25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pesan, Refleksi, dan Kritik Sosial dalam Drama Bali Modern di Bulan Bahasa Bali 2026

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
in Ulas Pentas
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

DRAMA Bali modern atau teater berbahasa Bali yang dipentaskan oleh sejumlah kelompok teater dalam ajang Bulan Bahasa Bali 2026 menunjukkan kemajuan dibanding secara umum yang terjadi pada ajang yang sama tahun-tahun sebelumnya, terutama dilihat dari segi artistik, kosa gerak dan bahasa ungkap di atas panggung. Namun, sepertinya masih banyak teater yang ragu-ragu bermain untuk menyampaikan kritik sosial, misalnya kritik terhadap fenomena sosial dan kehidupan yang terjadi di Bali belakangan ini.

Pementasan teater (modern) tentu tak melulu punya tujuan normal: agar penonton paham dan terhibur terhadap cerita yang dibawakan di atas panggung. Teater punya tugas lebih berat, antara lain menyampaikan pesan, refleksi atau renungan, dan kritik sosial melalui garapan cerita.

Apalagi, dalam ajang Bulan Bahasa Bali ini, cerita-cerita yang digarap kebanyakan cerita-cerita yang sudah dikenal secara umum di Bali, semisal kisah Basur dan Jaratkaru. Ketika cerita sudah dikenal luas, maka tugas seorang seniman drama seharusnya memberi warna lain dalam cerita itu, semisal menyelipkan “sesuatu yang berbeda” untuk penonton bawa pulang.

Meski tak banyak yang berani menyelipkan kritik sosial, sebagian besar garapan drama Bali modern di Bulan Bahasa Bali 2026 ini terlihat sangat lihai menyampaikan pesan-pesan moral sesuai dengan konteks zaman sekarang. Misalnya, drama Basur yang dimainkan Teater Jineng Smasta cukup berhasil membawa pesan untuk memuliakan perempuan.

Drama Basur mengisahkan Ni Garu dengan cinta yang bertepuk sebelah tangan kepada I Tigaron, putra tunggal I Gede Basur. Di sisi lain, dendam membara dalam diri I Gede Basur setelah gagal meminang Ni Sokasti untuk anaknya. Amarah dan ambisi mendorong Basur menggunakan ilmu hitam untuk mencelakai Ni Sokasti, memantik rentetan konflik bernuansa mistis yang berujung kehancuran.

Drama Bali modern “Basur” garapan Teater Jineng Smasta Tabanan

Melalui alur dramatik yang kuat, pementasan ini menegaskan bahwa kesombongan dan penyalahgunaan ilmu pengetahuan menjadi awal petaka. Basur, yang dikenal sakti, justru tumbang oleh kekuatannya sendiri setelah menistakan perempuan dan menyimpangkan ajaran suci.

“Kisah Basur ini masih relevan dengan kondisi sosial saat ini,” kata  I Gede Arum Gunawan atau Jro Arum selaku sutradara sekaligus penulis naskah drama Basur yang dimainkan Teater Jineng Smasta itu.

Dalam kisah ini, peran ibu dilukiskan begitu penting, terutama dalam pembentukan karakter anak. Apalagi, dalam kisah ini, tiga keluarga digambarkan kehilangan sosok ibu, namun memiliki nasib yang berbeda-beda.

Drama Bali Modern berjudul  “Mlantjaran ka Sasak” yang dimainkan Sanggar Nong Nong Kling dalam ajang Bulan Bahasa Bali VIII, di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Jumat 20 Februari 2026, juga berhasil menyelipkan pesan-pesan moral, terutama tentang kesetaraan manusia di dunia modern ini.

Kisah “Mlantjaran ka Sasak”, di tangan Sanggar Nong Nong Kling, juga memnyampaikan semacam refleksi dan renungan untuk dunia masa kini, misalnya tentang kasta. Penonton bisa membawa pertanyaan dalam perjalanan pulang dari Taman Budaya, “Apakah kasta masih menjadi penghalang hubungan antarmanusia, terutama dalam pernikahan, di Bali?”

