24 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
March 8, 2026
in Tualang
Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

Kaliurang, 1982 (Penulis nomor 4 dari kiri, duduk di atas)

DESEMBER 1982, kami baru naik kelas dua SMA. Umur masih belasan, dada penuh angin, kepala penuh peta yang belum tentu benar. Kota Tangerang waktu itu belum seramai hari ini, Pasar Anyar masih menjadi simpul pertemuan segala kemungkinan. Dari situlah petualangan dimulai.

Kami bertujuh: Saya, Hakim, Rohidi, Gan-Gan, Taufik, Agus Sting, dan Imron (alm) Nama-nama itu, kini mungkin telah menjadi bapak-bapak, dan kakek-kakek dengan rutinitas masing-masing, tetapi pada Desember itu kami hanyalah anak-anak remaja dengan tas ransel tipis dan uang pas-pasan. Bekal kami lebih banyak nekat daripada logistik.

Truk yang kami tumpangi baru saja selesai bongkar muatan di Pasar Anyar. Tanpa banyak tanya, sopir mengangguk ketika kami minta ikut sampai Stasiun Kota Beos, Jakarta. Kami naik ke bak belakang. Bau sayur sisa dan debu bercampur udara pagi. Angin menampar wajah, tapi hati kami hangat oleh kegembiraan yang belum teruji.

Di Stasiun Kota, kami membeli tiket KA Gaya Baru jurusan Jakarta–Surabaya. Harga tiketnya Rp 2.700. Kami merasa sudah seperti penjelajah dunia.

Kereta bergerak menuju Gambir. Sekitar pukul 16.15, ia benar-benar lepas dari stasiun. Jangan bayangkan kenyamanan kereta hari ini. Tahun 1982, perjalanan kereta adalah peristiwa sosial yang liar dan nyaris tak teratur. Penumpang naik-turun sesuka hati. Banyak yang tanpa tiket. Di setiap stasiun kecil, kereta berhenti lama, dan setiap kali berhenti, kami berseloroh, “Turun satu, naik sepuluh!” Gerbong semakin penuh. Pengap, panas, bau keringat bercampur asap rokok kretek.

Di Cirebon dan Purwokerto kereta berhenti cukup lama. Kami turun sekadar meregangkan kaki, lalu berdesakan kembali. Malam memanjang tanpa pendingin udara selain angin yang masuk dari jendela terbuka. Kami bergantian duduk dan berdiri. Tetapi anehnya, di tengah segala ketidaknyamanan itu, ada rasa merdeka yang tak bisa dibeli. Kami merasa hidup.

Barangkali inilah yang dimaksud Søren Kierkegaard ketika mengatakan, bahwa hidup harus dijalani ke depan, meski hanya bisa dipahami ke belakang. Saat itu kami tidak tahu apa arti perjalanan ini. Kami hanya menjalaninya.

Jembatan Muntilan, Perbatasan Yogya – Magelang, 1982 | Foto: Dok. Ahmad Sihabudin

Pukul 08.30 pagi, hampir enam belas setengah jam sejak Gambir, kami tiba di Stasiun Tugu Yogyakarta. Kami turun dengan tubuh lelah dan jiwa bergetar. Untuk pertama kalinya kami menjejak kota yang namanya sering kami dengar dalam buku sejarah dan cerita guru.

Tujuan kami: Kaliurang. Kami ingin berkemah sambil menunggu Kirab Sekaten, seingat saya, akan berlangsung pada minggu ketiga Desember. Di Kaliurang masih ada kolam renang Tlogo Putri. Hujan turun hampir terus-menerus. Tenda yang kami bayangkan gagah justru menjadi basah dan tak bersahabat. Akhirnya teras sekitar lokasi itu menjadi tempat berteduh dan “penginapan” darurat kami.

Dua malam di Kaliurang lebih banyak diisi dengan duduk di warung-warung kecil. Ketan bakar ”Jaddah” makanan khas Yogja, pisang goreng, teh panas mengepul. Uapnya menyatu dengan kabut gunung.

Di sela kabut dan teh panas, kami berbicara tentang masa depan seolah-olah ia pasti datang sesuai rencana. Padahal hidup, seperti kata Albert Camus, sering kali absurd, tidak selalu sesuai harapan, tidak selalu masuk akal. Namun justru dalam ketidakpastian itulah manusia menemukan makna. Kami tidak punya uang banyak. Kami tidak punya rencana matang. Tapi kami punya keputusan: tetap berjalan.

Muntilan, 1982 | Foto; Dok. Ahmad Sihabudin

Dari Kaliurang kami turun ke kota Yogyakarta. Losmen penuh. Musim liburan membuat kota sesak. Uang kami pun tidak cukup untuk bersaing dengan wisatawan lain. Entah bagaimana ceritanya, kami akhirnya diperbolehkan menginap di aula Polresta Yogyakarta. Ternyata bukan hanya kami. Banyak remaja sebaya dari berbagai kota di Jawa yang juga “mengandalkan keberanian” dan sisa uang receh.

