24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
March 8, 2026
in Tualang
Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

Kaliurang, 1982 (Penulis nomor 4 dari kiri, duduk di atas)

DESEMBER 1982, kami baru naik kelas dua SMA. Umur masih belasan, dada penuh angin, kepala penuh peta yang belum tentu benar. Kota Tangerang waktu itu belum seramai hari ini, Pasar Anyar masih menjadi simpul pertemuan segala kemungkinan. Dari situlah petualangan dimulai.

Kami bertujuh: Saya, Hakim, Rohidi, Gan-Gan, Taufik, Agus Sting, dan Imron (alm) Nama-nama itu, kini mungkin telah menjadi bapak-bapak, dan kakek-kakek dengan rutinitas masing-masing, tetapi pada Desember itu kami hanyalah anak-anak remaja dengan tas ransel tipis dan uang pas-pasan. Bekal kami lebih banyak nekat daripada logistik.

Truk yang kami tumpangi baru saja selesai bongkar muatan di Pasar Anyar. Tanpa banyak tanya, sopir mengangguk ketika kami minta ikut sampai Stasiun Kota Beos, Jakarta. Kami naik ke bak belakang. Bau sayur sisa dan debu bercampur udara pagi. Angin menampar wajah, tapi hati kami hangat oleh kegembiraan yang belum teruji.

Di Stasiun Kota, kami membeli tiket KA Gaya Baru jurusan Jakarta–Surabaya. Harga tiketnya Rp 2.700. Kami merasa sudah seperti penjelajah dunia.

Kereta bergerak menuju Gambir. Sekitar pukul 16.15, ia benar-benar lepas dari stasiun. Jangan bayangkan kenyamanan kereta hari ini. Tahun 1982, perjalanan kereta adalah peristiwa sosial yang liar dan nyaris tak teratur. Penumpang naik-turun sesuka hati. Banyak yang tanpa tiket. Di setiap stasiun kecil, kereta berhenti lama, dan setiap kali berhenti, kami berseloroh, “Turun satu, naik sepuluh!” Gerbong semakin penuh. Pengap, panas, bau keringat bercampur asap rokok kretek.

Di Cirebon dan Purwokerto kereta berhenti cukup lama. Kami turun sekadar meregangkan kaki, lalu berdesakan kembali. Malam memanjang tanpa pendingin udara selain angin yang masuk dari jendela terbuka. Kami bergantian duduk dan berdiri. Tetapi anehnya, di tengah segala ketidaknyamanan itu, ada rasa merdeka yang tak bisa dibeli. Kami merasa hidup.

Barangkali inilah yang dimaksud Søren Kierkegaard ketika mengatakan, bahwa hidup harus dijalani ke depan, meski hanya bisa dipahami ke belakang. Saat itu kami tidak tahu apa arti perjalanan ini. Kami hanya menjalaninya.

Jembatan Muntilan, Perbatasan Yogya – Magelang, 1982 | Foto: Dok. Ahmad Sihabudin

Pukul 08.30 pagi, hampir enam belas setengah jam sejak Gambir, kami tiba di Stasiun Tugu Yogyakarta. Kami turun dengan tubuh lelah dan jiwa bergetar. Untuk pertama kalinya kami menjejak kota yang namanya sering kami dengar dalam buku sejarah dan cerita guru.

Tujuan kami: Kaliurang. Kami ingin berkemah sambil menunggu Kirab Sekaten, seingat saya, akan berlangsung pada minggu ketiga Desember. Di Kaliurang masih ada kolam renang Tlogo Putri. Hujan turun hampir terus-menerus. Tenda yang kami bayangkan gagah justru menjadi basah dan tak bersahabat. Akhirnya teras sekitar lokasi itu menjadi tempat berteduh dan “penginapan” darurat kami.

Dua malam di Kaliurang lebih banyak diisi dengan duduk di warung-warung kecil. Ketan bakar ”Jaddah” makanan khas Yogja, pisang goreng, teh panas mengepul. Uapnya menyatu dengan kabut gunung.

Di sela kabut dan teh panas, kami berbicara tentang masa depan seolah-olah ia pasti datang sesuai rencana. Padahal hidup, seperti kata Albert Camus, sering kali absurd, tidak selalu sesuai harapan, tidak selalu masuk akal. Namun justru dalam ketidakpastian itulah manusia menemukan makna. Kami tidak punya uang banyak. Kami tidak punya rencana matang. Tapi kami punya keputusan: tetap berjalan.

