10 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
in Cerpen
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

Ilustrasi tatkala.co | Canva

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen, aku bertandang ke Jakarta dengan keyakinan penuh, seperti perahu kecil yang merasa mampu menantang samudra. Aku pikir kota metropolitan itu akan mudah kutaklukkan, layaknya di sinetron-sinetron. Datang, melamar kerja, lalu hidup berubah sekejap mata.

Nyatanya tak semudah itu, Jakarta begitu keras. Bahkan menakutkan.

Alasan kepergianku sebetulnya sederhana, sekaligus memalukan: gengsi. Saudara dan tetanggaku banyak yang sukses setelah merantau. Mereka pulang dengan cerita dan kebanggaan. Aku ingin seperti mereka. Aku ingin dipandang, ingin diakui.

Namun, setelah puluhan lamaran kerja kukirim, tak satu pun diterima. Harapanku menjadi pegawai kantoran, bekerja di gedung tinggi menjulang, lenyap begitu saja.

Uang bekal dari Ibu pun semakin menipis. Aku tidak punya pilihan selain bertahan. Aku mengambil pekerjaan apa saja. Apa pun, selama aku masih bisa makan dan tidak tenggelam sepenuhnya.

Tapi aku tidak pernah berani mengatakan kebenaran itu pada Ibu.

“Bu, aku sudah diterima kerja di kantor ternama di Jakarta,” kataku suatu malam, dengan suara yang kupaksa terdengar tegar.

Suara Ibu di seberang telepon terdengar begitu bahagia. “Alhamdulillah, Nak. Ibu bangga sekali sama kamu Bagas.”

Kata-kata itu seperti pisau yang perlahan mengiris dadaku. Karena semua itu kebohongan.

Kenyataannya, aku hanya bekerja sebagai tukang cuci mobil. Jam kerjaku dari pukul delapan pagi sampai tiga sore. Upahnya hanya tiga ratus lima belas ribu per minggu, sekitar empat puluh lima ribu per hari. Jumlah yang nyaris tidak cukup untuk hidup di ibu kota.

Untuk menutup kekurangan, aku bekerja tambahan mengantar galon dan beras di kios sembako milik Koh Aceng, dekat kosku.

“Gas, tolong antar galon ini ke Blok B, sama beras dua karung ke rumah Bu Rini,” kata Koh Aceng.

“Iya, Koh. Siap,” jawabku sambil mengangkat beban yang terasa turut memanggul hidupku sendiri.

Saban sore aku berkeliling kompleks, mengantarkan pesanan. Lima puluh ribu per hari menjadi penyelamatku.

Hari-hariku berjalan seperti itu. Berulang. Melelahkan. Monoton, bagai roda berputar tanpa arah. Sampai akhirnya, aku hampir melupakan mimpiku sendiri untuk bekerja kantoran.

Aku tetap menelepon Ibu setiap hari.

“Kenapa kau tak pernah pulang, Gas?” tanya Ibu suatu kali.

“Masih sibuk kerja, Bu,” jawabku cepat, menyembunyikan kegelisahan yang berdesakan di dada.

“Saudara-saudaramu selalu pulang setiap lebaran. Mereka bawa oleh-oleh, bawa keluarga. Semua menanyakanmu,” lanjut Ibu.

Aku hanya terdiam, menahan sesuatu yang mengganjal di dada. Setiap Ramadhan, pertanyaan itu selalu datang. Bagiku, bulan yang seharusnya penuh berkah justru terasa mencekam. Bukannya aku tidak ingin pulang. Tapi, aku tidak mampu. Aku malu. Aku takut kebohonganku terbongkar.

Di kompleks kos, aku mengenal seorang perempuan bernama Dini. Ia berbeda. Hangat. Sederhana. Dan entah bagaimana, selalu hadir di saat-saat aku merasa lelah. Setiap akhir pekan, ia akan datang membawa makanan.

“Aku coba resep baru dari media sosial, kamu harus jadi orang pertama yang mencobanya,” katanya sambil tersenyum.

Aku tersenyum menimpali. “Kalau dari kamu, pasti enak.”

Bagiku, makanan dari Dini adalah anugerah. Juga, perhatian yang diam-diam mengisi kekosongan.

Aku mengenalnya di tahun kedua aku tinggal di sana. Dini adalah guru kontrak di SMP Negeri di dekat kompleks. Ia anak Pak Rahman, seorang pengembang kondang di lingkungan itu. Hidupnya terjamin, berbeda jauh dariku. Namun entah kenapa, ia selalu memperhatikanku.

