta yang akan berlari.
Sisanya adalah orang-orang seperti saya, hadir untuk menemani seorang kawan mengambil nomor dada yang akan disematkan saat lari nanti. Saya juga melihat-lihat setiap stand atau booth yang ada di sekitar lokasi acara. Kebanyakan memang item-item yang dijual masih berkaitan dengan berlari, seperti sepatu lari, baju lari, topi lari, dan sebagainya. Ada satu yang saya beli, lumayan untuk menambah koleksi.
BTR Ultra 2026 merupakan lomba lari jarak 7 kilometer, 7 kilometer kids, 18 kilometer, 30 kilometer, kategori ultra 60 kilometer dan 100 kilometer. Itu membuat BTR Ultra dapat diikuti oleh berbagai kalangan, mulai dari runner pemula maupun ultra runner berpengalaman. Tahun ini, panitia mengusung tagline “BTR for All”, artinya BTR Ultra bisa diikuti oleh berbagai kalangan usia, baik muda ataupun tua, baik anak-anak, remaja, ataupun dewasa. Berbagai kategori penghargaan pun juga disiapkan, mulai dari Kids Award hingga Age Group Award untuk peserta usia 18 tahun hingga 70 tahun ke atas.
Total pesertanya ternyata banyak sekali. Hampir 6.000 kepala. Banyak banget ini klee. Menurut info yang saya dapat, tercatat sebanyak 5.916 orang yang mendaftar diri agar bisa unjuk gigi di event tersebut. Ketua BTR, I Made Budiana mengatakan peserta masih didominasi oleh masyarakat Indonesia. Sisanya 621 peserta merupakan warga negara asing yang datang dari 62 negara. Sungguh, antusiasme yang sangat luar biasa.
Yang menarik, event BTR Ultra 2026 juga dikemas sedemikian rupa agar Family Friendly, sehingga satu keluarga cemara bisa mengikuti event tersebut, tak hanya bapak ibunya saja, tak hanya ayah bundanya saja, tapi anak-anaknya, kakak-kakaknya, dan adik-adiknya juga bisa hadir mengikuti event, berlari sambil mencintai alam dan olahraga.

Race Director BTR Ultra I Putu Agus Darmayuda mengatakan event bergengsi tersebut banyak melibatkan elemen masyarakat di dalamnya, terutama masyarakat sekitar Batur dan Kintamani. Menurutnya, BTR Ultra bukan milik komunitas maupun pihak tertentu, melainkan milik bersama.
BTR Ultra juga digadang-gadang membawa banyak manfaat bagi pariwisata di Bali, khususnya dalam bidang Sport Tourism. Kegiatan Trail Run menjadi salah satu alternatif mendatangkan wisatawan ke Bali, khususnya ke Kintamani. Potensi Trail Run juga berkaitan erat dengan kegiatan wisata berbasis keindahan alam Bali. Karena itulah, panitia ingin membawa olahraga ini menjadi lebih dekat dengan masyarakat sehingga nantinya berdampak pada UMKM lokal yang terlibat, pun beberapa pelaku usaha kreatif, sehingga terjadi perputaran ekonomi di masyarakat setempat.
“Jadi BTR Ultra bukan saya, bukan punya BCA, bukan punya BKSDA, bukan punya panitia. Tapi event ini adalah milik semua masyarakat,” kata Agus.
Semakin saya mencari tahu, ternyata semakin banyak hal menarik yang saya temui yang menjadikan event BTR Ultra tersebut berbeda dari event-event lari lainnya.
Rute “Volcano to Volcano” yang Cantik tapi Brutal
Banyak trail run memiliki hutan atau gunung, atau bisa jadi keduanya. Namun BTR Ultra membawa peserta melewati area gunung api di Bali, yaitu Gunung Batur, Gunung Abang, bahkan Gunung Agung untuk kategori ultra. Peserta melewati berbagai hal dan rintangan dalam satu race. Banyak pelari menyebut BTR punya kombinasi view indah dan elevasi yang menguras tenaga. Bahkan komunitas trail Asia menyebut race ini sebagai salah satu event paling tough di kalender Asia Trail Master. Hhmmm, ternyata medannya cukup cantik dan cukup brutal.
Rute yang dilalui peserta membentang melintasi 12 desa di Kintamani hingga 3 desa di wilayah Kabupaten Karangasem. Sepanjang perjalanan (atau pelarian), para peserta akan disuguhkan dengan pemandangan lanskap khas kawasan Geoprak Batur, mulai dari hamparan black lava yang cukup ikonik, kemegahan Gunung Batur, area padang pasir Culali, hingga sejuknya hutan dan rerumputan di sekitarnya.


