DI Bali, seni tumbuh seperti napas: alami, dekat, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Namun tidak semua seni mendapat panggung yang sama. Ada seni yang hidup di pusat kota, disorot kamera, dan dibicarakan di ruang-ruang resmi. Ada pula seni yang berjalan pelan di pinggiran, bertahan dalam sunyi, menunggu orang-orang yang cukup sabar untuk mendengarkannya.
Puisi termasuk yang kedua. Ia tidak selalu dirayakan seperti tari dan tabuh. Ia jarang menjadi acara besar yang mengundang kerumunan. Tetapi puisi memiliki kekuatan yang berbeda: ia tidak perlu ramai untuk terasa. Ia hanya perlu satu orang yang membaca, dan satu orang yang benar-benar mendengar. Itu sudah cukup untuk membuat dunia bergeser sedikit.
Di Desa Tegalmengkeb, Selemadeg Timur, Tabanan, pertengahan Pebruari 2026, puisi menemukan panggungnya kembali. Tidak megah. Tidak glamor. Tetapi hangat, manusiawi, dan penuh getaran batin.
Di sanalah Tegalmengkeb Art Space (TAS) menjadi rumah bagi sebuah peristiwa sastra: Lomba Baca Puisi se-Bali 2026 bertema “Kekuatan Cinta”. Sebuah lomba yang terdengar sederhana. Namun di balik kesederhanaannya, ia menyimpan sesuatu yang jarang ditemukan di acara-acara seni modern: ketulusan.
Tegalmengkeb Art Space: Ruang Kecil dengan Mimpi Besar
Tegalmengkeb bukan Denpasar. Bukan Ubud. Bukan pusat festival yang setiap akhir pekan dipenuhi poster acara seni. Desa ini tidak berada di jalur wisata populer. Ia jauh dari gemuruh panggung-panggung besar. Tetapi di tempat yang jauh dari keramaian itulah Tegalmengkeb Art Space tumbuh seperti lilin yang dijaga dari angin.
Ruang ini bukan sekadar bangunan. Ia adalah semacam pernyataan. Bahwa desa pun berhak memiliki pusat kebudayaan. Bahwa seni tidak seharusnya hanya berputar di lingkaran kota dan komunitas tertentu. Bahwa sastra—yang sering dianggap “sunyi”—pun layak memiliki ruang hidup.
Karena itu, ketika Tegalmengkeb Art Space bekerja sama dengan Pesraman Kayu Manis dan Luh Luwih Foundation untuk menggelar lomba baca puisi tingkat Bali, kegiatan ini terasa lebih dari sekadar kompetisi. Ia terasa seperti sebuah gerakan kecil: gerakan mengembalikan sastra ke masyarakat. Dan, menariknya kegiatan ini dilakukan secara swadaya dan swadana, tanpa bantuan pemerintah.

Lomba ini diikuti 40 peserta dari berbagai daerah di Bali. Menariknya, lomba ini bersifat gratis, terbuka untuk umum, dan tarung bebas—tanpa batas usia maupun jenjang pendidikan. Peserta datang dari beragam latar: pelajar, mahasiswa, guru, dosen, hingga masyarakat umum. Mereka membawa suara masing-masing, tetapi juga membawa sesuatu yang lebih penting: cara masing-masing memaknai puisi.
Kekuatan Cinta
Tema lomba tahun ini adalah “Kekuatan Cinta”. Kata “cinta” sering terdengar manis, bahkan klise. Namun cinta yang dimaksud dalam dunia puisi tidak selalu romantis. Cinta bisa berarti keteguhan. Cinta bisa berarti kesetiaan pada sesuatu yang tidak dibalas. Cinta bisa berarti kehilangan yang tetap dipeluk. Cinta bisa berarti keberanian untuk berdamai dengan hidup. Dalam puisi, cinta tidak selalu berbunga-bunga. Ia bisa getir. Ia bisa retak. Ia bisa mengeras. Tetapi justru di sanalah kekuatannya.
Dan mungkin itulah mengapa tema ini terasa tepat untuk sebuah lomba baca puisi. Karena membaca puisi pada dasarnya adalah latihan mencintai: mencintai kata, mencintai rasa, mencintai makna, bahkan mencintai luka yang tidak kita pahami sepenuhnya.
Babak Penyisihan
Tidak semua peserta datang langsung ke Tegalmengkeb sejak awal. Babak penyisihan dilakukan melalui video pembacaan puisi yang dikirimkan peserta kepada panitia. Di era serba digital, video bisa menjadi jembatan. Namun jembatan itu tidak selalu mudah dilewati. Sebab membaca puisi lewat video berarti peserta harus mampu menghadirkan suasana hanya dengan suara dan ekspresi, tanpa energi langsung dari penonton.



