24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Janji-janji Jepang’

Angga Wijaya by Angga Wijaya
April 23, 2026
in Esai
‘Janji-janji Jepang’

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba saja muncul kata atau istilah lama yang dulu sering kita dengar dari orang tua. Salah satunya adalah ungkapan janji-janji Jepang. Dulu, kalimat itu sering diucapkan dengan nada setengah bercanda, setengah menyindir. Biasanya keluar saat seseorang dianggap tidak menepati janji.

Waktu kecil, saya tidak terlalu memikirkan maknanya. Saya hanya tahu, kalau seseorang disebut begitu, artinya dia tidak bisa dipercaya. Tapi semakin ke sini, saya mulai memahami bahwa istilah itu tidak muncul begitu saja. Ia lahir dari pengalaman sejarah yang panjang, dari masa ketika janji digunakan sebagai alat untuk menenangkan, bahkan mengendalikan.

Konon, pada masa pendudukan Jepang, janji kemerdekaan untuk Indonesia beberapa kali diucapkan. Janji itu seperti harapan yang terus digantung. Rakyat diminta percaya, menunggu, dan bersabar. Namun kenyataannya, janji itu tidak segera ditepati. Dari situ, lahirlah istilah yang kemudian hidup sampai sekarang. Janji-janji Jepang bukan lagi soal Jepang, tetapi soal kebiasaan mengumbar janji tanpa kepastian.

Menariknya, istilah ini masih relevan sampai hari ini. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari kita, praktik seperti itu masih sering terjadi. Bukan dalam konteks besar seperti kemerdekaan, tetapi dalam hal-hal kecil yang justru dekat dengan kita. Di lingkungan kerja, di pertemanan, bahkan dalam urusan sederhana sekalipun.

Saya sering menemukan situasi seperti ini. Ada pekerjaan yang sudah disepakati, bahkan sudah dibicarakan dengan serius. Kadang juga sudah dituangkan dalam bentuk tertulis, lengkap dengan tanda tangan dan materai. Semua terlihat rapi dan meyakinkan. Namun pada praktiknya, salah satu pihak tidak menjalankan apa yang sudah disepakati.

Lebih sederhana lagi, dalam komunikasi sehari-hari. Kita sering menerima jawaban seperti siap, aman, atau nanti saya kerjakan. Kata-kata itu terdengar meyakinkan. Bahkan kadang membuat kita tenang. Tapi ketika waktu berjalan, pekerjaan itu tidak kunjung selesai. Saat ditanya kembali, jawabannya berubah, atau malah menghindar.

Di titik ini, masalahnya bukan lagi soal pekerjaan yang belum selesai. Masalahnya adalah kepercayaan yang mulai terkikis. Karena setiap janji yang tidak ditepati, sekecil apa pun, akan meninggalkan jejak.

Saya melihat ada kebiasaan yang cukup umum terjadi. Kita terlalu mudah mengatakan “ya”, terlalu cepat menyanggupi sesuatu, tanpa benar-benar mempertimbangkan apakah kita mampu melakukannya atau tidak. Seolah-olah mengatakan tidak adalah sesuatu yang tabu, sesuatu yang memalukan.

Padahal, dalam banyak kasus, mengatakan tidak justru lebih jujur. Mengatakan belum bisa jauh lebih bertanggung jawab daripada mengatakan siap tetapi tidak dikerjakan. Namun entah kenapa, kita lebih takut terlihat tidak mampu daripada benar-benar gagal.

Ini mungkin berkaitan dengan cara kita memandang profesionalisme. Banyak orang mengira bahwa profesional berarti selalu siap, bisa, dan selalu cepat. Akibatnya, kita memaksakan diri untuk terlihat seperti itu. Kita ingin memberi kesan bahwa kita bisa diandalkan dalam segala situasi.

Padahal profesionalisme bukan soal selalu mengatakan “ya”. Profesionalisme justru soal kejelasan dan kejujuran. Jika memang tidak bisa, katakan sejak awal. Jika butuh waktu, sampaikan dengan jelas. Dengan begitu, orang lain bisa menyesuaikan ekspektasi.

Dalam pengalaman saya sebagai wartawan, hal seperti ini sering terjadi. Janji narasumber untuk memberikan data yang tidak kunjung dikirim, janji untuk wawancara yang terus ditunda, atau juga janji untuk memberikan klarifikasi yang akhirnya tidak pernah datang. Semua itu membuat pekerjaan menjadi terhambat.

Yang lebih sulit adalah ketika kita harus terus mengejar. Menghubungi berulang kali, mengingatkan, bahkan kadang merasa tidak enak sendiri. Padahal di awal, pihak tersebut yang mengatakan siap. Di sini terlihat bahwa satu kata bisa membawa konsekuensi panjang.

Hal yang sama juga terjadi dalam hubungan kerja. Ada tugas yang sudah dibagi, sudah disepakati. Namun karena satu orang tidak menjalankan bagiannya, pekerjaan yang lain ikut tertunda. Akhirnya, orang lain yang harus menanggung akibatnya.

