27 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | O Shiringul

Sholihul Mubarok by Sholihul Mubarok
March 21, 2026
in Puisi
Puisi-puisi Sholihul Mubarok  |  O Shiringul

Sholihul Mubarok

O SHIRINGUL

Shiringul, masuk dan duduk dekatku. Namamu bergetar di celah gigi, tertahan di langit-langit mulut. Lantai semen Xinjiang menyedot hangat tubuhmu sampai dasar; dingin menetap di tulang. Bekas kaki itu masih ada, garis kasar dari gang pengap Guangzhou. Di sana tulang mudaku retak tanpa suara. Cairan bening merayap ke urat dan membuat lenganku jinak. Aku terbaring di aspal Tiongkok Selatan, anak tercecer, nomor tanpa riwayat, tubuh yang menunggu diambil.

Tangan berseragam datang dari utara dan memungutku. Aku dibersihkan, dijahit, rambutku dipangkas pendek. Tianjin memberiku ranjang besi yang berderit tiap kali aku membalik badan, lampu putih yang menyala bahkan ketika kelopak mata ingin menutup. Luka dirapatkan, namaku dieja ulang, napasku diselaraskan dengan aba-aba. Aku berdiri di barisan pagi dengan punggung lurus dan rahang terkunci. Di bawah langit itu kau kehilangan panggilan lamamu, Shiringul; huruf-huruf yang dulu kau bisikkan padaku dicabut dari dinding dan diganti huruf lain yang terasa asing di lidah. Orang-orang tua berbicara setengah suara. Lidah mereka bergerak, tetapi bunyi berhenti di tenggorokan.

Aku percaya pada jarum yang menyatukan dagingku. Aku percaya pada tangan yang menahan darahku berhenti. Dari Kazakhstan kubawa debu kerja yang masih menempel di sela kuku. Kupikir tanah akan mengenali berat langkahku dari jauh. Oktober ternyata ruang pemeriksaan dengan meja logam dan kursi plastik yang dingin. Namaku dipanggil, lalu dipatahkan menjadi suku-suku kata yang tidak kukenal. Mataku dihitung. Napasku diukur panjang pendeknya. Ada pintu tanpa gagang di sisi dalam. Ketika aku melangkah melewatinya, suaramu tidak ikut serta; ia tertinggal di luar, menempel pada udara, tak bisa lagi kugigit atau kutelan.

Gresik, 12 Februari 2026

DI BAWAH DENGUNG

Sambutannya kursi besi yang dinginnya merambat ke punggung. Lampu neon menyala tanpa henti. Tujuh puluh dua jam aku duduk; bayanganku hilang dari lantai. Dengung listrik menekan pelipis. Nama Xi Jinping diputar berulang melalui pengeras suara, datar dan keras, masuk ke telinga tanpa jeda. Waktu tidak bergerak; ia menumpuk di tengkuk sampai rahangku kaku.

Perintah turun tanpa wajah. Telapak tanganku dibuka di atas meja logam, keningku ditekan hingga napas memantul kembali ke dada. Doa-doa yang pernah kuhafal diminta keluar satu per satu, ditulis ulang dengan ejaan lain, dikosongkan dari asalnya. Lagu diputar sampai suaraku bergerak tanpa izin. Setiap kelopak mata jatuh, meja diketuk, tubuhku ditegakkan lagi.

Di luar tembok, kabar tentang orang-orang yang hilang beredar singkat lalu padam. Di dalam ruangan ini, identitas kusimpan di balik gigi; lidah belajar diam agar tubuh tetap utuh. Tangan yang dulu terasa mengangkat kini berdiri sebagai pagar besi, rapat dan dingin.

Bantuan mengencang di pergelangan sebagai simpul. Masa lalu dipanggil untuk disangkal. Masa depan digantung di papan tulis bersama jadwal hafalan dan baris-baris janji. Mereka menyebutnya sekolah. Di ruang ini, cahaya jatuh lurus ke lantai tanpa melahirkan bayangan.

Gresik, 11 Februari 2026

O SAMARKAND

Samarkand, kota tua yang jauh dari sini, dengarlah. Dari lantai semen Xinjiang aku mengingatmu. Dingin merambat sampai ke tulang. Bekas kaki masih tertinggal dari gang pengap Guangzhou; di sana tulang mudaku retak tanpa suara, cairan bening mengalir ke urat dan membuat lenganku patuh. Aku tercecer di aspal Tiongkok Selatan sebelum tangan berseragam dari Tianjin memungutku dan menempatkanku di ruang terang yang tak pernah gelap sepenuhnya.