Aula itu menjadi asrama sementara generasi petualang murah-meriah. Tas jadi bantal. Jaket jadi selimut. Malam-malam kami penuh cerita. Ada yang dari Surabaya, ada dari Tegal, ada dari Solo. Semua datang dengan alasan yang hampir sama: ingin melihat dunia sebelum dewasa membatasi langkah.

  ***

Jean-Paul Sartre pernah berkata, “Man is condemned to be free.” Manusia dikutuk untuk bebas. Kebebasan itu bukan kenyamanan; ia adalah tanggung jawab atas pilihan. Kami memilih berangkat. Kami memilih bertahan ketika hujan turun. Kami memilih tidur di lantai aula. Tidak ada yang memaksa. Semua adalah konsekuensi dari kebebasan kami sendiri.

Kami mengunjungi Keraton Yogyakarta. Melihat Kirab Sekaten dengan mata tak berkedip. Ada gamelan, ada barisan prajurit keraton, ada tradisi yang terasa lebih tua dari usia republik. Kami berdiri di antara kerumunan, merasa kecil sekaligus menjadi bagian dari sejarah yang bergerak pelan.

Di situ saya teringat pada Martin Heidegger: manusia adalah Dasein, makhluk yang “ada-di-dunia”, terlempar ke dalam sejarah dan waktu yang lebih besar dari dirinya. Kami, Tujuh remaja dari Tangerang, berdiri di tengah sejarah Mataram, di antara jejak kerajaan dan doa-doa masa lalu. Kami sadar meski samar, bahwa hidup bukan hanya milik generasi kami.

Esoknya kami menuju Magelang. Naik bus Yogya–Muntilan dengan tarif Rp 350. Borobudur memanggil. Sesampainya di sana, losmen lagi-lagi penuh, atau mungkin menolak kami karena penampilan yang kusut, rambut acak-acakan, sepatu ”deukil”, sandal tipis, dan wajah lelah.

Malam itu kami tidur di Terminal Borobudur. Kami menyewa kardus dari pemulung sebagai alas. Hujan kembali turun. Angin menembus sela-sela pakaian. Tetapi anehnya, di bawah atap terminal yang dingin itu, kami justru merasa sangat hidup,  di  bawah atap terminal itu, saya merasakan sesuatu yang tak pernah saya rasakan di kamar tidur rumah sendiri: kesadaran bahwa hidup tidak selalu ramah, tetapi selalu mungkin dijalani.

Pagi harinya kami naik ke Candi Borobudur. Tangga-tangga batu itu seperti menuntun kami menaiki usia. Kami berfoto dengan kamera sederhana, mungkin dengan gaya yang hari ini terasa lucu. Tapi bagi kami, berdiri di salah satu keajaiban dunia adalah kemenangan kecil atas keterbatasan. Mengamati relief bergaya ”Indiana Jones” arkeolog. Relief-relief itu mengisahkan perjalanan jiwa menuju pencerahan. Tanpa kami sadari, perjalanan kami sendiri adalah versi kecil dari itu, dari ketidaktahuan menuju pengalaman.

Friedrich Nietzsche pernah menulis, “Barangsiapa memiliki alasan untuk hidup, ia akan sanggup menanggung hampir segalanya bagaimanapun sulitnya kehidupan.” Alasan kami mungkin sederhana: ingin melihat dunia. Tapi alasan sederhana itu cukup membuat kami tahan panas, hujan, dan lapar.

Kami kembali ke Yogyakarta. Menyusuri Malioboro siang dan malam. Makan seadanya: gudeg, nasi kucing, es teh murah meriah. “Hotel” kami tetap aula Polresta. Pulang larut, tidur pulas, bangun dengan badan pegal tetapi hati penuh.

***

Dua malam di Kaliurang, dua malam di Yogyakarta, satu malam di Borobudur, cukup sudah. Kami memutuskan pulang. Namun kepulangan pun tidak lurus.

Di Stasiun Tugu kami membeli tiket hanya sampai Banjar. Skenario berubah: kami ingin melihat Pangandaran, Tasikmalaya, dan dampak letusan Gunung Galunggung yang saat itu masih menyisakan cerita.

Dua hari kami berkelana lagi. Uang makin menipis. Makan harus dihemat. Akhirnya kami kembali pada prinsip awal: yang penting bergerak mendekati Tangerang.

Dari Tasikmalaya kami menumpang truk box sampai Terminal Cicaheum Bandung. Malam hampir pukul 23:00 WIB. Kami tidur di teras sebuah rumah besar. Penghuninya berbaik hati mengizinkan kami merebahkan badan di sana. Subuh pukul 05.30 kami pamit setelah salat.