Untuk kategori 60 kilometer, tantangan berlanjut dengan lintasan yang melewati Gunung Abang, Bukit Trunyan, dan Bukit Pedahan. Sementara itu, peserta kategori 100 Kilometer akan merasakan pengalaman yang lebih ekstrem dengan jalur tambahan menuju Gunung Agung, gunung tertinggi di Bali.
Salah satu teman saya, Putu Gede Prana Sanjaya, sukses menjadi finisher virgin trail run 30 Kilometer pada BTR Ultra tahun ini. Ia bercerita, medan yang ia hadapi sepanjang rute ternyata sangat di luar ekspektasi. Bukan sebatas gunung, tapi ia juga harus bertemu dengan medan penuh bebatuan saat mengitari hamparan black lava. Batu-batunya tajam dan tidak ramah terhadap ankle.
“Medannya dipenuhi batu dan tidak rata, memaksa saya untuk memperlambat langkah dan mengatur ritme, menjaga keseimbangan tanpa harus kehilangan pijakan. Sesekali harus berjalan karena berlari mustahil dilakukan di atas medan tersebut” ujarnya.
Menurutnya, hal yang paling mengejutkan adalah menghadapi Tanjakan Cinta setelah melewati black lava dan sebelum kembali bertemu dengan black lava. Tanjakannya cukup panjang, sekitar 800 meter dengan gradien (ukuran tingkat ketajaman suatu tanjakan) kurang lebih 13%. Bagi pelari-pelari pemula, Tanjakan Cinta bisa menjadi sebuah kejutan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Jadi kaki harus dipersiapkan dengan matang, dengan baik, dan dengan maksimal.
“Jadi selama di Black Lava tadi, tenaga bisa disimpan terlebih dahulu, tidak terlalu nge-push, sehingga nanti kuat untuk melewati tanjakan cinta tanpa kehabisan tenaga. Jangan lupa selalu sempatkan strength training untuk naklukin trail run ini, agar finish strong.” imbuhnya.
Jujur, saya ingin sekali merasakan Black Lava ini, tapi akhir-akhir ini saya justru sering kebingungan, kelelahan, panik, sedih, dan sakit-sakitan. Apakah saya terkena Black Magic? Mih, semoga tidak.


Tak hanya Prana, saya juga sempat mengobrol dengan Paul Kawinda, salah satu peserta dari Bandung namun sudah lama tinggal di Bali bersama keluarganya. Ia sukses menjadi finisher untuk rute 100 Kilometer. Gokil sih Bapak ini. WTF is wrong with you, Pak?
Pak Paul bercerita, rute “Volcano to Volcano” 100K di BTR Ultra 2026 menjadi pengalaman yang benar-benar membuka dunia baru. Sebelumnya ia lebih sering bermain di jarak 60 hingga 70 Kilometer, sehingga tantangan 100 Kilometer menghadirkan level ketahanan yang berbeda, terutama dalam menghadapi akumulasi kerusakan tubuh selama berjam-jam di lintasan gunung Bali.
Race dimulai dengan situasi yang langsung brutal. Sekitar pukul 19.00 Wita, atau satu setengah jam setelah start, hujan deras mengguyur area black lava. Kondisi lintasan berubah menjadi basah, licin, dan penuh lumpur. Sepatu serta kaos kaki terus lembap sepanjang perjalanan, membuat kaki tidak pernah benar-benar kering sejak awal lomba. Meski begitu, hingga separuh pertama race selepas Gunung Agung, semuanya masih berjalan sesuai rencana. Pak Paul mencatat average pace 14 menit 32 detik per kilometer, menyelesaikan 50 kilometer pertama dalam waktu sekitar 12 jam 6 menit, dengan elevation gain mencapai 2.100 meter. Secara fisik dan mental ia masih merasa sangat kuat, bahkan sempat berpikir target finis di bawah 28 jam masih realistis.