Namaku dirapikan. Rambutku dipotong pendek. Luka dijahit sampai tak terlihat bekasnya. Aku diberi ranjang besi dan jadwal bangun. Nafasku diselaraskan dengan aba-aba. Di dada orang-orang tua, kata Turkistan bergerak pelan lalu berhenti. Huruf lama dicabut dari dinding dan diganti huruf lain yang lebih mudah diatur. Suara-suara merendah, bukan karena lupa, melainkan karena takut didengar.

Aku pernah percaya pada tangan yang mengangkat tubuhku dari jalan. Dari Kazakhstan kubawa debu kerja yang masih menempel di sela kuku. Aku pulang tanpa curiga. Oktober membawaku ke ruang pemeriksaan. Namaku dipecah menjadi suku kata yang asing di telinga sendiri. Mataku dihitung. Napasku diukur. Ada pintu tanpa gagang di sisi dalam. Setelah melewatinya, aku mengerti: kota-kota tua hanya hidup dalam ingatan, sementara tubuh ini berdiri di ruang yang tak memantulkan bayangan.

Gresik, 12 Februari 2026

RUANG TANPA BAYANGAN

Sambutannya kursi besi. Lampu neon menyala tanpa henti. Tujuh puluh dua jam aku duduk; bayanganku hilang dari lantai. Dengung listrik menekan pelipis. Nama Xi Jinping diputar berulang melalui pengeras suara, datar dan keras, masuk ke kepala tanpa celah. Waktu tidak berjalan; ia menumpuk di tengkuk sampai rahangku kaku.

Perintah turun tanpa wajah. Telapak tanganku dibuka di atas meja logam, keningku ditekan sampai napas memantul kembali ke dada. Doa-doa yang kuhafal diminta keluar satu per satu, ditulis ulang dengan ejaan lain. Lagu partai diputar terus-menerus hingga suaraku ikut bergerak tanpa sadar. Setiap kelopak mata jatuh terlalu lama, meja diketuk, tubuhku ditegakkan lagi.

Di luar tembok, nama Ilham Tohti beredar dalam bisik yang cepat padam. Di dalam ruangan ini, identitas kusimpan di balik gigi; lidah belajar menahan bunyi agar tubuh tetap utuh. Tangan yang dulu mengangkatku kini berdiri sebagai pagar besi, rapat dan dingin.

Bantuan mengencang di pergelangan. Masa lalu dipanggil untuk diakui lalu disangkal. Masa depan ditempel di papan tulis bersama jadwal hafalan dan baris-baris janji. Mereka menyebutnya sekolah. Di ruang ini, cahaya jatuh lurus dan tak menghasilkan bayangan.

Gresik, 12 Februari 2026

TANGISAN BISU

Shiringul, fajar di kamp ini pecah oleh rekaman azan. Suaranya bersih, terlalu bersih, keluar dari pengeras suara yang tergantung di sudut atap. Kami berdiri, tak satu pun bergerak. Denyut di leherku terasa keras. Setelah itu, suara bocah Kazakh diputar—ia memanggil ayahnya berulang-ulang sampai suaranya pecah. Tak ada anak di halaman. Tak ada ayah yang menjawab. Di ruangan ini, rindu duduk di dada dan tak bisa ditelan.

Kami dibagi dalam baris-baris tetap: yang dianggap taat, yang dicurigai, yang pernah pergi melintasi negeri. Pukul enam pagi, lagu partai keluar dari sistem suara dan menempel di dinding. Sebelum suapan pertama menyentuh lidah, kami diminta menyebut nama Xi Jinping dengan suara jelas. Nasi di mangkuk mengepul. Tak ada yang berbicara selain instruksi.

Di ruang kelas, lidahku bergerak kaku menghafal kalimat yang bukan milikku. Angka-angka ditulis di papan; agama disebut gangguan, iman disebut kesalahan berpikir. Guru berdiri tanpa ekspresi. Kapur berderit. Pinyin memenuhi papan tulis, huruf-hurufnya turun pelan ke kepala kami, menutup huruf lama yang dulu kupelajari dari ayah. Ketika bel berbunyi, tak ada yang berubah. Tangisan itu tetap ada, tetapi tak satu pun dari kami berani mengeluarkan suara.

