MENJELANG magrib selama bulan Ramadan, pelataran Masjid Bukit Palma, Surabaya, berubah menjadi ruang perjumpaan. Orang-orang berdatangan dari berbagai arah: sebagian duduk bersila di atas terpal yang digelar di halaman, sebagian lain memilih berdiam di dalam masjid sambil menyimak kajian. Udara sore membawa aroma makanan yang perlahan menyeruak dari meja-meja panjang di dekat area parkir. Di sana, piring-piring berisi nasi rawon daging mulai disusun rapi oleh panitia.
Hari itu, Rabu, 11 Maret 2026, Ustaz Ditra Ayi Kurniawan tengah menyampaikan ceramah menjelang berbuka. Materinya tentang zakat fitrah dan zakat mal—tema yang terasa akrab sekaligus mendesak setiap Ramadan tiba. Jamaah mendengarkan dengan khidmat, sementara di luar, panitia bergerak cepat menyiapkan hidangan.
“Ini sedang menyiapkan buka puasa,” ujar seorang takmir masjid sambil menata piring-piring makanan. Bapak tua bersarung itu tampak sibuk, dibantu beberapa pemuda masjid yang lalu-lalang membawa wadah makanan.

Di sisi lain, panitia perempuan menyiapkan takjil: kurma, kue, es teh, dan gorengan. Satu per satu nampan diisi, disusun, lalu dipindahkan ke meja saji. Jumlah jamaah terus bertambah. Masjid yang tidak terlalu besar itu terasa penuh. Ratusan orang duduk tertib menunggu azan magrib.
Sesaat sebelum matahari tenggelam, suara muazin mengumandangkan takbir. Ceramah ditutup. Para jamaah mengangkat tangan, mengucapkan tahmid, lalu meneguk air dan es teh yang telah disediakan. Kurma, kue, dan gorengan segera berpindah tangan. Anak-anak tampak paling riang—berebut tempat duduk, bercanda dengan teman-temannya, dan menyantap takjil dengan wajah cerah.
Suasana benar-benar semarak. Program yang dinamai Gubukan Semarak Ramadan 1447 H itu tampaknya memang dimaksudkan untuk menghadirkan kebahagiaan sederhana di bulan suci—memberikan ruang berbuka bersama bagi siapa saja yang datang, tanpa syarat.

Di antara para jamaah yang baru saja menghabiskan seporsi nasi rawon daging, seorang pemuda bernama Muhammad Fairuz Maulana Azara Insan Putra bercerita tentang awal mula program ini.
“Ini sudah yang keempat kalinya, Mas,” ujar Fairuz seusai makan. Wakil Pemuda Masjid Bukit Palma itu menjelaskan bahwa program Gubukan dimulai sejak 2023, tak lama setelah masa pandemi Covid-19 mereda. “Setelah covid,” tambahnya singkat.
Bagi pengurus masjid, pandemi meninggalkan banyak pelajaran. Salah satunya tentang pentingnya solidaritas sosial. Banyak orang kehilangan pekerjaan, banyak pula yang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dari situ muncul gagasan sederhana: menjadikan masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga ruang berbagi.
Hal itu dibenarkan oleh Wijayanti, koordinator takjil dalam program tersebut. Perempuan yang akrab dipanggil Wiwit itu mengenang bahwa sebelum pandemi, kegiatan Ramadan di masjid ini relatif sederhana.
“Dulu cuma bagi-bagi takjil saja seperti masjid pada umumnya,” katanya. “Belum ada hidangan khusus.”
Barulah pada 2023 pengurus masjid memutuskan menyediakan menu berbuka lengkap. Awalnya program itu masih terbatas.
“Awalnya seminggu hanya dua kali. Hari Rabu dan Sabtu saja. Tapi mulai tahun ini sudah tiga kali dalam seminggu: Sabtu, Senin, dan Rabu,” terang Wiwit. “Dan tidak hanya berbuka, kami juga menyediakan sahur gratis mulai malam ke dua puluh,” sambungnya.