Masalah mulai muncul memasuki 64 Kilometer. Lecet di kaki perlahan memburuk, namun karena terbiasa dengan race 70 Kilometer, ia masih merasa kondisinya aman dan memilih mengabaikan hotspot serta kerusakan awal akibat kaos kaki basah yang terus dipakai. Keputusan itu menjadi titik balik. Saat mencapai 70 Kilometer, ia baru menyadari kondisi telapak kakinya sudah kacau. Blister muncul hampir di seluruh area penting kaki, mulai dari kelingking (blood blister), jempol, midfoot, hingga heel. Ia merasa kalah bukan oleh tanjakan atau jarak, melainkan oleh akumulasi kerusakan kecil yang terus dibiarkan selama race berlangsung.
Memasuki 80 Kilometer, ia sudah tidak bisa lagi berlari normal. Pace turun drastis dan race berubah menjadi survival mode. Fokus utama bukan lagi mengejar target waktu, melainkan bertahan hingga garis finis. Meski begitu, ia akhirnya berhasil menuntaskan Race 100K dengan catatan waktu 31 jam 39 menit 11 detik, average pace akhir 18 menit per kilometer, serta average heart rate 120 bpm. Ia juga berhasil melewati cut off time dengan aman. Batas waktu di Trunyan adalah pukul 19.00 Wita, sementara ia sudah tiba di sana pada pukul 14.00 Wita. Selamat Pak Paul, sudah bertahan dan tetap bergerak meski tubuh sudah berada di batas kemampuan.
“Latihan dan istirahat yang cukup, jangan daftar race ultra trail last minute atau karena FOMO (Fear of Missing Out). Karena gunung itu baik untuk orang-orang yang siap secara mental dan fisik,” ujar Pak Paul memberikan sedikit kiat agar finish strong dan tidak kena Cut Off Time.
Di BTR Ultra, Peserta Memahami Tubuh
Saya juga berkesempatan mengobrol dengan Gusti Ngurah Bagus Wira Gunawan, seorang dokter umum dari Ubud yang bekerja di salah satu klinik di daerah Ubud tak jauh dari rumahnya. Berhubung dia seseorang yang paham medis, saya pun bertanya terkait menfaat BTR Ultra bagi tubuh dan kesehatan.
Ia memberikan penjelasan yang lumayan menarik. Menurutnya, Trail Run bukan sekadar tentang mencapai garis finish, tetapi juga memahami kemampuan dan batas tubuh saat berhadapan langsung dengan alam. Berbeda dengan lari di jalan raya yang cenderung lurus dan stabil, medan Trail Run menghadirkan tantangan yang sangat tidak bisa ditebak. Peserta harus beradaptasi dengan jalur berbatu, pasir, bisa jadi lumpur saat turun hujan, hingga tanjakan dan turunan yang cukup menguras tenaga. Karena itulah, penting untuk mempelajari kemampuan tubuh.

“Poin plus saat mengikuti BTR Ultra adalah para peserta tahu kemampuan mereka di alam atau bahkan sudah mempersiapkan diri sebelum event dimulai, mulai dari mengatur strategi, menjaga ritme, memperhatikan kebutuhan nutrisi, asupan kalori, dan elektrolit selama berlari. Orang-orang jadi banyak belajar tentang diri sendiri,” ujar Wirgun, nama panggilannya.
Ia juga menambahkan, Trail Run memiliki risiko yang lebih tinggi. Kontur alam yang tidak beraturan membuat peserta dituntut untuk selalu fokus. Sedikit saja lengah, apalagi saat tubuh mulai lelah di tengah rute, risiko cedera seperti terpeleset atau keseleo bisa terjadi kapan saja. Karena itu, faktor keselamatan menjadi hal yang sangat penting dalam ajang seperti ini.
“Selain tantangan fisik dan mental, suasana pegunungan dengan udara yang lebih segar memberikan pengalaman yang berbeda dibanding berlari di perkotaan. Udaranya lebih enak,” imbuhnya.
Menurutnya lagi, aspek yang masih bisa ditingkatkan dalam penyelenggaraan BTR Ultra adalah fasilitas dan sistem keamanan di lintasan. Mengingat tidak semua area mudah dijangkau ketika terjadi keadaan darurat, keberadaan pos kesehatan di titik-titik yang dianggap berisiko tinggi perlu diperbanyak, terutama di jalur yang sulit diakses.
“Penyelenggara sebenarnya telah menyiapkan emergency contact, namun safety briefing juga dinilai perlu dibuat lebih serius dan lebih mudah dipahami peserta, khususnya bagi pelari pemula, orang awam yang belum terbiasa dengan karakter medan trail run,” tambahnya di akhir obrolan.

