MALAM hari kemarin, saat sedang menulis berita untuk media online di Jembrana, Bali, saya melihat notifikasi di ponsel saya. “I Wayan Westa mengomentari postingan Anda”. Jika bukan dari beliau, saya mungkin belum mau membuka dan melihat Facebook saya. Karena dari beliau, saya tergerak untuk membaca apa yang beliau tuliskan.
Ternyata beliau mengomentari postingan saya dua hari lalu; tentang ‘pembelaan diri’ dari berbagai pandangan orang tentang saya, mulai dari “kerja santai”, “pekerjaan tak jelas”, hingga tentang saya sebagai penyintas skizofrenia, “orang gila”—begitu istilah yang lumrah pada masyarakat awam di Indonesia, tidak terkecuali di Bali yang kini makin sesak oleh migrasi penduduk.
Komentar dari Pak Wayan Westa singkat, jelas, dan padat: “Teruslah menulis, Angga, 30 tahun lagi, tulisanmu jadi catatan penting untuk mereka yang mempelajari jiwa dan otak manusia lebih dalam”. Pak Westa—saat banyak yang memanggilnya ‘Guru’, saya lebih nyaman memanggil beliau dengan “Pak Westa” atau “Bapak”. Lebih egaliter. Kalau saya memanggilnya dengan sebutan “guru”, aka nada jarak yakni status bahwa ia adalah guru dan saya adalah murid.
Apalagi, pada sekarang, banyak guru (spiritual) yang ternyata tidak sebaik dan semurni apa yang mereka tulis, ajarkan atau bicarakan tentang hal-hal baik. Saya tidak ingin “menodai” I Wayan Westa dengan sebutan “guru” yang mungkin saja akan juga memberatkan dia, karena menjadi tidak leluasa untuk menjadi dirinya sendiri. Saya panggil “Pak Westa” saja. Ini terdengar netral.
Apa yang beliau tulis di atas tentu menjadi penyemangat saya, yang anehnya bukan berasal dari pasangan, saudara, kerabat, keluarga saya sendiri. Kata-kata seperti itu yang saya butuhkan. Agar, saya menjadi lebih yakin dan percaya diri pada apa yang saya lakukan selama ini; menulis, baik itu esai, puisi, cerpen, maupun karya-karya jurnalistik.
Selama ini saya banyak menulis tentang kesehatan mental, yang berangkat dari pengalaman personal, sebagai penyintas skizofrenia sejak enam belas tahun lalu. Pak Westa mengamati itu semua. Mungkin dari hal itu beliau menyebut bahwa di masa depan tulisan-tulisan saya menjadi penting, terutama bagi mereka yang berkutat di dunia kedokteran, psikologi, dan psikiatri.
Beberapa tahun lalu, Pak Westa juga memberi sebuah “penenang” berupa anjuran untuk saya lebih sering “duduk hening” atau semedi atau istilah popular di negeri ini, yakni, meditasi. Saat itu pikiran saya agak kacau karena berbagai tekanan; pekerjaan, hubungan dengan tetangga, kelelahan fisik dan mental, hingga menyebabkan saya mengalami relapse atau kekambuhan pada 2023 lalu.
Untunglah saya mendapat penanganan yang tepat; psikoterapi, obat-obat psikiatri yang bagi penyintas skizofrenia jika mengalami relapse akan ditambah dosisnya. Itu juga berarti pengobatan mulai dari awal lagi. Banyak kerugian jika kami mengalami kekambuhan. Sejak itu saya tak berani untuk putus obat. Saya juga rutin melakukan meditasi, seperti apa yang Pak Westa sarankan pada saya. Hasilnya, saya lebih tenang, rileks, mulai lagi menulis dan berkarya. Juga kembali bekerja sebagai wartawan, dengan sistem kerja freelance atau bekerja lepas. Ini membuat saya lebih nyaman karena tidak ada target berita harian. Saya juga bisa produktif menulis puisi atau esai.
Pak Westa adalah mantan redaktur majalah budaya ternama di Bali, pada masanya. Majalah itu bernama SARAD. Saat masih mahasiswa, seorang alumnus Bali Gandhi Vidyapith Ashram di Sanglah, Denpasar Selatan, pernah mengajak saya mengunjungi kantor redaksi majalah SARAD di Renon, Denpasar. Saya lupa apakah saat itu kami bertemu dengan Pak Westa atau tidak. Yang pasti, teman alumnus itu menyarankan saya untuk mulai belajar menulis dan sering-sering berkunjung ke kantor redaksi SARAD—menimba banyak ilmu dari para penulis, jurnalis, dan para redaktur di majalah tersebut.
