3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi dan Ikhtiar Merawat Luka Sosial

Ahmad Fatoni by Ahmad Fatoni
February 15, 2026
in Esai
Puisi dan Ikhtiar Merawat Luka Sosial

Ahmad Fatoni

Andai saja penderitaan manusia bisa dibereskan dengan rumus Excel, mungkin dunia sudah lama berubah menjadi taman firdaus digital. Tinggal buka tabel, klik kolom “kemiskinan” misalnya, lalu tekan sort. Masalah selesai. Sayangnya, hidup bukan lembar kerja spreadsheet. Di balik persentase ada perut lapar, di balik grafik ada mata yang bengkak menahan tangis, bukan sekadar baris data.

Angka memang rajin mencatat, tetapi jarang berempati. Dokumen kebijakan sangat rapi, namun sering terasa dingin seperti lemari arsip. Di sinilah karya sastra (puisi) mengambil peran menghangatkan realitas sosial yang beku oleh statistik. Namun bukan sastra yang sekadar bermain perasaan tanpa pijakan. 

Adalah WS Rendra (Willibrordus Surendra Broto Rendra), yang dijuluki “Si Burung Merak”, dikenal sebagai salah satu pelopor puisi sosial di Indonesia yang menempatkan puisi sebagai alat kritik tajam terhadap ketimpangan sosial dan ketidakadilan. Namun, jika konteksnya adalah puisi sosial yang menyuarakan perlawanan rakyat secara langsung, Wiji Thukul adalah tokoh yang paling menonjol.

Puisi dapat dianalogikan seperti kopi susu: pahitnya realitas bertemu manisnya imajinasi. Ia tetap puisi—penuh metafora, irama, dan imaji—namun sekaligus menyertakan konteks sosial. Ia tidak sibuk merayakan “aku” dan kegundahan secara personal, melainkan menaruh perhatian pada “kita” dan persoalan bersama.

Dalam kerangka Pierre Bourdieu, puisi dapat berperan sebagai modal simbolik yang mengubah penderitaan sosial menjadi wacana yang berpengaruh secara kultural. Jika terdengar berita “seribu rumah rusak”, puisi bertanya lebih jauh: siapa yang kehilangan orangtuanya, siapa yang kehilangan harta warisan, atau siapa yang kehilangan masa depan? Puisi ingin mengembalikan nasib manusia yang sering dipangkas oleh bahasa kebijakan administratif.

Sosiolog Jürgen Habermas dalam bukunya The Structural Transformation of the Public Sphere (1962), menekankan begitu pentingnya ruang publik sebagai arena dialog warga. Namun kenyataannya, tidak semua orang memperoleh akses setara. Petani kecil di pedalaman, buruh migran, dan kelompok miskin perkotaan sering berbicara tanpa mikrofon. Puisi hadir sebagai pengeras suara alternatif. 

Dalam istilah pemikir Marxis asal Italia, Antonio Gramsci, puisi dapat berfungsi sebagai intelektual organik yang membela kepentingan kelompok terpinggirkan melalui jalur kultural. Kekuatan puisi semacam ini memang terletak pada kemampuannya membangkitkan empati—tanpa terjebak melodrama berlebihan—yang mampu mengaduk-aduk emosi pembaca karena terlibat dalam kisah orang lain. 

Pada konteks itulah, konsep sociological imagination dalam karya C. Wright Mills (1959) menemukan relevansinya. Puisi membantu pembaca memahami kemiskinan bukan sekadar kemalasan individu atau kehendak takdir. Ambil contoh misalnya puisi WS Rendra berjudul “Orang-orang Miskin”: “Orang-orang miskin di jalan, yang tinggal di dalam selokan, yang kalah di dalam pergulatan, yang diledek oleh impian, janganlah mereka ditinggalkan.” 

Di balik kisah tragis di atas, pembaca dapat menyimak potret kemiskinan yang dialami masyarakat Indonesia sekitar tahun 1978. Atas nama ambisi pembangunan, masa itu, masyarakat bawah justru terpuruk dalam kemiskinan.