Di balik layar, dewan juri menyimak satu per satu penampilan peserta. Mereka adalah Wayan Jengki Sunarta, Dewa Jayendra, dan Muda Wijaya. Nama-nama yang tidak asing di dunia sastra dan kesenian, dan tentu tidak mudah untuk memuaskan telinga serta rasa mereka.
Penilaian dilakukan secara ketat berdasarkan aspek ketepatan tafsir puisi, penghayatan, vokal, ekspresi, dan totalitas penampilan. Namun pada akhirnya, semua aspek itu bermuara pada satu pertanyaan: apakah pembaca puisi ini sungguh-sungguh memahami teks yang ia baca?
Pada babak penyisihan, setiap peserta membacakan satu puisi yang telah ditentukan panitia. Puisi-puisi tersebut adalah: “Pohon yang Tinggi Dekat dengan Bulan” (Frans Nadjira), “Prelude” (Umbu Landu Paranggi), “Senja Menggantung di Langit” (Putu Vivi Lestari), “Warna Jiwa dalam Gerimis” (I Wayan Arthawa), “Rumah Hening” (Reina Caesilia). Puisi-puisi itu tidak hanya menuntut artikulasi yang jelas. Ia menuntut perenungan. Menuntut keheningan. Menuntut keberanian untuk tidak hanya “membaca”, tetapi mengalami.
Catatan Dewan Juri
Dari puluhan video yang masuk, dewan juri menyampaikan catatan yang terdengar sederhana, tetapi sangat mendasar: banyak peserta belum benar-benar memahami isi puisi yang dibacakan.
Menurut mereka, peserta perlu membedah puisi terlebih dahulu sebelum tampil agar tafsirnya tepat dan penghayatan tidak meleset.
“Banyak peserta kurang memahami dan menghayati puisi yang dibacakannya,” ujar Wayan Jengki Sunarta.
Catatan ini seperti tamparan halus bagi siapa pun yang mengira membaca puisi hanya soal intonasi dan ekspresi. Karena sesungguhnya, pembacaan puisi yang kuat bukanlah pembacaan yang keras atau penuh gerak. Ia justru lahir dari pemahaman yang dalam. Jika puisi sudah masuk ke batin, maka penghayatan dan ekspresi akan mengikuti dengan sendirinya.
Sepuluh Finalis dan Hari Penentuan
Sepuluh finalis diumumkan pada 10 Pebruari 2026. Mereka kemudian melaju ke babak final untuk memperebutkan gelar Juara I, II, III, serta Juara Harapan. Babak final dilaksanakan pada Minggu, 15 Pebruari 2026, pukul 13.00 Wita, di Tegalmengkeb Art Space, Desa Tegalmengkeb, Selemadeg Timur, Tabanan.

Hari itu, Tegalmengkeb tidak seperti biasanya. Ada kesibukan yang berbeda. Ada orang-orang yang datang bukan untuk urusan adat atau pasar, melainkan untuk puisi. Dan puisi memang selalu mengubah suasana. Ia membuat orang berjalan lebih pelan. Ia membuat orang berbicara lebih lirih. Seolah semua paham: kata-kata yang akan dibacakan nanti bukan kata-kata biasa.
Pada babak final, finalis membacakan dua puisi: puisi wajib “Melodia” karya Umbu Landu Paranggi, serta satu puisi pilihan yang telah mereka bacakan saat babak penyisihan. “Melodia” bukan puisi yang mudah. Ia tidak bisa ditaklukkan hanya dengan teknik vokal. Ia menuntut rasa yang matang. Menuntut kesabaran dalam jeda. Menuntut kemampuan membiarkan makna bekerja perlahan.
Seni sebagai Jalan Membangun Desa
Ketua Panitia, I Gede Astika, menyampaikan bahwa lomba ini digelar sebagai upaya menghidupkan kembali semangat berkesenian, khususnya sastra, di Tegalmengkeb yang jauh dari pusat kesenian. “Semoga lomba ini bisa berkelanjutan setiap tahun,” ujarnya.
Pernyataan itu bukan sekadar harapan panitia. Ia adalah niat untuk membangun tradisi baru, tradisi sastra yang tumbuh dari desa, bukan menunggu legitimasi dari kota atau pemerintah.
Pendiri Tegalmengkeb Art Space sekaligus Pinisepuh Pesraman Kayu Manis, Mahaprabhu Prahlada Pandya, menegaskan pentingnya kegiatan ini untuk menularkan kecintaan pada sastra, khususnya puisi. Ia melihat puisi sebagai cara membentuk batin yang halus, cara melatih rasa, dan cara menjaga manusia agar tetap manusia.

Sementara itu, Kepala Desa Tegalmengkeb, I Dewa Made Widarma, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada TAS yang telah berjuang menghidupkan kembali semangat berkesenian di Tegalmengkeb.
“Dengan kekuatan cinta, mari kita saling bersinergi membangun dan mempromosikan Desa Tegalmengkeb lewat kegiatan seni budaya,” ujarnya.
