25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

Gede Aries Pidrawan by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
in Cerpen
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

Ilustrasi tatkala.co | Canva

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu dekat dengan dirinya. Menjadi satu. Menjadi satu dalam tubuhnya.

Luh Sunari kemudian menari. Gigi-giginya bergemeretak. Kakinya dihentak-hentakkan. Matanya setengah terpejam. Beberapa saat kemudian, gerak tarinya cepat. Setiap orang yang ada di hadapannya ditunjuk. Ia mengeluarkan kata-kata yang tidak dipahami orang.

Orang-orang hanya diam seperti tak terjadi apa-apa. Lalu, Luh Sunari lemas dan menggelepar di halaman pura. Orang lalu lalang takpeduli. Hujan turun. Tubuh Luh Sunari kehujanan. Basah kuyup. Lama sekali. Ia baru tersadar saat dingin menyusup ke tulang-tulangnya. Ia kemudian pulang dengan tubuh yang menggigil dan gigi bergemeretak. Kali ini bukan karena kerauhan, melainkan kedinginan.

Di rumah, Wayan Sasih sudah menunggu dengan wajah yang cemas. Saat dilihatnya Luh Sunari di halaman rumah, Wayan Sasih datang menjmput anak semata wayangnya itu.

“Ibu sudah mendengar dari tetangga. Kata mereka kamu kerauhan lagi. Sudahlah Luh. Hentikan kepura-puraan ini,” kata Wayan Sasih.

“Aku tidak mengerti apa yang ibu maksud. Kepura-puraan yang mana?”

“Tentang kerauhan itu. Seumur-umur, tak ada masyarakat rendahan seperti kita yang bisa kerauhan. Apalagi yang rauh adalah Ida Mas Mecaling atau apalah. Tidak mungkin Luh. Tidak mungkin. Kita bukanlah keturunan Jro. Jadi jangan permalukan diri dengan kepura-puraanan ini.”

Ibunya pergi ke dapur, lalu keluar membawa nampan kayu yang di atasnya tampak ada dua gelas sedang, piring aluminium yang sudah sedikit menghitam, juga botol kecil dengan penutup berbalut kain kasa kuning.

“Minumlah.” Ibunya menyerahkan gelas. Di dalamnya, batang sereh, kayu manis, dan gula aren diulek lalu dicampur dengan air mendidih.

Sunari dengan jelas dapat mencium bau sereh di dalamnya. Ia segera meminumnya. Manis gula aren masih melekat di langit-langit mulutnya. Ibunya selalu yakin, dengan meminum loloh itu Sunari akan mengantuk, lalu tidur dengan lelap meninggalkan semua kelehan mentalnya.

Setelah selesai dengan loloh itu, Sunari disuruh duduk tegak. Lalu ibunya berdiri di belakangnya. Sunari merasakan, tangan ibunya yang kasar memegang ubun-ubunnya. Bau minyak kelapa piing yang dikenalnya, dengan campuran sandat kering, bawang, dan adas, seketika menyeruak. Dipijitnya pelan kepala anaknya itu. “Sebentar lagi, sakit kepalamu pasti hilang.”

Luh Sunari menarik napas pelan. Ia hanya diam saja menikmati pijatan ibunya. Tubunya memang terasa nyaman dan tenang. Dadanya kini taklagi berdebar. Namun, ingatannya tentang kerauhan  tadi tetap melekat di pikirannya.

Sudah kesekian kali Sunari taksadarkan diri. Pertama adalah dua bulan lalu saat di pura dalem ada aci. Ketika pelinggih ida tedun, saat itulah Luh Sunari berdiri dan menari. Orang-orang terbelalak. Semula kaget.  Namun, setelah mengetahui bahwa itu adalah Luh Sunari, orang-orang diam takmemperhatikannya. Pecalang kemudian datang dan Luh Sunari dibawa ke jabaan pura.