Situasi seperti ini sebenarnya bisa dihindari jika ada komunikasi yang jujur. Jika sejak awal seseorang mengatakan bahwa ia sedang sibuk atau belum bisa mengerjakan, tentu pembagian tugas bisa diatur ulang. Tapi karena ingin terlihat mampu, akhirnya semua jadi berantakan.

Saya tidak mengatakan bahwa semua orang yang tidak menepati janji itu tidak bertanggung jawab. Ada banyak faktor yang bisa memengaruhi. Bisa jadi memang ada kendala, ada perubahan situasi, atau hal lain yang tidak terduga. Namun yang menjadi masalah adalah ketika tidak ada komunikasi.

Diam seringkali menjadi pilihan yang salah. Karena diam membuat orang lain menunggu tanpa kepastian. Dan menunggu tanpa kepastian adalah hal yang melelahkan. Lebih baik menerima kenyataan bahwa pekerjaan belum selesai daripada tidak tahu sama sekali.

Kejujuran memang tidak selalu nyaman. Mengakui bahwa kita belum mengerjakan sesuatu bisa terasa berat. Apalagi jika sebelumnya kita sudah mengatakan siap. Tapi justru di situlah letak tanggung jawab kita. Bukan pada kesempurnaan hasil, tetapi pada kejelasan proses.

Saya juga pernah berada di posisi itu. Pernah mengatakan siap, tetapi ternyata tidak bisa menyelesaikan tepat waktu. Dan saya belajar, yang paling sulit bukan menyelesaikan pekerjaan, tetapi mengakui keterlambatan. Ada rasa tidak enak, ada rasa bersalah. Namun ketika akhirnya disampaikan dengan jujur, situasinya justru menjadi lebih baik.

Dari situ saya mulai memahami bahwa kepercayaan tidak dibangun dari kesempurnaan, tetapi dari konsistensi. Orang tidak akan menuntut kita selalu benar, tetapi mereka akan menghargai jika kita jujur. Karena dari kejujuran itu, mereka tahu bagaimana harus bersikap.

Ungkapan janji-janji Jepang akhirnya terasa seperti pengingat yang sederhana. Ia mengingatkan bahwa kebiasaan mengumbar janji sudah lama ada. Dan jika kita tidak hati-hati, kita bisa menjadi bagian dari kebiasaan itu.

Di tengah kehidupan yang semakin cepat, kita memang dituntut untuk responsif. Pesan harus cepat dibalas, pekerjaan harus segera diselesaikan. Namun kecepatan tidak boleh mengorbankan kejelasan. Lebih baik lambat tetapi pasti, daripada cepat tetapi tidak jelas.

Saya sering berpikir, mungkin kita perlu mengubah kebiasaan kecil dalam komunikasi. Tidak langsung menjawab siap sebelum benar-benar memastikan. Memberi jeda untuk berpikir. Menimbang apakah kita punya waktu dan kemampuan untuk menyelesaikan tugas tersebut.

Jika jawabannya belum, tidak apa-apa untuk mengatakan belum. Itu bukan tanda kelemahan. Justru itu menunjukkan bahwa kita memahami batas diri. Dan orang lain biasanya bisa menerima itu, selama disampaikan dengan baik.

Dalam jangka panjang, sikap seperti ini akan lebih dihargai. Karena orang tahu bahwa ketika kita mengatakan ya, itu benar-benar ya. Bukan sekadar kata untuk menyenangkan atau menghindari percakapan.

Kepercayaan adalah hal yang pelan-pelan dibangun. Ia tidak datang dari satu tindakan besar, tetapi dari kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus. Menepati janji, sekecil apa pun, adalah bagian dari itu.

Sebaliknya, mengingkari janji, meskipun terlihat sepele, bisa merusak banyak hal. Bukan hanya hubungan kerja, tetapi juga hubungan personal. Karena pada akhirnya, orang akan menilai kita dari apa yang kita lakukan, bukan dari apa yang kita katakan.

Ungkapan lama itu mungkin terdengar sederhana. Namun jika dipikirkan, ia menyimpan kritik yang tajam. Ia mengingatkan bahwa janji bukan sekadar kata. Ia adalah komitmen. Dan setiap komitmen memiliki konsekuensi.

Hari ini, ketika kita mendengar atau bahkan mengucapkan ungkapan itu, mungkin kita bisa berhenti sejenak. Bukan untuk menertawakan orang lain, tetapi untuk melihat diri sendiri. Apakah kita sudah cukup jujur dalam berjanji, apakah kita sudah cukup bertanggung jawab dalam menepati.

Perubahan tidak harus dimulai dari hal besar. Cukup dari kebiasaan kecil. Dari cara kita merespons pesan. Dari cara kita menyampaikan kesanggupan. Dari cara kita mengakui keterlambatan.

Karena pada akhirnya, yang membuat kita dipercaya bukanlah seberapa sering kita berkata siap, tetapi seberapa sering kita benar-benar menyelesaikan apa yang sudah kita janjikan.

Dan mungkin, jika kebiasaan ini mulai berubah, ungkapan janji-janji Jepang perlahan akan kehilangan relevansinya. Bukan karena kita melupakannya, tetapi karena kita tidak lagi mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

Next Post

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Karnaval dan Kemacetan Sosial

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
0
Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

Read moreDetails

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails
Next Post
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co