24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Janji-janji Jepang’

Angga Wijaya by Angga Wijaya
April 23, 2026
in Esai
‘Janji-janji Jepang’

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba saja muncul kata atau istilah lama yang dulu sering kita dengar dari orang tua. Salah satunya adalah ungkapan janji-janji Jepang. Dulu, kalimat itu sering diucapkan dengan nada setengah bercanda, setengah menyindir. Biasanya keluar saat seseorang dianggap tidak menepati janji.

Waktu kecil, saya tidak terlalu memikirkan maknanya. Saya hanya tahu, kalau seseorang disebut begitu, artinya dia tidak bisa dipercaya. Tapi semakin ke sini, saya mulai memahami bahwa istilah itu tidak muncul begitu saja. Ia lahir dari pengalaman sejarah yang panjang, dari masa ketika janji digunakan sebagai alat untuk menenangkan, bahkan mengendalikan.

Konon, pada masa pendudukan Jepang, janji kemerdekaan untuk Indonesia beberapa kali diucapkan. Janji itu seperti harapan yang terus digantung. Rakyat diminta percaya, menunggu, dan bersabar. Namun kenyataannya, janji itu tidak segera ditepati. Dari situ, lahirlah istilah yang kemudian hidup sampai sekarang. Janji-janji Jepang bukan lagi soal Jepang, tetapi soal kebiasaan mengumbar janji tanpa kepastian.

Menariknya, istilah ini masih relevan sampai hari ini. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari kita, praktik seperti itu masih sering terjadi. Bukan dalam konteks besar seperti kemerdekaan, tetapi dalam hal-hal kecil yang justru dekat dengan kita. Di lingkungan kerja, di pertemanan, bahkan dalam urusan sederhana sekalipun.

Saya sering menemukan situasi seperti ini. Ada pekerjaan yang sudah disepakati, bahkan sudah dibicarakan dengan serius. Kadang juga sudah dituangkan dalam bentuk tertulis, lengkap dengan tanda tangan dan materai. Semua terlihat rapi dan meyakinkan. Namun pada praktiknya, salah satu pihak tidak menjalankan apa yang sudah disepakati.

Lebih sederhana lagi, dalam komunikasi sehari-hari. Kita sering menerima jawaban seperti siap, aman, atau nanti saya kerjakan. Kata-kata itu terdengar meyakinkan. Bahkan kadang membuat kita tenang. Tapi ketika waktu berjalan, pekerjaan itu tidak kunjung selesai. Saat ditanya kembali, jawabannya berubah, atau malah menghindar.

Di titik ini, masalahnya bukan lagi soal pekerjaan yang belum selesai. Masalahnya adalah kepercayaan yang mulai terkikis. Karena setiap janji yang tidak ditepati, sekecil apa pun, akan meninggalkan jejak.

Saya melihat ada kebiasaan yang cukup umum terjadi. Kita terlalu mudah mengatakan “ya”, terlalu cepat menyanggupi sesuatu, tanpa benar-benar mempertimbangkan apakah kita mampu melakukannya atau tidak. Seolah-olah mengatakan tidak adalah sesuatu yang tabu, sesuatu yang memalukan.

Padahal, dalam banyak kasus, mengatakan tidak justru lebih jujur. Mengatakan belum bisa jauh lebih bertanggung jawab daripada mengatakan siap tetapi tidak dikerjakan. Namun entah kenapa, kita lebih takut terlihat tidak mampu daripada benar-benar gagal.

Ini mungkin berkaitan dengan cara kita memandang profesionalisme. Banyak orang mengira bahwa profesional berarti selalu siap, bisa, dan selalu cepat. Akibatnya, kita memaksakan diri untuk terlihat seperti itu. Kita ingin memberi kesan bahwa kita bisa diandalkan dalam segala situasi.

Padahal profesionalisme bukan soal selalu mengatakan “ya”. Profesionalisme justru soal kejelasan dan kejujuran. Jika memang tidak bisa, katakan sejak awal. Jika butuh waktu, sampaikan dengan jelas. Dengan begitu, orang lain bisa menyesuaikan ekspektasi.

Dalam pengalaman saya sebagai wartawan, hal seperti ini sering terjadi. Janji narasumber untuk memberikan data yang tidak kunjung dikirim, janji untuk wawancara yang terus ditunda, atau juga janji untuk memberikan klarifikasi yang akhirnya tidak pernah datang. Semua itu membuat pekerjaan menjadi terhambat.

Yang lebih sulit adalah ketika kita harus terus mengejar. Menghubungi berulang kali, mengingatkan, bahkan kadang merasa tidak enak sendiri. Padahal di awal, pihak tersebut yang mengatakan siap. Di sini terlihat bahwa satu kata bisa membawa konsekuensi panjang.

Hal yang sama juga terjadi dalam hubungan kerja. Ada tugas yang sudah dibagi, sudah disepakati. Namun karena satu orang tidak menjalankan bagiannya, pekerjaan yang lain ikut tertunda. Akhirnya, orang lain yang harus menanggung akibatnya.

Situasi seperti ini sebenarnya bisa dihindari jika ada komunikasi yang jujur. Jika sejak awal seseorang mengatakan bahwa ia sedang sibuk atau belum bisa mengerjakan, tentu pembagian tugas bisa diatur ulang. Tapi karena ingin terlihat mampu, akhirnya semua jadi berantakan.