Saat Luh Sunari sadar, ia lemas kemudian duduk di emperan warung. Orang orang yang melihatnya memberi tatapan hina. “Mimih, panak bebinjat, tidak tahu malu.” Beberapa yang lain menirukan suara melengkingnya saat ia kerahuan tadi.

Luh Sunari diam. Kata-kata seperti itu sudah lama ia dengar. Semenjak ia bisa mengingat, semenjak ia bisa memahami bahwa ia terlahir tanpa bapak.

“Me, apa tidak sebaiknya kita melukat? Orang lain yang kerauhan, pasti akan melukat agar hal buruk bisa hilang. Lalu, Iluh akan ngayah di Pura Dalem,” kata Luh Sunari menatap ibunya yang masih memijit kepalanya.

“Luh, hanya keturunan jro yang mungkin mendapat wahyu begitu. Kita bukan siapa-siapa. Tidak ada keturunan Jro Dalem atau Jro Desa. Kita hanya penyakap Luh.”

“Aku tidak membuat-buat Me. Aku tidak tahu mengapa jadi begini.”

“Jika begitu, itu artinya kamu sakit.”

“Aku tak merasakan sakit apa-apa.”

“Kalau begitu akhiri saja. Menjadilah Luh Sunari yang dulu, yang tekun ngayah  di pura. Jangan melakukan hal yang macam-mcam.”

“Mengapa tidak mungkin, Me? Bukankah ketaatan sebagai pengayah akan meninggikan derajat kita? Mungkin ini cara-cara Ida Batara meninggikan derajatku Me, derajat Meme juga.”

“Jangan mengkhayal Luh. Jangan.”

“Jro Dalem saja, yang dulunya adalah seorang penjudi, pemabuk, bahkan seperti cerita yang kudengar pernah dipenjara karena narkoba, sekarang bisa menjadi Jro Dalem.”

“Diam Luh, apa yang kau katakana itu?” Wajah Wayan Sasih memerah memendam marah, tetapi suaranya sengaja dikecilkan. “Kamu sudah sangat lancang. Mereka adalah keturunan Jro. Kita siapa? Ibu adalah aib di desa ini. Kamu lahir dari rahim seorang ibu pembawa leteh desa, Luh. Sadar. Sadar. Akhri semua ini.”

“Apa yang harus kuakhiri sedangkan aku takpernah memulai apa-apa, Me.”

Wayan Sasih taklagi meladeni perdebatan itu. Ia pergi menuju dapur dan memasak air hangat. Mengingat kembali cibiran tetangga tentang Luh Sunari yang berlagak seperti Jro Tapakan membuat kepalanya pusing. Kemudian terhuyung dan jatuh tepat dimulut pintu dapur. Beruntung sigap Luh Sunari memegang ibunya sehingga kepala ibunya tak sampai terbentur. Dengan tenang Luh Sunari membawa ibunya ke kamar. Di kamar kini gantian Luh Sunari yang memijat tengkuk ibunya. Sunari melihat wajahnya ibunya yang letih. Dua puluh tahun merawat anak seorang diri, lalu memberikan kehidupan yang layak, tentu adalah keletihan yang teramat sangat. Wajah ibunya yang pucat itu diusap-usap. Dalam mulutnya, dilapalkan harapan-harapan agar ibunya sehat dan bahagia.

Wajah ibunya yang semula pucat kini berangsur segar. Wayan Sasih merasa tubuhnya bugar, merasa sangat sehat, lebih sehat dari sebelumnya. Ia membuka matanya. Dilihatnya wajah Sunari yang putih itu bercahaya. Rambut anaknya yang biasanya kusut itu kini tergerai panjang bergelombang, hitam dan berkilat.

“Obat apa yang kamu berikan Luh?”

Luh Sunari tidak menjawab. Tangannya memegang kening ibunya. Komat-komat Luh Sunari merapalkan rasa syukur karena ibunya telah siuman. Berkali-kali, berkali-kali ucapan terima kasih itu ia kumandangakan, pelan. Dengan bahasa biasa, selayaknya ia berterima kasih pada ibunya, sahabat-sahabatnya, atau orang lain yang pernah menolongnya. Namun, samar-samar di telinga ibunya, setiap ucapan Sunari terdengar serupa mantra. Mantra yang begitu dalam sehingga desir angin pun ikut mengiringinya.

