10 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
in Cerpen
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

Ilustrasi tatkala.co | Canva

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit memudar dari kelam menuju keabu-abuan, lalu menyala tipis dengan warna aprikot. Embun di daun pisang mengerut, sementara rumput liar memantulkan cahaya lembut yang jatuh seperti serpihan perak.

Di tengah semua itu, seorang lelaki tua berjalan pelan sambil memegang sapu lidi. Tubuhnya agak membungkuk, rambutnya memutih seperti abu tungku, dan matanya, ah.. matanya, menyimpan ketenangan yang sudah lama tidak dimiliki manusia terburu-buru.

Itulah Marlan, atau “Pak Marlan”, atau “Si Tua Pagi”, begitu anak-anak desa menjulukinya.

Tak ada yang tahu persis sejak kapan ia menjadi penjaga surau kecil itu. Surau yang dindingnya terkelupas, lantainya retak, dan pintunya sering berderit jika dibuka. Namun, bagi Marlan, tempat itu adalah setengah dari hidupnya; separuh lainnya adalah kesunyian.

Ia menyapu bukan hanya halaman, tapi juga restu kecil untuk hari yang akan dijalani manusia-manusia lain. Kadang ia bersenandung kecil, suara serak yang mengingatkan angin pada dedaunan kering. Senandungnya tidak pernah punya lirik: murni gumaman hati yang sudah lama berdamai dengan waktu.

Marlan tidak menunggu ucapan terima kasih. Tidak menuntut balasan. Tidak berharap ada yang memahami perjuangannya. Ia hanya mengulang rutinitas itu setiap pagi, seperti seseorang yang percaya bahwa ketekunan, meski sederhana, adalah bentuk cinta paling tulus.

Dan cinta, pikirnya, tidak perlu disaksikan siapa pun untuk tetap bernilai.

***

Suatu pagi berkabut, ketika ayam belum benar-benar bangun dan udara masih ringan seperti ingatan masa kecil, sebuah motor tua berhenti di depan rumah kosong yang catnya mengelupas. Dari motor itu turun seorang pemuda dengan ransel lusuh.

Dialah Rafi, anak desa yang pernah bermimpi besar saat meninggalkan kampungnya. Namun bekerja di kota mengikis banyak hal: harapan, harga diri, dan kepercayaan bahwa dunia memperlakukan semua orang dengan adil.

Kepulangannya lebih seperti pelarian.  Rafi merasa gagal. Dunia seolah menertawakannya setiap saat. Ketika ia berjalan tanpa tujuan, ia melihat siluet lelaki tua di halaman surau yang berkabut.

Marlan berdiri di bawah sinar redup, memandangi langit seperti membaca kitab kuno yang hanya ia sendiri yang bisa mengerti. Rafi mendekat.

“Kakek tidak capek melakukan semua ini setiap hari?”

Marlan menoleh perlahan, senyum kecil tercetak di wajah keriputnya.
“Kalau kita hanya mau melakukan yang menguntungkan diri sendiri, hidup akan terasa kecil, Nak.”

Rafi menghembuskan napas panjang. “Tapi hidup tetap sulit, Kek…”

“Kesulitan itu bagian dari perjalanan,” jawab Marlan lembut. “Yang harus kau waspadai bukan penderitaan… tapi rasa ingin menyerah.”

Rafi tak menyahut. Ia terlalu muda untuk memahami kedalaman kalimat itu, tapi cukup lelah untuk mengakuinya.

“Kakek,” katanya akhirnya, “apa gunanya semua ini? Surau tetap surau. Hari tetap hari. Tidak ada yang berubah.”

Marlan menatap padanya lama, seperti menilai berat beban tak kasat mata di bahu pemuda itu.

“Yang berubah itu hati orang yang melakukannya, Nak. Kalau hati kita tetap bernapas, dunia pun terasa sedikit lebih ringan.”

Rafi terdiam, tak menemukan bantahan. Di samping lelaki tua itu, ia merasa seolah sedang duduk di hadapan pohon yang sudah sangat tua, yang tidak lagi takut pada badai, karena akarnya sudah jauh menembus tanah.

Di antara rutinitas pagi, mereka sering berbicara. Bukan percakapan yang penting, tetapi yang diam-diam mengubah jiwa.

Suatu sore, ketika hujan turun seperti tirai panjang, Rafi bertanya, “Kakek punya mimpi dulu?”

Marlan tersenyum, tatapannya menerobos derasnya hujan.

“Dulu saya ingin anak saya jadi orang besar. Baju bagus, pekerjaan bagus, dihormati.”

“Kemudian?”

“Kemudian saya sadar… itu semua keinginan saya. Bukan keinginannya.”

Ia menghela napas, panjang dan berat.

“Kadang kita mengira kita mencintai seseorang. Padahal kita hanya mencintai bayangan yang kita ciptakan tentang mereka.”

Rafi tertegun.

“Anak Kakek masih sering pulang?”

“Tidak.”
Ada jeda panjang.


“Tapi saya tidak menunggunya. Ia punya jalan sendiri. Dan saya… punya matahari pagi.”

Hening menutup percakapan mereka. Rafi merasa ada luka lama yang tak selesai di balik ketenangan lelaki itu.

Namun yang membuatnya terharu bukan lukanya, melainkan caranya menerima luka itu sebagai bagian dari hidup. Tidak melawan, tidak menuntut, hanya mengakui keberadaannya seperti seseorang mengakui bayangan sendiri.

***

Desa itu tenang di malam hari, tapi kadang ketenangan justru memperkuat suara-suara dari dalam diri. Rafi sering gelisah. Ia merasa hidupnya kosong. Namun Marlan selalu mengatakan, “Kesunyian itu bukan hukuman. Itu ruang untuk mengerti diri sendiri.”