Refleksi dan Kritik Sosial Menjadi Kekuatan

Kisah-kisah yang dimainkan grup drama modern pada ajang Bulan Bahasa Bali ini sebagian memang kisah-kisah lama dengan latar zaman kerajaan atau bisa disebut zaman kuna, semisal Basur dan Jaratkaru.  Kisah-kisah lama biasanya secara otomatis sudah mengandung pesan moral, terutama tentang kehidupan antara manusia. Namun, pesan moral itu biasanya sangat klasik. Tentang kehidupan hitam-putih, kebajikan dan kebatilan, surga dan neraka, baik-buruk: Yang baik akhirnya menang, yang buruk akan mendapat pahala keburukan yang setimpal.

Drama modern sepertinya punya tugas untuk menghubungkan amanat cerita itu ke dalam konteks yang lebih modern, sehingga cerita itu bisa berkaitan dengan kehidupan manusia masa kini, dengan segala problema dan persoalannya.

Dalam kisah Jaratkaru misalnya, ada semacam amanat bahwa seseorang yang  tidak menikah di dunia nyata, maka leluhurnya akan menerima karma buruk di alam kematian. Apakah keyakinan-keyakinan semacam itu di masa lalu, masih sesuai dengan kehidupan manusia di zaman kini?

Jawabannya bisa macam-macam. Keyakinan pada nilai dan ajaran di masa lalu bisa saja pudar tergerus zaman, tapi bisa saja hidup tetap hidup selamanya. Dan, ketika cerita semacam itu dipentaskan dalam bentuk seni pertunjukan di atas panggung, sutradara atau penulis naskah tak bisa serta-merta memilih apakah pertunjukan itu akan memberi simpati pada ajaran lama, atau menentang ajaran itu. Tentu karena cerita semacam itu, yang sudah dipercaya begitu lama dan sudah menjadi semacam “agama”,  tidak bisa serta-merta diubah begitu saja. Saat dialihwahanakan di atas panggung, cerita itu hanya bisa disiasati dengan diberi “carangan-carangan” kecil untuk menjadi cermin bagi penonton agar bisa melihat diri sendiri dalam cerita itu. Di bagian itulah refleksi dan kritik sosial bermain. Justru, ketika cerita dianggap tak sesuai zaman tapi begitu merakyat, refleksi dan kritik sosial menjadi kekuatan di atas panggung pertunjukan.  

Drama Bali Modern berjudul  “Mlantjaran ka Sasak” yang dimainkan Sanggar Nong Nong Kling

Sejumlah pementasan drama modern di Bulan Bahasa Bali tentu sudah banyak yang berhasil menyelipkan refleksi pada pementasan. Namun untuk memunculkan kritik sosial terhadap fenomena yang dihadapi manusia zaman kini, banyak sutradara masih memainkannya dengan penuh keragu-raguan. Jika pun kritik muncul, itu hanya muncul selintas dalam celetukan yang bertujuan untuk mengundang tawa, bukan secara serius membongkar kesadaran untuk berbenah.

Putri Suastini, seorang pemain teater senior yang dikenal sebagai istri Gubernur Wayan Koster, pun mengamini bahwa kritik sosial penting ada dalam pementasan drama modern.

“Jangan takut menyampaikan kritik. Mau kritik silakan, misalnya tentang kemacetan. Jabarkan saja, ributlah di atas panggung. Tapi tetap harus mengedepankan etika.” Begitu kata Putri Suastini usai menonton drama Bali modern yang ditampilkan Komunitas Wartawan Budaya Bali (Kawiya) di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Senin, 23 Februari 2026. Saat itu Kawiya memainkan kisah Jakatkaru.

Menurut Putri Suastini, aktor yang baik adalah mereka yang mampu menyampaikan kritik setajam silet tanpa membuat pihak yang dikritik merasa tersakiti. Ia yang merupakan istri Gubernur dan bagian dari pemerintahan mengaku tidak alergi terhadap kritik. “Tapi tidak elok kalau anak-anak kita belajar memaki atau melakukan perundungan. Itu tidak bagus,” katanya.