Desir angin itu mendatangkan kesejukan bagi tubuh Wayan Sasih. Mantra yang ia dengar dari anaknya serupa nyanyian masa kecil yang meninabobokan. Ia merasakan matanya berat, lalu tertidur. Tidur itulah yang membawanya ke masa lalu.

Suatu malam di Pura Dalem saat Wayan Sasih ngayah membersihkan areal pura dari sampah sisa canang dan plastik. Di sana ia membersihkan areal pura hingga larut malam. Sadar tentang pesanan canang untuk dibawa besoknya belum selesai, ia mepamit. Saat pulang itulah seorang laki-laki membuntutinya. Di jalan yang begitu sepi. Tiba-tiba saja laki-laki itu menyergapnya dan menyeretnya ke semak-semak. Wayan Sasih, berhari-hari merasakan rasa takut yang mendalam. Dengus lelaki itu masih jelas di telinganya.

Rasa sakit kemudian bertambah saat mengetahui dirinya hamil, tanpa suami. Keinginan-keinginan mengakhiri hidup menghampirinya setiap malam; ketakutan-ketakutan akan hidup anaknya di kemudian hari mendatanginya selalu. Beruntung, ayahnya sabar. Dengan ihklas ayahnya menerima segala kekurangan itu. Ayahnya hadir menguatkan. Kehamilan itu dirawat dengan sepenuh hati. Saban malam, di serambi rumahnya, di bawah binar bulan, Wayan Sasih duduk di sebelah ayahnya yang sedang mekidung. Kidung itu ia yakini sebagai doa untuk anaknya, juga obat bagi ketakutan-ketakutan yang ia lalui. Ia baru akan tidur saat kidung selesai dinyanyikan dan ayahnya memberinya loloh kecemcem gula aren atau loloh kayu manis dengan campuran telur ayam kampung. Kata ayahnya ketika itu, loloh ini bisa meningkatkan kecerdasan janin, juga memperkuat kandungannya.

Ia kemudian hamil, lalu melahirkan. Seperti ketakutannya dahulu, warga menganggapnya leteh sehingga  Wayan Sasih tidak lagi diizinkan ngayah di pura.

Setelah melahirkan, Wayan Sasih tinggal di rumah pengasingan di tepi hutan bersama ayahnya. Luh Sunari lalu beranjak dewasa. Karena kerjanya yang cekatan dalam membuat banten, juga kemahiran menari dan mekidung, Luh Sunari diterima menjadi pengayah di pura, ditugaskan oleh Jro Dalem membersihkan areal pura dalem. Masa lalunya sebagai anak babinjat, terlahir dari rahim ibu tanpa suami,  diabaikan orang-orang.

Luh Sunari sangat telaten menjadi pengayah di pura: rajin membersihkan areal pura, telaten membuat sesajen, pintar dalam menari, dan berbakat saat mekidung. Pura jadi bersih karenanya. Saat Luh Sunari menari, orang-orang berkerumun ingin menontonya. Begitupun saat Luh Sari mekidung, orang-orang yang datang sembahyang di pura seperti terhinoptis mendengar lengkingan suaranya.  Namun, nasib kemudian berkata lain. Semenjak Luh Sunari sering kerauhan, banyak masyarakat yang merasa risih dengan keberadaan Luh Sunari. Maka, bersepakatlah para tetua pura agar Luh Sunari berhenti ngayah di pura.

Wayan Sasih bangun dari tidurnya. Segala ingatan masa lalu yang masuk ke mimpinya sirna. Luh Sunari masih duduk memijat kakinya. Ada perasaan haru melihat anaknya, yang sudah berpuluh tahun memendam rasa sakit atas perundungan penduduk desa. Beruntung, tak seklaipun anak semata wayangnya itu bertanya tentang sosok bapaknya. Sebab, dia sendiripun taktahu siapa sebenrnya sosok ayah dari anaknya itu.