Suatu malam, angin berhembus kencang. Daun-daun kering berterbangan, seolah dunia hendak dibersihkan. Marlan dan Rafi masih di surau, memastikan pintu-pintu tertutup. Rafi, melihat lelaki tua itu berjalan dengan langkah lemah tapi pasti, merasa dadanya sesak.

“Kakek tidak pernah merasa sendiri?”

“Sering,” kata Marlan dengan jujur. “Tapi kesendirian itu alamiah. Kesepian adalah pilihan.”

“Apa bedanya?”

“Sendiri itu keadaan. Kesepian itu ketika kau berhenti berbuat untuk orang lain.”

Rafi menunduk.

“Kalau begitu, apa Kakek tidak merasa hidup Kakek terlalu sepi?”

Marlan menatapnya, tersenyum samar.
“Tidak, Nak. Karena setiap pagi, aku masih punya alasan untuk bangun.”

Tahun berlalu perlahan, seperti cerita yang disampaikan dengan napas panjang. Rafi kini menjadi penjaga surau yang baru, lebih kuat, lebih cekatan, lebih mampu mengecat, merawat, dan membersihkan. Penduduk desa memujinya, tapi ia tahu sesungguhnya ia hanya melanjutkan jejak lelaki tua itu.

Sementara Marlan… semakin ringkih. Kadang ia hanya duduk di bangku kayu, mengawasi Rafi bekerja. Namun matanya masih menyala, api kecil yang menolak padam. Suatu pagi, sinar matahari jatuh tepat pada wajah Marlan yang tampak pucat. Ia memanggil Rafi dengan suara lirih.

“Nak… mendekatlah.”

Rafi merunduk, mendengar napas lelaki tua itu yang makin pendek.

“Ada yang ingin Kakek tinggalkan.”

“Apa, Kek?”

“Keikhlasan,” gumam Marlan. “Bukan benda. Bukan uang. Tapi keberanian untuk tetap berjalan… meski tidak ada yang bertepuk tangan.”

Rafi menggenggam tangan lelaki tua itu, yang terasa dingin namun masih kuat.

“Kakek… terima kasih.”

Marlan tersenyum, senyum terakhir yang sangat damai. Dan pada pagi itu, untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, pintu surau dibuka oleh tangan yang berbeda. Namun cahaya yang menyambut tetap sama.

Cahaya yang lahir dari dedikasi seorang lelaki tua yang tidak pernah meminta apa pun bagi dirinya sendiri. Lelaki yang menjaga pagi sampai pagi itu sendiri menjaganya kembali.

Bertahun-tahun kemudian, orang-orang masih mengenang Marlan. Bukan karena ia tokoh masyarakat, bukan karena jasanya monumental, tapi karena ia mengajarkan satu hal sederhana:

Bahwa hidup tidak perlu gemuruh untuk menjadi berarti.
Tidak perlu sorak-sorai untuk menjadi bermakna.
Yang dibutuhkan hanyalah langkah-langkah kecil yang tidak berhenti.

Rafi sering duduk di bangku kayu tempat Marlan biasa duduk, memandang matahari naik perlahan.

Pada momen-momen itu, ia merasa lelaki tua itu tidak pernah benar-benar pergi. Ia hidup di pagi hari. Ia hidup di keheningan. Ia hidup di hati orang-orang yang pernah disentuh keikhlasannya.

Pagi tetap datang. Dan selama seseorang masih merawat pagi itu, jejak lelaki tua penjaga pagi tidak akan pernah hilang. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

Next Post

Komunitas Seni Baturenggong Ulas Sejarah dan Keunikan Desa Mengwi Lewat Seni untuk PKB 2026

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails
Next Post
Komunitas Seni Baturenggong Ulas Sejarah dan Keunikan Desa Mengwi Lewat Seni untuk PKB 2026

Komunitas Seni Baturenggong Ulas Sejarah dan Keunikan Desa Mengwi Lewat Seni untuk PKB 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Komunitas Seni Baturenggong Ulas Sejarah dan Keunikan Desa Mengwi Lewat Seni untuk PKB 2026
Panggung

Komunitas Seni Baturenggong Ulas Sejarah dan Keunikan Desa Mengwi Lewat Seni untuk PKB 2026

DESA Mengwi yang dulunya sebagai pusat kerajaan mewarisi berbagai kebudayaan, tradisi dan nilai-nilai luhur yang sangat penting bagi kehidupan bermasyarakat...

by Nyoman Budarsana
May 10, 2026
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca
Esai

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

by Angga Wijaya
May 10, 2026
Empat Perupa Bali Pamerkan ‘Vernal Artistic’ di Santrian Art Gallery: Pemaknaan atas Musim Semi
Pameran

Empat Perupa Bali Pamerkan ‘Vernal Artistic’ di Santrian Art Gallery: Pemaknaan atas Musim Semi

Jauh sebelum para undangan itu hadir, karya seni rupa berbagai ukuran sudah terpasang rapi pada dinding tembok putih. Lampu sorot...

by Nyoman Budarsana
May 10, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

MKN Bukan Tameng Impunitas: Notaris Berintegritas, Penegak Hukum  Taati Prosedur

MAHKAMAH Konstitusi melalui Putusan Nomor 65/PUU-XXIV/2026 menegaskan bahwa persetujuan Majelis Kehormatan Notaris (MKN) sebagaimana diatur dalam Pasal 66 Undang-Undang Nomor...

by I Made Pria Dharsana
May 9, 2026
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna
Esai

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
Puting Beliung | Cerpen Supartika
Cerpen

Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

by I Putu Supartika
May 9, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

by Sugi Lanus
May 9, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co