25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
in Cerpen
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

Ilustrasi tatkala.co | Canva

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen, seolah mengejekku.

Sudah tiga puluh menit aku duduk. Secangkir kopi di meja mulai dingin. Tenggorokanku terasa kering, kepala sedikit pening, dan hidungku mampet sejak pagi. Badanku belum benar-benar pulih dari demam dua hari lalu, tapi tenggat tidak peduli pada suhu tubuh.

Di kalender, hari ini sudah kulingkari merah sejak seminggu lalu. Itu adalah tenggat pengumpulan cerpen.

Judulnya sudah ada, “Aku Tak Bisa Menulis Cerpen”.

Awalnya kupikir judul itu lucu. Meta. Seolah aku sedang bermain-main dengan keadaan. Tapi semakin lama aku menatap layar kosong ini, semakin terasa bahwa judul itu bukan lagi lelucon. Ia berubah menjadi pengakuan.

Aku benar-benar tak bisa menulis cerpen. Padahal dulu aku suka menulis.

Aku ingat masa-masa SMA, ketika aku bisa menghabiskan malam dengan mengetik cerita tentang anak desa yang ingin menjadi astronot, atau tentang gadis yang jatuh cinta pada hujan. Waktu itu menulis terasa seperti bernapas: alami, tanpa paksaan. Kata-kata mengalir begitu saja, seperti air dari keran yang lupa dimatikan.

Sekarang?

Sekarang setiap kalimat terasa seperti harus ditarik paksa dari dasar sumur.

Ponselku bergetar di meja. Aku melirik layarnya. Nama yang sama muncul lagi, Pak Hendra. Aku tidak mengangkatnya.

Sudah tiga kali hari ini dia menelepon. Aku tahu isinya apa. Tagihan yang menumpuk, janji yang pernah kuucapkan minggu lalu, nada suara yang semakin dingin setiap kali aku meminta waktu.

Aku mematikan layar ponsel dan meletakkannya terbalik.

Belum lima menit, notifikasi pesan masuk.

“Mas, kapan bisa transfer? Saya tunggu kabarnya hari ini.”

Dadaku mengencang.

Aku menutup laptop sebentar dan bersandar di kursi. Kala itu langit sore di luar jendela berwarna abu-abu pucat. Di kejauhan terdengar suara motor lewat, disusul teriakan anak-anak yang sedang bermain bola di gang.

Dunia tetap berjalan, sementara aku terjebak di satu titik.

Aku membuka ponsel lagi. Ada pesan dari Raka.

“Gimana cerpennya? Deadline jam 12 malam, kan?”

Aku tidak langsung membalas.

Raka adalah teman sekampusku dulu. Dialah yang pertama kali mengajakku ikut lomba menulis ini. Katanya, “Lumayan buat portofolio.” Ia juga bilang hadiahnya cukup besar, kalau beruntung, bisa jadi modal usaha kecil-kecilan. Aku mengangguk waktu itu, membayangkan uang hadiah dan satu baris tambahan di CV, dengan keyakinan yang terlalu besar terhadap diriku sendiri.

Kupikir menulis cerpen akan mudah. Nyatanya, tidak. Bukan cuma karena ide yang buntu, tapi karena hidup tiba-tiba terasa seperti menumpuk di satu hari yang sama.

Dua minggu lalu aku dipanggil ke ruang HRD. Kalimatnya singkat dan rapi. Perusahaan sedang melakukan efisiensi. Posisi kontrakku tidak diperpanjang. “Terima kasih atas kontribusinya selama ini,” ucap si HRD.

Aku mengangguk seperti orang dewasa yang baik, menandatangani berkas, lalu pulang dengan kepala kosong. Di perjalanan, aku menghitung sisa saldo di rekening dan langsung tahu bahwa bulan depan akan menjadi bulan yang berat.

Selama hampir dua tahun aku bekerja sebagai humas korporat, mengurusi siaran pers, menjawab komplain warga soal proyek, dan berpura-pura ramah di acara peluncuran gedung. Aku belajar tersenyum di depan kamera meski sering merasa kosong di dalam. Pekerjaan itu tidak pernah benar-benar kupahami sebagai panggilan, tapi aku bertahan karena gaji bulanan terasa lebih nyata daripada mimpi.

Belum genap seminggu dipecat, Dinda pacarku datang. Mantan pacarku, sekarang.

Ia duduk di tepi kasur, memainkan ujung lengan jaketnya, lalu berkata bahwa ia capek. Capek menunggu aku ‘menjadi lebih stabil’. Capek dengan janji-janji bahwa semuanya akan membaik.

“Aku butuh pasangan yang sudah siap, bukan yang masih berjuang,” katanya pelan.

Aku ingin bilang bahwa aku sedang melakukan yang terbaik. Bahwa tidak semua orang bisa langsung mapan. Tapi kata-kata itu tertahan di tenggorokan.

Kami berpisah dengan cara yang dewasa. Tanpa teriakan. Tanpa drama. Tapi, justru itu yang paling menyakitkan.

