25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lakon “Lobi Pedidian” Bali di Pusat —Catatan Tentang Lobi Bali Terkini

I Gede Joni Suhartawan by I Gede Joni Suhartawan
March 9, 2026
in Opini
Lakon “Lobi Pedidian” Bali di Pusat —Catatan Tentang Lobi Bali Terkini

Gubernur Bali Wayan Koster

ADA nada genting yang terselip dalam pernyataan Gubernur Bali Wayan Koster belakangan ini. Saat ia meminta para wakil Bali di Senayan—baik DPD maupun DPR RI—untuk lebih “ribut” di Jakarta ketimbang sibuk “ngubeg-ubeg” urusan domestik di daerah, kita sejatinya sedang melihat sebuah potret berantakannya Bali dalam soal lobi “nasib”nya di Pusat “Wilwatikta”  NKRI.

Rupanya Koster, di tengah riuh rendahnya persoalan sampah yang menggunung, banjir yang mengepung, dan infrastruktur pariwisata yang mulai megap-megap, mendapatkan dirinya seolah sedang berjalan “pedidian” —sendirian. Betulkah?

Senator Arya Wedakarna berusaha bijak menanggapinya, normatif dan sayangnya tidak pada pokok persoalan lobi Bali di pusat. Yang menarik justru hal itu muncul dari seorang wakil daerah lain, dari Dapil Maluku Utara (!), Irene Yusiana Roba Putri, anggota Komisi I DPR RI yang “speak out” mendorong Pusat untuk memberi bantuan bagi Bali karena kontribusinya yang besar terhadap pariwisata nasional, namun rakyatnya dinilai belum terlindungi penuh atau membutuhkan dukungan pemulihan lebih lanjut.

Bali, dalam peta ekonomi nasional, adalah “anak emas” yang rajin menyetor pundi-pundi devisa. Namun, dalam urusan pembagian “dum-duman” dari pusat, kita seringkali hanya mendapat remah-remah yang harus diperebutkan dengan sikut-sikutan yang melelahkan. Di sinilah letak ironinya: kita punya pemain musik yang hebat, tapi kita kehilangan dirigen. Kita punya suara di pusat, tapi kita kehilangan orkestrasi suara itu.

Diplomasi Rebung dan Mentalitas “Meju di Paon”

Selama ini, lobi Bali di Jakarta, mohon maaf hanya sebatas catatan saya,  seringkali bersifat sporadis. Para wakil kita bergerak sendiri-sendiri, membawa agenda partainya masing-masing, atau mungkin lebih sibuk membangun citra diri individualnya untuk periode berikutnya.

Akibatnya, suara Bali di pusat terdengar seperti suara “kaset” yang terputus-putus, tidak menjadi sebuah simfoni yang mampu menggetarkan meja kekuasaan di Kementerian, sekalipun bahkan sedang memiliki seorang wamen di sana.

Fenomena “ngubeg-ubeg” daerah yang dikeluhkan Koster mungkin cermin dari mentalitas  “meju di paon”—ribut di dapur sendiri, tapi bungkam di depan tamu. Padahal, persoalan Bali hari ini bukan lagi soal kekurangan ide di tingkat lokal, melainkan kekurangan amunisi finansial. Sampah di Suwung tidak bisa selesai hanya dengan rapat koordinasi di Renon; ia butuh teknologi dan investasi besar yang hanya mungkin terwujud jika lobi Bali di pusat mampu mengetuk pintu APBN dengan kepalan tangan yang kompak.

Mengapa Lobi Harus Orkestrasi?

Memperjuangkan alokasi dana yang adil bagi Bali bukan sekadar meminta “jatah preman”. Ini adalah soal keadilan bagi daerah yang telah memberikan paru-parunya untuk pariwisata nasional. Tanpa orkestrasi yang sistematis antara Gubernur, Bupati/Walikota, hingga sembilan anggota DPR dan empat anggota DPD, Bali akan terus berada dalam posisi “mengemis” di rumah sendiri.

Orkestrasi lobi ini, berdasarkan “dalil” umum komunikasi politik daerah-pusat, juga sebatas yang saya baca, memerlukan tiga instrumen utama:

1. Satu Data, Satu Suara: mewaspadai terjebak pada ego sektoral. Jika isu utamanya adalah banjir dan sampah, maka seluruh wakil Bali harus bicara nada yang sama di setiap komisi yang mereka duduki.

2. Lobi Berbasis Kontribusi: Bali harus berani menagih “dividen” atas kontribusi devisa pariwisata. Bali bukan meminta sedekah, tapi meminta hak untuk merawat aset negara yang ada di pundaknya.

3. Ketegasan Kolektif: “Ribut” di Jakarta bukan berarti membuat kegaduhan tanpa makna, melainkan melakukan tekanan politik yang sistematis dan terukur.

Mungkinkah 3 dalil umum ini bisa diejawantahkan ke dalam Strategi “Ngrombo” Politik untuk Bali?

Di Bali, kita mengenal konsep “Ngrombo”—gotong royong berskala besar untuk menuntaskan pekerjaan berat. Namun, mengapa dalam urusan menjemput hak Bali di pusat, semangat ngrombo  ini justru menguap dan berganti menjadi laku “pedidian-pedidian” (berjalan sendiri-sendiri, sendirian berjalan!)

Misteri Jarak Bale Banjar ke Senayan: elit yang gamang

Secara sosiologis, sepertinya ada diskoneksi antara mandat yang diberikan di tingkat banjar dengan artikulasi politik di Jakarta. Para wakil kita seringkali terjebak dalam “labirin birokrasi partai” yang membuat mereka lebih tunduk pada titah ketua umum ketimbang jeritan warga yang rumahnya terendam banjir atau pura yang terancam sampah. Atau yang lebih parah lebih tunduk kepada “labirin kepentingan ego-individual”?