Perubahan kecil itu ternyata membawa dampak besar. Jamaah semakin banyak yang datang. Bukan hanya warga sekitar, tetapi juga orang-orang yang kebetulan melintas.
Menu yang disajikan pun beragam. Selama Ramadan, panitia menyiapkan setidaknya delapan jenis hidangan: nasi rawon, mie ayam, sayur asem, kare ayam, bakso, soto daging, sup ayam, dan soto ayam. Menu-menu itu disajikan secara bergiliran setiap pekan.
Hari Sabtu, misalnya, jamaah bisa menikmati sayur asem. Senin giliran mie ayam. Sementara Rabu seperti hari itu: nasi rawon yang hangat dan gurih.
Bagi sebagian orang, hidangan tersebut mungkin terasa biasa. Namun bagi mereka yang berbuka setelah seharian bekerja di jalanan—seperti pengemudi ojek online atau pekerja informal—seporsi makanan hangat sering kali menjadi kemewahan kecil yang sangat berarti. Di sinilah program Gubukan menemukan maknanya.
“Kami membayar vendor makanan, Mas. Vendornya ya jamaah masjid sendiri,” kata Wiwit. “Kalau mie ayam atau bakso, kami pesan ke warung yang ada di sekitar masjid.”
Model ini sengaja dipilih. Selain memudahkan koordinasi, cara tersebut juga memberi manfaat ekonomi bagi warga sekitar.
“Ini salah satu bentuk menyejahterakan jamaah masjid dan umat di sekitarnya,” lanjut Wiwit dengan nada bersemangat.

Dengan kata lain, kegiatan berbuka gratis itu tidak hanya soal memberi makan. Ia juga menjadi cara menggerakkan ekonomi kecil di lingkungan sekitar masjid.
Di banyak tempat, masjid sering dipandang sebatas ruang ritual. Namun di Masjid Bukit Palma, peran itu diperluas. Masjid menjadi titik temu berbagai kegiatan sosial: dari kajian keagamaan, penggalangan dana umat, hingga program pemberdayaan ekonomi sederhana seperti ini.
Pendanaan kegiatan tersebut datang dari berbagai sumber. Panitia mendapat dukungan dari beberapa sponsor, mulai dari perusahaan air minum kemasan hingga lembaga perbankan.
“Kami memang mengajukan proposal ke sana,” ujar Wiwit. “Ada beberapa jamaah yang bekerja di beberapa perusahaan tersebut. Jadi itu lumayan mempermudah prosesnya.”
Selain sponsor, sumbangan jamaah juga mengalir. Ada yang memberi uang, ada pula yang menyumbang bahan makanan atau tenaga. Kolaborasi semacam itu membuat program Gubukan terus bertahan dari tahun ke tahun.
Namun nilai terpenting dari kegiatan ini mungkin bukan sekadar jumlah makanan yang dibagikan. Lebih dari itu, ia membangun rasa kebersamaan—sesuatu yang semakin langka di kota besar.
Setiap sore Ramadan, orang-orang dengan latar belakang berbeda duduk berdampingan di halaman masjid. Ada warga perumahan, pekerja kantoran, pedagang kecil, hingga pengemudi ojek online yang kebetulan singgah.
Mereka berbuka di tempat yang sama, menikmati makanan yang sama, dan mendengar azan yang sama. Beberapa pengemudi ojek online bahkan sudah hafal jadwalnya.
“Sering ada driver ojol yang mampir,” kata Fairuz. “Kalau pas lewat dan belum sempat berbuka di rumah, mereka bisa makan di sini.” Bagi mereka, masjid itu bukan sekadar tempat ibadah. Ia juga menjadi tempat beristirahat, mengisi tenaga, dan bertemu sesama.
Di tengah riuh kota Surabaya, kegiatan kecil seperti ini mungkin tidak selalu terlihat. Namun bagi mereka yang mengalaminya, Gubukan Semarak Ramadan menghadirkan sesuatu yang sederhana sekaligus penting: rasa diterima.
Ketika azan magrib berkumandang dan orang-orang mulai makan bersama, batas-batas sosial yang biasanya memisahkan terasa mengendur. Tidak ada lagi perbedaan status atau profesi. Yang ada hanya orang-orang yang sedang berbuka setelah menahan lapar seharian.
Di situlah, mungkin, makna masjid sebagai pusat kehidupan umat kembali terasa hidup. Bukan hanya tempat bersujud, tetapi juga tempat berbagi.[T]
Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole




























