HARI itu, Minggu pagi, 8 Maret 2026, langkah-langkah kecil berbaris rapi. Lapangan Puputan Badung, Denpasar berubah menjadi arena budaya yang riuh oleh tawa dan semangat anak-anak. Ratusan siswa taman kanak-kanak (TK) dari berbagai penjuru Kota Denpasar berkumpul untuk mengikuti parade ogoh-ogoh. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Kasanga Festival 2026.
Anak-anak itu tampil mengenakan busana adat Bali. Sebagian menggotong ogoh-ogoh kecil dengan berbagai bentuk dan karakter, sementara yang lain mengiringi dari belakang. Meski ukuran ogoh-ogoh yang mereka arak lebih kecil dari biasanya, semangat yang mereka tunjukkan tidak kalah besar.
Barisan demi barisan berjalan perlahan di tengah sorak penonton dan orang tua yang mengabadikan momen lewat telepon genggam. Suasana semakin semarak ketika iringan gamelan Bali sederhana dimainkan secara langsung oleh anak-anak.

Tak sekadar berparade, setiap kelompok juga menampilkan fragmen cerita yang disesuaikan dengan karakter ogoh-ogoh yang mereka bawakan. Gerak-gerik kecil yang masih kaku justru menghadirkan daya tarik tersendiri, memperlihatkan bagaimana tradisi besar diwariskan sedari dini.
Ketua Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Indonesia-Persatuan Guru Republik Indonesia (IGTKI-PGRI) Kota Denpasar, Ni Nyoman Puspitawati, menjelaskan bahwa parade ini menghadirkan delapan ogoh-ogoh yang dibawakan oleh anak-anak TK, serta dua ogoh-ogoh yang ditampilkan oleh siswa disabilitas.
“Ogoh-ogoh tersebut dibagi ke dalam dua tim besar. Masing-masing tim terdiri dari sekitar 60 peserta yang mendapatkan kesempatan tampil sekitar 10 menit untuk memperlihatkan ogoh-ogoh serta atraksi seni yang telah dipersiapkan,” tuturnya.

Persiapan untuk tampil hari itu pun ternyata tidak singkat. Menurut Puspitawati, para peserta telah menjalani latihan intensif selama kurang lebih satu bulan. Anak-anak dilatih tidak hanya untuk mengarak ogoh-ogoh, tetapi juga menampilkan fragmentari dan memainkan gamelan sederhana yang menjadi bagian dari pertunjukan.
Di balik parade tersebut, para guru dan orang tua juga turut ambil bagian dalam proses kreatif. Mereka membantu anak-anak menyiapkan kostum, merancang ogoh-ogoh, hingga mendampingi selama latihan.
Bagi Pemerintah Kota Denpasar, kegiatan ini bukan sekadar tontonan budaya. Bunda PAUD Kota Denpasar, Sagung Antari Jaya Negara, menyampaikan apresiasi kepada IGTKI-PGRI Kota Denpasar yang telah berpartisipasi meramaikan Kasanga Festival melalui parade tersebut.
Ia menilai keterlibatan anak-anak dalam kegiatan budaya seperti ini menjadi langkah penting untuk memperkenalkan tradisi Bali sejak usia dini. Melalui pengalaman langsung, anak-anak tidak hanya mengenal bentuk ogoh-ogoh, tetapi juga memahami makna yang terkandung di dalamnya.
“Kegiatan ini menjadi ruang edukasi budaya yang menyenangkan, kreatif, dan sarat nilai tradisi Bali,” ujarnya.

Menurut Sagung Antari, kegiatan ini sekaligus menjadi sarana bagi anak-anak untuk menumbuhkan keberanian tampil di depan publik serta mengekspresikan kreativitas mereka melalui seni budaya. Baginya, nilai-nilai tersebut penting ditanamkan sejak awal sebagai bekal generasi penerus.
Parade ogoh-ogoh IGTKI pagi itu pun berakhir dengan sorak sorai dan tepuk tangan panjang pengunjung. Di tengah panas matahari yang mulai meninggi, anak-anak tetap tersenyum bangga. Di pundak mereka, ogoh-ogoh itu mungkin ringan. Namun di baliknya, tersimpan harapan besar: tradisi Bali terus hidup dari generasi ke generasi.
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole
BACA JUGA:



























