25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | O Shiringul

Sholihul Mubarok by Sholihul Mubarok
March 21, 2026
in Puisi
Puisi-puisi Sholihul Mubarok  |  O Shiringul

Sholihul Mubarok

O SHIRINGUL

Shiringul, masuk dan duduk dekatku. Namamu bergetar di celah gigi, tertahan di langit-langit mulut. Lantai semen Xinjiang menyedot hangat tubuhmu sampai dasar; dingin menetap di tulang. Bekas kaki itu masih ada, garis kasar dari gang pengap Guangzhou. Di sana tulang mudaku retak tanpa suara. Cairan bening merayap ke urat dan membuat lenganku jinak. Aku terbaring di aspal Tiongkok Selatan, anak tercecer, nomor tanpa riwayat, tubuh yang menunggu diambil.

Tangan berseragam datang dari utara dan memungutku. Aku dibersihkan, dijahit, rambutku dipangkas pendek. Tianjin memberiku ranjang besi yang berderit tiap kali aku membalik badan, lampu putih yang menyala bahkan ketika kelopak mata ingin menutup. Luka dirapatkan, namaku dieja ulang, napasku diselaraskan dengan aba-aba. Aku berdiri di barisan pagi dengan punggung lurus dan rahang terkunci. Di bawah langit itu kau kehilangan panggilan lamamu, Shiringul; huruf-huruf yang dulu kau bisikkan padaku dicabut dari dinding dan diganti huruf lain yang terasa asing di lidah. Orang-orang tua berbicara setengah suara. Lidah mereka bergerak, tetapi bunyi berhenti di tenggorokan.

Aku percaya pada jarum yang menyatukan dagingku. Aku percaya pada tangan yang menahan darahku berhenti. Dari Kazakhstan kubawa debu kerja yang masih menempel di sela kuku. Kupikir tanah akan mengenali berat langkahku dari jauh. Oktober ternyata ruang pemeriksaan dengan meja logam dan kursi plastik yang dingin. Namaku dipanggil, lalu dipatahkan menjadi suku-suku kata yang tidak kukenal. Mataku dihitung. Napasku diukur panjang pendeknya. Ada pintu tanpa gagang di sisi dalam. Ketika aku melangkah melewatinya, suaramu tidak ikut serta; ia tertinggal di luar, menempel pada udara, tak bisa lagi kugigit atau kutelan.

Gresik, 12 Februari 2026

DI BAWAH DENGUNG

Sambutannya kursi besi yang dinginnya merambat ke punggung. Lampu neon menyala tanpa henti. Tujuh puluh dua jam aku duduk; bayanganku hilang dari lantai. Dengung listrik menekan pelipis. Nama Xi Jinping diputar berulang melalui pengeras suara, datar dan keras, masuk ke telinga tanpa jeda. Waktu tidak bergerak; ia menumpuk di tengkuk sampai rahangku kaku.

Perintah turun tanpa wajah. Telapak tanganku dibuka di atas meja logam, keningku ditekan hingga napas memantul kembali ke dada. Doa-doa yang pernah kuhafal diminta keluar satu per satu, ditulis ulang dengan ejaan lain, dikosongkan dari asalnya. Lagu diputar sampai suaraku bergerak tanpa izin. Setiap kelopak mata jatuh, meja diketuk, tubuhku ditegakkan lagi.

Di luar tembok, kabar tentang orang-orang yang hilang beredar singkat lalu padam. Di dalam ruangan ini, identitas kusimpan di balik gigi; lidah belajar diam agar tubuh tetap utuh. Tangan yang dulu terasa mengangkat kini berdiri sebagai pagar besi, rapat dan dingin.

Bantuan mengencang di pergelangan sebagai simpul. Masa lalu dipanggil untuk disangkal. Masa depan digantung di papan tulis bersama jadwal hafalan dan baris-baris janji. Mereka menyebutnya sekolah. Di ruang ini, cahaya jatuh lurus ke lantai tanpa melahirkan bayangan.

Gresik, 11 Februari 2026

O SAMARKAND

Samarkand, kota tua yang jauh dari sini, dengarlah. Dari lantai semen Xinjiang aku mengingatmu. Dingin merambat sampai ke tulang. Bekas kaki masih tertinggal dari gang pengap Guangzhou; di sana tulang mudaku retak tanpa suara, cairan bening mengalir ke urat dan membuat lenganku patuh. Aku tercecer di aspal Tiongkok Selatan sebelum tangan berseragam dari Tianjin memungutku dan menempatkanku di ruang terang yang tak pernah gelap sepenuhnya.

Namaku dirapikan. Rambutku dipotong pendek. Luka dijahit sampai tak terlihat bekasnya. Aku diberi ranjang besi dan jadwal bangun. Nafasku diselaraskan dengan aba-aba. Di dada orang-orang tua, kata Turkistan bergerak pelan lalu berhenti. Huruf lama dicabut dari dinding dan diganti huruf lain yang lebih mudah diatur. Suara-suara merendah, bukan karena lupa, melainkan karena takut didengar.

Aku pernah percaya pada tangan yang mengangkat tubuhku dari jalan. Dari Kazakhstan kubawa debu kerja yang masih menempel di sela kuku. Aku pulang tanpa curiga. Oktober membawaku ke ruang pemeriksaan. Namaku dipecah menjadi suku kata yang asing di telinga sendiri. Mataku dihitung. Napasku diukur. Ada pintu tanpa gagang di sisi dalam. Setelah melewatinya, aku mengerti: kota-kota tua hanya hidup dalam ingatan, sementara tubuh ini berdiri di ruang yang tak memantulkan bayangan.