Gresik, 12 Februari 2026

BALUTAN BESI

Sel nomor enam menampung dua puluh delapan orang. Udara berhenti bergerak. Aku tidur di samping toilet; ubin lembap menempel di punggung sampai pagi. Bau pesing tak lagi terasa asing. Kami belajar bernapas pendek agar cukup untuk semua.

Samarkand tidak diam. Ia melempar kasur tipis ke arah penjaga ketika ejekan terlalu sering diulang. Tak ada teriakan panjang. Hanya bunyi kasur jatuh dan tubuh yang segera diseret keluar. Setelah itu, sel menjadi lebih sunyi dari sebelumnya.

Mereka menyebutnya pakaian besi. Logam berat mengikat lengan dan kaki, memaksa tubuh terbuka dan tak bisa dilipat. Dingin merayap pelan ke sendi. Beratnya menekan bahu hingga kepala jatuh ke dada. Dua belas jam terasa seperti batu yang diletakkan sedikit demi sedikit di atas tulang.

Ketika alat itu dilepas, lenganku gemetar tanpa suara. Aku tak lagi menatap mata penjaga. Perintah datang, dan tubuhku bergerak sebelum pikiranku menyusul. Di punggung, bekas gesekan meninggalkan garis gelap yang tak bisa kuusap hilang.

Shiringul, jika suatu hari kau mendengar kabar tentangku, ingatlah bahwa di ruang sempit ini tubuh bisa dijepit dan diluruskan paksa. Namun ada sesuatu yang tetap bersembunyi di balik napas. Mereka menyebut tempat ini sekolah. Di sini, manusia diajari cara berdiri tanpa nama.

Gresik, 12 Februari 2026

.

Penulis: Sholihul Mubarok
Editor: Adnyana Ole

Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Filla Rilis ‘I’m a Fire’, Langkah Baru Tegaskan Energi dan Eksistensi

Next Post

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

Sholihul Mubarok

Sholihul Mubarok

Lahir di Gresik, Jawa Timur, pada 24 Februari 1985. Ia merupakan penyair yang aktif berkarya di ruang sastra digital. Karyanya terhimpun dalam berbagai antologi puisi kolaboratif nasional dan internasional, antara lain Rapsodia dan Elegi Cinta (2021), Melodia Aksara Rindu (2022) bersama penyair Malaysia, serta antologi lintas empat negara Serenade Musim (2025). Selain menulis buku puisi tunggal, ia juga aktif mengikuti kegiatan sastra daring dan menghadirkan karya dalam bentuk musikalisasi puisi melalui kanal YouTube

Related Posts

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
0
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

Read moreDetails

Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

by Wayan Esa Bhaskara
April 18, 2026
0
Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

Irama Nada Hujan aroma tanah selepas hujansisakan nafasnya yang gemetardingin pagikekecewaan yang bersandar yang tak pernah dicapai mataharitak berikan waktu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

by Gus Surya Bharata
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

MESEH LAWANG Nuju dinane anulampahe napak lawangannilar pekaranganngapti segere tan mari lali napak lawangane di arepanggane matureksasungkan tan pasangkanmeduuh aduh...

Read moreDetails

Puisi-puisi Senny Suzanna Alwasilah | Antara Jakarta dan Seoul

by Senny Suzanna Alwasilah
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Senny Suzanna Alwasilah | Antara Jakarta dan Seoul

ANTARA JAKARTA DAN SEOUL Aku tiba di negerimu yang terik di bulan Agustussaat Jakarta telah jauh kutinggalkan dalam larik-larik sajakSejenak...

Read moreDetails

Puisi-puisi Kim Young Soo | Melintasi Langit Kalimantan

by Kim Young Soo
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Kim Young Soo | Melintasi Langit Kalimantan

MELINTASI LANGIT KALIMANTAN Pada puncak antara umur 20-an dan 30-an aku pernah lihatair anak sungai berwarna tanah liat merah mengalir...