Entah mengapa saya tidak terlalu hirau dengan saran itu. Seingat saya, waktu itu saya mulai mengalami krisis mental oleh banyak faktor, terutama soal studi Antropologi Budaya di Universitas Udayana yang agak lama, sudah lima tahun, belum lulus karena ada beberapa mata kuliah yang nilainya jelek dan mesti diulang. Juga, persoalan personal dengan keluarga angkat yang membiayai kuliah saya.
Waktu itu uang saku bulanan dihentikan, sehingga saya mulai belajar menghidupi diri sendiri dengan bekerja di sebuah warung internet (Warnet) di Jalan Kapten Japa, Denpasar. Gaji waktu itu 600 ribu rupiah setiap bulannya. Saya bisa membayar kos yang kala itu tahun 2007 masih murah, sekitar 250 ribu rupiah. Setelah hampir setahun bekerja di Warnet, saya memberanikan diri untuk melamar pekerjaan sebagai wartawan pada sebuah tabloid budaya yang berkantor di Denpasar Timur. Saya dipanggil untuk mengikuti wawancara kerja. Tidak sampai 30 menit, saya dinyatakan diterima bekerja sebagai wartawan di sana.
Entah karena CV yang meyakinkan, atau berkas-berkas pendukung seperti sertifikat pelatihan jurnalistik saat SMA, atau juga kliping puisi dan esai karya saya yang saya sertakan dalam surat lamaran, entahlah. Baru saya tahu kemudian, sang redaktur, Pak Legawa Parta, punya intuisi dan firasat bahwa pemuda ini (saya) memang berbakat menajdi jurnalis. Beliau beberapa tahun lalu telah berpulang karena sakit. Saya banyak mendapat ilmu dari Pak Lolik, panggilan akrabnya. Doa saya panjatkan kepada beliau semoga atmannya menyatu dengan Brahman.
Kembali lagi pada Pak Westa. Beliau, yang kini telah tua, masih aktif menulis. Meskipun majalah SARAD tidak ada lagi, melalui Facebook, Pak Westa rutin berbagi pemikiran. Kadang mengkritik, kadang sedih, bahkan juga kadang marah karena geram melihat bukit di kampung halamannya di Klungkung dikeruk tanahnya dan dipotong untuk sebuah pembangunan oleh pemerintah Bali. Pak Westa tidak takut dan tanpa tedeng aling-aling memilih diksi yang keras dan tegas.
Kata-kata memang bisa menjadi sebuah senjata untuk mengkritik penguasa, terlebih lagi jika jumawa dan seenaknya sendiri. Namun, kata-kata mampu menjelma menjadi obat penenang, sama seperti apa yang beliau tulis untuk saya. Beliau juga pernah menulis sebuah puisi balasan atas puisi yang saya tulis untuknya. Pak Westa tenang dan menenangkan. Namun juga bisa galak dan garang bak harimau Bali, yang punah oleh perburuan besar-besaran di zaman kolonial Belanda, sekitar tahun 1930-an. Sama halnya dengan sosok tua penulis, di Bali, orang seperti ini sangatlah jarang. Kini, generasi tua yang kritis, aktif menulis dan berani menyampaikan pendapat meskipun berseberangan dengan banyak orang, bisa dihitung dengan jari. Mereka yang berani menjaga jarak dengan kekuasaan, berani hidup sepi dan sunyi, hidup sederhana secara materi, kini amat langka.
Intelektual yang rumahnya penuh dengan buku-buku di perpustakaan pribadi, menyisakan upah sebagai pembicara seminar dan juga diskusi, atau mendapat honor tulisan demi buku yang didambakan, menjadi sebuah pengorbanan yang tak sia-sia, terutama setelah mereka tiada. Saya hanya melihat foto di Facebook Pak Westa, tersenyum di depan rak buku di rumahnya. Suatu waktu saya akan berkunjung ke sana, bukan melihat buku-buku, namun api semangat yang selalu menyala di matanya. Kata-kata yang menjadi sumber kebijaksaan, menjadi “penenang” untuk diri dan orang lain. Salam. [T]
Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole


