Muntilan, 1982 | Foto; Dok. Ahmad Sihabudin

Dari Kaliurang kami turun ke kota Yogyakarta. Losmen penuh. Musim liburan membuat kota sesak. Uang kami pun tidak cukup untuk bersaing dengan wisatawan lain. Entah bagaimana ceritanya, kami akhirnya diperbolehkan menginap di aula Polresta Yogyakarta. Ternyata bukan hanya kami. Banyak remaja sebaya dari berbagai kota di Jawa yang juga “mengandalkan keberanian” dan sisa uang receh.

Aula itu menjadi asrama sementara generasi petualang murah-meriah. Tas jadi bantal. Jaket jadi selimut. Malam-malam kami penuh cerita. Ada yang dari Surabaya, ada dari Tegal, ada dari Solo. Semua datang dengan alasan yang hampir sama: ingin melihat dunia sebelum dewasa membatasi langkah.

  ***

Jean-Paul Sartre pernah berkata, “Man is condemned to be free.” Manusia dikutuk untuk bebas. Kebebasan itu bukan kenyamanan; ia adalah tanggung jawab atas pilihan. Kami memilih berangkat. Kami memilih bertahan ketika hujan turun. Kami memilih tidur di lantai aula. Tidak ada yang memaksa. Semua adalah konsekuensi dari kebebasan kami sendiri.

Kami mengunjungi Keraton Yogyakarta. Melihat Kirab Sekaten dengan mata tak berkedip. Ada gamelan, ada barisan prajurit keraton, ada tradisi yang terasa lebih tua dari usia republik. Kami berdiri di antara kerumunan, merasa kecil sekaligus menjadi bagian dari sejarah yang bergerak pelan.

Di situ saya teringat pada Martin Heidegger: manusia adalah Dasein, makhluk yang “ada-di-dunia”, terlempar ke dalam sejarah dan waktu yang lebih besar dari dirinya. Kami, Tujuh remaja dari Tangerang, berdiri di tengah sejarah Mataram, di antara jejak kerajaan dan doa-doa masa lalu. Kami sadar meski samar, bahwa hidup bukan hanya milik generasi kami.

Esoknya kami menuju Magelang. Naik bus Yogya–Muntilan dengan tarif Rp 350. Borobudur memanggil. Sesampainya di sana, losmen lagi-lagi penuh, atau mungkin menolak kami karena penampilan yang kusut, rambut acak-acakan, sepatu ”deukil”, sandal tipis, dan wajah lelah.

Malam itu kami tidur di Terminal Borobudur. Kami menyewa kardus dari pemulung sebagai alas. Hujan kembali turun. Angin menembus sela-sela pakaian. Tetapi anehnya, di bawah atap terminal yang dingin itu, kami justru merasa sangat hidup,  di  bawah atap terminal itu, saya merasakan sesuatu yang tak pernah saya rasakan di kamar tidur rumah sendiri: kesadaran bahwa hidup tidak selalu ramah, tetapi selalu mungkin dijalani.

Pagi harinya kami naik ke Candi Borobudur. Tangga-tangga batu itu seperti menuntun kami menaiki usia. Kami berfoto dengan kamera sederhana, mungkin dengan gaya yang hari ini terasa lucu. Tapi bagi kami, berdiri di salah satu keajaiban dunia adalah kemenangan kecil atas keterbatasan. Mengamati relief bergaya ”Indiana Jones” arkeolog. Relief-relief itu mengisahkan perjalanan jiwa menuju pencerahan. Tanpa kami sadari, perjalanan kami sendiri adalah versi kecil dari itu, dari ketidaktahuan menuju pengalaman.

Friedrich Nietzsche pernah menulis, “Barangsiapa memiliki alasan untuk hidup, ia akan sanggup menanggung hampir segalanya bagaimanapun sulitnya kehidupan.” Alasan kami mungkin sederhana: ingin melihat dunia. Tapi alasan sederhana itu cukup membuat kami tahan panas, hujan, dan lapar.

Kami kembali ke Yogyakarta. Menyusuri Malioboro siang dan malam. Makan seadanya: gudeg, nasi kucing, es teh murah meriah. “Hotel” kami tetap aula Polresta. Pulang larut, tidur pulas, bangun dengan badan pegal tetapi hati penuh.

***

Dua malam di Kaliurang, dua malam di Yogyakarta, satu malam di Borobudur, cukup sudah. Kami memutuskan pulang. Namun kepulangan pun tidak lurus.

