23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi dan Ikhtiar Merawat Luka Sosial

Ahmad Fatoni by Ahmad Fatoni
February 15, 2026
in Esai
Puisi dan Ikhtiar Merawat Luka Sosial

Ahmad Fatoni

Andai saja penderitaan manusia bisa dibereskan dengan rumus Excel, mungkin dunia sudah lama berubah menjadi taman firdaus digital. Tinggal buka tabel, klik kolom “kemiskinan” misalnya, lalu tekan sort. Masalah selesai. Sayangnya, hidup bukan lembar kerja spreadsheet. Di balik persentase ada perut lapar, di balik grafik ada mata yang bengkak menahan tangis, bukan sekadar baris data.

Angka memang rajin mencatat, tetapi jarang berempati. Dokumen kebijakan sangat rapi, namun sering terasa dingin seperti lemari arsip. Di sinilah karya sastra (puisi) mengambil peran menghangatkan realitas sosial yang beku oleh statistik. Namun bukan sastra yang sekadar bermain perasaan tanpa pijakan. 

Adalah WS Rendra (Willibrordus Surendra Broto Rendra), yang dijuluki “Si Burung Merak”, dikenal sebagai salah satu pelopor puisi sosial di Indonesia yang menempatkan puisi sebagai alat kritik tajam terhadap ketimpangan sosial dan ketidakadilan. Namun, jika konteksnya adalah puisi sosial yang menyuarakan perlawanan rakyat secara langsung, Wiji Thukul adalah tokoh yang paling menonjol.

Puisi dapat dianalogikan seperti kopi susu: pahitnya realitas bertemu manisnya imajinasi. Ia tetap puisi—penuh metafora, irama, dan imaji—namun sekaligus menyertakan konteks sosial. Ia tidak sibuk merayakan “aku” dan kegundahan secara personal, melainkan menaruh perhatian pada “kita” dan persoalan bersama.

Dalam kerangka Pierre Bourdieu, puisi dapat berperan sebagai modal simbolik yang mengubah penderitaan sosial menjadi wacana yang berpengaruh secara kultural. Jika terdengar berita “seribu rumah rusak”, puisi bertanya lebih jauh: siapa yang kehilangan orangtuanya, siapa yang kehilangan harta warisan, atau siapa yang kehilangan masa depan? Puisi ingin mengembalikan nasib manusia yang sering dipangkas oleh bahasa kebijakan administratif.

Sosiolog Jürgen Habermas dalam bukunya The Structural Transformation of the Public Sphere (1962), menekankan begitu pentingnya ruang publik sebagai arena dialog warga. Namun kenyataannya, tidak semua orang memperoleh akses setara. Petani kecil di pedalaman, buruh migran, dan kelompok miskin perkotaan sering berbicara tanpa mikrofon. Puisi hadir sebagai pengeras suara alternatif. 

Dalam istilah pemikir Marxis asal Italia, Antonio Gramsci, puisi dapat berfungsi sebagai intelektual organik yang membela kepentingan kelompok terpinggirkan melalui jalur kultural. Kekuatan puisi semacam ini memang terletak pada kemampuannya membangkitkan empati—tanpa terjebak melodrama berlebihan—yang mampu mengaduk-aduk emosi pembaca karena terlibat dalam kisah orang lain. 

Pada konteks itulah, konsep sociological imagination dalam karya C. Wright Mills (1959) menemukan relevansinya. Puisi membantu pembaca memahami kemiskinan bukan sekadar kemalasan individu atau kehendak takdir. Ambil contoh misalnya puisi WS Rendra berjudul “Orang-orang Miskin”: “Orang-orang miskin di jalan, yang tinggal di dalam selokan, yang kalah di dalam pergulatan, yang diledek oleh impian, janganlah mereka ditinggalkan.” 

Di balik kisah tragis di atas, pembaca dapat menyimak potret kemiskinan yang dialami masyarakat Indonesia sekitar tahun 1978. Atas nama ambisi pembangunan, masa itu, masyarakat bawah justru terpuruk dalam kemiskinan.

