Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet di Nyuhkuning, Ubud, Gianyar, Minggu, 15 Februari 2026, ditandai dengan peluncuran dan bedah empat buku di museum setempat. Keempat buku tersebut adalah karya tiga putra pematung Wayan Pendet, ketiganya profesor. Mereka menulis dengan co-author masing-masing.
Keempat buku yang mereka tulis adalah: (1) Patung Gaya Pendet – di mata tiga Profesor [Prof. Dr. I Wayan P. Windia, S.H., M.Si.; Prof. Dr. dr. I Made Jawi, M. Kes.; dan Prof. Dr. I Ketut Muka Pendet, M.Si.]; (2) Tutur Parikrama – Banjar Bali Museum Pendet oleh Prof. Dr. I Wayan P. Windia, S.H., M.Si. dan Dr. I Ketut Sudantra, S.H.; (3) Kedokteran Spiritual oleh Prof. Dr. dr. I Made Jawi, M. Kes. dan Prof. Dr. dr. Tjok G.A. Senapathi, Sp.An.KAR.; (4) Ngulik Awig-awig Hukum Adat Bali dari “Kampus Bali” oleh Prof. Dr. I Wayan P. Windia, S.H., M.Si.

Acara peringatan HUT berlangsung meriah, akrab, sederhana, dan penuh sukacita. Hadir antara lain Anggota DPD RI Bali Dr. Ida Bagus Rai Mantra, Rektor Unhi Dr. Cokorda Gde Bayu Putra, S.E., M.Si., para guru besar, seniman, maestro lukis, pengamat seni, warga asing, dan anggota ‘Banjar Bali’, komunitas yang dulu sering berdiskusi di Museum Pendet.
Juga hadir dan ditunjuk sebagai pembedah buku adalah Anak Agung Gde Rai ARMA dan Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt., Koprodi S3 Kajian Budaya Unud. Acara peluncuran dan bedah buku dimoderatori oleh seniman Dr. Kadek Suartaya, dosen ISI Bali.

Tiga Profesor
Buku yang berkaitan langsung dengan Museum Pendet adalah Patung Gaya Pendet – di mata tiga Profesor. Ketiga profesor penulis itu:Prof. Dr. I Wayan P. Windia, S.H., M.Si.; Prof. Dr. dr. I Made Jawi, M. Kes.; dan Prof. Dr. I Ketut Muka Pendet, M.Si. adalah anak kandung pematung Wayan Pendet. Merekalah leader atau lokomotif (penarik) gerbong kereta api seni keluarga Pendet untuk mendirikan Museum Pendet. Museum ini mengoleksi patung dan lukisan orang tua mereka, Wayan Pendet (1936–17 November 1988). Museum kini dikelola oleh putra Pendet yaitu Ir. Made Saduarsa, seorang insinyur yang juga memiliki darah seni.
“Semoga museum ini menjadi inspirasi bagi generasi Nyuhkuning untuk berkarya, menjadi seniman patung seperti para pendahulu,” ujar Saduarsa.

Di Museum Pendet terkoleksi 85 patung kayu dan 34 lukisan Pendet. Dalam buku Patung Gaya Pendet, dibahas gaya seni rupa Pendet oleh tiga profesor, yaitu anak kandungnya, masing-masing ahli hukum adat, farmakologi, dan guru besar seni. Sudut pandang mereka tentang patung gaya ayahnya agak unik, menggunakan pisau bedah sesuai latar belakang pendidikan masing-masing.
Prof. Windia yang dikenal sebagai ahli hukum adat Bali, alumnus Prodi Doktor Kajian Budaya Unud, membahas aspek “Guna Gina Sesana Manut Linggih” karya patung Pendet; dokter ahli farmakologi Prof. Jawi membahas karya patung Pendet dari segi seni sebagai sumber hiburan untuk “Kebugaran Jiwa Raga”, dan Prof. Ketut Muka membahas “Patung Pendet Potret Bali Orang Bali” dengan fokus proses kreatif dan kekhasan karya patung dan seni lukis Pendet.

Polos dan Pleasure
Ketika membahas buku Patung Gaya Pendet, Prof. Darma Putra mengapresiasi tulisan ketiga putra profesor Pendet. “Kekhasan patung Pendet adalah gayanya yang polos dan menghibur, alias pleasure,” ujar Darma Putra. Polos karena patung Pendet itu sederhana, tidak halus dan warna-warni seperti patung seniman lain. Tidak perlu amplas. Dalam berkarya, menurut Darma sambil mengutip pendapat kritikus seni dari Belanda Duco van Werre, Pendet membentuk patung berdasarkan ‘keinginan kayu/material’.