Dan hari ini, di tengah kepala yang masih berat, dompet yang menipis, dan hati yang belum selesai patah, aku harus menulis cerpen.

Aku kembali membuka laptop. Kursor masih berkedip sabar.

Baiklah, kataku dalam hati. Tulis saja apa pun.

Tanganku mulai bergerak.

“Aku tidak tahu harus mulai dari mana.”

Aku berhenti.

Kalimat itu terasa basi. Terlalu sering dipakai. Aku menghapusnya. Kucoba lagi.

“Pada suatu sore yang biasa…”

Kuhapus lagi. Kenapa semuanya terdengar klise?

Ponselku kembali bergetar. Pesan dari Dinda kali ini.

Maaf ya. Semoga kamu baik-baik saja. Aku menatap layar itu lama, lalu mengunci ponsel tanpa membalas.

Aku mengacak rambutku sendiri. Mungkin masalahnya bukan pada ide. Mungkin masalahnya aku terlalu penuh. Penuh tagihan. Penuh kehilangan. Penuh ketakutan.

Takut tulisanku jelek. Takut ceritaku tidak bermakna. Takut dibandingkan dengan penulis-penulis lain yang jauh lebih berbakat. Takut gagal. Ketakutan itu menumpuk pelan-pelan, lalu berubah menjadi tembok yang tinggi.

Aku teringat perkataan dosen sastra saat kuliah dulu. “Masalah terbesar penulis pemula bukan kurang ide, tapi terlalu banyak penilaian terhadap diri sendiri.”

Ya, ironisnya, aku pernah kuliah Sastra Indonesia. Hanya sampai semester tiga. Setelah itu aku keluar tanpa upacara apa pun, membawa pulang naskah-naskah puisi dan rasa bersalah yang belum selesai. Orang tuaku tidak marah, hanya kecewa dengan cara yang sunyi. Setahun setelah drop out (DO), aku masuk lagi, kali ini ke Ilmu Komunikasi. Jurusan yang lebih ‘aman’, kata mereka. Aku menamatkannya bukan karena cinta, tapi karena lelah berdebat.

Waktu itu aku mengangguk, merasa paham. Sekarang aku baru benar-benar mengerti maksudnya.

Aku berdiri dan berjalan ke dapur. Kakiku terasa agak lemas. Kutuang sisa kopi ke wastafel, lalu membuat yang baru. Tanganku sedikit gemetar saat menuang air panas. Aroma bubuk kopi yang diseduh kembali sedikit menenangkan.

Saat kembali ke kamar, aku membawa cangkir hangat dan secuil tekad yang entah datang dari mana.

Baik. Kalau tidak bisa menulis cerpen, tulis saja tentang ketidakmampuan itu.

Tentang aku, Arga.

Nama itu kutulis pelan di baris pertama, seperti sedang menguji apakah aku masih mengenali diriku sendiri.

“Aku menatap layar kosong dan merasa seperti sedang berhadapan dengan diriku sendiri.”

Kali ini aku tidak menghapusnya.

Kalimat demi kalimat menyusul, perlahan. Aku menulis tentang kamar kecilku, tentang kopi yang selalu keburu dingin, tentang suara motor di sore hari. Aku menulis tentang tenggat waktu yang membuat dada terasa sesak.

Aku menulis tentang telepon dari penagih utang. Tentang surat pemutusan kontrak yang masih terlipat rapi di tas. Tentang pesan putus yang kubaca berulang-ulang meski sudah kuhapus dari chat. Tentang tubuh yang masih meriang tapi dipaksa duduk berjam-jam.

Aku menulis tentang Raka, tentang lomba ini, tentang dosen sastra. Aku menulis tentang masa SMA, tentang cerita-cerita yang dulu terasa mudah.

Aku juga menulis tentang diriku yang terdampar di dunia humas, tentang gelar komunikasi yang kutuntaskan dengan setengah hati, tentang sastra yang kutinggalkan terlalu cepat. Tentang bagaimana aku kini pandai merangkai kalimat untuk rilis pers, tapi gagap saat harus jujur pada perasaanku sendiri.

Aku menulis tentang rasa takut. Tentang bagaimana semuanya datang bersamaan, seolah hidup sedang menguji seberapa kuat aku bertahan.

Ternyata, ketika aku berhenti memikirkan apakah ini cerpen yang ‘bagus’ atau ‘tidak’, jari-jariku bergerak lebih ringan. Aku tidak lagi berusaha membuat metafora rumit atau plot yang canggih. Aku hanya bercerita.

Tentang seseorang yang baru dipecat, sedang sakit, ditinggal pacar, dikejar utang, dan duduk di depan laptop sambil mencoba tidak tenggelam.

Sesekali aku berhenti untuk menyeruput kopi. Sesekali aku membaca ulang satu paragraf dan memperbaiki kata yang terasa janggal. Tapi aku tidak lagi menghapus semuanya dari awal.

Waktu berjalan tanpa terasa. Langit di luar jendela berubah menjadi gelap. Lampu-lampu rumah tetangga menyala satu per satu. Anak-anak di gang sudah tidak terdengar lagi. Yang tersisa hanya dengung kipas angin dan ketukan keyboard.