Saya tidak mengatakan bahwa semua orang yang tidak menepati janji itu tidak bertanggung jawab. Ada banyak faktor yang bisa memengaruhi. Bisa jadi memang ada kendala, ada perubahan situasi, atau hal lain yang tidak terduga. Namun yang menjadi masalah adalah ketika tidak ada komunikasi.

Diam seringkali menjadi pilihan yang salah. Karena diam membuat orang lain menunggu tanpa kepastian. Dan menunggu tanpa kepastian adalah hal yang melelahkan. Lebih baik menerima kenyataan bahwa pekerjaan belum selesai daripada tidak tahu sama sekali.

Kejujuran memang tidak selalu nyaman. Mengakui bahwa kita belum mengerjakan sesuatu bisa terasa berat. Apalagi jika sebelumnya kita sudah mengatakan siap. Tapi justru di situlah letak tanggung jawab kita. Bukan pada kesempurnaan hasil, tetapi pada kejelasan proses.

Saya juga pernah berada di posisi itu. Pernah mengatakan siap, tetapi ternyata tidak bisa menyelesaikan tepat waktu. Dan saya belajar, yang paling sulit bukan menyelesaikan pekerjaan, tetapi mengakui keterlambatan. Ada rasa tidak enak, ada rasa bersalah. Namun ketika akhirnya disampaikan dengan jujur, situasinya justru menjadi lebih baik.

Dari situ saya mulai memahami bahwa kepercayaan tidak dibangun dari kesempurnaan, tetapi dari konsistensi. Orang tidak akan menuntut kita selalu benar, tetapi mereka akan menghargai jika kita jujur. Karena dari kejujuran itu, mereka tahu bagaimana harus bersikap.

Ungkapan janji-janji Jepang akhirnya terasa seperti pengingat yang sederhana. Ia mengingatkan bahwa kebiasaan mengumbar janji sudah lama ada. Dan jika kita tidak hati-hati, kita bisa menjadi bagian dari kebiasaan itu.

Di tengah kehidupan yang semakin cepat, kita memang dituntut untuk responsif. Pesan harus cepat dibalas, pekerjaan harus segera diselesaikan. Namun kecepatan tidak boleh mengorbankan kejelasan. Lebih baik lambat tetapi pasti, daripada cepat tetapi tidak jelas.

Saya sering berpikir, mungkin kita perlu mengubah kebiasaan kecil dalam komunikasi. Tidak langsung menjawab siap sebelum benar-benar memastikan. Memberi jeda untuk berpikir. Menimbang apakah kita punya waktu dan kemampuan untuk menyelesaikan tugas tersebut.

Jika jawabannya belum, tidak apa-apa untuk mengatakan belum. Itu bukan tanda kelemahan. Justru itu menunjukkan bahwa kita memahami batas diri. Dan orang lain biasanya bisa menerima itu, selama disampaikan dengan baik.

Dalam jangka panjang, sikap seperti ini akan lebih dihargai. Karena orang tahu bahwa ketika kita mengatakan ya, itu benar-benar ya. Bukan sekadar kata untuk menyenangkan atau menghindari percakapan.

Kepercayaan adalah hal yang pelan-pelan dibangun. Ia tidak datang dari satu tindakan besar, tetapi dari kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus. Menepati janji, sekecil apa pun, adalah bagian dari itu.

Sebaliknya, mengingkari janji, meskipun terlihat sepele, bisa merusak banyak hal. Bukan hanya hubungan kerja, tetapi juga hubungan personal. Karena pada akhirnya, orang akan menilai kita dari apa yang kita lakukan, bukan dari apa yang kita katakan.

Ungkapan lama itu mungkin terdengar sederhana. Namun jika dipikirkan, ia menyimpan kritik yang tajam. Ia mengingatkan bahwa janji bukan sekadar kata. Ia adalah komitmen. Dan setiap komitmen memiliki konsekuensi.

Hari ini, ketika kita mendengar atau bahkan mengucapkan ungkapan itu, mungkin kita bisa berhenti sejenak. Bukan untuk menertawakan orang lain, tetapi untuk melihat diri sendiri. Apakah kita sudah cukup jujur dalam berjanji, apakah kita sudah cukup bertanggung jawab dalam menepati.

Perubahan tidak harus dimulai dari hal besar. Cukup dari kebiasaan kecil. Dari cara kita merespons pesan. Dari cara kita menyampaikan kesanggupan. Dari cara kita mengakui keterlambatan.

Karena pada akhirnya, yang membuat kita dipercaya bukanlah seberapa sering kita berkata siap, tetapi seberapa sering kita benar-benar menyelesaikan apa yang sudah kita janjikan.

Dan mungkin, jika kebiasaan ini mulai berubah, ungkapan janji-janji Jepang perlahan akan kehilangan relevansinya. Bukan karena kita melupakannya, tetapi karena kita tidak lagi mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails

Ruang Ketiga Peta Sastra Kebangsaan

by Stebby Julionatan
April 19, 2026
0
Ruang Ketiga Peta Sastra Kebangsaan

Apa yang bisa dilakukan sastra? Sebagai seorang guru Bahasa dan Sastra Indonesia setiap tahun pertanyaan tersebut selalu mengganggu benak saya....

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co