Drama yang dimainkan Kawiya itu memang penuh dengan refleksi dan kritik sosial. Di situ digambarkan empat manusia urban yang hidup lajang di Denpasar mengalami berbagai persoalan hidup; sibuk kerja, kemacetan lalu-lintas dan banjir. Kesibukan dan persoalan yang mereka hadapi membuat mereka menjadi Jaratkaru, tidak sempat menikah, tidak berani menikah, tidak sadar bahwa mereka tidak menikah meski usia terus bertambah.

Jaratkaru, dengan kisah yang sudah jadi semacam ajaran di Bali itu, dimainkan dengan warna hidup manusia di zaman modern. Kisah Jaratkaru tidak tercerabut dari aslinya, namun ia diberikan cermin agar manusia modern bisa bersuluh dengan penuh kesadaran. [T]

Penulis: Adnyana Ole
Editor: Jaswanto

Tags: Bulan Bahasa BaliBulan Bahasa Bali 2026Drama Bali ModernTeaterteater bahasa bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

Next Post

Hakikat Selamat dan Kiat-Kiat Menyelamatkan Leher

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

by Helvi Carnelis
April 14, 2026
0
Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

SAYA merasakan dengan kuat budaya rantau hari ini, sebuah beban tanggung jawab yang tidak ringan dalam kebudayaan Minangkabau. Pengalaman itu...

Read moreDetails

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

by Radha Dwi Pradnyani
March 30, 2026
0
Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

PEMAIN masuk arena secara bergiliran. Dengan gerakan berbeda-beda mereka berjalan tergesa, dinamis, kadang saling silang, kadang sejajar. Mereka bersuara meniru...

Read moreDetails

Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

by I Putu Ardiyasa
March 22, 2026
0
Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

MENYAKSIKAN perjalanan kultural di Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, selama empat tahun terakhir adalah pelajaran berharga tentang bagaimana estetika mampu...

Read moreDetails

Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

by I Gede Tilem Pastika
March 1, 2026
0
Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

MALAM itu, 28 Februari 2026, udara di Gedung Ksirarnawa Art Centre Denpasar terasa bergetar oleh ekspektasi yang tinggi. Sebagai sutradara...

Read moreDetails

Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

by Wahyu Mahaputra
February 28, 2026
0
Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

DERING telepon membangunkan saya dari tidur siang hari itu. Di seberang sambungan, suara Ariel Valeryan: sahabat dari Kuningan, Jawa Barat...

Read moreDetails

Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

by Rusdy Ulu
February 25, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

EMPAT orang masing-masing membawa ember dan lap pel, lalu mengepel lantai panggung secara bersamaan. Mereka menarik lap pel dengan gerakan...

Read moreDetails

Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

by Kadek Sonia Piscayanti
February 16, 2026
0
Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

MUSIKAL Perahu Kertas di Ciputra Artpeneur Theater, Jakarta, hadir pada saat yang tepat, ketika banyak manusia bingung menemukan diri mereka,...

Read moreDetails

‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

by Angga Wijaya
February 16, 2026
0
‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

SAYA tidak duduk di kursi penonton ketika Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati dipentaskan dalam rangkaian Bulan Bahasa Bali...

Read moreDetails

Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

by Son Lomri
February 6, 2026
0
Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

ORANG-orang di Auditorium Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja itu diteror suara sirine yang keluar dari mulut tujuh aktor Teater Komunitas...

Read moreDetails

Menilik Drama Musikal Rempeg di Perayaan 254 Tahun Banyuwangi

by Moch. Anil Syidqi
January 24, 2026
0
Menilik Drama Musikal Rempeg di Perayaan 254 Tahun Banyuwangi

Lebih baik aku jadi debu di tanah bayu. Asal ku menyatu dalam perlawanan. Begitulah monolog Sayu Wiwit dalam drama musikal...

Read moreDetails
Next Post
Sanggah Setengah Jadi dan Ritual yang Kembali Sederhana

Hakikat Selamat dan Kiat-Kiat Menyelamatkan Leher

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co