Gresik, 12 Februari 2026

RUANG TANPA BAYANGAN

Sambutannya kursi besi. Lampu neon menyala tanpa henti. Tujuh puluh dua jam aku duduk; bayanganku hilang dari lantai. Dengung listrik menekan pelipis. Nama Xi Jinping diputar berulang melalui pengeras suara, datar dan keras, masuk ke kepala tanpa celah. Waktu tidak berjalan; ia menumpuk di tengkuk sampai rahangku kaku.

Perintah turun tanpa wajah. Telapak tanganku dibuka di atas meja logam, keningku ditekan sampai napas memantul kembali ke dada. Doa-doa yang kuhafal diminta keluar satu per satu, ditulis ulang dengan ejaan lain. Lagu partai diputar terus-menerus hingga suaraku ikut bergerak tanpa sadar. Setiap kelopak mata jatuh terlalu lama, meja diketuk, tubuhku ditegakkan lagi.

Di luar tembok, nama Ilham Tohti beredar dalam bisik yang cepat padam. Di dalam ruangan ini, identitas kusimpan di balik gigi; lidah belajar menahan bunyi agar tubuh tetap utuh. Tangan yang dulu mengangkatku kini berdiri sebagai pagar besi, rapat dan dingin.

Bantuan mengencang di pergelangan. Masa lalu dipanggil untuk diakui lalu disangkal. Masa depan ditempel di papan tulis bersama jadwal hafalan dan baris-baris janji. Mereka menyebutnya sekolah. Di ruang ini, cahaya jatuh lurus dan tak menghasilkan bayangan.

Gresik, 12 Februari 2026

TANGISAN BISU

Shiringul, fajar di kamp ini pecah oleh rekaman azan. Suaranya bersih, terlalu bersih, keluar dari pengeras suara yang tergantung di sudut atap. Kami berdiri, tak satu pun bergerak. Denyut di leherku terasa keras. Setelah itu, suara bocah Kazakh diputar—ia memanggil ayahnya berulang-ulang sampai suaranya pecah. Tak ada anak di halaman. Tak ada ayah yang menjawab. Di ruangan ini, rindu duduk di dada dan tak bisa ditelan.

Kami dibagi dalam baris-baris tetap: yang dianggap taat, yang dicurigai, yang pernah pergi melintasi negeri. Pukul enam pagi, lagu partai keluar dari sistem suara dan menempel di dinding. Sebelum suapan pertama menyentuh lidah, kami diminta menyebut nama Xi Jinping dengan suara jelas. Nasi di mangkuk mengepul. Tak ada yang berbicara selain instruksi.

Di ruang kelas, lidahku bergerak kaku menghafal kalimat yang bukan milikku. Angka-angka ditulis di papan; agama disebut gangguan, iman disebut kesalahan berpikir. Guru berdiri tanpa ekspresi. Kapur berderit. Pinyin memenuhi papan tulis, huruf-hurufnya turun pelan ke kepala kami, menutup huruf lama yang dulu kupelajari dari ayah. Ketika bel berbunyi, tak ada yang berubah. Tangisan itu tetap ada, tetapi tak satu pun dari kami berani mengeluarkan suara.

Gresik, 12 Februari 2026

BALUTAN BESI

Sel nomor enam menampung dua puluh delapan orang. Udara berhenti bergerak. Aku tidur di samping toilet; ubin lembap menempel di punggung sampai pagi. Bau pesing tak lagi terasa asing. Kami belajar bernapas pendek agar cukup untuk semua.

Samarkand tidak diam. Ia melempar kasur tipis ke arah penjaga ketika ejekan terlalu sering diulang. Tak ada teriakan panjang. Hanya bunyi kasur jatuh dan tubuh yang segera diseret keluar. Setelah itu, sel menjadi lebih sunyi dari sebelumnya.

Mereka menyebutnya pakaian besi. Logam berat mengikat lengan dan kaki, memaksa tubuh terbuka dan tak bisa dilipat. Dingin merayap pelan ke sendi. Beratnya menekan bahu hingga kepala jatuh ke dada. Dua belas jam terasa seperti batu yang diletakkan sedikit demi sedikit di atas tulang.

Ketika alat itu dilepas, lenganku gemetar tanpa suara. Aku tak lagi menatap mata penjaga. Perintah datang, dan tubuhku bergerak sebelum pikiranku menyusul. Di punggung, bekas gesekan meninggalkan garis gelap yang tak bisa kuusap hilang.

Shiringul, jika suatu hari kau mendengar kabar tentangku, ingatlah bahwa di ruang sempit ini tubuh bisa dijepit dan diluruskan paksa. Namun ada sesuatu yang tetap bersembunyi di balik napas. Mereka menyebut tempat ini sekolah. Di sini, manusia diajari cara berdiri tanpa nama.

Gresik, 12 Februari 2026

.

Penulis: Sholihul Mubarok
Editor: Adnyana Ole

Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Filla Rilis ‘I’m a Fire’, Langkah Baru Tegaskan Energi dan Eksistensi

Next Post

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

Sholihul Mubarok

Sholihul Mubarok

Lahir di Gresik, Jawa Timur, pada 24 Februari 1985. Ia merupakan penyair yang aktif berkarya di ruang sastra digital. Karyanya terhimpun dalam berbagai antologi puisi kolaboratif nasional dan internasional, antara lain Rapsodia dan Elegi Cinta (2021), Melodia Aksara Rindu (2022) bersama penyair Malaysia, serta antologi lintas empat negara Serenade Musim (2025). Selain menulis buku puisi tunggal, ia juga aktif mengikuti kegiatan sastra daring dan menghadirkan karya dalam bentuk musikalisasi puisi melalui kanal YouTube

Related Posts

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
0
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
0
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails
Next Post
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co