“Kamu kelihatan capek, Gas,” katanya suatu sore saat aku mengantar galon ke rumahnya.

“Biasa aja, Din. Namanya juga kerja,” jawabku, mencoba terlihat kuat, meski sebenarnya penat.

Aku menyukainya. Tapi aku sadar diri. Aku tidak pernah berani mengungkapkan perasaanku. Dan mungkin, karena itu, ia mengira aku tidak punya perasaan apa-apa.

Waktu terus berjalan. Dini tetap datang setiap akhir pekan. Kadang hanya untuk berjalan mengelilingi kompleks, menyusuri jalan-jalan kecil, dan memulai percakapan tentang masa depan.

“Gas, kamu nggak pernah cerita tentang mimpimu?” tanyanya suatu malam.

Aku terdiam sejenak. “Dulu ada. Sekarang… ya jalani aja,” sahutku, menghela napas panjang, terasa seperti menyerah pada hidup.

Setahun kemudian, tanpa kepastian dari perasaanku, Dini mulai menyerah. Suatu hari ia berkata pelan, “Aku akan menikah.”

Aku menatapnya tajam. “Dengan siapa?”

“Pilihan Ayah,” jawabnya singkat.

Aku mengangguk, meski hatiku terasa runtuh. Aku tidak punya hak untuk menahannya. Aku bahkan tidak pernah memberi alasan baginya untuk menunggu.

Hari pernikahannya tiba. Aku datang sebagai tamu. Berdiri di antara banyak orang yang lebih pantas berada di hidupnya.

Saat bersalaman, aku mendekat dan berbisik, “Selamat ya, Din. Maaf aku nggak bisa memberikan apa yang kamu dapatkan sekarang. Tapi yang pasti, aku mencintaimu. Dan sekarang aku ikhlas melupakannya.”

Dini terdiam sejenak, lalu tersenyum. Di matanya, ada sesuatu yang tak sempat lagi kami bicarakan.

Setelah itu, hidupku kembali berjalan seperti biasa. Hanya saja, kini ditemani patah hati yang diam-diam mengendap serupa hujan yang tak kunjung reda.

Di tempat kerja, keadaan juga tidak mudah. Manajer kami, Ridwan, sering berlaku tidak adil.

“Telat sedikit aja, potong gaji!” bentaknya suatu pagi.

“Kelamaan istirahat? Potong lagi! Jangan harap bekerja di sini bisa santai-santai seenaknya.”

Kami semua resah, tapi tidak ada yang berani melawan. Kami butuh pekerjaan itu, layaknya nelayan bertahan di tengah arus deras demi mendapatkan ikan.

Suatu hari, seorang pelanggan datang membawa mobil baru. Tak ada yang tahu bahwa ia adalah pemilik tempat itu, Pak Malik.

Dari dalam mobil, ia melihat semua perlakuan Ridwan.

Ia turun dan bertanya padaku, “Kamu Bagas kan? Yang paling lama kerja di sini?”

“Iya, Pak,” jawabku hati-hati.

“Apa yang sebenarnya terjadi?”

Aku ragu sejenak, lalu berkata jujur, “Pak, gaji kami sering dipotong tanpa alasan yang jelas.”

Tak lama kemudian, Ridwan dipecat. Ia tak berbicara apa pun pada kami, hanya menatap tajam, lalu pergi.

Dan sesuatu yang tak pernah kubayangkan terjadi.

“Kamu saya angkat jadi manajer,” kata Pak Malik.

“Saya, Pak?” tanyaku tak percaya.

“Kamu sudah lebih dari setahun di sini. Yang lain banyak yang tidak bertahan. Saya lihat kamu jujur dan konsisten. Apalagi kamu sarjana manajemen kan? Saya butuh orang seperti itu.”

Sejak saat itu, hidupku mulai membaik. Gajiku menjadi dua setengah juta per bulan. Tidak besar untuk ukuran ibu kota, tapi cukup untuk membuatku bernapas lebih lega.

Aku berhenti dari pekerjaan di kios Koh Aceng. Aku pindah kos ke tempat yang lebih dekat dengan tempat kerja. Dan perlahan, aku mencoba melupakan Dini, meski bayangnya sesekali masih datang.

Memasuki tahun keempat, aku akhirnya memutuskan untuk pulang kampung saat lebaran. Sudah terlalu lama aku menunda. Aku tidak memberi kabar pada Ibu. Aku ingin mengejutkannya. Aku bahkan pulang lebih awal di bulan Ramadhan agar bisa berpuasa bersama dan menghabiskan waktu lebih lama dengannya.