Karya Pendet bertolak dari tiga hal jika dikaitkan dengan material: biarkan material berkata (bentuk apa yang diinginkan), apresiasi struktur kayu yang hendak dijadikan patung, dan mendengarkan bunyi dari warna (material). Jika disederhanakan, Pendet mengambil inspirasi patung yang hendak dibuat dari bahan baku di depan mata. Jika kayunya pendek, dijadikan patung manusia berperut buncit seeprti punakawan, jika kayunya lebih lebar dijadikan patung babi beranak-pinak, jika kayu panjang dijadikan patung ‘Astagina’ (delapan tangan simbol pekerjaan). Kesederhanaan bentuk dan hasil akhir menjadi kekhasan patung-patung Pendet.
Karena bekerja dengan inspirasi material, Pendet tidak pernah bisa membuat patung banyak. Beda dengan pematung lain, yang membuat banyak, tapi menciptakan sedikit. Kalau Pendet, membuat sedikit, tapi menciptakan (patung khas) yang banyak. “Whoever produces a lot that mean little, in the end find himself empty handed,” ujar Darma mengutip tulisan Duco. Yang membuat atau memproduksi banyak akan berarti sedikit dan pada akhirnya menemukan dirinya kosong.
Soal karakteristik pleasure, Darma menerangkan hal itu terletak pada kesan keriangan yang dipancarkan patung-patung Pendet. Patun-patungnya sederhana, jenaka, menghibur. Tidak ada keruwetan terpancar dari patung-patung Pendet. Patung nenek tua disajikan tersenyum walau gigi ompong: tinggal dua. Siapa pun menatap patung Pendet akan terhibur karena patungnya jenaka. Penikmat akan merasakan keriangan, pleasure. Dari sudut pandang kesehatan, seperti disampaikan Prof. Jawi, seni yang menghibur adalah sumber bahagia, dan bahagia adalah pilar kesehatan.
Prof. Darma memuji ulasan Prof. Jawi yang mengaitkan seni patung dengan kesehatan atau kebugara jiwa (wellness, well being). “Sakit tidak hanya dapat diobati dengan obat, tablet dan resep, tapi juga rasa senang,” ujar Darma menirukan pendapat Prof. Jawi.


Patung Kayu dan Patung Ibu
Dalam kajiannya membedah buku, Prof. Darma melontarkan pandangan yang agak bergurau tapi cukup kontekstual dan kiasan. Dia membedakan dua jenis patung karya Pendet yang luput dari pengkajian ketiga profesor. Yang dibahas oleh ketiga profesor adalah patung kayu karya Pendet yang jumlah terkoleksi di Museum Pendet adalah 85 buah. Seolah tidak ada patung lain. Menurut Prof. Darma, justru ada karya petung Pendet yang lain.
Menurut Prof. Darma, Pendet juga menciptakan delapan patung lain, yaitu “patung ibu”. Hadirin terperangah, apa gerangan maksud ‘patung ibu’. Darma menjelaskan bahwa patung itu adalah anak-anak ciptaan Pendet yang dilahirkan oleh istrinya, yang menjadi ibu anak-anaknya. Pendet memiliki delapan anak alias ‘delapan patung’, yang dimaksud Darma sebagai ‘patung ibu’. Jika patung ibu ini dihitung, maka jumlah koleksi karya Wayan Pendet bertambah dari 85 + 8 menjadi 93 patung.
Kedelapan ‘patung ibu’ karya Pendet juga memiliki karakteristik sama dengan 85 ‘patung kayu’. Kedelapannya polos dan memiliki profesi yang mengagumkan, setidaknya tiga profesor, satu insinyur, dan satu kartunis Gun Gun. Kalau patung kayu Pendet polos, jenaka, sederhana, maka ciri sama juga terasa pada ‘patung ibu’. Anak-anak Pendet, yang profesor atau yang insinyur, atau yang kartunis, semuanya polos dan jenaka, sederhana, walau sudah 40 tahun menjadi dokter, tapi merendah hati abadi.

Dalam satu patung kayu, Pendet menciptakan patung berjudul ‘Astagina’, yaitu patung tangan-tangan yang memegang pulpen, pahat, dan sebagainya yang menyimbolkan pekerjaan (gina/geginaan). Patung ‘Astagina’ yang dibahas oleh Prof. Windia dengan pendekatan Hukum Adat Bali, memiliki makna yang dalam, tentang bagaimana tanggung jawab orang tua (ayah dan ibu) untuk mendewasakan anak-anak mereka agar berguna dan bergina di masyarakat.
Setelah berbicara tentang ‘patung kayu’ dan ‘patung ibu’, Darma Putra meneruskan bahwa dalam pembahasan oleh tiga profesor, pembahasan tentang IBU absen sepenuhnya. “Padahal itu tak hanya simbol produksi tetapi juga inspirasi. Tanpa istri atau ibu anak-anaknya, Pendet mungkin tidak menciptakan apa yang dia ciptakan dalam wujud patung kayu,” ujar Darma Putra. Pendengar hening, lalu seperti membenarkan.


Usai seminar-bedah buku, Direktur Museum Pendet yaitu Ir. Made Saduarsa, berterima kasih atas ide mengingatkan IBU. “Pada perayaan 100 Tahun Wayan Pendet, pemuliaan IBU akan diutamakan,” ujar Sadu, berterima kasih kepada Prof. Darma atas ilham yang diberikan [T].



