Aku membuka pesan Raka dan membalas singkat.

“Lagi nulis. Doain.”

Tak lama kemudian, ia membalas dengan emoji jempol.

Aku tersenyum kecil.

Aku melanjutkan ceritaku. Di dalamnya, tokoh ‘aku’ mengingat bagaimana dulu ia menulis bukan untuk lomba, bukan untuk nilai, bukan untuk pengakuan. Ia menulis karena ingin bercerita. Karena ada hal-hal di kepalanya yang perlu keluar.

Aku menulis bahwa mungkin, di situlah letak masalahnya sekarang. Terlalu banyak tujuan di luar cerita itu sendiri.

Aku menulis bahwa kegagalan bukan selalu tentang kalah lomba atau kehilangan pekerjaan, tapi tentang berhenti mencoba. Aku menulis bahwa menulis tidak selalu harus indah. Kadang cukup jujur.

Beberapa kali aku merasa kalimatku canggung. Beberapa bagian terasa datar. Tapi aku membiarkannya. Aku tidak lagi mengejar kesempurnaan. Aku hanya ingin selesai.

Jam di pojok kanan bawah layar menunjukkan pukul 22.47. Masih ada waktu.

Ponselku kembali bergetar. Pesan dari Pak Hendra. “Mas, saya tunggu kabarnya malam ini.”

Aku menelan ludah, lalu mengetik balasan singkat: “Besok pagi saya usahakan, Pak. Terima kasih sudah memberi waktu.”

Aku tidak tahu dari mana uang itu akan datang. Tapi setidaknya aku sudah jujur.

Aku kembali ke cerpen. Membaca ulang dari awal. Ada bagian yang kupangkas, ada yang kutambah. Aku mengganti beberapa kata agar alurnya lebih mengalir. Aku memperbaiki tanda baca. Tidak banyak, tapi cukup.

Judul tetap sama: ‘Aku Tak Bisa Menulis Cerpen’.

Semakin lama aku menatap judul itu, semakin terasa bahwa ia telah berubah makna. Bukan lagi tentang ketidakmampuan, tapi tentang proses menerima diri. Tentang keberanian untuk tetap menulis, meski merasa hidup sedang runtuh dari berbagai arah.

Aku menambahkan satu paragraf penutup:

Bahwa mungkin semua penulis pernah sampai di titik ini. Titik ketika kata-kata terasa jauh. Ketika layar kosong terasa seperti vonis. Tapi selama kita masih mau duduk, membuka dokumen, dan mengetik satu kalimat pertama ─ meski sambil menahan sakit, kehilangan, dan kecemasan ─ barangkali kita sebenarnya masih bisa.

Jam 23.38, aku menyimpan file itu, lalu mengunggahnya ke laman lomba. Setelah tombol submit berubah menjadi notifikasi ‘berhasil’, aku bersandar di kursi dan menghembuskan napas panjang. Dadaku terasa lebih ringan.

Aku tak tahu apakah cerpen ini bagus atau tidak, apalagi lolos seleksi. Bisa jadi ceritaku tenggelam di antara ratusan karya lain yang lebih bernas.

Aku juga masih belum tahu bagaimana caranya membayar utang, mencari pekerjaan baru, atau menyembuhkan hati yang patah. Tapi malam ini, setidaknya, aku berhasil melawan satu hal: keinginanku untuk menyerah.

Ponselku berbunyi. Pesan dari Raka.

“Udah submit?”

“Udah,” balasku.

“Mantap. Apa judulnya?”

Aku mengetik: ‘Aku Tak Bisa Menulis Cerpen’.

Tiga detik kemudian, ia membalas.

“Wkwk. Keren. Justru itu cerpennya.”

Aku tersenyum.

Mungkin benar, cerpen ini bukan tentang plot besar atau konflik dramatis. Mungkin ini hanya cerita sederhana tentang seseorang yang hampir tenggelam, lalu memilih untuk tetap berenang, meski pelan.

Aku menutup laptop dan berbaring di kasur. Di langit-langit kamar, bayangan kipas angin berputar pelan.

Besok dunia akan berjalan seperti biasa. Surat lamaran harus dikirim. Janji pembayaran harus ditepati. Kesepian mungkin masih datang diam-diam.

Mungkin suatu hari nanti aku akan kembali duduk di depan layar kosong, merasa buntu lagi.

Tapi sekarang aku tahu satu hal. Aku mungkin sering merasa tak bisa menulis cerpen.

Namun selama aku masih mau menulis tentang kekacauan ini, tentang takut dan jatuh bangun, mungkin aku sebenarnya masih bisa menjadi seorang penulis. [T]

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Alfiansyah Bayu Wardhana | Taman yang Diam-diam Bersemi

Next Post

Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
0
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

Read moreDetails
Next Post
Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan
Cerpen

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

by Depri Ajopan
April 25, 2026
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani
Puisi

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu
Esai

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’
Ulas Musik

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co