Puisi juga ingin menjaga etika representasi. Sejalan dengan pemikiran Emmanuel Levinas tentang wajah “sang liyan” dalam Totality and Infinity (1961), penderitaan orang lain bukan bahan konsumsi, melainkan panggilan tanggung jawab etis. Sementara di era clickbait, penderitaan sering dipertontonkan sebagai dagangan. Puisi justru membantu menghadirkan luka “sang liyan” tanpa merendahkannya.

Namun puisi bukan malaikat tanpa cela. Ia berisiko jatuh menjadi propaganda atau ceramah moral yang kehilangan daya estetika. Ada pula bahaya manipulasi fakta demi mendukung pesan emosional. Karena itu, penyair memikul tanggung jawab ganda, yaitu disiplin artistik dan kejujuran intelektual. Dalam istilah Max Weber, yang dibutuhkan adalah etika tanggung jawab, bukan hanya niat baik.

Di tengah gempuran informasi, kita sering disuguhi banyak data tetapi miskin makna. Kita tahu banyak, tetapi jarang tergerak. Puisi hadir sebagai pengingat bahwa setiap angka memiliki wajah, setiap kebijakan memiliki dampak nyata, dan setiap tragedi menyimpan kisah manusia. Ia tidak menawarkan solusi instan, namun menjaga agar nurani tetap hidup secara normal. Puisi mungkin tidak bisa menurunkan harga beras atau menurunkan angka kemiskinan, namun ia bisa menumbuhkan rasa malu saat kita terlalu nyaman menjadi penonton. 

Puisi juga mengajarkan bahwa keberpihakan tidak selalu harus berteriak. Ia bisa hadir dalam bisikan yang lebih tajam dari slogan. Ketika bahasa politik cenderung membelah dan bahasa birokrasi cenderung mengaburkan, puisi justru menyederhanakan tanpa menyederhanakan masalah. Ia menyebut lapar sebagai lapar dan ketidakadilan sebagai ketidakadilan. Kejujuran semacam ini terasa sederhana, tetapi justru itulah fondasi keberanian moral.

Lebih dari itu, puisi adalah latihan empati kolektif. Ia tidak menggantikan kebijakan publik, tetapi ia bisa memengaruhi cara publik menilai kebijakan. Ia tidak membangun jembatan beton, tetapi ia membangun jembatan batin. Dan sering kali, perubahan besar tidak lahir dari ruang rapat yang penuh angka, melainkan dari hati yang tak lagi tahan menyaksikan luka sosial diperlakukan sebagai statistik semata.

Tatkala statistik berhenti di tabel dan berita berhenti di bahasa administratif, puisi melanjutkan ikhtiar di jalan sunyi dengan terus merawat luka sosial dengan bahasa yang jujur, beradab, dan bermartabat. Sebab di sanalah nurani menemukan suaranya kembali, dan kemanusiaan menolak untuk sekadar menjadi angka. [T]

Penulis: Ahmad Fatoni
Editor: Adnyana Ole

Tags: Puisisosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mang Adi, Si Penyadap Tuak, Menghadapi Musim yang Tak Pasti —Cerita Kecil dari Desa Sambirenteng

Next Post

Buku ‘Gaya Patung Pendet di Mata Tiga Profesor’ Diluncurkan pada Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet

Ahmad Fatoni

Ahmad Fatoni

Lahir di Surabaya. Alumnus sastra Arab dari International Islamic University Islamabad, Pakistan. Beberapa karya tulis; cerpen, puisi, esai, dan resensi sastra, pernah dimuat di berbagai media nasional. Kini menjadi staf pengajar di Universitas Muhammadiyah Malang.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Buku ‘Gaya Patung Pendet di Mata Tiga Profesor’ Diluncurkan pada Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet

Buku 'Gaya Patung Pendet di Mata Tiga Profesor' Diluncurkan pada Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co