BTR Ultra Memiliki Pengakuan Internasional
Usut punya usut, BTR Ultra bukanlah ajang sembarang, bukan ajang kaleng-kaleng. Menurut informasi yang saya baca di website asiatrailmaster.com, BTR Ultra telah terhubung dengan berbagai standar dan sistem poin internasional seperti International Trail Running Association, UTMB, dan Asia Trail Master. Artinya, setiap kilometer dan pencapaian yang diraih peserta di lintasan BTR Ultra memiliki pengakuan di level dunia. Kategori 100 kilometer dan 60 kilometer juga kembali menjadi ajang kualifikasi untuk ATM Championship, sementara kategori 100 kilometer juga memberikan poin bagi pelari yang mengikuti Grandmaster Quest. Jujurly, nama-nama event lari ini sangat asing bagi saya yang bukan pelari ini.
Sebagai informasi, poin kualifikasi ini tidak diberikan begitu saja kepada setiap peserta. Perolehan poin dihitung berdasarkan sejumlah aspek penting dalam sebuah lomba trail run, mulai dari panjang jarak tempuh, total elevasi atau akumulasi pendakian, tingkat kesulitan teknikal lintasan, hingga batas waktu penyelesaian atau cut off time yang harus ditaklukkan peserta. Artinya, semakin berat dan menantang karakter sebuah race, maka semakin tinggi pula nilai poin yang bisa didapatkan pelari yang berhasil finish.


Di kalangan pelari trail run, poin kualifikasi seperti ini memiliki peran yang sangat penting. Selain menjadi bentuk pengakuan atas kemampuan dan pengalaman seorang pelari di medan ekstrem, poin tersebut juga menjadi salah satu syarat untuk mengikuti ajang-ajang ultra trail bergengsi tingkat dunia. Salah satunya adalah Ultra-Trail du Mont-Blanc atau UTMB, perlombaan ultra trail paling prestisius di dunia yang menjadi impian banyak pelari. Karena itu, race seperti BTR Ultra tidak hanya dipandang sebagai kompetisi biasa, tetapi juga menjadi tiket bagi para pelari untuk menembus level internasional dan bersaing di panggung trail run dunia. For your information, informasi tersebut saya dapatkan setelah membaca berbagai artikel tentang trail run bertaraf internasional, jadi please kindly correct me if I am wrong yes. Thank you in advance.
BTR Ultra 2026 Mengusung Konsep “Zero Waste Event”
Lagi-lagi menurut info yang saya dapatkan, penyelenggaraan BTR Ultra 2026 juga berfokus pada pengurangan sampah selama event berlangsung dengan mengandeng ACS Bali Foundation. Konsep “Zero Waste” pada ajang bergengsi tersebut pada dasarnya bukan berarti tidak ada sampah sama sekali, tetapi lebih ke upaya meminimalkan sampah yang berakhir di lingkungan, terutama di jalur alam terbuka seperti gunung dan hutan.
Penerapannya dilakukan secara berlapis-lapis. Pertama-tama, panitia mendorong peserta untuk mengurangi penggunaan barang sekali pakai, misalnya dengan membawa botol minum sendiri atau memakai sistem isi ulang di aid station. Gelas plastik di pos minum sering dikurangi atau bahkan dihilangkan, sehingga para pelari harus menggunakan hydration pack atau cup pribadi.
Di race village dan pos bantuan, sampah sudah langsung dipilah sejak awal, dipisahkan antara organik, plastik, dan residu. Ini penting karena jika tercampur, sampah jadi lebih sulit diolah kembali. Di jalur lari atu rute pelarian, ada aturan tidak tertulis yang sangat ditekankan oleh panitia, yaitu semua sampah yang dibawa harus dibawa kembali atau dibuang di titik yang sudah ditentukan. Relawan di beberapa titik juga membantu memastikan tidak ada sampah tercecer, terutama dari gel energi atau bungkus makanan.