Puisi juga ingin menjaga etika representasi. Sejalan dengan pemikiran Emmanuel Levinas tentang wajah “sang liyan” dalam Totality and Infinity (1961), penderitaan orang lain bukan bahan konsumsi, melainkan panggilan tanggung jawab etis. Sementara di era clickbait, penderitaan sering dipertontonkan sebagai dagangan. Puisi justru membantu menghadirkan luka “sang liyan” tanpa merendahkannya.

Namun puisi bukan malaikat tanpa cela. Ia berisiko jatuh menjadi propaganda atau ceramah moral yang kehilangan daya estetika. Ada pula bahaya manipulasi fakta demi mendukung pesan emosional. Karena itu, penyair memikul tanggung jawab ganda, yaitu disiplin artistik dan kejujuran intelektual. Dalam istilah Max Weber, yang dibutuhkan adalah etika tanggung jawab, bukan hanya niat baik.

Di tengah gempuran informasi, kita sering disuguhi banyak data tetapi miskin makna. Kita tahu banyak, tetapi jarang tergerak. Puisi hadir sebagai pengingat bahwa setiap angka memiliki wajah, setiap kebijakan memiliki dampak nyata, dan setiap tragedi menyimpan kisah manusia. Ia tidak menawarkan solusi instan, namun menjaga agar nurani tetap hidup secara normal. Puisi mungkin tidak bisa menurunkan harga beras atau menurunkan angka kemiskinan, namun ia bisa menumbuhkan rasa malu saat kita terlalu nyaman menjadi penonton. 

Puisi juga mengajarkan bahwa keberpihakan tidak selalu harus berteriak. Ia bisa hadir dalam bisikan yang lebih tajam dari slogan. Ketika bahasa politik cenderung membelah dan bahasa birokrasi cenderung mengaburkan, puisi justru menyederhanakan tanpa menyederhanakan masalah. Ia menyebut lapar sebagai lapar dan ketidakadilan sebagai ketidakadilan. Kejujuran semacam ini terasa sederhana, tetapi justru itulah fondasi keberanian moral.

Lebih dari itu, puisi adalah latihan empati kolektif. Ia tidak menggantikan kebijakan publik, tetapi ia bisa memengaruhi cara publik menilai kebijakan. Ia tidak membangun jembatan beton, tetapi ia membangun jembatan batin. Dan sering kali, perubahan besar tidak lahir dari ruang rapat yang penuh angka, melainkan dari hati yang tak lagi tahan menyaksikan luka sosial diperlakukan sebagai statistik semata.

Tatkala statistik berhenti di tabel dan berita berhenti di bahasa administratif, puisi melanjutkan ikhtiar di jalan sunyi dengan terus merawat luka sosial dengan bahasa yang jujur, beradab, dan bermartabat. Sebab di sanalah nurani menemukan suaranya kembali, dan kemanusiaan menolak untuk sekadar menjadi angka. [T]

Penulis: Ahmad Fatoni
Editor: Adnyana Ole

Tags: Puisisosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mang Adi, Si Penyadap Tuak, Menghadapi Musim yang Tak Pasti —Cerita Kecil dari Desa Sambirenteng

Next Post

Buku ‘Gaya Patung Pendet di Mata Tiga Profesor’ Diluncurkan pada Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet

Ahmad Fatoni

Ahmad Fatoni

Lahir di Surabaya. Alumnus sastra Arab dari International Islamic University Islamabad, Pakistan. Beberapa karya tulis; cerpen, puisi, esai, dan resensi sastra, pernah dimuat di berbagai media nasional. Kini menjadi staf pengajar di Universitas Muhammadiyah Malang.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Buku ‘Gaya Patung Pendet di Mata Tiga Profesor’ Diluncurkan pada Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet

Buku 'Gaya Patung Pendet di Mata Tiga Profesor' Diluncurkan pada Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co