Dari Cicaheum naik Damri ke Cibeureum. Jalan kaki menuju Cimahi. Dari pasar Cimahi kami mencari truk kosong ke arah Jakarta. Dapat sampai Rajamandala. Dari Rajamandala menumpang lagi ke Sukabumi. Dari Pasar Sukabumi kami mendapat tumpangan truk yang baru bongkar muatan, alhamdulillah sampai Cawang, dekat kampus UKI.

Dari sana kami naik bus tingkat PPD jurusan Cililitan–Kalideres. Dari Kalideres naik angkot menuju Tangerang. Ketika akhirnya kami tiba, rasanya seperti pulang dari ekspedisi panjang. Tak ada sambutan meriah, tak ada upacara. Hanya langkah kaki yang kembali menjejak kota sendiri. Alhamdulillah kami selamat.

Jika saya renungkan kini, perjalanan itu adalah pelajaran tentang solidaritas dan kebaikan anonim. Emmanuel Levinas mengatakan, bahwa etika lahir dari perjumpaan dengan “wajah yang lain.” Kami bertemu banyak wajah: sopir truk, pemilik rumah, pemulung, polisi, pedagang kecil. Tanpa mereka, perjalanan kami mungkin berhenti di tengah jalan. Kami belajar bahwa manusia hidup bukan hanya oleh rencana, tetapi oleh kemurahan orang lain.

Kini, ketika kenyamanan transportasi jauh lebih baik, saya sering bertanya: apakah generasi hari ini masih punya ruang untuk mengalami “ketersesatan” yang membentuk karakter?

Pelataran Borobudur, 1982 | Foto; Dok. Ahmad Sihabudin

Perjalanan Desember 1982 itu bukan sekadar nostalgia. Ia adalah momen ketika kami belajar tentang kebebasan, tanggung jawab, keterlemparan dalam sejarah, absurditas hidup, dan makna solidaritas, tanpa membaca buku filsafatnya terlebih dahulu. Filsafat datang belakangan, memberi nama pada pengalaman yang sudah kami jalani.

Kierkegaard benar: hidup dipahami ke belakang. Dan ketika saya menoleh ke Desember itu, saya tahu, kami pulang bukan hanya membawa cerita, tetapi membawa diri yang telah sedikit berubah. Kami berangkat sebagai anak-anak yang ingin jalan-jalan. Kami pulang sebagai remaja yang diam-diam telah belajar menjadi manusia.

Kami belajar bahwa dunia luas, tetapi kebaikan orang-orang kecil membuatnya terasa dekat. Kami belajar bahwa uang bisa habis, tetapi keberanian sering kali membuka jalan. Kami belajar bahwa tidur di terminal atau teras rumah orang asing tidak selalu berarti hina—kadang justru di situlah kemanusiaan terasa paling nyata.

Desember itu mungkin telah lama selesai di kalender. Namun dalam kepala dan hati saya, ia tak pernah benar-benar usai. Ia tetap hidup sebagai kisah Tujuh remaja dari Tangerang yang menaklukkan Jawa bukan dengan kemewahan, melainkan dengan tekad, tawa, dan keyakinan sederhana: selama kita bergerak, kita sedang belajar menjadi manusia. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: catatan perjalanannostalgianostalgia mahasiswa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sugianto Membongkar Bali

Next Post

Keseimbangan Rasio dan Rasa

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

by Made Wirya
June 21, 2026
0
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

Read moreDetails

Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

by Wahyu Mahaputra
June 11, 2026
0
Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu...

Read moreDetails

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
0
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

Read moreDetails

Ke Pacet Mereka Kembali

by Jaswanto
June 2, 2026
0
Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

Read moreDetails

Mereka Menunggu di Setia Darma 

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

Read moreDetails

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
0
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

Read moreDetails

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

by Chusmeru
May 25, 2026
0
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

Read moreDetails

Kota Tua Tak Pernah Mati

by I Nyoman Tingkat
May 24, 2026
0
Kota Tua Tak Pernah Mati

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se- Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Jumat Paing...

Read moreDetails

Oleh-Oleh dari Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 23, 2026
0
Oleh-Oleh dari Baduy Luar

MENGIKUTI rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan Study Tiru ke Baduy Luar, Provinsi Banten, Jumat Paing Gumbreg 15 Mei 2026,...

Read moreDetails

Berguru ke Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 21, 2026
0
Berguru ke Baduy Luar

SETELAH rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan persembahyangan di Pura Aditya Jaya Rawangun Jakarta Timur pada Kamis Umanis Gumbreg, 14...

Read moreDetails
Next Post
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

Keseimbangan Rasio dan Rasa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja
Pemerintahan

Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja

SINGARAJA – TATKALA.CO | Wajah baru kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai terlihat. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil...

by tatkala
June 24, 2026
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co