Rakyat Bali memilih mereka dengan harapan ada pembelaan, bukan sekadar kehadiran di baliho setiap lima tahun. Ketika isu sampah dan infrastruktur pariwisata mencuat, rakyat melihat para wakil ini seperti penonton di tribun: melihat, berkomentar, saling ledek, tapi tidak turun bersama ke lapangan untuk merebut bola anggaran. Inilah yang menyebabkan munculnya apatisme sosiologis—perasaan bahwa “siapa pun wakilnya, siapapun pemimpinnya, Bali tetap begini saja.”

Penutup: Kembali ke Gamelan!

Dalam filosofi gamelan Bali, keindahan tidak lahir dari siapa yang paling keras memukul ceng-ceng, tapi dari bagaimana setiap instrumen saling mengisi pada ketukan yang tepat. Jika para elit Bali terus berjalan “pedidian”, maka Bali hanya akan menjadi “adik bungsu duduk manis” menonton bagi kemajuannya sendiri yang perlahan terkikis oleh masalah lingkungan yang tak kunjung usai, dan yang pemainnya adalah “kakak-kakak” di pusat.

Sudah saatnya kita berhenti menjadi solois yang haus tepuk tangan di daerah, dan mulai menjadi bagian dari orkestra besar yang mampu meruntuhkan dinding “keangkuhan” pusat. Jika tidak, jangan salahkan rakyat jika suatu saat nanti mereka merasa bahwa memiliki wakil di Jakarta maupun memilki Kepala Daerah,  tak ada bedanya dengan memiliki patung: ada, tapi membisu. Perlu gerakan lebih atau setidaknya setara seperti semangat kita ketika sedang upacara “napak pertiwi” di Pura-Pura. Mungkin. [T]

Jakarta, 9/3/26

Penulis: I Gede Joni Suhartawan
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliDPRGubernur BaliPariwisataWayan Koster
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Para Bocah Mengarak Ogoh-Ogoh di Kasanga Festival 2026

Next Post

MEMAHAMI KAWITAN DAN PITARA: Antara Atma yang Universal dan Jiwa yang Personal  — [Bagian 1]

I Gede Joni Suhartawan

I Gede Joni Suhartawan

Penulis tinggal di Prambanan Klaten Jawa Tengah. Pernah bekerja di SCTV dan pernah menjadi Head of Production Creative Development Center di Trans Corp (TransTV and Trans|7)

Related Posts

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

Read moreDetails

Tanah Dijual, Adat Ditinggal —Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MASYARAKAT Bali sejatinya tidak kekurangan aturan untuk menjaga tanahnya yang kerap diuji , justru adalah keteguhan untuk mempertahankannya. Di tengah...

Read moreDetails

BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

by I Gede Joni Suhartawan
April 13, 2026
0
BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

BEGINILAH sebuah paradoks yang dilakoni Bali ketika berada di jagat politik anggaran Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta: Bali adalah si...

Read moreDetails

BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

by I Gede Joni Suhartawan
April 12, 2026
0
BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

BELAKANGAN ini, wajah politik di Bali tampak tidak sedang baik-baik saja. Jika kita jeli membaca arah angin dari Jakarta, ada...

Read moreDetails

Singkong dan Dosa Orde Baru

by Jaswanto
April 9, 2026
0
Singkong dan Dosa Orde Baru

RASANYA gurih, meski hanya dibubuhi garam. Teksturnya lembut sekaligus sedikit lengket di lidah. Tampilannya sederhana saja, mencerminkan masyarakat yang mengolah...

Read moreDetails

Rekonstruksi Status Tanah ‘Ex Eigendom Verponding’: Antara Legalitas Formal dan Penguasaan Fisik dalam Perspektif Keadilan Agraria

by I Made Pria Dharsana
April 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH bekas hak barat berupa eigendom verponding menyisakan persoalan hukum yang tidak pernah sepenuhnya selesai sejak berlakunya Undang-Undang Pokok Agraria....

Read moreDetails

Notaris di Ujung Integritas: Ketika Etika Gagal Menyelamatkan Moral

by I Made Pria Dharsana
April 5, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Kepercayaan publik terhadap notaris tidak runtuh dalam satu peristiwa besar, ia retak perlahan, dari satu kompromi kecil ke kompromi berikutnya....

Read moreDetails

Cybernotary, UUJN, dan UU ITE 2025:  Payung Hukum Ada, Notaris Masih di Persimpangan Digital

by I Made Pria Dharsana
April 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TRANSFORMASI digital telah mengguncang hampir seluruh praktik hukum di Indonesia, termasuk jabatan notaris. Konsep cybernotary kini bukan sekadar wacana akademik,...

Read moreDetails

Bunga, Denda, dan Moralitas Kreditur: Ketika Kontrak Menjadi Alat Tekanan

by I Made Pria Dharsana
March 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Ada satu pertanyaan yang jarang disentuh secara jujur dalam praktik perbankan: apakah kreditur selalu berada dalam posisi beritikad baik, bahkan...

Read moreDetails

Bali: Destinasi Wisata Dunia atau Simpul Energi Nasional? —Sebuah Persimpangan Peradaban

by I Made Pria Dharsana
March 25, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PULAU Bali hari ini tidak sekadar berdiri sebagai ruang geografis, tetapi sebagai simbol. Ia adalah representasi wajah Indonesia di mata...

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

MEMAHAMI KAWITAN DAN PITARA: Antara Atma yang Universal dan Jiwa yang Personal  -- [Bagian 1]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co