Di Stasiun Tugu kami membeli tiket hanya sampai Banjar. Skenario berubah: kami ingin melihat Pangandaran, Tasikmalaya, dan dampak letusan Gunung Galunggung yang saat itu masih menyisakan cerita.

Dua hari kami berkelana lagi. Uang makin menipis. Makan harus dihemat. Akhirnya kami kembali pada prinsip awal: yang penting bergerak mendekati Tangerang.

Dari Tasikmalaya kami menumpang truk box sampai Terminal Cicaheum Bandung. Malam hampir pukul 23:00 WIB. Kami tidur di teras sebuah rumah besar. Penghuninya berbaik hati mengizinkan kami merebahkan badan di sana. Subuh pukul 05.30 kami pamit setelah salat.

Dari Cicaheum naik Damri ke Cibeureum. Jalan kaki menuju Cimahi. Dari pasar Cimahi kami mencari truk kosong ke arah Jakarta. Dapat sampai Rajamandala. Dari Rajamandala menumpang lagi ke Sukabumi. Dari Pasar Sukabumi kami mendapat tumpangan truk yang baru bongkar muatan, alhamdulillah sampai Cawang, dekat kampus UKI.

Dari sana kami naik bus tingkat PPD jurusan Cililitan–Kalideres. Dari Kalideres naik angkot menuju Tangerang. Ketika akhirnya kami tiba, rasanya seperti pulang dari ekspedisi panjang. Tak ada sambutan meriah, tak ada upacara. Hanya langkah kaki yang kembali menjejak kota sendiri. Alhamdulillah kami selamat.

Jika saya renungkan kini, perjalanan itu adalah pelajaran tentang solidaritas dan kebaikan anonim. Emmanuel Levinas mengatakan, bahwa etika lahir dari perjumpaan dengan “wajah yang lain.” Kami bertemu banyak wajah: sopir truk, pemilik rumah, pemulung, polisi, pedagang kecil. Tanpa mereka, perjalanan kami mungkin berhenti di tengah jalan. Kami belajar bahwa manusia hidup bukan hanya oleh rencana, tetapi oleh kemurahan orang lain.

Kini, ketika kenyamanan transportasi jauh lebih baik, saya sering bertanya: apakah generasi hari ini masih punya ruang untuk mengalami “ketersesatan” yang membentuk karakter?

Pelataran Borobudur, 1982 | Foto; Dok. Ahmad Sihabudin

Perjalanan Desember 1982 itu bukan sekadar nostalgia. Ia adalah momen ketika kami belajar tentang kebebasan, tanggung jawab, keterlemparan dalam sejarah, absurditas hidup, dan makna solidaritas, tanpa membaca buku filsafatnya terlebih dahulu. Filsafat datang belakangan, memberi nama pada pengalaman yang sudah kami jalani.

Kierkegaard benar: hidup dipahami ke belakang. Dan ketika saya menoleh ke Desember itu, saya tahu, kami pulang bukan hanya membawa cerita, tetapi membawa diri yang telah sedikit berubah. Kami berangkat sebagai anak-anak yang ingin jalan-jalan. Kami pulang sebagai remaja yang diam-diam telah belajar menjadi manusia.

Kami belajar bahwa dunia luas, tetapi kebaikan orang-orang kecil membuatnya terasa dekat. Kami belajar bahwa uang bisa habis, tetapi keberanian sering kali membuka jalan. Kami belajar bahwa tidur di terminal atau teras rumah orang asing tidak selalu berarti hina—kadang justru di situlah kemanusiaan terasa paling nyata.

Desember itu mungkin telah lama selesai di kalender. Namun dalam kepala dan hati saya, ia tak pernah benar-benar usai. Ia tetap hidup sebagai kisah Tujuh remaja dari Tangerang yang menaklukkan Jawa bukan dengan kemewahan, melainkan dengan tekad, tawa, dan keyakinan sederhana: selama kita bergerak, kita sedang belajar menjadi manusia. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: catatan perjalanannostalgianostalgia mahasiswa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sugianto Membongkar Bali

Next Post

Keseimbangan Rasio dan Rasa

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
0
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

Read moreDetails

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
0
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

Read moreDetails

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

by Ahmad Sihabudin
July 27, 2026
0
Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

"Perjalanan yang baik bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Ia memindahkan cara pandang kita terhadap kehidupan."...

Read moreDetails

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

by Chusmeru
July 13, 2026
0
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

Read moreDetails

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

by Made Wirya
June 21, 2026
0
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

Read moreDetails
Next Post
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

Keseimbangan Rasio dan Rasa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

by Andre Syahreza
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co