Setelah event selesai, biasanya ada clean-up phase. Tim ACS Bali Foundation bersama relawan turun kembali ke beberapa segmen jalur untuk memastikan tidak ada sampah yang tertinggal di area sulit dijangkau. Sampah yang terkumpul kemudian dipilah lagi untuk didaur ulang atau diolah sesuai jenisnya.
“Kalian lari, kami yang rapi-rapi,” begitu tulis ACS Bali Foundation di akun instragramnya.
Pada intinya, pendekatan zero waste di BTR Ultra bukan hanya soal bersih saat event berlangsung, dari pengurangan di sumber, pengendalian saat event, sampai pembersihan setelah event selesai. Seluruh aktivitas BTR Ultra 2026 berlangsung di alam terbuka, karena itu kebersihannya harus tetap dijaga.
Di BTR Ultra, Saya Merayakan Pertemuan
Nah, kali ini topiknya kembali sisi saya secara personal. Saya datang ke BTR Ultra 2026 di tanggal 15 dan 17 Mei 2026, kebetulan di tanggal tersebut, beberapa teman saya sedang unjuk gigi mengikuti ajang tersebut sebagai peserta lari. Saya hadir bukan sebagai pelari tapi cukup meniKilometerati segala sesuatunya. Bagi saya, BTR Ultra justru menjadi ruang pertemuan saya dengan teman-teman saya yang sudah lama tidak saya jumpai.

Seperti yang saja sebutkan di awal tulisan, saya datang untuk menemani seorang kawan mengambil nomor dada dan perlengkapan lainnya. Saya dan kawan saya ini sudah cukup lama tidak bertemu, hampir 2 tahun lebih. Berhubung saya libur hari itu, berangkatlah saya ke Kintamani dari kampung halaman saya di Desa Baturiti, Tabanan. Di hari itu juga saya bertemu dengan teman lainnya. Ada seorang teman yang dulu bekerja satu tempat dengan saya menunggu antrean untuk mengambil nomor. Saya dan dia saling menyapa dan bertukar kabar. Jujur, saya iri. Saya juga ingin lari dan mengantre.
Di tanggal 17 Mei, lebih banyak lagi teman yang saya temui. Ada teman kerja yang biasanya hanya berjumpa di balik layar kantor, mantan rekan kerja yang kini menempuh jalan masing-masing, teman kuliah yang dulu sering berbagi cerita masa muda, hingga teman tongkrongan yang biasanya hanya tersambung lewat kabar singkat. Bahkan, di tengah keramaian tersebut, ada sepupu jauh saya yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Mereka semua datang dari seluruh penjuru Bali, dari Bali Utara, Bali Timur, Bali Selatan, dan Bali Barat, ada yang dari Singaraja, dari Denpasar, dari Tabanan, dan dari kabuoaten lainnya di Bali. Terima kasih BTR Ultra sudah mempertemukan kami.
Sebenarnya, masih ada beberapa teman saya yang berlari saat itu, namun karena keterbatasan waktu, kami tidak sempat bertemu secara langsung. Ya, sedih sekali. Namun yang pasti, saya bangga karena mereka telah berhasil menaklukan medan yang brutal tersebut dan mencapai garis finish dengan selamat, tanpa cedera, tanpa luka. Selamat kepada kalian semua. Congrats, Finishers!

Di balik semua yang saya tulis di atas, jujur ada rasa ingin kembali untuk berlari lagi meski kaki masih belum kuat sepenuhnya pasca cedera dan operasi. Saya ingin berdiri bukan hanya sebagai penonton atau bagian dari cerita di pinggir lintasan, tapi benar-benar menjadi bagian dari mereka yang berlari di dalamnya, di tengah lintasannya, di atas medan dan tanjakannya. Semoga tahun depan, kesempatan itu datang, dan saya bisa ikut berdiri di garis start BTR Ultra sebagai peserta. Amin paling serius. [T]
Penulis: Julio Saputra
Editor: Adnyana Ole





