Di terminal, aku melihat banyak perantau lain, dengan tas besar, pakaian sederhana, dan wajah penuh harapan. Aku seperti melihat diriku sendiri empat tahun lalu, berdiri di titik awal yang sama.

Dalam hati, aku berdoa, semoga mereka menemukan apa yang mereka cari, dan tidak tersesat seperti aku.

Perjalanan pulang terasa panjang. Tapi juga hangat. Dipenuhi bayangan tentang pelukan Ibu yang kurindukan. Namun setibanya di kampung, semuanya tidak seperti yang kubayangkan. Orang-orang memandangku dengan heran.

“Itu Bagas, kan?” bisik seseorang.

“Bukannya dia sudah hilang?” sahut yang lain.

Berbagai cerita beredar tentangku: aku kabur, masuk penjara, bahkan ada yang bilang aku sudah meninggal. Aku hanya tersenyum kaku. Saat sampai di rumah, keluarga besarku terkejut.

“Kamu ke mana saja selama ini, Gas?” tanya salah satu dari mereka.

“Kenapa nggak pernah pulang?” tanya yang lain.

Pertanyaan datang bertubi-tubi. Tapi aku tidak sempat menjawab semuanya. Aku hanya bertanya satu hal, “Ibu di mana?”

Suasana tiba-tiba berubah. Sunyi menggantung serupa awan gelap.

Pamanku, Heddi, menatapku dengan wajah berat. “Gas… ibumu sudah meninggal. Setahun lalu. Kena serangan jantung waktu mau ke pasar,” ucapnya dengan nada berat.

Aku membeku. Dunia terasa runtuh seketika.

“Kami nggak bisa hubungi kamu. Kami nggak tahu kamu di mana. Semua tentang kamu, ibumu yang simpan sendiri,” katanya lagi.

Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan. Aku kehilangan banyak hal. Mimpi, cinta, dan sekarang… Ibu.

Aku meninggalkan barang-barangku dan bergegas menuju makam Ibu. Sesampai di sana, aku berlutut. Tanganku menyentuh papan nisan bertulis namanya.

“Bu maafkan aku,” bisikku lirih.

Aku menangis sejadi-jadinya. Menyesali semua yang telah kulakukan. Semua kutunda. Semua yang kusia-siakan seperti waktu yang tak pernah bisa kuputar kembali.

Aku selalu berpikir harus berhasil dulu baru pulang. Padahal, mungkin Ibu hanya butuh aku pulang. Kini semuanya sudah terlambat. Aku mengusap nisan itu, seolah berharap Ibu masih bisa merasakan kehadiranku.

“Aku pulang, Bu. Tapi, aku terlambat.” [T]

Minggu, 26 April 2026

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gagal Itu Indah

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Komunitas Seni Baturenggong Ulas Sejarah dan Keunikan Desa Mengwi Lewat Seni untuk PKB 2026
Panggung

Komunitas Seni Baturenggong Ulas Sejarah dan Keunikan Desa Mengwi Lewat Seni untuk PKB 2026

DESA Mengwi yang dulunya sebagai pusat kerajaan mewarisi berbagai kebudayaan, tradisi dan nilai-nilai luhur yang sangat penting bagi kehidupan bermasyarakat...

by Nyoman Budarsana
May 10, 2026
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca
Esai

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

by Angga Wijaya
May 10, 2026
Empat Perupa Bali Pamerkan ‘Vernal Artistic’ di Santrian Art Gallery: Pemaknaan atas Musim Semi
Pameran

Empat Perupa Bali Pamerkan ‘Vernal Artistic’ di Santrian Art Gallery: Pemaknaan atas Musim Semi

Jauh sebelum para undangan itu hadir, karya seni rupa berbagai ukuran sudah terpasang rapi pada dinding tembok putih. Lampu sorot...

by Nyoman Budarsana
May 10, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

MKN Bukan Tameng Impunitas: Notaris Berintegritas, Penegak Hukum  Taati Prosedur

MAHKAMAH Konstitusi melalui Putusan Nomor 65/PUU-XXIV/2026 menegaskan bahwa persetujuan Majelis Kehormatan Notaris (MKN) sebagaimana diatur dalam Pasal 66 Undang-Undang Nomor...

by I Made Pria Dharsana
May 9, 2026
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna
Esai

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
Puting Beliung | Cerpen Supartika
Cerpen

Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

by I Putu Supartika
May 9, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

by Sugi Lanus
May 9, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co