Di tengah banyaknya desa yang berlomba menonjolkan diri lewat infrastruktur, Tegalmengkeb memberi pesan lain: seni budaya pun bisa menjadi jalan pembangunan.
Ketegangan di Panggung
Babak final dimulai. Satu per satu finalis maju. Setiap langkah menuju mikrofon seperti langkah menuju dirinya sendiri.
Di lomba baca puisi, panggung bukan sekadar tempat tampil. Pangung adalah ruang pembuktian. Pembuktian bahwa seseorang mampu menanggung kata-kata yang ia ucapkan. Bahwa ia tidak hanya melafalkan, tetapi menyampaikan.
Ada finalis yang membaca dengan suara tenang. Tetapi justru di situ letak kekuatannya: penonton dipaksa mendekat secara batin. Ada finalis yang membaca dengan vokal kuat, membelah ruangan, mengirimkan kata-kata seperti panah. Ada pula yang memilih memainkan jeda, membiarkan diam berbicara lebih keras daripada suara.
Puisi-puisi yang dibacakan bukan sekadar rangkaian estetika. Ia membawa renungan. Membawa luka. Membawa harapan. Membawa pertanyaan-pertanyaan yang sering kita sembunyikan dari diri sendiri.
Dewan juri menilai bahwa para finalis tampil maksimal sesuai kemampuan masing-masing. Mereka menegaskan kembali prinsip dasar seni baca puisi: pemahaman adalah fondasi utama. Setelah pemahaman kuat, penghayatan akan lahir dengan sendirinya.
“Penghayatan yang baik tidak dibuat-buat. Ia tidak boleh artifisial. Ia harus muncul dari dalam batin. Karena puisi adalah kejujuran. Dan kejujuran tidak bisa dipalsukan,” tutur Dewa Jayendra, salah seorang juri.
Ketika Puisi Memilih Pemenangnya
Setelah melalui diskusi panjang, perdebatan, dan pertimbangan yang matang, dewan juri akhirnya menetapkan para pemenang: Juara I: Desak Putu Ayu Dina Candradewi (Singaraja), Juara II: I Gusti Agung Putu Sri Purnami Padmawati (Denpasar), Juara III: I Putu Gede Pradipta (Denpasar). Enam Juara Harapan diraih oleh: Ni Made Pritalaras T Mas Jayanti (Jembrana), Ida Ayu Putri Krisna Dewi (Jembrana), Ni Made Dhimahi Shankari Dewi (Singaraja), Ardika Wiraga (Gianyar), Ni Putu Vidya Radhani (Denpasar), Jessica Kaila (Denpasar). Satu finalis, Desak Made Yunda Ariesta (Karangasem), mengundurkan diri karena sakit.
Juara I memperoleh hadiah uang sebesar Rp3 juta, Juara II Rp2 juta, Juara III Rp1 juta, dan enam Juara Harapan masing-masing memperoleh Rp500 ribu. Pada saat babak final, panitia secara spontan juga menambahkan hadiah uang bagi para Juara Harapan sebesar Rp200 ribu. Selain itu, para juara mendapatkan piala dan piagam.
Namun kemenangan terbesar dari lomba semacam ini barangkali bukan piala atau uang pembinaan. Kemenangan terbesar adalah ketika seseorang berhasil membacakan puisi dengan jujur, dan berhasil membuat orang lain ikut merasakan apa yang ia rasakan.
Puisi yang Menolak Mati
Di akhir acara, penonton pulang. Kursi-kursi mulai kosong. Tetapi ada sesuatu yang tertinggal di ruang itu: getaran kata-kata.
Lomba ini selesai dalam satu hari. Tetapi efeknya tidak berhenti di sana. Ia menyisakan kesan bahwa sastra masih punya tempat. Bahwa puisi masih bisa memanggil orang-orang untuk berkumpul, untuk diam bersama, untuk mendengarkan.
Dan Tegalmengkeb Art Space, dengan segala kesederhanaannya, telah membuktikan satu hal penting: pusat kesenian tidak selalu harus berada di pusat kota. Kadang-kadang, pusat kesenian justru lahir di tempat yang jauh, di desa yang tenang, ketika ada orang-orang yang setia menjaga nyala kesenian.
Tema “Kekuatan Cinta” tidak hanya menjadi slogan lomba. Ia benar-benar hadir dalam peristiwa itu—cinta pada seni, cinta pada kata-kata, cinta pada desa, dan cinta pada upaya kecil yang dilakukan dengan sepenuh hati.
Di Tegalmengkeb, puisi tidak sekadar dibaca. Puisi dipanggil pulang. Dan ketika ia pulang, ia membawa serta sesuatu yang lama hilang: rasa. [T]
Penulis: Putu Mudra, orang desa penyuka puisi
Editor: Adnyana Ole



