Read moreDetails

Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

by Zahra Vatim
April 11, 2026
0
Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

PERAHU KATA Ingin kau tatap ombak dari tepi gunungterlintas segala pelayaran yang usai dan landaidaun kering terpantul cahayabatu pijak dipeluk...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Lagu Terlewat

by Chusmeru
April 10, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Lagu Terlewat

Lagu Terlewat Tak mengapa bila senyum itu bukan untukkuKarena tawa usai berpestaTapi cinta adakah meranaBila setapak pernah bersamaSemai akan tetap...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Di Altar Sucimu, Tuhan

by IBW Widiasa Keniten
April 5, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Di Altar Sucimu, Tuhan

Beri Aku Tuhan beri aku bersimpuh, tuhandi kaki padma sucimu beri aku bersujud, tuhanjiwa raga terselimuti jelaga kehidupan beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Perang Teluk

by Made Bryan Mahararta
April 4, 2026
0
Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Perang Teluk

Perang Teluk Peristiwa penting dalam babak sejarah duniaGeopolitik modern yang tersirat krisis internasionalKonflik regional yang penuh ambisi dan amarahNegara kawasan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Iwan Setiawan | Senja yang Tersesat di Rambut Seorang Perempuan

by Iwan Setiawan
March 28, 2026
0
Puisi-puisi Iwan Setiawan | Senja yang Tersesat di Rambut Seorang Perempuan

SENJA YANG TERSESAT DI RAMBUT SEORANG PEREMPUAN Puisi ini aku dedikasikan untuk Lea Kathe Ritonga di rambutnya, senja tersesat seperti...

Read moreDetails
Next Post
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya
Esai

Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya

TAK dapat dipungkiri lagi bahwa Seba Baduy bukan lagi dimaknai hanya sebagai acara ritual sakral semata, tapi sudah melebihi dari...

by Asep Kurnia
April 27, 2026
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali
Persona

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
Peringatan Hari Tari Sedunia di UPMI: Lomba Tari Bali Jadi Ruang Menjaga Tradisi dan Menggerakkan Generasi
Panggung

Peringatan Hari Tari Sedunia di UPMI: Lomba Tari Bali Jadi Ruang Menjaga Tradisi dan Menggerakkan Generasi

LOMBA Tari Bali yang digelar pada 25–26 April 2026 di Auditorium Redha Gunawan, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI Bali), menjadi...

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan
Esai

Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan

DUNIA mengakui1 April adalah tanggal olok-olok. Orang boleh berbohong pada 1 April yang disebut dengan April Mop. Tidak demikian dengan...

by I Nyoman Tingkat
April 27, 2026
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram
Esai

Masalahnya Bukan Hanya Anggaran

SETIAP kali angka besar muncul di ruang publik, reaksi yang mengikuti hampir selalu serupa, yakni cepat, emosional, dan penuh kecurigaan....

by Isran Kamal
April 27, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

Ketika Orang Bali Terpapar Jadi Pasukan Payuk Jakan & Cicing Borosan

— Catatan Harian Sugi Lanus, 27 April 2027 Lihatlah berbagai kejadian orang Bali cekcok, adu mulut terbuka, saling berhadapan-hadapan, berkelahi...

by Sugi Lanus
April 27, 2026
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta
Esai

Teatrikal Politik Lingkungan di Bali

BALI sedang tidak baik-baik saja. Setidaknya pernyataan tersebut valid dalam perspektif lingkungan. Telah menjadi diskursus publik bahwa Bali saat ini...

by Teddy Chrisprimanata Putra
April 26, 2026
Payung Pantai Menjamur, Pohon Memudar: Menurunnya Keindahan Alam Bali
Esai

Payung Pantai Menjamur, Pohon Memudar: Menurunnya Keindahan Alam Bali

KEDATANGAN wisatawan ke Bali pada dasarnya bukan semata-mata karena hotel mewah, pusat hiburan, atau tempat belanja. Mereka datang karena ingin...

by Nyoman Mariyana
April 26, 2026
Sekolah Siaga Kependudukan, Apa Pula Itu?
Esai

Sekolah Siaga Kependudukan, Apa Pula Itu?

SEKOLAH selalu menjadi objek sosialisasi bagi kesuksesan program pemerintah, baik pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah. Gaungnya makin kencang setelah reformasi...

by I Nyoman Tingkat
April 26, 2026
Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali
Berita

Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali

Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Bali merayakan hari ulang tahun (HUT) ke-9 dengan menggelar serangkaian kegiatan sosial yang menyentuh langsung...

by tatkala
April 25, 2026
Serangga dalam Piring Makan Kita
Kuliner

Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

by Jaswanto
April 25, 2026
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan
Cerpen

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

by Depri Ajopan
April 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co