Wayan Sasih tersenyum. Tubuhnya sangat segar, seperti tidur berhari-hari. Nyeri di sekujur tubuhnya yang selama ini ia rasakan, entah kenapa seperti sirna. Ia taklagi merasakan radang lutut yang menyiksanya selama ini.

“Sunari! Sunari!” Suara orang-orang memanggil terdengar dari halaman rumahnya.

Wayan Sasih keluar diikuti Luh Sunari.

“Jro Dalem ingin Luh Sunari datang ke pura, jadi pengayah lagi.” Kata utusan Jro Dalem itu.

Sudah hampir sebulan Luh Sunari berhenti ngayah di Pura Dalem. Namun, entah mengapa Jro Dalem merasa hanya sesajen yang dibuat oleh Sunari yang paling lengkap. Jro Dalem juga merasa persembahyangan belum khusyuk apabila belum ada kidung yang mengiringi. Kidung itu haruslah dinyanyikan oleh Luh Sunari.

“Tidak mau.” Luh Sunari menolak.

Namun, utusan itu berkata dengan sedikit memaksa. Juga ancaman-ancaman terhadap ibunya. Akhirnya, Luh Sunari bersedia.

Saat itu tilem. Sore sudah temaram. Sebentar lagi malam akan pekat. Masyarakat sudah siap sembahyang. Namun, persembahyangan belum mulai. Jro Dalem akan memulai saat Luh Sunari datang dan duduk di sebelahnya menyiapkan sesajen yang diperlukan.

Saat Luh Sunari datang. Orang-orang memandanginya dengan wajah penuh penghinaan.  Orang-orang bercakap-cakap tentang Luh Sunari. Saat itulah Jro Dalem menggerakkan gentanya. Denting menggema. Orang-orang diam, dalam posisi siap untuk sembahyang.

Luh Sunari mendekati Jro Dalem. Suara genta semakin terdengar nyaring. Begitu tiba di sebelah Jro Dalem, Luh Sunari menari. Orang-orang yang semula siap untuk sembahyang, berbarengan mendehem dan mencibir. Namun cibiran mereka seketika berhenti saat Jro Dalem juga ikut menari. “Ning, mai Ning, ” kata Jro Dalem seraya tanganya dibentangkan menyambut Luh Sunari. Luh Sunari mendekat sambil terus menari.

Jro Dalem terus menari sambil menyanyikan lagu, lagu yang asing, serupa mantra, tak ada yang memahami, kecuali Luh Sunari. Nyanyian itu adalah tangis Jro Dalem tentang penyesalannya telah menelantarkan Luh Sunari, buah dari kebiadabannya malam itu.

Melihat mata Jro Dalem yang berkaca-kaca penuh penyesalan, Luh Sunari juga menyanyi, nyaring dan lembut serupa sunari sebagai jawaban bahwa ia sudah memaafkannya. [T]

Penulis: Gede Aries Pidrawan
Editor: Made Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Iwan Setiawan | Senja yang Tersesat di Rambut Seorang Perempuan

Next Post

Bupati Nyoman Sutjidra Harapkan Pengusaha Muda Terus Bersinergi dengan Pemerintah Agar Mampu Buka Banyak Lapangan Pekerjaan

Gede Aries Pidrawan

Gede Aries Pidrawan

Sastrawan dan guru. Lahir di Karangasem, Bali

Related Posts

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
0
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

Read moreDetails
Next Post
Bupati Nyoman Sutjidra Harapkan Pengusaha Muda Terus Bersinergi dengan Pemerintah Agar Mampu Buka Banyak Lapangan Pekerjaan

Bupati Nyoman Sutjidra Harapkan Pengusaha Muda Terus Bersinergi dengan Pemerintah Agar Mampu Buka Banyak Lapangan Pekerjaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan
Cerpen

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

by Depri Ajopan
April 25, 2026
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani
Puisi

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu
Esai

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’
Ulas Musik

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co